I'M FINE

I'M FINE
Ara.


__ADS_3

Terlihat disebuah rumah kontrakan sederhana, seorang wanita tengah berbaring memeluk anak kecil seraya membacakan sebuah dongeng pengantar tidur. Wanita itu tak lain adalah Zoya yang menemani putranya untuk tidur malam. Sebenarnya hal ini jarang dilakukannya karena ia juga jarang di rumah.


Alasannya tentu saja bekerja untuk menafkahi anaknya yang berhasil ia pertahankan dengan susah payah. Lima tahun bukan waktu yang mudah untuk Zoya. Ia harus hamil tanpa didampingi suami dan setiap saat harus menerima cacian orang-orang sekitarnya karena menduga kalau dirinya seorang wanita yang tidak benar.


Tapi semua perjuangannya itu seolah terbayar saat melihat anaknya yang lahir dengan selamat ke dunia. Seorang putra yang wajahnya sangat mirip dengan seseorang yang masih tersimpan rapat dihatinya dan satu-satunya orang yang menjadi sumber semangatnya untuk hidup di kerasnya kota Jakarta.


Sebenarnya Zoya tak ada niatan untuk pergi keluar kota, tapi selama ia masih dikota yang sama, Ayahnya pasti akan terus mencari dirinya dan tak akan membiarkan Zoya hidup tenang. Itulah alasannya kenapa Zoya juga mengganti namanya dengan nama tengahnya.


"Ibu, besok ibu kerja lagi ya?" kata Dewa kecil menatap Ibunya yang mengelus lembut kepalanya.


"Iya sayang, kenapa memangnya?" kata Zoya menatap anaknya. Jika ada yang bertanya kenapa Zoya memberi nama anaknya dengan nama Dewa? Karena saat itu hanya nama itu yang terlintas dipikirannya. Setidaknya jika Dewa tidak bisa menemaninya akan ada Dewa kecil yang selalu bersamanya.


"Aku kangen ibu, pengen diajak jalan-jalan" kata Dewa kecil menatap ibunya sendu.


"Maafkan ibu, Dewa ingat kan pesan ibu waktu lalu? Kalau Dewa jadi anak pintar, kita pasti akan sering bersama-sama. Sekarang Ibu sedang berusaha dan Dewa pasti sabar kan menunggu hari itu tiba?" kata Zoya dengan suara tercekat.


"Aku sabar kok Bu, aku mau jadi anak baik supaya kita bersama-sama nanti" kata Dewa kecil sudah mengerti apa yang dikatakan ibunya. Hal itu sontak membuat mata Zoya memanas.


"Dewa tidur ya, besok kan sekolah" kata Zoya memeluk Dewa dan mencium kening anaknya.


"Iya, selamat malam ibu" kata Dewa kecil menenggelamkan wajahnya di dada ibunya.


"Selamat malam sayang" kata Zoya memejamkan matanya seraya menghirup dalam rambut anaknya.


Ia merasa sangat miris karena jarang punya waktu untuk Dewa. Seharusnya anak sekecil Dewa masih butuh pendampingan orang tua, tapi karena ia yang sibuk mencari uang untuk makan, malah tak terlalu memperhatikan Dewa. Tapi untung saja, Dewa anak yang pintar, dia tak pernah rewel jika ditinggal oleh Zoya.


Biasanya Zoya akan menitipkannya kepada Bibi samping kontrakannya yang memang sudah menganggap Zoya seperti anaknya sendiri. Zoya beruntung karena bisa bertemu dengan orang sebaik itu yang mau membantu menjaga Dewa selama ia bekerja.


Pukul enam pagi, Zoya tampak sudah begitu sibuk menata makanan di meja. Ia juga sudah tampil rapi karena akan berangkat ke kantornya.

__ADS_1


"Dewa, sarapan dulu sayang" teriaknya memanggil Dewa yang masih didalam kamar.


"Iya ibu" sahut Dewa datang dengan baju seragam sekolahnya.


"Nanti sore nggak usah jemput Ibu ya, mungkin ibu pulang lusa" kata Zoya memberikan susu dulu kepada Dewa sebelum sarapan.


"Ibu mau lembur lagi?" tanya Dewa.


"Iya, temen ibu sakit, jadi ibu harus gantiin dulu pekerjaannya. Dewa nggak apa-apa kan? Lusa kalau ibu pulang, Dewa mau dibawakan apa?" kata Zoya lagi.


"Enggak minta apa-apa, cuma minta Ibu cepat pulang aja" kata Dewa memulai sarapannya.


"Ibu akan usahakan cepat pulang" kata Zoya mengelus lembut kepala anaknya. Ia berterimakasih pada Tuhan karena telah memberikannya anak sebaik Dewa.


"Ehm ibu, kapan Papi akan kesini?" tanya Dewa membuat Zoya terdiam sesaat.


"Papi kan baru aja kesini minggu lalu sayang" kata Zoya cukup bingung bagaimana menjelaskan pada Dewa agar tak terlalu mengharapkan Papinya.


Zoya mengigit bibirnya saat mendengar itu, sampai saat ini memang ia tak pernah memberitahu Dewa tentang siapa Ayahnya. Dewa hanya mengenal sosok Papi yang dianggap sebagai Ayahnya karena memang pria itulah yang menemaninya dan juga membantunya kabur selama ini.


"Papi itu Ayah aku kan Bu?" tanya Dewa lagi membuat Zoya tersadar dari lamunannya.


"Iya, Dewa udah selesai makan belum? Kita langsung berangkat ya? Nanti kita terlambat lagi" kata Zoya mengusap sudut matanya yang basah.


Dewa masih menatap ibunya, tapi ia tak mengatakan apapun. Ia kemudian menyudahi sarapannya dan mengambil tasnya di dalam kamar. Setelah itu Zoya mengantar Dewa ke rumah Bibi yang biasanya menjaga Dewa dan barulah ia berangkat bekerja.


*****


Disisi lain, Dewa juga sudah terlihat sangat rapi dengan setelan jasnya. Ia hari ini akan mengadakan pertemuan dengan kliennya. Tapi sebelum itu, Dewa memutuskan untuk sarapan di hotel dan meminum secangkir kopi. Ia duduk tenang di kursinya seraya membaca berita bisnis di tabletnya.

__ADS_1


Namun ketenangan itu sedikit terusik tatkala melihat seorang wanita yang kini sedang dimarahi atasannya.


"Ara! Kamu ini kebiasaan suka datang terlambat, apa kamu lupa kalau hari ini itu ada tamu penting" terdengar omelan dari sang bos sangat keras hingga menarik perhatian orang-orang yang ada disana.


"Maafkan aku kak, aku janji tidak akan mengulanginya lagi" kata Zoya takut jika sampai di pecat karena dia memang sering terlambat.


"Dari kemarin-kemarin kamu juga janji gitu, tapi apa? Kamu masih saja terlambat. Bulan ini gaji kamu akan aku potong"


"Jangan kak, aku benar-benar minta maaf. Jangan di potong ya kak, nanti malam aku akan lembur dua jam" kata Zoya memohon. Ia tak mungkin membiarkan gajinya dipotong karena bulan depan adalah ulang tahun Dewa dan Zoya sudah berjanji untuk memberikan hadiah kepada anaknya itu.


"Baiklah, tapi awas aja ya kalau kamu sampai datang terlambat lagi, aku pasti akan mengatakan pada supervisor disini agar kau dipecat" ancam wanita itu lagi.


Zoya menganggukkan kepalanya dan bernafas lega karena tak jadi dipecat. Sungguh Tuhan pandai membolak-balikkan keadaan, Zoya yang dulunya sangat sering menghamburkan uang, tapi kini ia harus merasakan bagaimana susahnya mencari uang.


Zoya segera beranjak dari sana untuk memulai pekerjaannya. Ia sama sekali tidak tau kalau sejak tadi Dewa sedang menatap kearahnya.


"Zoya?" kata Dewa entah kenapa kalau wanita itu adalah Zoya. Meskipun hanya terlihat dari samping, tapi ia sangat hafal garis wajah wanita itu.


Dewa bergegas untuk menyusul wanita itu, tapi ia sudah kehilangan jejaknya. Dewa sangat yakin kalau wanita tadi adalah Zoya.


"Maaf Tuan, anda sedang apa disini?" tanya seorang pria bingung saat melihat Dewa di area pribadi karyawan.


"Aku sedang mencari seseorang, apa ada karyawan yang bernama Zoya disini?" tanya Dewa.


"Zoya? Tidak ada Tuan" kata orang itu menjawab lugas.


"Apa kau yakin? Dia memiliki tinggi sekitar....." Dewa menyebutkan ciri-ciri Zoya dan orang itu menyimaknya dengan serius.


"Oh, kalau ciri-ciri yang anda sebutan itu ada Tuan, tapi bukan Zoya namanya, orang itu namanya Ara"

__ADS_1


Happy Reading.


Tbc.


__ADS_2