I'M FINE

I'M FINE
Sibuk


__ADS_3

***


***


Mungkin ini pertama kali bagi Anna meninggalkan kewajiban sebagai seorang istri. Kenapa, karena Anna tidak bangun pagi dan menyiapkan sarapan untuk suaminya bekerja. Mau bagaimana lagi Anna terlanjur sakit dengan insiden tadi malam. Bilang saja Anna kekanakan meninggalkan kewajibannya.


Toh, walau Anna sudah memasak apapun untuk Dava, lelaki itu tidak pernah menyentuh makanan yang di buat Anna.


Tadi malam Anna menangis semalaman. Menangisi nasib hidupnya yang tidak sesuai dengan harapannya. Menangisi kata-kata yang terucap oleh Dava. Anna tahu Dava membencinya karena lelaki itu tidak bisa menikah dengan Elena.


Anna kira setelah mereka menikah, Dava akan memulai hidup baru dengan Anna. Melupakan Elena dan mulai membuka hati untuk Anna. Mungkin kehidupan keduanya akan baik-baik saja. Tapi ternyata Dava malah membencinya setengah mati. Selalu membawa Elena ke rumah yang membuat hati Anna sakit.


Biarlah, biar Tuhan saja yang mengatur. Akan menjadi apa rumah tangganya kelak.


Anna menatap pantulan dirinya di cermin. Rambutnya basah, wajahnya yang tadi sebab sekarang lumayan hidup di pipinya kemerah-merahan. Menghela nafas lalu merias wajah nya dengan riasan tipis tidak terlalu menor.


Hari ini Anna ada pertemuan dengan seorang klien yang membutuhkan jasanya. Membuat cover book dan karikatur memang ke ahlian dirinya. Dan tentu saja bayaran yang di terima Anna lumayan untuk menghidupi sehari-hari.


"Semoga hari ini lancar. Ibu Anna ijin kerja."


Setelah semua beres, Anna keluar rumah. Supir sudah menunggu di luar untuk mengantarnya. Anna menunggu di sebuah Cafe yang tidak jauh dari komplek perumahan Anna.


***


"Mba Anna Laila."


Anna menyentakkan kepalanya melihat seorang lelaki matang yang tadi menyapa.


"Bapak Deris."


Lelaki itu menganggur kecil lalu duduk di hadapan Anna. "Maaf saya telat mba, ada urusan kecil tadi."


Anna tersenyum maklum. "Tidak apa-apa pak saya juga baru sampai."


"Baiklah kalau begitu mba, kita mulai saja ya."


Anna mengangguk lalu mendengarkan penjelasan pak Deris yang menginginkan cover book sekaligus karikatur. Proyek ini Anna terima karena pendapatan nya menggiurkan. Lumayan buat tambah-tambahan tabungan Anna.


Pak Deris sangat cekatan menjelaskan apa yang perusahaan mau. Memberikan konsep yang jelas dan contoh yang mudah dipahami Anna.

__ADS_1


"Jadi mba perusahaan kita memang sedang banyak proyek. Karena karyawan sedikit jadi saya meminta bantuan mba Anna. Kebetulan saya melihat karya mba dan itu sangat bagus."


"Terimakasih pak atas kepercayaannya. Saya akan mengerjakan proyek ini sesuai daedline perusahaan."


"Sekali lagi terimakasih mba. Kalau begitu saya permisi mba, saya ada keperluan lagi soalnya." Pak Deris beranjak lalu ucapkan salam dan berlalu keluar Cafe.


Anna tersenyum senang setelah kepergian pak Deris. Ini adalah proyek besar yang di terima Anna dan Anna akan mengerjakan nya dengan baik.


" Akhirnya dapat proyek besar. " ujar Anna terkekeh geli. Menatap jam di ponsel miliknya. Masih pukul 11. Mungkin hari ini Anna akan main sebentar.


"Aku kerja dulu di Cafe ini kali yaa. Masih siang juga."


Memanggil pelayan lalu memesan makanan dan minuman. Anna ingat kalau dirinya belum makan tadi pagi. Sekarang Anna akan mengisi perutnya yang sudah keroncongan.


"Hmm. Sudah lama aku gak makan makanan Cafe." ujar Anna di sela-sela makannya yang lahap.


"kenyang." desah Anna setelah meneguk minuman dan menghabiskan makanannya. "Sekarang, aku akan mulai bekerja."


Tangannya membuka laptop yang kebetulan di bawa Anna dan juga note kecil. Wajahnya focus menatap laptop. Sesekali tangannya menuliskan hal penting ke dalam note kecil. Dan Anna tenggelam dalam pekerjaannya. Melupakan sejenak masalah dalam hidupnya.


***


Dan Anna sejenak melupakan sakit hatinya. Melupakan perkataan kasar dari Dava. Dan sekarang disinilah dia. Di sebuah taman kota yang sejuk. Mungkin karena sudah mulai senja, orang-orang juga mulai ramai. Melepaskan penat sehabis bekerja atau sekedar bermain dengan keluarga.


Seperti halnya Anna. Setelah kerja di Cafe tadi siang kini dia berada di taman. Duduk di sebuah pohon rindang, matanya memandang sekeliling, senyuman tipis tersungging di wajahnya.


"Sangat sejuk."


"Melupakan sakit sejenak mungkin tidak apa-apa."


Sesekali Anna tertawa melihat anak kecil yang berlari-lari dengan membawa balon di tangan mungilnya.


"Ah, aku tadi beli cemilan kan." ujar Anna ketika mengingat tadi dia membeli makanan.


Burger, sandwich, jus dan buah apel. Anna tertawa kecil melihat makanan yang di pangkuannya. Mungkin sedikit berlebihan melihat makanan yang di pesan Anna. Tapi sekarang Anna tidak merasa malu karena perutnya sudah keroncongan.


Memakan makanan di tempat terbuka memang sangat menyenangkan. Walaupun hanya sendiri tidak di temani orang lain, ini sudah cukup buat Anna.


"Apalagi kalau di temani dengan orang yang kita sayang, pasti akan sangat menyenangkan."

__ADS_1


Seketika mood Anna turun ketika mengingat suami nya yang sangat membenci Anna. Walaupun sudah bersuami, tapi Anna merasa hidupnya hanya sendiri di dunia ini.


Anna menggelengkan kepalanya kuat." Jangan dipikirkan Anna. Setidaknya hati ini kamu merasakan apa arti bahagia."


Melupakan sejenak masalah tidak akan membuat kamu hancur. Jadi Anna akan melupakannya sejenak.


***


Anna turun dari mobil dengan bantuan sopir lalu masuk ke dalam rumah. Anna tadi hampir lupa waktu karena langit sudah gelap dan Anna masih berada di taman.


Apakah mas Dava sudah pulang.


Melirik jam yang berada di ponselnya, masih pukul 07.30. Tidak mungkin kan Dava sudah pulang. Lelaki itu kan sering pulang malam setelah kerja. Jadi Anna tidak perlu takut.


"Bagus. Sekarang sudah mulai keluyuran ya."


Suara itu mengagetkan Anna. Menoleh melihat suaminya yang berada di ujung tangga. Kenapa Dava jam segini sudah pulang. Dava berdiri di hadapan Anna yang sedang gugup. Menatap sinis gadis itu.


"Maaf mas, aku tadi keluar sebentar." jawab Anna. Jujur sekarang Anna sangat gugup. Wajah Dava yang dingin dan selalu menatap sinis Anna terasa sangat mengintimidasi.


"Aku tidap peduli."


"apapun yang kamu lakukan aku tidak akan pernah peduli. Silakan berbuat sesuka hati Anna. Dan aku akan sangat senang kalau kamu keluar dari rumah ini."


Memejamkan matanya erat Anna berusaha tersenyum manis did epan Dava. "Mas sudah rapi. Mau kemana."


Benar. Sekarang Dava memakai baju santai tetapi elegan dan rapi. Wajahnya yang tampan dan tubuhnya yang proporsional membuat Dava seperti model. Dan Anna mencium parfum dari pakaian Dava.


"Kebetulan malam ini aku akan kencan dengan Elena. Menghabiskan waktu dengan kekasih pujaan ku." setelah itu Dava pergi meninggalkan Anna yang menatap punggung Dava sedih.


Ternyata Dava akan kencan dengan Elena. Pantas saja sangat rapi dan wangi. Dan mereka akan menghabiskan malam bersama. Membayangkan suaminya akan menghabiskan malam dengan orang lain, hati Anna sangat sakit. Padahal Anna juga sangat ingin dekat dengan suaminya itu.


Tersenyum getir Anna mendorong kursi rodanya ke dalam kamar. Anna ingin menangis tapi air matanya tidak mengalir. Mungkin sudah terkuras habis karena Anna sering menangis sepanjang malam.


Daripada memikirkan yang membuat hati Anna sakit. Malam ini Anna akan kembali bekerja sepanjang malam. Melupakan sakit hatinya terhadap Dava.


***


***

__ADS_1


__ADS_2