
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Membuang ego Rere kembali melanjutkan rumah tangga nya, dia tidak bisa membuat hati Bunda dan ayah nya terluka karena keegoisan nya.
Meski dia kembali harus menerima sandiwara pernikahan nya yang tanpa cinta, tapi untuk beberapa bulan setelah hari dimana dia mengatakan tidak bahagia pada sang Bunda, kini Rere sudah mulai terbiasa menjalani hari-harinya nya.
Reyhan nampak sudah siap dengan stelan Koko nya, tak lupa dengan peci yang menempel di kepalanya, menutup sebagian rambut nya.
Namun lain hal nya dengan Rere yang masih bersembunyi di balik selimut, membuat Reyhan menggelengkan kepalanya, lalu menarik nafasnya perlahan.
"Rere, ayo bangun..sholat dulu yu." ucap Reyhan lembut sambil mengusap punggung istrinya.
Tak mendapatkan respon dari sang istri membuat Reyhan kembali mengusap pipi istrinya, "Cantik, ayo bangun kamu kan istri Sholehah." Reyhan kembali mengulang ucapan nya, dia mendapatkan kata-kata itu dari salah satu tausiah ustadz di YouTube, cara membuat istri nyaman dan bahagia.
Perlahan Rere mengeliat membuat Reyhan tersenyum sumringah.
"Aah nanti lima menit lagi Mas." ucap Rere masih betah dengan selimut kesayangan nya.
"Yakin mau tidur lagi?, ngak mau ambil pahala nih? padahal pahala sholat subuh gede loh sayang." sambung Reyhan sambil mengangkat sebelah alisnya ke atas.
Perlahan Rere bangun, tapi matanya masih merem melek.
"Iya..iya.. bawel kamu mas." sahut Rere sambil menguap lebar, kantuknya masih belum hilang.
Melihat Rere yang berjalan ke arah kamar mandi dengan langkah yang masih mengantuk membuat Reyhan terkekeh, entah kenapa Rere semakin menggemaskan di matanya.
Dan perubahan Rere yang sekarang tidak suka marah-marah padanya lagi membuat Reyhan semakin bahagia, kini Reyhan hanya menunggu datangnya cinta diantara rumah tangga nya, dan juga buah hati, dia sudah tidak sabar untuk menanti saat-saat indah itu.
Setelah selesai sholat berjamaah dengan istrinya Reyhan dan Rere saling melirik.
"Terimakasih." ucap Rere.
"Untuk?." Reyhan menyerhitkan dahinya tidak paham.
"Memabangunkan ku, dan mengajak ku berubah bersama." kata Rere tersenyum kecil.
Reyhan ikut tersenyum. "Itu sudah kewajiban ku, kamu mau makan apa? aku akan masak untuk mu." ucap Reyhan berniat berdiri namun lengan nya di tahan oleh Rere.
"Kenapa?." tanya Reyhan.
__ADS_1
"Jangan pergi, duduk lah sebentar." ucap Rere sambil menatap lekat netra mata suaminya.
Pria yang sudah bersusah payah memahami semua kekurangan nya, sosok yang tidak pernah dia dambakan dan kini menjadi sosok yang bisa menuntunnya ke jalan yang lebih baik.
Reyhan duduk dengan netra mata yang penuh kedamaian membuat Rere merasa canggung.
"Kamu mau bicara apa?." tanya Reyhan masih dengan suara nya lembut tanpa penekanan sedikitpun.
Jika di tanya senang apa tidak memiliki suami seperti Reyhan Rere bingung, satu sisi dia merasa Reyhan terlalu naif untuk nya, tapi tidak bisa di pungkiri jika Reyhan adalah lelaki pertama yang bisa menghargai nya, memperlakukan nya dengan cara yang sangat spesial.
"Aku mau mencoba nya lagi, aku mau mencoba nya kembali, aku sudah siap." ucap Rere menunduk, terlalu malu rasanya menatap sosok yang sangat jauh dari kata kekurangan itu.
Sebelumya Rere sudah memikirkan semuanya dengan matang, dia sudah memutuskan untuk mengikuti saran sang bunda, membuka lembaran baru bersama orang yang kini bersama nya.
"Mau apa?." tanya Reyhan tidak paham.
Di pegang nya kedua pipi Rere, "Kalau bicara sama suami ngak boleh nunduk, derajat wanita lebih tinggi dari laki-laki, aku suami mu, jadi tataplah aku." ucap Reyhan sambil tersenyum.
Degg..
Getaran yang ada di tubuhnya membuat Rere merasa salah tingkah, Kenapa juga jantung nya berdetak kencang, padahal bisanya tidak seperti ini.
"Aku mau anu." ucap Rere malu, apalagi Reyhan menatapnya terus menerus, membuat dia kembali salah tingkah.
"Aduh gimana, masa iya aku ngomong kalau aku mau itu.. gengsi." batin Rere menggerutu.
"Tidak baik menggerutu, kamu kan istri Sholehah jadi tidak boleh menggerutu yang tidak-tidak di dalam hatimu." sambung Reyhan kembali berceramah.
Rere sudah biasa mendengarnya, tapi... ini lain lagi, dia bingung harus mulai dari mana.
"Aku mau kita mulai lagi, melakukan nya lagi dan aku mau menjadi Umi untuk anak-anak kita nanti." ucap Rere, huh lega rasanya, tapi sedetik kemudian Rere membuang wajahnya kesamping, merasa gugup.
Perlahan Reyhan memegang tangan Rere, dia senang bukan main mendengar ucapan istrinya, secara tidak langsung Rere sudah menyerahkan segenap jiwanya untuk di miliki nya.
"Kamu yakin." tanya Reyhan.
Rere mengangguk. "Aku yakin, ajarkan aku untuk menjadi istri Sholehah seperti yang kamu idamkan, aku mau memulai nya dari awal lagi." kata Rere bersungguh-sungguh.
"Terimakasih Tuhan, engkau telah membukakan pintu hati istri ku." batin Reyhan.
Sedangkan Rere kini sedang mengingat pesan Bunda nya.
__ADS_1
"Cinta datang setelah terbiasa, jadi mulai yang baik-baik dulu Bunda yakin cinta akan datang setelah kalian mulai terbiasa hidup saling mengisi kekurangan masing-masing."
tanpa aba-aba Reyhan langsung memangku Rere ke arah tempat tidur, sepertinya pagi ini dia akan libur kerja, dia ingin menghabiskan waktu nya sehari untuk istri nya.
Di tatapnya wajah cantik istrinya, dia baru melakukan nya dua kali, dan itupun dalam keadaan yang bisa di katakan sangat tidak pantas.
"Aku mencintaimu." ucap Reyhan sambil menatap wajah istrinya penuh cinta.
Rere hanya tersenyum, dan Reyhan mengerti, dia tau istrinya belum sepenuhnya mencintainya, tapi itu bukan masalah besar baginya Rere sudah mau menerima nya itu adalah hal yang sangat membahagiakan untuk nya.
"Tidak apa, aku akan menunggu cintamu." ucap Reyhan lembut.
"Terimakasih, telah mengerti aku." ucap Rere mulai mengalungkan tangannya ke leher suaminya.
Keduanya mulai di landa hawa panas, tapi belum juga lima menit hawa panas itu menjelajah ke tubuh masing-masing, sebuah telpon masuk ke ponselnya Reyhan membuat Reyhan seketika menghentikan aksi nya dan menerima telpon nya dulu.
Rere menuggu dengan wajah yang tersipu malu, dia merasa tidak sabar untuk kembali memadu kasih dengan suaminya.
Tapi saat melihat wajah suaminya yang nampak tidak bersemangat membuat Rere menebak-nebak jika ada suatu masalah, tapi dia tidak tau apa itu.
"Siapa yang nelpon mas?." tanya Rere.
Reyhan melirik istrinya lalu menghela nafasnya perlahan. "Dari rumah sakit, katanya aku harus ke rumah sakit sekarang untuk mengoperasi pasien." ucap Reyhan, sambil menunduk.
Sebenarnya ada rasa kecewa saat mendengarnya, apalagi Rere merasa ingin sekali bermanja-manja dengan suaminya, belum lagi acaranya yang tadi juga belum selesai, dia masih merasa sensasi panas itu.
Tapi biasa apa dia, memiliki suami yang bekerja sebagai seorang dokter spesialis jantung memang harus menerima konsekuensi seperti ini, ini adalah kewajiban suaminya, dan Rere harus ikhlas karena pekerjaan suaminya adalah pekerjaan yang sangat mulia.
"Pergilah mas, aku tidak apa, lagian kita bisa melakukan nya nanti lagi." ucap Rere sambil tersenyum.
Reyhan menghangat mendengar ucapan istrinya.
"Terimakasih, aku janji akan pulang cepat." ucap Reyhan sambil mengusap pipi istrinya.
Cupp..
Rere memberikan ciuman di pipi sang suami.
"Semangat Mas." ucap Rere sambil terkekeh.
_________
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹
jangan lupa jejak, ♥️