I'M FINE

I'M FINE
Mencari Uang.


__ADS_3

Aldin tampak berjalan tergesa-gesa masuk kedalam ruang rawat Anderson. Wajahnya panik karena baru saja mendapatkan kabar kalau Dewa mengalami kecelakaan. Ia ingin segera menyampaikan kabar ini kepada Anderson.


"Al? kenapa kau kesini lagi?" tanya Anderson heran saat melihat kedatangan orang kepercayaannya itu.


"Paman, anak buah kita baru saja mengabarkan kalau Dewa mengalami kecelakaan dan sekarang keadaannya kritis" kata Aldin langsung to the poin.


"Bagaimana bisa?" kata Anderson syok. Ia memegang dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri sekali.


"Paman, tenangkan diri Paman. Dewa sudah mendapatkan perawatan di rumah sakit kota" kata Aldin memegang kedua tangan Anderson yang mulai gemetaran.


"Aku harus menemuinya Al, Aku harus bersamanya" kata Anderson ingin segera menemui putranya.


"Tapi Paman, keadaan Paman masih belum sembuh, dokter pasti melarang kalau Paman ingin melakukan penerbangan" kata Aldin khawatir dengan kondisi Anderson yang belum cukup pulih. Apalagi saat ini mereka masih di Negara Jepang dan harus melakukan perjalanan jauh jika pulang ke Indonesia.


"Aku tidak apa-apa Al, putraku lebih penting sekarang. Kau urus saja semuanya" kata Anderson tegas.


Aldin mengangguk pasti, jika sudah mendengar nada tegas seperti itu, artinya ucapan Anderson tidak bisa lagi dibantah. Aldin segera mengurus segala keperluannya untuk pulang ke tanah air malam ini juga.


Anderson pun sudah menyiapkan hatinya dan jiwanya, ia akan menemui darah dagingnya yang baru diketahui keberadaanya setelah dua puluh tahun. Perasaan Anderson campur aduk, tapi ia juga tak sabar ingin segera memeluk putranya dan mengganti seluruh waktu yang terlewati selama ini.


"Paman maaf, tapi sepertinya kita tidak bisa pulang malam ini" kata Aldin dengan wajah penuh penyesalan.


"Kenapa memangnya?" kata Anderson.


"Semua jadwal penerbangan dihentikan Paman karena hari ini akan ada badai dan saljunya turun cukup deras. Jadi semua penerbangan di jadwalkan berangkat besok" kata Aldin tak tega sebenarnya mematahkan harapan Anderson untuk bertemu anaknya, tapi ia juga tak bisa melakukan apapun.


*****


Jam terus bergulir, detik demi detik berlalu begitu cepat, tapi Zoya masih belum menemukan jalan keluar masalahnya. Ia juga sudah meminta tolong Bayu untuk mencari pinjaman kepada teman-temannya tapi uang yang terkumpul hanya sekitar 6 juta, masih kurang 74 juta lagi.


Zoya mulai cemas karena ia berkejaran dengan waktu, apalagi sejak tadi Dokter terus mendesak dirinya dan mengatakan hal-hal yang membuat Zoya hampir gila.

__ADS_1


"Nggak ada jalan lain Bay, Aku harus pergi sekarang juga" kata Zoya tak bisa lagi jika harus berdiam diri seperti ini.


"Kamu mau kemana? Ini udah tengah malem, mau cari uang kemana lagi?" kata Bayu mencegah karena tak ingin terjadi apapun pada Zoya.


"Kamu nggak perlu tau, aku cuma minta satu hal sama kamu, tolong jaga Dewa selama aku pergi, aku pasti baik-baik saja" kata Zoya memandang Bayu penuh tekad membuat pria itu tak bisa berkata-kata.


Zoya bergegas keluar dari rumah sakit, ia bahkan tak bisa berjalan pelan. Ia segera memanggil tukang ojek untuk mengantarkannya ke tempat tujuannya. Zoya mengabaikan rasa dingin yang mengigit saat angin malam menerpa tubuhnya. Ia hanya bisa berdoa kalau usahanya ini akan membuahkan hasil.


"Terimakasih Pak" kata Zoya memberikan beberapa lembar uang untuk tukang ojek itu setelah dirinya sampai.


Zoya memandang bangunan megah didepannya dengan ragu, tempat itu sama sekali belum berubah setelah kepergiannya selama tiga bulan. Ya, malam itu Zoya memang sengaja datang ke rumahnya karena menurutnya hanya Ayahnya lah yang bisa membantunya saat ini.


"Nona Zoya? Nona kenapa dateng malam-malam begini?" kata satpam rumah Zoya yang kaget saat melihat kedatangan majikannya.


"Pak Herman, aku ingin masuk, tolong buka pintunya" kata Zoya.


Pak Herman tampak ragu saat mendengar permintaan nona mudanya itu karena sebelumnya sudah diwanti-wanti kalau tidak boleh membiarkan Zoya masuk kedalam rumah apapun alasannya.


"Nona ada keperluan apa? biar saya sampaikan kepada Tuan Davies" kata Pak Herman.


"Ini sangat penting Pak, tolong izinkan aku masuk" kata Zoya was-was kalau tidak diperbolehkan masuk, saat ini ia benar-benar membutuhkan Ayahnya.


"Maaf nona, saya hanya menjalankan tugas. Nona tau sendiri jika Tuan Davies marah seperti apa, maafkan saya nona" kata Pak Herman tak enak hati, tapi ia juga masih sayang pekerjaannya.


"Bapak tenang aja, aku nanti yang akan menghadapi Ayah, tolong buka ya?" kata Zoya membujuk Pak Herman.


Pak Herman baru saja membuka mulutnya ketika mendengar suara mobil mendekat, disusul suara klakson yang membuat Zoya sedikit kaget. Ia menatap mobil Ferrari yang sangat di kenalnya itu.


"Tuan Zachary!" seru Pak Herman langsung sigap membukakan pintu gerbang untuk Tuannya. Zoya pun segera minggir untuk memberi jalan kepada Zachary.


Zachary tampak mengerutkan dahinya saat melihat sosok Zoya ada disana, untuk apa wanita itu datang tengah malam begini. Ia segera melajukan mobilnya melewati Zoya yang hanya berdiri mematung.

__ADS_1


"Zac!" Melihat Zachary turun dari mobil, Zoya bergegas mendatangi kakaknya itu.


"Ada apa kau kesini? Kehadiranmu tidak di terima di rumah ini, pergi kau" kata Zachary tak ada ramah-ramahnya sama sekali.


"Aku ingin bertemu Ayah" kata Zoya langsung ngeloyor ingin masuk kedalam rumah tapi Zachary dengan cepat menarik tangannya.


"Tidak bisa, kau sudah tidak punya hubungan apapun dengan keluarga ini, jadi jangan harap kau bisa masuk rumahku" kata Zachary.


"Aku hanya ingin bertemu Ayah Zac, tolong mengertilah, dimana hati nurani mu sebenarnya" kata Zoya begitu emosi rasanya.


"Apa kau pikir Ayah akan mau menemui wanita pembawa sial sepertimu? Lebih baik kau pergi darisini daripada berbuat hal yang sia-sia. Pak Herman, usir wanita ini" kata Zachary tak perduli dengan Zoya. Sepertinya memang hati nuraninya sudah mati.


"Kau tidak berhak mengusirku, aku ingin menemui Ayah" kata Zoya segera berlari ke arah pintu utama sebelum Zachary sempat mencegah.


"Hei! Dasar kurang ajar" seru Zachary menyusul Zoya dan segera menarik tangan wanita itu dengan kasar.


"Kau benar-benar tidak punya sopan santun! Pergi darisini wanita sialan!" umpat Zachary begitu kesal.


"Lepaskan aku! Aku hanya ingin menemui Ayah!" kata Zoya berteriak keras. Ia juga kesal karena terus dilarang masuk oleh Zachary.


"Jangan harap kau bisa masuk" kata Zachary kembali menarik tangan Zoya, ia tak perduli wanita itu kesakitan atau tidak.


"Argh....lepaskan aku brengsek! Ayah! Buka pintunya Ayah!"


Zoya terus melawan dan berteriak-teriak memanggil Ayahnya. Ia tak boleh kembali sebelum mendapatkan uang untuk operasi Dewa.


"Biarkan dia masuk!"


Happy Reading.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2