
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Zico menggenggam tangan Dilla, keduanya kini sedang duduk di bangku taman sambil menikmati pemandangan ramai di depan nya.
ini pertama kalinya Dilla keluar malam-malam, dan ini juga pertama kalinya Dilla jalan bersama pria.
Dan sekali nya jalan dengan pria dia juga tidak tanggung-tanggung dengan pria yang usianya 2x dari usianya.
"Om, kenapa Om suka aku?." tanya Dilla sambil melirik Zico.
"Apa cinta harus punya alasan?." tanya balik Zico.
Dan di jawab dengan anggukan kecil dari Dilla.
"Iya lah, kalau cinta ngak ada alasan ngapain harus punya rasa pengen lebih dekat coba?, kan aneh."
Pertanyaan yang aneh, tapi Zico langsung menjawab dengan lantang.
"Kalau aku bilang aku suka kamu karena kamu gendut? apa kamu mau menerima alasan itu?."
Dilla menggelengkan kepalanya cepat.
"Aku kurus ya, mana ada gendut." gerutu Dilla kesal.
Melihat wajah Dilla yang cemberut membuat Zico gemas, dia mengusap pelan pipi Dilla lalu tersenyum.
"Iya kurus, tapi itu sekarang, dulu kamu gendut, tapi aku suka kamu yang gendut, imut." kata Zico lagi.
Bluss..
Pipi Dilla memerah mendengar kata pujian dari hot Daddy di samping nya.
pria berpengalaman memang menantang untuk di dekati.
"Makasih, tapi aku juga cantik bukan imut doang." ujar Dilla dengan wajah percaya dirinya.
Zico tau jika selain Hobby rebahan dan makan, gadis pujaan hati nya itu juga sangat suka untuk memuji diri sendiri.
Keduanya kembali terdiam, sesekali Dilla menyelipkan anak rambut nya ke belakang telinganya.
Jujur saja saat ini jantung nya benar-benar dag dig dug ser, di dalam jantung nya seolah sedang party jep ajep.
"Mau minum ngak?." tawar Zico.
Dilla menggelengkan kepalanya.
"Ngak ahk, aku mau pulang aja. udah malam." kata Dilla.
Entah kenapa berlama-lama dengan Zico membuat nya menjadi gugup dan tidak nyaman, apalagi pikiran nya sekarang sudah mulai kotor.
Ini adalah Minggu, dan malam Minggu adalah malam nya pasangan berpacaran.
bahkan di sekitar Dilla terlihat banyak yang lalu lalang dengan berpegangan tangan nya seolah mengatakan jika mereka adalah pasangan.
"Om." panggil Dilla.
"Gendong dong." lanjut Dilla lagi.
Zico melihat sekitar nya, apa boleh?. tapi melihat Dilla lagi dia malah semakin ingin melakukan nya.
"Gendong Om." ulang Dilla.
Huh..
Zico mengangguk, dia menggendong Dilla di belakang nya.
Dilla melingkarkan tangannya di leher Zico, wajahnya sengaja Dilla taruh di curuk leher Zico.
"Berat ngak Om?." tanya Dilla.
__ADS_1
Membuat Zico menghentikan langkah nya, padahal baru beberapa langkah, belum sampai di mobil nya.
Tapi bukan itu yang membuat langkahnya terhenti, Zico merasakan gesekan di punggung nya dan juga hembusan nafas Dilla yang tepat di curuk lehernya.
"Kenapa Om?."
"Ngak papa." jawab Zico.
Berhubungan dengan gadis muda yang suka tangtangan benar-benar membuat dia harus kuat iman.
"Si Om masih Gy ngak ya, masa iya ngak ngerasa kalau aku sama si Om jarak nya dekat banget dan cukup aneh." batin Dilla.
"Tahan, kamu kuat Zico." batin Zico, pertahanan nya semakin menipis saja jika di dekat kan dengan Dilla.
Sesampainya di mobil Dilla langsung duduk di jok yang di samping Zico.
dan Zico mulai menyetir mobilnya, sesekali tatapan keduanya bertabrakan.
"Kenapa?."
"Ngak ko, cuman liat aja."
Keduanya saling senyum, sampai akhirnya..
"Om mau nikah ngak?." tanya Dilla, membuat Zico menghentikan mobilnya mendadak.
Hampir saja Dilla terpentok.
"Kamu mau?." tanya balik Zico.
Dilla terdiam sebentar, lalu menggelengkan kepalanya.
"Ngak tau, aku belum mikir ke sana." jawab Dilla jujur.
Dia bahkan masih belum memikirkan kembali pendidikan nya, Daddy nya memang tidak menyuruh nya untuk meneruskan pendidikan nya, Daddy nya menyerahkan semuanya pada Dilla, dan apapun yang akan Dilla jalankan Daddy Mommy nya pasti setuju.
Tapi menikah?...
Itu bukan lah perkara mudah, Dilla masih 21 tahun, dia masih labil dan juga belum bisa apa-apa sendiri, bahkan mencuci piring dan yang lain nya saja Dilla bisa lakukan setelah bertemu dengan Zico.
"Om marah?." tanya Dilla melihat Zico yang terdiam saja.
Zico menggelengkan kepalanya.
"Tidak, kamu berhak mengatakan keinginan mu, dan aku menghargai kejujuran mu." ujar Zico sambil tersenyum.
Dilla memeluk Zico.
"Makasih Om, tunggu aku siap ya."
"Iya, tapi jangan lama-lama, aku sudah tua."
Tua?.
Dilla menatap wajah Zico sekilas, lalu di belai pipi Zico olehnya dengan lembut.
"Tapi wajah Om sangat muda, mulus dan juga ganteng, Om scenker an ya?." tuduh Zico.
Uhuk..uhukk..
"Sceanker?."
"Iya Sceanker, kasih tau dong merek nya apa, aku juga mau pake sceanker kaya Om, biar makin muda dan cantik." kata Dilla lagi.
"Air wudhu."
Hah!
Bebarapa menit berlalu, mobil yang di tumpangi Dilla dan Zico sampai di kediaman Boy.
Zico melirik Dilla yang terlelap di jok yang ada di samping nya.
__ADS_1
Tangan nya terulur untuk membangunkan Dilla, tapi baru saja Zico akan membangunkan Dilla tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti.
Zico keluar dari mobilnya, dia tidak mau Boy berpikiran aneh pada nya.
sampai akhirnya Boy kakak nya Dilla menghampiri nya.
"Mana Dilla?." tanya Boy tidak melihat adik tersayang nya.
"Dilla kekenyangan makan sate, dua tertidur di dalam mobil." jawab Zico seadanya.
Boy melihat adiknya yang tertidur pulas, lalu melirik Zico.
"Tolong antarkan putri salju ke kamar nya, ya adik ipar." kata Boy sambil menepuk pelan pundak Zico, lalu berjalan begitu saja meninggalkan Zico yang masih stay berdiri.
Adik ipar..
Itu tandanya Boy setuju jika dia mendekati Dilla.
Zico memangku tubuh Dilla, dia berjalan ke arah kamar Dilla.
sesampainya di pintu kamar Dilla Zico langsung masuk, dengan perlahan Zico membaringkan tubuh Dilla di tempat tidur nya.
Melepaskan sepatu Dilla, lalu menarik selimut untuk Dilla.
tangan nya terulur untuk mengusap kening Dilla.
"Tidur yang nyenyak ya, semoga mimpi indah." ucap Zico.
Uhuk.. uhukk..
"Mimpi yang indah ya." Boy mengulang suara Zico dengan wajah malas nya.
Membuat Zico menatap tajam Boy, dia kembali mengusap pipi Dilla lalu tersenyum, bahkan tatapan tajam tadi menghilang bersamaan dengan melihat wajah imut Dilla saat tertidur.
Setelah keluar dari kamar gadis pujaan hati nya Zico langsung dihadang oleh Boy.
keduanya memilih mengobrol di ruang tamu, di temani dua kopi panas buatan Boy.
"Kenapa?." tanya Zico tidak tahan di tatap aneh oleh Boy.
"Benar-benar prodofil." Boy menggelengkan kepalanya. "Kau berhasil meluluhkan adik polos ku." lanjut nya lagi.
Zico tersenyum bangga.
"Aku sudah melakukan apa yang telah kalian perintahkan pada ku, jadi tidak salah bukan kalau aku berharap lebih pada adik mu?."
Boy menghela nafas nya pelan, memang benar semula dia meminta Zico untuk merubah sikap manja adiknya, bukan kenapa-kenapa Boy ingin adik nya mandiri dan tidak bergantung pada orang lain.
"Aku terserah Dilla, tapi Daddy masih bimbang, usia kalian terlalu jauh."
"Aku berjanji akan membahagiakan nya, memberikan anak yang banyak untuk nya."
Bugkk..!!
Boy memberikan pukulan kecil pada Zico.
"Kau pikir adik ku kucing, dia gadis cantik manja ku yang manis."
"Ya aku tau, tapi aku bisa membuat anak banyak untuk keluarga kalian."
"Mesum."
"Kau lebih mesum, lihat lah sleting celana mu terbuka, bukan kah itu mesum."
Yang mana membuat Boy langsung melihat ke arah bawah nya.
benar saja sleting nya terbuka, beruntung dia masih memakai boxer nya, jadi si Jon adik nya tidak terlihat.
"Diam lah, dari pada milik mu karatan."
________
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa jejak ♥️