
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Mama Alena senang bukan kepayang mendengar menantu kesayangan nya akan menginap selama beberapa hari di rumah nya, di tambah lagi para Oma pun akan ikut menginap di rumah nya, hal yang sangat langka.
Ketiga Oma nya kompak datang setelah mendengar kabar buruk itu, dimana ada musuh yang berkeliaran dan mengincar Lisa, membuat ketiga Oma nya langsung memutuskan untuk menjaga Lisa, terutama Oma Ririn yang ingin menjaga cucu menantunya, dia ingat akan hal di masa lalunya, dimana dia juga pernah melakukan hal ceroboh di saat sedang mengandung papa Arka dulu.
Hal yang menimpa Lisa sama hal nya dengan apa yang menimpa rumah tangga Oma Ririn dan Opa Rafa dulu, dimana Oma Ririn dengan ceroboh masuk kedalam perangkap kakak tirinya dan musuh suaminya.
Lisa duduk di kelilingi ketiga Oma nya, sedangkan Mama Alena sedang mempersiapkan beberapa makanan yang akan di masak untuk makan malam keluarga besarnya nanti.
"Apa ada seseorang yang mengirimkan pesan?." tanya Oma Ririn yang kesekian kalinya, dia ingat masa lalunya dimana surat kuning membawa petaka untuk dirinya.
"Tidak ada Oma, kan ponselnya di pegang Oma Dian." ujar Lisa sambil tersenyum.
Memang ponselnya di sita oleh Oma Dian dengan alasan takut Lisa menerima pesan ancaman, itu juga adalah saran dari Opa Rey yang menyuruhnya untuk menyita ponsel Lisa dulu.
Mereka takut Lisa akan syok jika mendapatkan ancaman, apalagi kondisi Lisa sekarang ini sedang kurang sehat, dokter juga berpesan untuk tidak membuat Lisa merasakan cemas berlebihan karena itu akan berpengaruh terhadap kehamilan nya.
"Mau puding?." Oma Hanny yang sedari tadi ngemil puding menawari cucu menantu sahabat nya.
Lisa mengangguk. "Boleh Oma, Lisa mau yang rasa stroberry." kata Lisa yang entah kenapa mau rasa stroberry padahal biasanya dia selalu menginginkan puding rasa coklat.
Dengan senang hati Oma Hanny menyuapi Lisa, posisi mereka sekarang sedang duduk di alas karpet bulu dengan Lisa yang bersandar di bantal karena kehamilan nya membuat Lisa mudah keram di kaki nya.
Oma Ririn tersenyum melihat Lisa yang nampak menyukai stroberry, itu mengingatkan nya saat sedang mengandung papa Arka dulu, dimana Oma Ririn sangat menyukai buah berwarna merah itu.
"Oma, mau pinjam ponsel nya boleh ngak?, Lisa mau nelpon kak Bian dulu, mau mastiin kabar Mama dan Papa." pinta Lisa.
Oma Dian melirik kedua sahabatnya, dan langsung di angguki kedua nya.
"Tentu saja boleh." sahut Oma Dian sambil tersenyum memperlihatkan gigi nya yang putih, lebih tepat nya gigi palsunya.
Lisa menerima ponselnya, dengan cepat dia menghubungi suaminya.
"Hallo sayang." panggil Lisa.
"Iya sayang, ada apa? kenapa menelpon?." tanya Bian.
__ADS_1
Lisa melirik ketiga Oma nya, "Aku hanya penasaran kabar Mama dan Papa?, bagaimana apa Mama sudah mau berbicara?." tanya Lisa lagi, kemarin terakhir dia menjenguk Mama nya masih belum banyak bicara, adapun berbicara Mama dan Papa nya nampak memperlihatkan raut wajah yang dingin, tidak seperti biasanya.
Terdengar helaan nafas di sebrang telpon, "Sama seperti kemarin, tapi kata dokter itu hal yang wajar, mungkin Mama dan Papa masih butuh waktu untuk bicara pada kita." jawab Bian, bijak.
Lisa terdiam, setelah orang tuanya sadar entah kenapa Lisa merasa sudah kehilangan dua sosok yang selalu mendukung setiap keinginan nya dulu, orang tuanya yang sekarang sangat dingin bahkan Lisa sampai tidak bisa berkata-kata dengan perubahan aneh orang tuanya.
Setelah panggilan nya terputus Lisa memberikan ponselnya pada Oma Dian lagi, dan kembali menerima suapan puding dari Oma Hanny.
"Makasih Oma, Lisa udah kenyang." kata Lisa, seraya tersenyum.
Oma Hanny kembali menyuapi puding untuk nya, gigi palsunya membuat dia memilih untuk makan-makanan yang tidak terlalu keras, usianya yang tua membuat ketiga wanita paruh baya itu tidak memiliki gigi dan memilih untuk memakai gigi palsu agar penampilan mereka tidak menyeramkan, nenek-nenek ompong, tidak mereka tidak akan membuat citra mereka jelek sebagai istri dari ketiga Opa berkharisma.
Sedangkan di tempat lain nampak Bian yang sedang duduk di ruangan yang penuh sejarah, tak lupa di sebelah sisi kanan kirinya ada ketiga Opa nya dan sang papa yang sedari tadi menatapnya penuh tanya.
"Menurut dokter Mama Dini dan Papa Heri mengalami trauma berat, penyakit seperti syok yang membuat mereka tidak bisa di ajak bicara masalah yang terlalu berat." kata Bian.
"Opa rasa mertua mu memiliki musuh yang cukup kuat, atau semua ada kaitan nya dengan pria bernama Han yang telah meninggal itu." Opa Rafa yang sedari tadi berpikir mulai mengeluarkan pendapatnya.
Opa Rey yang statusnya sebagai mantan Asisten Mafia sekaligus hackers langsung berjalan dengan tubuh yang tidak terlalu tegak nya, dan duduk di dekat Bian.
"Menurut penelusuran Heri dan Dini tidak pernah memiliki musuh, tapi disini ada file yang mengakan jika mereka pernah mengikuti bebarapa kali sidang hak asuh anak." kata Opa Rey.
"Sidang anak? apa maksudmu?." tanya Opa Rafa sewot.
"Sepertinya Lisa bukan anak mereka." ucap Opa Rey.
"Mana mungkin, saat kehamilan nya Dini dulu Sanjaya membawa nya untuk makan malam di rumah ku." kata Opa Rafa, di angguki Papa Arka yang memang ikut dalam makan malam itu.
Suasana menjadi panas, Opa Rafa dan Papa Arka masih berargumen jika apa yang di katakan Opa Rey itu salah, jelas mereka tau saat kelahiran Lisa dulu.
Bian yang semula diam langsung menatap semua mata yang nampak melihat ke arahnya itu.
"Sudah ku duga, Lisa bukan anak Papa dan Mama." ucap Bian tiba-tiba.
"Apa maksud mu Bian, jangan asal ngomong jelas-jelas dulu kita ikut ke rumah sakit melihat Lisa lahir." sewot Papa Arka.
"Tapi DNA Lisa dan mertuaku berbeda, Lisa memiliki golongan darah O+ sedangkan Papa Heri memiliki golongan darah AB, dan Mama Dini golongan darah nya B." ucap Bian lalu kembali terdiam.
Bian masih ingat betul jika kemarin saat mertuanya kehabisan darah pihak rumah sakit mengatakan jika golongan darah mertuanya banyak stok, karena golongan darahnya terbilang familiar.
__ADS_1
Dan yang membuatnya semakin curiga dokter mengatakan jika golongan darah keduanya bukan O+ seperti golongan darah yang di miliki istrinya, tapi Ab dan B.
Semua mata langsung melihat ke arah Bian lagi, mereka sedang berasumsi sendiri, memecahkan sesuatu yang cukup sulit, tapi tidak terasa sulit jika di lakukan bersama-sama.
Jadi Lisa anak siapa?.
Saat mereka kembali terdiam tiba-tiba saja Opa Rafa berdiri, membuat semua mata menatap ke arahnya.
"Kenapa? apa Opa tau sesuatu?." tanya Bian serius.
Opa Rafa menatap ke semua orang yang menatapnya serius, dia berdehem. "Opa merasa sakit pinggang, sepertinya encok Opa kumat lagi." ujar Opa Rafa yang membuat Opa Zex yang sedari tadi terdiam menjadi tertawa.
Haha..
"Kau memang sudah tua." cibir Opa Zex sambil tertawa.
"Dan kau pikir kau masih muda? kau juga sudah bau tanah kakek tua." sewot Opa Rafa, tidak mau kalah.
Memang benar kata pepatah jika semakin tua usia pria maka semakin liar juga pikiran nya, tapi usia mereka yang sudah hampir menginjak usia delapan puluh tahun itu malah semakin suka ribut, terlihat dari apa yang mereka lakukan sekarang dimana mereka saling mengatai tua, padahal ketiganya memang benar sudah tua.
"Mulai lagi." ucap Bian dan Papa Arka dengan helaan nafas kesal, memang ketiga Opa itu selalu berasumsi jika masing-masing diantara mereka ada yang masih berasa muda, dan ujungnya saling tuduh tua, padahal memang faktanya jika ketiganya sudah bau tanah.
"Opa serius, istriku dalam bahaya." kata Bian sedikit keras.
Membuat ketiga Opa itu melirik ke arahnya.
"Siapkan saja uang yang banyak, Opa tau siapa yang bisa mencari tau asal usul Lisa." ucap Opa Rafa, lalu melirik Opa Rey dan Opa Zex bergantian.
"Siapa?." bukan Bian, melainkan Papa Arka yang menyahutinya.
"Siapa lagi kalau bukan Andrian, dia memiliki keahlian di bidang hacker seperti Rey." kata Opa Rafa, dan Opa Rey langsung menunjukan wajah sombong nya.
Mulai...
_________
🌹🌹🌹🌹🌹
Ini masih ada ngakak nya, tapi epsd selanjutnya mungkin ada sedihnya😬
__ADS_1
Jangan lupa jejak, ♥️