
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Syifa yang sudah mandi dan mengganti pakaian nya mulai jenuh jika harus terus menerus tinggal di kamar nya.
"Aku bosan." gumam nya pelan dengan helaan nafas malas nya.
Semenjak kehamilan nya Syifa memang jarang keluar rumah atau sekedar jalan-jalan keliling komplek perumahan nya.
Mood nya yang selalu berubah-ubah di tambah rasa mual nya membuat Syifa terus menerus tiduran.
Sebenarnya Syifa ingin bekerja seperti teman-teman nya yang lain nya.
sedikit menyayangkan ijazah nya yang lulusan S1.
Tapi karena Arfan yang tidak memperbolehkan Syifa untuk bekerja dan menyuruh Syifa untuk fokus pada kehamilan nya membuat Syifa hanya bisa menurut.
Tidak mau membuat Arfan marah padanya hanya karena masalah spele, Syifa tau apa pun yang di lakukan oleh Arfan itu adalah yang terbaik untuk dirinya.
Syifa melangkahkan kaki nya untuk menuruni tangga, matanya menelaah menatap ke semua arah, dan yang terlihat hanyalah bibi pembantu yang lalu lalang membereskan rumah nya.
"Bi.."
"Iya non." si bibi pembantu berjalan mendekati nona muda nya.
"Ada tukang bakso ngak?." tanya Syifa.
Si Bibi pembantu terdiam, lalu sedetik kemudian..
"Kaya nya belum non, tapi ngak tau, soalnya Bibi belum keluar non."
"Emang nya kenapa non?, non mau bakso?." si Bibi pembantu mulai menduga-duga.
Syifa mengangguk kecil.
"Iya Bi, lagi mau bakso ngak tau kenapa pengen aja gitu." kata Syifa sambil mengusap perut nya yang masih rata.
"Tolong beliin ya bi." lanjut Syifa lagi lalu memberikan uang yang ada di saku celananya pada Bibi pelayan.
Setalah bibi pembantu pergi Syifa memilih untuk kembali berjalan ke arah kamarnya, namun baru satu langkah Syifa berjalan tiba-tiba terdengar suara bunyi bel, membuat Syifa langsung berbalik badan.
"Tumben ada tamu."
"Biar saya aja Bi, bibi terusin aja pekerjaan nya." kata Syifa pada bibi pembantu nya yang satu lagi.
__ADS_1
Syifa berjalan mendekati pintu, membuka pintu dengan perlahan.
"Sia___" ucap Syifa terhenti karena melihat sosok yang ada di depan nya.
"Syifa, aku mau ngomong berdua dengan mu."
"Ngak, aku sibuk."
Syifa ingin menutup pintu namun pintunya di dorong pelan oleh pria itu, membuat Syifa ketakutan.
"Pliss, jangan ganggu aku lagi, aku sudah punya suami, aku mohon pergi dari sini kak." ucap Syifa dengan wajah yang menampilkan ketakutan.
Pria itu masuk mendekati Syifa, sosok wanita yang selama bertahun-tahun dia cari keberadaan nya, dan sekarang dia baru mengetahui jika sosok yang selama ini menjadi istri teman nya itulah adalah gadis kecil yang pernah dia janjikan sejuta kebahagian.
"Kak Putra, aku mohon pergi." tegas Syifa sambil melangkah mundur.
Ya lelaki itu adalah Putra, lebih tepat dokter Putra, sahabat Arfan sekaligus dokter pribadi keluarga Albiansya.
"Aku tau ini telat, tapi aku mohon, dengarkan aku, aku ingin menepati janji ku, janji kita, aku mau membuat semua mimpi kita menjadi nyata." kata Putra sambil menatap gadis kecilnya yang kini sudah menjadi wanita dewasa.
Syifa menggelengkan kepalanya cepat, sudah lama Syifa tau akan keberadaan sosok pria yang menghancurkan hidupnya itu, lebih tepatnya saat malam dimana Putra mengantarkan Arfan yang sedang mabuk dulu.
Tapi meski tau itu Syifa tetap diam, dia bahkan tidak mengatakan kejujuran pada suaminya jika Putra adalah pria di masa lalunya, pria yang mengambil kesucian nya di usianya yang masih sangat kecil.
"Ngak akan, dan ngak akan pernah terjadi, aku sudah bahagia dengan kehidupan ku, aku mencintai Arfan, lelaki pembohong dan bejat seperti dirimu hanya bisa mengatakan kata-kata indah, dan setelah itu kamu pergi tanpa kata perpisahan."
Meski takut Syifa mencoba untuk berani, dia tidak akan membiarkan pria di masa lalunya itu kembali menghancurkan kehidupan nya yang sudah mulai bahagia.
Mendengar kata cinta untuk Arfan membuat Putra tersenyum kecut.
lalu mendekati Syifa lagi.
"Aku tidak perduli dengan cinta mu, akan menunggu mu, dan kamu kembali menjadi milik ku." kata Putra, lalu mengusap pelan pipi Syifa, dan mendapatkan tepisan secara kasat oleh Syifa.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotor mu kak." ujar Syifa sinis.
"Bawa lagi minum nya Bi, tamu nya juga udah mau pulang."
Bibi pembantu bingung, tapi dia memilih untuk tidak bertanya dan berjalan pergi kembali ke dapur.
Syifa menghela nafas nya panjang melihat Putra yang masih belum kunjung pergi.
"Apa aku harus memanggilkan satpam untuk mengusir mu pergi kak?,"
"Kau mengusir ku Cipa?." menekan nama Cipa.
__ADS_1
"Jangan panggil aku dengan nama itu, aku benci nama itu karena orang yang memberikan nama itu adalah seorang pria bejad dan prodofil." menekan kata Prodofil.
Pada akhirnya Putra memilih pulang karena kesal, meninggalkan Syifa yang masih memasang wajah marah nya.
"Dasar laki-laki gila, aku benar-benar membenci nya sangat membenci dia."
"Kenapa Tuhan harus mempertemukan aku dan dia kembali setelah apa yang pernah dia lakukan pada ku, dan kenapa dia harus kembali mengatakan janji nya setelah aku merasakan cinta yang luar biasa untuk suamiku."
Syifa benar-benar merasa kembali di permainkan, seharusnya saat ini dia melalui hari-hari nya dengan penuh kebahagiaan karena dia sedang mengandung buah hatinya, tanda cinta nya dan suaminya Arfan.
Tapi naasnya kini Syifa harus kembali mengingat sesuatu yang menyakiti nya lagi, seolah takdir belum puas untuk memberikan godaan di pernikahan nya.
"Nona."
"Ehk iya." buru-buru Syifa mengusap air matanya, mencoba memasang wajah yang biasa.
"Bakso nya nona, tidak pakai pedas sesuai dengan pesanan non."
"Makasih bi, taruh di meja dulu ya nanti kalau udah dingin masukin kulkas dulu aja, biar nanti malam bisa di angetin." kata Syifa lagi dan setalah mengatakan itu dia pergi melangkahkan kaki nya untuk menaiki tangga.
Entah kenapa Syifa merasa jika ***** makan nya hilang bersamaan dengan datangnya Putra, dengan tidak tau malu nya pria itu kembali meminta nya untuk menepati janji nya.
Benar-benar pria tidak tau malu.
"Arfan, aku butuh kamu." gumam Syifa sambil mengusap air matanya yang terus mengalir.
Di tempat lain Arfan yang baru selesai dengan acara rapat nya langsung berjalan ke arah ruangan nya, namun langkah nya harus terhenti karena melihat sosok yang sangat di kenal nya.
"Achel."
"Kak.."
"Ngapain?, lagi ketemu pacar nya ya, dari bagian defisi apa?, kenalin ke aku dong." kata Arfan sambil tertawa cekikikan.
Membuat sosok gadis yang memiliki perubahan drastis dari segala fisik nya itu mengerucutkan bibir nya sebal.
"Cerewet banget nih calon bapak-bapak, tadinya aku mau magang disini, tapi setelah ngeliat bos bawel nya ngak jadi ahk, aku mau ngelamar kerja nya di perusahaan lain aja, Bye." setelah mengatakan itu Achel pergi, meninggalkan Arfan yang menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Makan apa tuh bocah ya, ko bisa jadi kurus gitu."
________
🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa jejak ♥️
__ADS_1