I'M FINE

I'M FINE
Menjemput Dewa Kecil.


__ADS_3

Zoya kaget saat Dewa mengenalkan dirinya seperti itu, ia ingin protes karena Dewa berbicara sembarangan. Tapi ia menahannya dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Anderson.


"Zoya Om" kata Zoya sedikit memberikan senyumnya.


"Kok Om sih? Calon istri Dewa jadi harus manggil sama kayak Dewa, kamu juga akan jadi putri Ayah juga" kata Anderson juga tersenyum pada Zoya, ia tau kalau anaknya sangat mencintai wanita ini dan hanya wanita inilah yang akan membuat putranya bahagia. Hal itu sudah lebih dari cukup untuk Anderson karena kebahagiaan putranya yang paling penting.


"Ayah?" kata Zoya ingin menangis karena terharu, baru kali ini ada seseorang yang mau menerima dirinya dengan tangan terbuka, berbeda sekali dengan Ayahnya sendiri yang sangat membenci kelahirannya.


"Ayah, kenapa Ayah membuatnya menangis seperti ini?" kata Dewa pura-pura memprotes seraya mengusap air mata Zoya yang menggenang di sudut mata.


"Ayah hanya ingin Zoya tau kalau dia adalah bagian keluarga ini juga. Sekarang ayo sarapan dulu, tidak perlu sungkan, kau nantinya juga akan tinggal disini" kata Anderson lagi.


Dewa mengangguk singkat, ia segera menaikkan kursi untuk Zoya duduk lalu baru dia mengambil duduk disampingnya. Zoya tersenyum karena mendapatkan perlakuan yang sangat manis dari Dewa. Mereka kemudian memulai sarapan masing-masing.


"Kau harus makan yang banyak" kata Dewa mengambilkan lauk yang banyak untuk Zoya.


"Iya, tapi jangan banyak-banyak, aku tidak akan menghabiskannya" kata Zoya.


"Tidak, kau harus menghabiskannya, lihatlah kau kurus sekali sekarang" kata Dewa mengambilkan daging untuk Zoya lalu memotongnya kecil-kecil agar Zoya mudah memakannya nanti.


"Benar, kau harus sehat untuk persiapan pernikahan kalian nanti" sambung Anderson lagi membuat Zoya kaget.


Menikah? Kenapa mendadak sekali, pikirnya. Zoya lalu memandang Dewa yang hanya senyam-senyum saja itu.


"Sudah, jangan mengerutkan dahimu seperti itu, habiskan makananmu, Kita akan langsung berangkat setelah ini" kata Dewa tersenyum kecil saat melihat wajah kaget Zoya yang menggemaskan sekali.


Zoya tak mengatakan apapun, ia mulai memakan sarapan makanannya, entah karena jarang makan makanan mahal atau bagaimana, tapi menurut Zoya masakan yang dimakannya itu sangat enak sekali. Ia menghabiskan semua makanan yang diambilkan Dewa membuat pria itu tersenyum senang.


Setelah makan, mereka berdua segera berpamitan kepada Anderson.


"Cepat bawa cucuku pulang, Aku menunggunya" kata Anderson.


"Pasti Ayah" kata Dewa mantap. Ia segera menggandeng Zoya menuju mobil yang disiapkan oleh Bayu.


"Selamat pagi" kata Bayu tersenyum bahagia saat melihat Dewa dan Zoya bisa bersatu kembali.

__ADS_1


"Ya, apa kau membawa apa yang aku minta?" kata Dewa.


"Tentu saja, sebentar" kata Bayu membuka mobil bagian depan lalu mengambil sebuah kotak dan menyerahkannya pada Dewa.


Dewa menerimanya lalu membukanya, ia tersenyum kecil saat melihat flat shoes bermodel simpel namun sangat elegan.


"Apa itu?" tanya Zoya penasaran.


"Sepatu untukmu, sini aku pakaikan" kata Dewa mengambil sepatunya lalu berjongkok di depan Zoya.


"Eh? Kenapa kau memberiku sepatu?" kata Zoya sedikit mundur saat Dewa ingin menyentuh kakinya.


"Sepatumu sepertinya sudah tidak nyaman dipakai, nanti kakimu malah sakit" kata Dewa mendongak menatap Zoya.


"Ya, tapi tidak perlu memakaikannya, aku bisa sendiri" kata Zoya tentu tak ingin Dewa melakukan itu, apalagi disana banyak sekali pelayan yang melihatnya, mana mungkin Zoya membiarkan Dewa melakukan hal itu.


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa, aku akan memakainya sendiri" kata Zoya lagi.


"Apaan sih, dasar gombal" kata Zoya tersipu-sipu karena ucapan Dewa.


"Aku serius, sini aku pakaian" kata Dewa menarik kaki Zoya mendekat ke arahnya lalu memakaikan flat shoes itu ke kaki Zoya. Ternyata ukurannya sangat pas, instingnya memang selalu tepat jika menyangkut Zoya.


"Sudah, Ayo kita berangkat sekarang" kata Dewa bangkit lalu mengulurkan tangannya kembali.


"Ya" kata Zoya menyambut uluran tangan itu.


******


Dewa dan Zoya sudah tiba di Jakarta setelah melakukan penerbangan sekitar satu jam. Dewa sejak tadi terlihat sangat gusar, hatinya senang namun juga cemas. Perasaannya pun campur aduk tak karuan, ingin secepatnya sampai dan memeluk tubuh mungil putranya dan mengganti seluruh waktu yang sudah dia lewatkan selama ini. Semakin dekat dengan sekolah putranya semakin bertambah pula kegugupannya membuat Zoya yang berada disampingnya langsung menatapnya.


"Ada apa Dewa?" kata Zoya menyentuh lembut tangan Dewa.


"Tidak apa-apa, aku hanya sedikit gugup" kata Dewa sedannya.

__ADS_1


"Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja" kata Zoya menenangkan.


"Ya, apa kau sudah menghubungi Bibi kalau Dewa akan kita jemput" kata Dewa.


"Sudah" kata Zoya.


Dewa kembali diam, mobil mereka perlahan berhenti disebuah taman kanak-kanak yang terlihat sangat ramai ibu-ibu yang mengantar anaknya. Zoya sebenarnya ingin seperti mereka yang menunggui anaknya belajar, tapi sayangnya waktunya tak seluang karena harus bekerja.


Dewa langsung turun dari mobilnya, para ibu-ibu muda yang sedang menunggui anaknya itu sontak langsung menoleh dan langsung terpesona begitu melihat ketampanan Dewa, apalagi penampilannya yang parlente membuat para ibu-ibu itu semakin takjub. Dewa tak memperdulikannya, ia segera membukakan pintu mobil untuk Zoya.


"Ayo" kata Dewa mengeluarkan tangannya.


"Eh, iya" kata Zoya sedikit kaget dengan tingkah Dewa, tapi ia menyambut uluran tangan itu.


"Disini sangat panas" kata Dewa merangkul pundak Zoya lalu menggunakan tangannya untuk menutupi wajah Zoya agar tak terkena sinar matahari yang mengigit.


Sebenarnya tangan Dewa tidak sepenuhnya menutupi wajah Zoya, tapi perlakuannya itu sangat romantis sekali bagi yang melihatnya. Para ibu-ibu muda itu juga langsung kaget saat melihat pria mempesona itu merangkul mesra Zoya.


"Jeng, tumben sih dateng buat jemput si Dewa" kata ibu muda dengan pakaiannya yang begitu nyentrik, terlihat sekali berbasa-basi karena wanita itu jarang berbicara pada Zoya.


"Iya, lagi ada waktu luang Bu Nita" kata Zoya melepaskan pelan tangan Dewa yang berada di pinggangnya.


"Kenapa?" kata Dewa malah mengeratkan pegangannya.


"Banyak orang" kata Zoya berbisik.


"Suami baru ya jeng, Hoki bener dapet yang kinclong begini, mau dong jeng dikenalin yang kayak gini" sahut Nita lagi.


Zoya hanya tersenyum kecil tapi tak menanggapinya, ia melirik Dewa yang malah tersenyum manis kepada Nita, kenapa malah tersenyum pikirnya. Tak lama setelah itu, bel sekolah berbunyi dan semua anak berhamburan keluar.


Melihat hal itu Dewa langsung memusatkan pandangannya pada satu persatu wajah bocah itu, hingga ia melihat sosok anak laki-laki yang berjalan paling akhir dengan pakaian sekolahnya. Jantung Dewa berdetak kencang, itu putranya, darah dagingnya.


Happy Reading.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2