Istri Cantik Tuan Muda Kejam 2

Istri Cantik Tuan Muda Kejam 2
Harta yang menjadi biang Masalah.


__ADS_3

^^H A P P Y R E A D I N G^^


🌹🌹🌹🌹🌹


Kebahagian campur haru nampak terlihat di rumah Rafasya, selain Babby Twins yang sudah bisa pulang Lisa juga kini bisa bertemu dengan sosok kakek nya, ayah dari orang tua kandung nya.


Pria paruh baya yang duduk di kursi roda itu menatap sosok cucu nya yang telah hilang selama dua puluh dua tahun itu dengan pandangan yang sulit di artikan, tidak menyangka jika pirasat nya benar jika putra nya Ananda Pratama Diningrat memiliki seorang putri.


Beberapa hari lalu Kakek Surya di selamatkan oleh Opa Rafa dan yang lain nya, beruntung saat di temukan kondisi kakek Surya masih hidup meski kakek Surya harus mengalami kondisi drof beberapa hari di rumah sakit.


Kakek Surya bahagia ternyata cucunya berada di lingkungan keluarga yang baik, rumor yang beredar tentang keluarga Rafasya jelas dia tau, dulu dia juga pernah menjadi salah satu pemegang saham di perusahaan yang di pimpin oleh Renan Ammar Raid, ayah dari Rafasya.


"Kakek." panggil Lisa.


"Iya, kenapa cucu kakek yang cantik." sahut kakek Surya sambil tersenyum, belum pernah dia merasa bahagia seperti ini, setelah kepergian istrinya yang di susul oleh kedua putra nya yang juga mengalami kecelakaan kehidupan kakek Surya sangat hambar dan tidak bergairah, apalagi dia hidup di lingkungan kedua cucunya yang memiliki sifat yang jauh dari kata baik itu.


"Kakek jangan memuji terus, aku sudah punya anak dua loh, masa iya di panggil cantik terus." Lisa berkata dengan tersenyum manis.


Hal itu membuat Kakek Surya gemas, jika dia tau dari dulu dia memiliki cucu sacantik dan semanis Lisa mungkin dia akan mencari cucunya, tapi dia kehilangan jejak nya karena faktor usia yang membuat dia mudah lelah.


"Tidak itu fakta, kamu memang manis dan cantik seperti Nenek mu." ucap Kakek Surya, dia kembali teringat sosok almarhum istrinya yang sangat menanti-nanti kehadiran seorang cucu, tapi kecelakaan merenggut istrinya dan kedua anak menantu nya.


Melihat kakek nya yang sedih membuat Lisa berjongkok, dia mengusap air mata yang ada di pelupuk mata kakek nya.


Lisa paham dengan semua kerumitan yang melanda keluarga nya, harta yang berlebihan menjadi dalang dari perpecahan keluarga nya.


Lisa juga tidak paham kenapa semua orang gila harta, padahal harta tidak di bawa mati, tapi harta berlebih menjadi biang masalah yang membuat kehidupan nya yang nyaman terusik.


"Jangan menangis, kakek sekarang sudah aman." ucap Lisa, sambil tersenyum.


"Ini tangis kebahagiaan, kakek bahagia melihat mu hidup di lingkungan yang bisa menerima mu sepenuh hati." sahut Kakek Surya.


Bian yang melihat istrinya sedang mengobrol dengan kakek Surya langsung memberikan Babby Aziel yang ada di pelukan nya kepada sang Mama.


"Ma, titip Aziel dulu, aku ingin kesana." ucap Bian di angguki oleh Mama Alena.


Setelah itu Bian berjalan mendekat istri dan kakek nya, "Sayang." panggil Bian.


Lisa melirik sambil tersenyum, "Mana Babby Aziel?." tanya Lisa.


"Bersama Mama, aku menitipkan nya pada Mama." sahut Bian, lalu ikut berjongkok seperti yang di lakukan istrinya.

__ADS_1


Kakek Surya melihat satu persatu cucu nya dan cucu menantunya.


"Kakek titipkan Lisa padamu, kakek tau kamu pasti bisa menjaga nya." ucap Kakek Surya penuh harap.


Tentu saja tanpa di minta pun dia akan melakukan nya, Lisa dan kedua putra nya adalah nafasnya, dan tanpa nafas dia tidak akan bertahan hidup, begitulah arti Lisa dan dua putra nya bagi Bian.


"Aku akan menjaga Lisa dengan sepenuh hatiku, mencintainya tanpa batas waktu, menjadikan sebagai satu-satunya wanita yang menemani hidup ku." ucap Bian dengan bersungguh-sungguh.


Hal itu bisa di lihat oleh kakek Surya, dia yakin Lisa akan bahagia bersama Bian, pandangan Bian di mata kakek Surya adalah seorang pria yang bertanggung jawab, tangguh, dan pantang menyerah.


"Kakek percaya padamu."


"Dan untuk masalah warisan kakek akan mengubah semua warisan kakek untuk mu, kakek tidak akan membiarkan harta kita di miliki orang-orang yang tamak seperti sepupu mu." lanjut kakek Surya lagi.


Lisa dan Bian saling berpandangan, keduanya jelas tidak mengharapkan apapun yang berkaitan dengan harta, Bian memiliki perusahaan, dan begitupun dengan Lisa, dia juga memiliki harta peninggalan orang tua angkat nya.


"Kami tidak menginginkan nya kakek, aku dan suamiku tidak mau mengambil warisan sepeser pun, bukan karena kami sombong, tapi kami tidak ingin harta itu menjadi penghalang kebahagiaan kami, sudah cukup Perry membuat masalah dengan pembunuhan Mama , Papa dan orang terdekat kami, kami tidak mau lagi kehilangan orang tersayang lagi, maaf kakek." ucap Lisa sambil tertunduk.


Jika harta bisa membawa bencana maka Lisa memilih tidak mengambilnya, dia tau seperti apa obsesi sepupunya untuk mendapatkan harta itu, dan Lisa tidak mau sepupunya kembali berulah lagi jika dia menerima warisan itu.


Lain hal nya dengan pandangan kakek Surya, dia ingin Lisa atau kedua cicitnya yang mewarisi hartanya, karena bagaimana pun sebagian harta nya adalah usaha dari Ayah nya Lisa, Ananda Pratama Diningrat putra nya saat masih muda dulu.


"Kakek tidak menerima penolakan, ini semua adalah hak kamu Lisa, kakek juga akan memberikan sebagian lagi untuk Perry, tapi hanya lima belas persen, dan selebihnya lagi adalah milik mu." kata Kakek Surya kekeh.


Bian memegang tangan istrinya. "Aku tidak akan membiarkan Perry menganggu kebahagian kita, jika dia berani menyakiti kalian maka sama saja dengan kembali membangunkan macan." tegas Bian.


Kakek Surya tersenyum mendengar penuturan cucu menantunya, keturunan Rafasya memang tidak bisa di spele kan, tapi sepandai-pandainya tupai meloncat pasti akan jatuh juga bukan?, berharap cucu nya yang penuh ambisi itu tidak akan berulah lagi.


Tiba-tiba tangis Babby Twins terdengar, membuat Bian dan Lisa langsung berdiri.


Bian mendorong kursi roda yang di duduki kakek Surya ke arah kerumunan para Opa dan yang lain nya.


Sedangkan Lisa langsung mengambil Babby Azelo yang sedang menangis itu.


"Uuh anak Mommy, kenapa haus ya sayang?." ucap Lisa sambil menggendong bayi nya.


Lisa membawa Babby Azelo ke kamar, dia akan menyusui bayi nya dulu, sedangkan di luar nampak Babby Aziel yang kini malah menjadi mainan para Oma nya yang merasa gemas.


Sedangkan para pria berbeda generasi nampak sibuk membicarakan bisnis, di susul oleh Bian yang membawa kakek Surya.


"Dia seperti Bian." ucap Oma Ririn sambil tersenyum melihat sosok cicitnya yang menggemaskan.

__ADS_1


Oma Dian dan yang lain nya mengangguk, tapi tidak dengan Mama Alena yang tidak setuju dengan ucapan mertuanya, menurutnya Aziel lebih mirip dengan Arka.


Tapi baru Mama Alena akan membuka suara tiba-tiba datanglah sosok tengil yang tiba-tiba memeluk nya.


"Jadi Aziel aja nih yang ganteng, aku ngak." sosok tengil itu memulai drama nya.


"Astaga Arfan, sudah besar masih aja nempel ke Mama nya." bukan Oma Ririn melainkan Oma Hanny yang menertawakan kelakuan Arfan.


"Biarin Oma, selagi belum punya istri peluk Mama dulu, nanti kalau udah punya istri kan ngak bisa kaya gini lagi, iya kan Oma." melirik Oma Dian.


Oma Dian dan Oma Ririn saling melirik, lalu terkekeh.


mereka sendiri tidak tau mirip pada siapa cucu nya yang satu ini, tengil manja dan pecicilan, setahu mereka di keluarga Rafasya tidak ada yang setengil itu, terkecuali..


"Mommy I'm coming." teriak sosok wanita yang sudah berusia matang.


Dan saat itulah Oma Ririn dan Oma yang lain nya mengerti, Arfan mengikuti sikap Tenteu nya, siapa lagi kalau bukan Anaira.


"Astaga Ira sudah tua masih saja." gumam Oma Ririn pelan, hampir tidak terdengar.


"Oma..!! yuhuu..!! nona cantik datang." teriak sosok gadis berambut pendek dengan gaya jalan nya yang tidak mencerminkan gaya preminim wanita, lebih tepat nya tomboy.


Langsung Oma Hanny bangkit, dan langsung berteriak heboh.


"Yuhuu.. Oma disini sayang." teriak Oma Hanny cempreng, tapi sedetik kemudian dia memegang pinggang nya.


"Kenapa?." tanya Oma Dian.


Namun Oma Hanny malah menggeleng, dan langsung berjalan ingin mendekati cucu kesayangan nya.


"Oma apa tidak sakit pinggang nya?." tanya sosok gadis berambut sebahu itu.


Oma Hanny mendekatkan bibirnya ke telinga sang cucu.


"Sakit, tapi Oma tidak boleh terlihat tua di hadapan Oma yang lain nya, Oma ini yang paling cantik, kau tau itu bukan sweety." bisik Oma Hanny di balas kekehan sang cucu.


"Oma emang the best." gumam gadis cantik itu.


_________


🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Jangan lupa jejak, ♥️


__ADS_2