
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
"Dill.."
"Chel, kamu ngak apa kan?."
Keduanya langsung berpelukan, Dilla mengusap pelan punggung Achel, tidak biasanya dia melihat Achel yang menangis seperti ini.
Bahkan saat Achel di tinggal nikah oleh Arfan tangisan nya tidak separah ini, sampai bergetar dan sesegukan yang membuat suasana terasa pilu.
"Kamu di apain sama kak Lucas?, cerita sama aku." kata Dilla sambil memegang kedua pipi Achel, tatapan matanya masih mengarah pada mata Achel yang terus mengeluarkan air mata.
Bukan nya menjawab Achel malah semakin menjadi-jadi, dan tangisan nya itu tentu saja membuat Dilla semakin menduga-duga yang tidak-tidak.
Jika benar kak Lucas berani macam-macam sama Achel Dilla tidak akan memaafkan pria yang sempat mencuri hatinya itu, sesayang-sayang nya Dilla pada Lucas tentu saja dia lebih sayang Achel.
Apalagi Lucas selalu menolak nya dengan alasan yang membuat nya kesal, sedang kan Achel? dia sahabat seperjuangan nya, sahabat kecil nya yang banyak menemani nya di saat-saat paling menyakitkan ataupun saat bahagia nya, Achel adalah sahabat terbaik nya.
"Dill, kak Lucas hikss.. dia udah banting ponsel aku, bahkan.." Achel tak sanggup melanjutkan nya.
"Kamu coba tenang dulu, rileks dan jangan nangis." kata Dilla mencoba menenangkan.
Achel mencoba rileks, dia kembali mengatakan semua yang di alaminya hari ini.
termasuk sikap Lucas yang kasar pada nya, perkataan Lucas yang memanggil nya dengan kata tidak pantas.
Sampai Achel yang kabur dan di kejar-kejar oleh Lucas.
semua nya Achel ceritakan tanpa ada sedikit pun yang tertinggal, Achel mau Dilla sadar jika dia telah mencintai pria yang salah.
Bukan salah, mungkin lebih tepatnya kekurangan Lucas semuanya telah di bongkar Achel, dan selanjut nya terserah Dilla, ingin melanjutkan cinta nya atau tidak, Dilla berhak memilih cinta nya.
"Ya Allah Chel, kamu beneran di perlakukan seperti itu, kak Lucas ko gitu sih."
"Kamu pikir aku bohong Dill, buat apa coba hiks.. ?." Achel menangis lagi.
"Luka kamu? itu yang buat kak Lucas juga?." tanya Dilla melihat beberapa luka di bagian kaki dan lengan Achel.
Achel menggelengkan kepalanya pelan.
"Bukan, kak Lucas cuman jambak sama banting ponsel aku aja, kalau luka ini ulah para preman yang ngejar-ngejar aku, hiks.. aku takut Dill, mereka..hiks.. mereka.." Achel ketakutan.
Dilla langsung memegang tangan Achel memberikan kekuatan untuk sahabat nya.
Tanpa Achel melanjutkan ucapan nya pun Dilla sudah paham, tangan nya terulur untuk membelai pipi Achel.
"Udah jangan nangis lagi, kamu tau mereka ngak pantes buat kamu tangisan, pecundang yang ngak punya moral, kamu kuat aku tau kamu pasti bisa lewatin ini."
"Tapi mereka.." Achel menangis sesegukan, begini lah Achel jika di hadapan Dilla dia akan sangat rapuh, tapi jika di hadapan orang lain Achel akan menjadi wanita yang melupakan semua kesedihan nya dengan di tutupi oleh keceriaan nya.
"Mereka ngak penting, yang paling penting sekarang itu kamu harus mengatakan semuanya sama Mami Papi, ingat Chel kejujuran itu yang utama, kalau kamu menyembunyikan semua nya dari Mami Papi itu semua hanya akan membuat kamu semakin takut, kamu butuh aku kamu butuh orang-orang yang menyayangi mu, dan aku kita semua akan ada buat kamu, support kamu dan lindungi kamu." kata Dilla panjang kali lebar membuat Achel terdiam.
__ADS_1
"Dill.. makasih."
"Sama-sama, kamu adik aku. dan sebagai kakak aku ngak akan biarin adik aku di sakitin."
"Dan kamu kak Lucas, kamu benar-benar membuat aku kecewa, kamu udah buat Achel ketakutan seperti ini, aku ngak nyangka kamu bisa bersikap di luar kendali kaya gini, aku benar-benar udah kehilangan respek sama kamu kak." batin Dilla teramat kecewa pada sosok yang di kagumi nya.
Rasanya sangat bodoh, mencintai seseorang yang sama sekali tidak pernah mencintai nya, dan sekarang lebih parahnya lagi Lucas menyiksa mental Achel, dia tau seperti apa Achel, di balik keceriaan nya Achel memiliki hati yang sangat lembut dan mudah tersentuh.
Beberapa menit berlalu..
Achel menghentikan tangisnya.
"Dill, minta tisue dong." pinta Achel.
"Ihk.. ingus mu Chel.. jorok banget." Dilla mendelik jijik melihat ke arah Achel.
"Makanya buruan minta tisue nya, emang mau aku elapin ini ke baju kamu?." Achel berkata santai.
Dillla menggelengkan kepalanya, dia beranjak dari tempat tidur untuk berdiri, lalu berjalan kesana kemari mencari letak tisue.
"Dimana sih, ngak ada?." tanya Dilla menatap sekeliling kamar yang luasnya sama besar dengan kamar nya di rumah Mommy Daddy nya.
Achel mengangkat bahunya ke atas, dia juga tidak tau.
"Ngak tau, tanyain ke Om Rangga gih." kata Achel semaunya.
"Ngomong nya gimana?."
Dilla menghela nafasnya, niatnya ingin keluar dari kamarnya tiba-tiba Dilla merasa jika pintu sedikit terbuka, dan yang membuat Dilla semakin aneh saat melihat mata seseorang yang beradu pada matanya.
"Om jangan ngintip, bawain tisue dong Om."
Deg..
Rangga dan Zico saling berpandangan, malu rasanya keduanya ketahuan mengintip sedari tadi.
Sampai akhirnya pintu terbuka memperlihatkan dua sosok pria tetap yang memperlihatkan wajah kikuk nya.
"Butuh tisue kan?, ini." Rangga menyerahkan wadah tisue nya pada Dilla.
Sedangkan Achel yang malu langsung membalikan tubuhnya menjadi membelakangi, malu jika si Om melihat penampilan nya yang acak-acakan.
Dilla menerima nya, lalu melirik Achel yang membelakangi nya.
"Om kamar nya pinjem ya, semalam doang." kata Dilla, dan tanpa menunggu jawaban dari pemilik kamar Dilla langsung menutup pintunya, mengunci kamar nya dari dalam.
"Udah Chel, selamat." kata Dilla sambil memberikan wadah tisue nya pada Achel.
Achel menerima nya, dan setelah beres urusan dengan lap mengelap nya Achel langsung memberikan tisue itu pada Dilla.
"Jorok."
"Kan sahabat."
__ADS_1
Huh..
Mau tak mau Dilla membuang tisue bekas Achel ke tong sampah kecil yang ada di sudut ruangan.
tapi saat Dilla akan kembali duduk tiba-tiba Achel mengatakan...
"Cie, hot Daddy baru ya." celetuk Achel.
Yang mana membuat Dilla salah tingkah.
"Apaansih, Om Zico kan cuman nganterin."
Tapi Achel yang melihat gelagat mencurigakan dari sahabat nya hanya tersenyum santai.
"Ngak papa sih kalau benar hot Daddy juga, lagian kalian cocok ko, si Om meski udah tua tapi ganteng loh Dill."
"Chel, kamu ngomong apaansih, mana ada aki-aki rese itu cocok sama aku, dia dan aku kaya anak sama bapak, tapi bapaknya nyebelin ngak banget deh." Dilla menolak tuduhan teman nya.
Lalu Dilla menatap Achel.
"Jangan-jangan bukan aku sama Om Zico lagi, tapi kamu sama Om Rangga yang emang saling suka, ayo ngaku." tuduh Dilla masih menatap Achel.
"Hus, Om Rangga itu Om aku, mana ada suka-sukaan, ngak boleh."
"Tapi tadi ko aku liat kamu sama Om Rangga peluk-pelukan gitu?."
Kini bukan Dilla yang gelagapan, tapi Achel lah yang kikuk, Karena saat Dilla masuk kamar Achel hampir terjatuh saat ingin ke kamar mandi, dan Om Rangga langsung menolong nya tapi terlihat mungkin seperti saling memeluk.
"Ngak ada ya, kamu inget kan mereka itu apa." Achel mengingat beberapa tahun lalu.
Yang membuat Dilla dan Achel saling berpandangan.
"Gy."
Hah! Gy !!
Rangga dan Zico yang sedang mendekatkan telinganya di balik pintu langsung saling pandang.
Lalu sedetik kemudian keduanya langsung menutupi dada nya.
"Ngapain kamu liat saya." Rangga mendelik Asisten nya.
"Tuan yang melihat saya." Zico malah balik menuduh.
"Gy?." gumam keduanya bersamaan.
__________
🌹🌹🌹🌹🌹
Papi Andrian marah ngak ya anak gadis nya di culik Om??
Jangan lupa jejak ♥️
__ADS_1