
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
"Kalian semua cari yang benar, aku tidak mau tau kalian harus secepatnya menemukan keberadaan nya." tegas Boy pada seseorang di sebrang telpon nya.
Setelah ponselnya di matikan sepihak Boy langsung menghela nafasnya kesal, kenapa susah sekali mencari keberadaan Arpil, bahkan keluarga nya April pun seolah tidak perduli dengan kepergian April yang tanpa kabar.
"Sepertinya ada yang tidak beres, tidak mungkin keluarga nya tidak tau keberadaan nya." gumam Boy sambil menatap layar ponselnya, foto April saat sedang di mansion tengah hutan bersamanya masih dia simpan di memory ponselnya.
Sudah dua minggu setelah acara pengangkatan posisinya yang menjadi CEO, Boy semakin giat bekerja, tidak seperti biasanya yang selalu bermain-main dengan teman wanita nya.
Boy sudah berjanji untuk tidak melakukan hal aneh-aneh lagi, dan jika dia melanggar bisa di pastikan besok nya dia akan di nikahkan dengan gadis pilihan Mommy nya, benar-benar menyebalkan bukan.
Tok..tok..tok..
"Masuk." teriak Boy.
Seorang wanita cantik berpakaian rapih dengan tangan yang memegang berkas nampak tersenyum manis ke arah Boy.
"Ada berkas yang harus anda tandatangani, tuan muda." ucapnya seraya menyerahkan berkas yang ada di tangan nya.
Boy melirik wanita cantik di depan nya, dia adalah Kirana Oktavia anak dari sekertaris Daddy nya.
Ternyata bukan hanya Boy saja yang naik jabatan tapi Kirana juga ikut naik pangkat menjadi Sekertaris nya, lebih tepatnya sekertaris bawel nya.
"Apa agendaku hari ini?." tanya Boy dingin.
Kirana mendeuhem, dia sudah biasa jika di berikan sikap dingin anak Bos nya itu, dan hal itu tidak menjadi masalah, justru sikap dingin Boy adalah hal utama yang membuat nya menyukai si bule narsis.
"Sebentar lagi anda harus memimpin rapat para pemegang saham, dan siang nya anda akan bertemu dengan pemimpin PT Xxxx." tutur Kirana dengan lembut.
Boy menghela nafasnya, kegiatan nya memang menjadi padat setelah naik jabatan, tapi itu bukan masalah besar baginya, justru apa yang dia lakukan sekarang membuatnya bisa sedikit-sedikit melupakan kegiatan yang sering dia lakukan sebelum nya.
Setelah menandatangani berkasnya Boy menggoyangkan tangan nya untuk mengusir Sekertaris nya, Kirana yang melihatnya menarik nafas sebal.
"Keluar?." tanya nya berlaga tidak paham.
Boy melirik dingin.
"Did I say that you should stay here? or vice versa?."
__ADS_1
"Apa aku mengatakan jika kau harus tetap disini? atau malah sebaliknya?." baliknya bertanya dengan wajah malasnya.
Huhh..
Entah kapan dia bisa mendapatkan perhatian dari Boy, padahal sejak kecil keduanya sudah berteman tapi Boy seolah melupakan persahabatan lama nya.
"Benar-benar menyebalkan kamu bule narsis." batin Kirana kesal.
Mau tak mau Kirana mengambil kembali berkasnya lalu melangkahkan kakinya berjalan keluar dari ruangan CEO.
Sedangkan di ruangan nya Boy setelah kepergian Kirana dia hanya bisa menghela nafas nya panjang.
"She grew up to be a smart, beautiful and kind girl, but for some reason I wasn't attracted to her at all."
"Dia tumbuh menjadi gadis yang pintar, cantik dan juga baik, tapi entah kenapa aku sama sekali tidak tertarik dengan nya." gumam Boy sambil melihat ke arah pintu.
Kirana di matanya adalah wanita yang perfect ya meski Kirana sedikit cerewet seperti Mommy nya, tapi entah kenapa secantik apapun Kirana tidak membuat Boy jatuh hati padanya, bahkan untuk membuat si Jon nya berdiri pun rasanya sangat lah tidak mungkin.
Sore harinya Boy yang sudah pulang bekerja sengaja mampir ke supermarket, dia ingin membeli minuman karena persediaan minum di mobilnya sudah habis.
Namun saat menemukan minuman yang di carinya Boy malah berpas-pasan dengan sosok yang sangat tidak asing di ingatan nya.
Dia..
"Kamu ngapain disini?." tanya Boy, di lupa dengan mantan jala*g nya yang satu ini, Karena biasanya dia mendapatkan nya dari salah satu aplikasi wanita bayaran.
Wanita itu mengibaskan rambut panjang nya, lalu mengandeng lengan bule di depan nya.
"Aku merindukan permainan mu, ayo kita lanjut di hotel, tenang saja gratis hanya untuk malam ini, asal kamu terus membuatku terbang seperti waktu itu." wanita pemilik gitar spanyol itu berkata dengan senyuman menggodanya.
Masih ingat jelas di benaknya saat percintaannya nya waktu lalu, dia di buat keenakan oleh sosok bule di depan nya, bahkan setelah mendapatkan puncak nya nirwana wanita itu mendapatkan upah yang sangat tinggi, membuatnya semakin bersemangat untuk menjadi pemuas nafsu para pria yang bisa membayarnya tinggi.
Tapi untuk sekarang dia ingin menawarkan secara gratis, melihat Boy yang tampan dan gagah dengan wajah khas bule nya membuat wanita itu tidak sabar untuk kembali merasakan bermain ranjang dengan bule tampan di depan nya.
Boy menggelengkan kepalanya, dia baru sadar jika saat ini dia menjadi pusat perhatian, buru-buru dia menepis lengan si wanita jala*g itu.
"Jangan menyentuh ku dengan tangan kotor mu bodoh..!!, kau tau sampah? wanita yang kotor seperti mu adalah sampah untuk ku." ucap Boy sambil mendorong wanita itu dari pandangan nya, lalu pergi meninggalkan si wanita yang terlihat menatapnya dengan raut marahnya.
"Aku tidak akan melupakan mu tuan Giorgino Boy Febrian, lihat saja nanti aku akan membalas penghinaan ini." gumam wanita berbody bak gitar spanyol itu.
Boy melangkah dengan cepat dan masuk ke dalam mobilnya, dia bahkan tidak jadi membeli minumnya, sebisa mungkin Boy membuang jauh-jauh apa yang ada di pikiran nya, gara-gara wanita jala*g itu Boy kini kembali menginginkan rasa itu.
__ADS_1
Plakkkk..
Satu tamparan berhasil Boy layangkan di pipinya, dia menampar pipinya sendiri karena dia tidak bisa membuang pemikiran kotornya, dai tidak mau kembali mengecewakan keluarganya lagi dengan tingkahnya lagi.
"Kamu harus sadar Boy, kamu punya adik perempuan, apa kamu mau adikmu juga mendapatkan karma dari mu dan Daddy mu, kalian berdua memiliki sifat yang sama di masa muda."
Ucapan Mommy nya terngiang di kepalanya, membuat Boy semakin setres.
dan akhirnya Boy memilih kembali mengendarai mobilnya lagi dengan kecepatan sedang.
Sampai di tempat tujuan nya Boy langsung masuk ke dalam rumah mewah di depan nya itu, matanya menangkap dua sosok yang tengah berbahagia, siapa lagi kalau bukan Bian sepupunya.
"Wih kita kedatangan CEO baru sayang." Sindir Bian yang sedang menggendong Ziel.
Boy mengabaikan ucapan sepupunya, dia duduk di sopa kosong, menatap dua sosok yang sedang menggendong bayi di depan nya.
"Kenapa lagi, ngak dapat yang enak-enak ya?." celetuk Bian sambil mengajak main putranya.
"Berhenti melakukan nya, kamu harus cari yang serius, punya adik cwe juga masih aja kaya gitu." Lisa ikut menimpali.
Lisa cukup tau dengan Boy yang sering ganti-ganti wanita, dan itu jelas bukan hanya ganti teman wanita melainkan teman ranjang nya.
"Aku sudah tidak melakukan nya, aku ingsyaf." ucap Boy dengan wajah yang serius.
Sontak hal itu membuat Lisa dan Bian tertawa, bahkan sampai membuat Ziel dan Zelo yang ada di pangkuan nya menjadi ikut tersenyum.
"Casanova bisa ingsyaf?." Bian mengangkat sebelah alisnya ke atas tidak percaya.
"Sayang dia juga manusia." sahut Lisa kembali menimpali.
Boy mengambil alih Ziel dari pangkuan sepupunya.
"Ziel apa kau percaya Om tampan nya ngak ada duanya, yang baik hati dan tidak sombong ini sudah ingsyaf?." tanya Boy pada bayi enam bulan yang ada di pangkuan nya.
Seolah paham dengan pertanyaan yang di tanyakan sang Om, Ziel dan Zelo kompak menangis, membuat Bian dan Lisa saling melirik.
"Dasar bule narsis tukang bohong." ucap Lisa dan Bian kompak.
__________
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Jangan lupa jejak, ♥️