
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Bian telah memutuskan untuk menandatangani surat persetujuan operasi, sebenarnya berat memutuskan mengambil langkah ini apalagi keberhasilan nya juga hanya tiga puluh persen, tapi saat mendengar jika kedua anaknya masih memiliki detak jantung membuat Lisa merengek meminta di oprasi.
"Aku mau mereka lahir sayang, apapun resiko nya aku tidak perduli yang paling terpenting bayi kita akan selamat dan lahir kedua ini."
Apapun resiko nya yang akan di tangung nya Lisa sudah memikirkan nya matang, jika dia egois maka dia akan kehilangan kedua bayi nya, dan Lisa tidak mau hal itu terjadi, dia ingin menyelamatkan si kembar yang masih bertahan hidup di dalam perutnya.
"Sayang berjanjilah untuk tetap hidup untuk ku, aku benar-benar tidak bisa hidup tanpa mu." ucap Bian sambil menangis, beberapa menit lagi istrinya akan menjalani operasi, dan Bian takut dengan hal yang belum terjadi.
Lisa mengusap air mata yang jatuh di pipi suaminya, "Maaf, aku tidak bisa janji sayang, tapi aku ingin hidup lebih lama lagi bersama mu dan bayi kita." kata Lisa pelan.
Situasinya bukan hanya mencekam untuk nya dan bayi nya, tapi hatinya juga hancur karena orang tuanya telah meninggalkan nya untuk selama-lamanya.
Bian ingin memberitahu Lisa kenyataan yang sebenarnya tentang kematian Papa Heri dan Mama Dini, mereka di bunuh oleh tangan kanan Perry Pratama Diningrat, sepupunya Lisa sendiri.
Tapi mengingat fisik dan jiwa istrinya sedang tidak baik-baik saja membuat Bian memilih tidak memberitahukan semua itu pada istrinya, Bian tidak mau istrinya banyak memikirkan masalah yang lebih berat-berat karena semua itu akan berpengaruh pada kesehatan istrinya.
"Jangan nangis sayang, kamu tau kan aku bukan wanita yang lemah, aku ini Alisya Aura kharisma, sayang.. aku kuat." Lisa mencoba menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya agar suaminya tidak cemas memikirkan nya.
"Kamu benar, kamu memang wanita yang kuat, dan aku tau kamu akan bisa melewati masa terendah kita." Bian berkata seraya membelai wajah istrinya.
"Tuan operasinya akan di lakukan lima menit lagi." ucap seorang suster di ambang pintu.
Bian mengangguk, dia ikut mendorong ranjang istrinya yang akan menuju ruangan operasi.
sepanjang perjalanan tak henti-henti nya Bian memegang tangan istrinya, begitupun dengan Lisa yang terus menatap suaminya.
Tidak menyangka jika kehidupan nya dan Bian akan mengalami banyak hal menakjubkan, inilah hidup kita tidak akan pernah tau seperti apa kehidupan yang akan kita jalani, karena yang menentukan takdir adalah tuhan sang maha pencipta.
__ADS_1
Meski sulit tapi Lisa menjalani nya dengan ikhlas, dia tau tuhan memiliki rencana yang jauh lebih baik untuk nya, dan Lisa menunggu hal itu, dimana yang ada hanya senyuman orang tersayang nya.
"Apa aku boleh masuk?." tanya Bian dengan nad merenda.
Hal itu tentu saja membuat para dokter yang menunggu di ambang pintu langsung menunduk dan terdiam, jika tuan muda galak itu masuk mungkin bisa saja mereka tidak akan fokus dengan pekerjaan nya, apalagi yang akan mereka operasi itu adalah cucu menantu dari pemilik rumah sakit tempat mereka bekerja.
Menyadari keheningan membuat Lisa memegang lengan suaminya, dia tau para dokter dan suster yang akan ikut andil dala proses operasi nya itu sedang ketakutan.
"Kamu tunggu disini, bersama Mama dan Papa, Jika kamu resah dan takut akan hal yang belum terjadi maka berdoa lah, meminta padanya untuk keselamatan aku dan bayi kita." ucap Lisa pelan.
Bian menghela nafasnya pelan, dia hanya bisa mengangguk.
Cup..
"Doaku menyertaimu, berjuanglah sayang." kata Bian sambil mengecup kening istrinya.
Setelah Lisa masuk ke dalam ruangan operasi Bian langsung mengecek ponselnya, dia mendapatkan pesan dari Opa nya yang akan membantunya untuk menyelesaikan permainan yang di lakukan keluarga istrinya itu.
" Terimakasih Opa, aku menjaga Lisa dengan baik, jika ada perkembangan lagi jangan lupa hubungi aku Opa, aku tidak akan membiarkan mereka hidup tenang di atas derita yang me menimpa Lisa istriku."
Setelah mengirim pesan itu Bian langsung memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celananya, dia harus banyak memikirkan bagaimana caranya untuk mencari bukti kejahatan Perry Pratama Diningrat, pria yang usianya jauh di bawahnya itu sangat licik, membuat Bian dan Opa nya sulit menemukan bukti kejahatan nya
"Bian." panggil seseorang.
"Mama, Papa." pekik Bian kaget.
Mama Alena dan Papa Arka mendekati sang putra yang duduk di kursi tunggu.
"Bagaimana?, apa operasi nya sudah selesai?." tanya Mama Alena.
Bian menggeleng. "Lisa baru masuk beberapa menit yang lalu, Ma, aku takut kehilangan mereka." Bian menjadikan tubuh Mama Alena sebagai sandaran nya.
__ADS_1
Mama Alena menatap suaminya, keduanya hanya bisa terdiam mendengarkan isi hati putra nya.
"Aku tidak bisa hidup tanpa mereka Ma, hiks.. kenapa semua ini harus terjadi pada keluarga kecil ku."
Entahlah Mama Alena dan Papa Arka juga tidak tau, masalah memang selalu datang tanpa di minta, bahkan itu terjadi bukan hanya pada kehidupan putranya saja, bahkan kehidupan mereka juga tidak semulus hasil sceanker, kehidupan mereka juga penuh dengan bumbu asam manis pahit nya kehidupan.
"Jangan bicara seperti itu, tuhan sedang menguji seberapa kuat kamu bisa menghadapi masalah ini, Mama tau kamu bukan anak Mama yang cengeng." kata Mama Alena seraya mengusap kepala putranya penuh sayang.
"Sekarang mending kita doain saja Lisa supaya kondisi nya baik-baik saja, begitupun dengan si kembar cucu Mama." sambung Mama Alena.
Sedangkan di tempat lain nampak seorang pria yang sedang tersenyum setelah mendengar kabar pendarahan nya Lisa.
"Kamu memang cerdas, tidak sia-sia kita membunuh Dini dan Heri, mereka memang tidak berguna dan pengkhianat." ucap Perry pada Laras.
Sejak bayi Lisa memang sudah di singkirkan dan di asuh oleh Mama Dini dan Papa Heri, orang tua Lisa sudah meninggal maka dari itu lah Isaya Putri Diningrat atau Mama nya Perry membuang Lisa pada Mama Dini dan Papa Heri yang waktu itu sedang kehilangan anak pertamanya yang meninggal.
Semula Papa Heri berjanji akan menjauhkan Lisa dari keluarga Surya karena itu adalah poin pertama sesuai dengan surat perjanjian, tapi seiring berjalan nya waktu ketamakan mulai menyertai Papa Heri yang menginginkan Lisa untuk menikahi Bian yang asal usulnya keluarga kaya.
Tak hanya itu Papa Heri juga meminta hak pada Perry karena sudah menyembunyikan siapa Lisa sebenarnya dari semua orang, dan hal itu tentu saja membuat Perry meradang dan langsung berniat membunuh setiap orang yang mencoba untuk mengambil harta nya.
Han adalah salah satu nya, bagian dari pengkhianat yang telah di bunuh oleh Perry, Han telah menyelamatkan Lisa dari maut, karena saat Han meminta Lisa untuk menukarkan dirinya untuk menebus orang tuanya sebenarnya itu adalah salah satu jebakan yang di buat Perry, tapi Han malah membiarkan Lisa pergi begitu saja dan tidak menyakiti Lisa.
"Tentu saja kak, aku kan calon istrimu." ucap Laras tersenyum bangga.
"Dan setelah menjadi istrimu kamu akan ku tendang bodoh." batin Laras.
"Siapa yang sudi menikahi gadis murahan dan bodoh sepertimu, jelas-jelas aku melakukan semua ini hanya demi uang ku, demi harta warisan kakek yang akan menjadi milik ku." batin Perry.
_________
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Jangan lupa jejak, ♥️