
^^H A P P Y R E A D I N G^^
๐น๐น๐น๐น๐น
Beberapa hari berlalu setelah kejadian di malam Arfan mabuk parah, hubungan keduanya kian renggang dan tak kunjung menemukan titik terang permasalahan nya.
Arfan dan Syifa tinggal di rumah barunya, lebih tepatnya rumah hadiah yang di berikan Opa dan Oma nya.
Seharusnya untuk pengantin baru seperti mereka saat ini sedang hangat-hangat nya, menjalani hubungan yang baru di mulai dengan penuh tawa bahagia.
Tapi hal itu tidak dengan pernikahan Syifa dan Arfan, bahkan sekarang Syifa tidak bisa mengenali Arfan lagi, sosok yang dia sukai karena tingkah kenarsisan nya kini berubah menjadi pria yang suka marah-marah.
"Aku sudah bilang aku tidak suka warna biru, apa kamu lupa hah! " teriak Arfan kesal sambil mengacak seprey ranjang nya.
"Maaf, aku ngak tau Arfan." kata Syifa mendekati tempat tidur lalu kembali memungut seprey yang sudah di acak-acak oleh Arfan.
Arfan duduk di sopa dengan wajah kesalnya, sebenarnya dia tidak tega melakukan nya, tapi melihat Syifa yang berwajah polos membuat Arfan kembali teringat akan kebohongan Syifa padanya.
Syifa menghela nafasnya panjang, lalu berjalan melewati Arfan dengan wajah pasrah nya.
mengambil seprey di almari yang ada di ruang ganti, dan setelah itu ia kembali ke kamar untuk memasang seprey nya.
Siapa orang yang mendahului ku.!!
Pertanyaan itu terus berputar di kepala Arfan, namun ego nya masih besar dia tidak akan menanyakan kebenaran nya, dia masih kecewa dengan apa yang telah di perbuat oleh Syifa, terlepas dari ketidakmampuan nya untuk menerima kenyataan bahwa istrinya sudah pernah di setubuhi oleh pria lain.
Apa salah kalau Arfan marah pada istrinya?.
Apa salah kalau sekarang dia bersikap seperti ini karena bentuk kekecewaan nya?.
Dia tau ini mungkin tidak adil untuk Syifa kalau dia mendapatkan kebencian nya, tapi apa Arfan juga harus diam layaknya orang bodoh?.
tidak Arfan tidak akan diam, dia tidak bisa menerima kenyataan yang menyakitinya ini.
"Arfan." panggil Syifa yang sudah selesai membereskan seprey nya.
dia duduk di pinggir ranjang dengan mata yang terarah ke sosok pria yang sibuk berkutat dengan benda pipih nya.
"Ngomong aja sama tembok." batin Arfan ketus.
__ADS_1
Namun sayang nya Arfan enggan menjawabnya.
Arfan masih fokus dengan permainan yang sedang di mainkan nya.
Usia memang tidak menjamin kedewasaan, dan begitupun dengan pemikiran Syifa untuk suaminya, Arfan.
Syifa tau kalau Arfan hanya kecewa padanya, dan ia berharap Arfan bisa membuka hatinya untuk bisa mendengar kan cerita yang kelam Syifa.
"Maafkan aku Arfan, aku memang pantas mendapatkan kemarahan mu."
Ketidakjujuran nya memang sulit di terima, dan Syifa tau hal itu memang pantas dia terima, Arfan berhak marah padanya, bahkan menghukum nya.
tapi apakah hanya karena satu alasan Arfan bisa mengabaikan nya?.
Hatinya perih bagaikan teriris pisau, sama hal nya dengan Arfan yang mulai menyukai Syifa, dia juga kecewa karena sosok yang dia anggap baik dan cantik luar dalamnya ternyata hanyalah topeng untuk menutupi aib nya.
"Arfan."
"Apa.!"
"Aku mau bicara, kemarilah aku mohon."
"Katakan, tapi apapun yang kamu katakan tidak akan bisa mengobati rasa kecewa ku untuk semua kebohongan mu." kata Arfan tanpa melihat ke arah Syifa.
"Aku tau ini sebenarnya salah, seharusnya dari awal aku harus mengatakan kebenaran nya tentang diriku, aku tau ini telat karena kamu sudah kecewa padaku, bahkan membenci ku." ucap Syifa menghela nafasnya panjang lalu mengulurkan tangan nya untuk menyentuh tangan Arfan.
Tapi dengan kasar nya Arfan menepis tangan Syifa, membuat Syifa kaget bahkan hampir menangis.
"Kamu pikir aku akan iba padamu hanya karena melihat tangis kebohongan mu itu?, tidak. Aku Arfansya tidak akan kembali menjadi pria bodoh lagi, aku tidak akan kasihan pada mu hanya karena melihat air mata palsu mu." tegas Arfan tajam.
"Tapi Arfan, apa yang terjadi padaku itu adalah sebuah kecelakaan, aku tidak seperti yang kamu pikirkan, aku korban, hiks.. aku korban Arfan."
Syifa menangis seraya memukul pelan dadanya yang terasa sesak, pernikahan yang dia bayangkan akan indah ternyata hanyalah mimpi belaka.
nyatanya kini dia hidup dalam ketidaknyamanan hanya karena masa lalunya yang ternyata berpengaruh pada kehidupan nya.
Arfan bangkit dari duduknya laku menatap Syifa dengan wajah yang tidak bisa di artikan.
"Lalu kamu pikir aku ini apa?, orang bodoh? atau pria yang hanya bisa diam tak berdaya menyimpan kekecewaan pada istrinya?."
__ADS_1
Dan setelah mengatakan itu Arfan membalikan tubuhnya, ingin berjalan pergi, namun langkah nya terhenti karena mendengar suara Syifa.
"Kamu mau kemana?."
"Mau kemana pun aku apa urusan mu, kamu tidak berhak mengurusi urusan ku karena bagiku kamu hanyalah gadis yang tidak punya hati."
Syifa diam, bukan bingung harus menjawab apa tapi dia syok dengan sikap Arfan yang semakin hari semakin berbeda.
Melihat Syifa yang bungkam membuat Arfan menghela nafas nya.
"Maaf, aku pergi." lanjut Arfan, lalu pergi begitu saja meninggalkan Syifa yang terdiam dengan air mata yang terus mengalir.
Hiks..
"Apa salah kalau aku tidak virg*n?, aku tau aku sudah membohongi nya, hikss.. tapi aku juga tidak punya pilihan hiks.. aku juga tidak mau memiliki masa lalu buruk.! " Isak Syifa menangis sejadi-jadinya.
Semula Syifa pikir jika Arfan akan tetap menerima nya meski dia memiliki kekurangan, tapi ternyata kekurangan nya itu menjadi bencana, dimana sekarang Arfan membenci nya.
Takdir seolah tidak pernah membiarkan nya bahagia, sejak kecil sampai usianya yang baru 18 tahun sekarang Syifa selalu mendapatkan derita yang tidak ada habisnya, seolah dia diciptakan hanya untuk mendapatkan ketidakadilan nya.
Di luar kamar nampak Arfan yang menangis, sebenarnya dia bukan sosok yang suka marah-marah, tapi hanya karena satu kebohongan Syifa membuat nya menjadi seperti ini.
"Maafkan aku Syifa, aku tau ini memang tidak adil untuk mu, tapi jujur saja hal ini juga berat untuk aku terima, kenyataan pahit ini membuat hatiku terluka, begitupun dengan dirimu."
Arfan tau jika yang di lakukan nya itu pasti akan menyakiti Syifa.
tapi di sini bukan hanya Syifa yang sakit tapi Arfan juga merasakan nya.
Rasa marah berbalut kecewa, Syifa benar-benar membuat nya kehilangan semangat menjalani harinya, semakin Arfan mencoba untuk melupakan kejadian malam itu semakin sulit pula untuk Arfan menerima Syifa.
Setelah ini Arfan bingung harus bagaimana, apakah dia harus melanjutkan pernikahan nya atau malah menjadi pengecut yang bersembunyi di balik nama kekecewaan.
_______
๐น๐น๐น๐น๐น
Lagi flu+batuk๐คง
Jangan lupa jejak โฅ๏ธ
__ADS_1