
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Lisa menatap dua sosok yang terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang rumah sakit itu dengan wajah yang penuh kesedihan, apalagi setelah dokter mengatakan jika Mama dan Papa nya masih belum melewati masa kritisnya.
Sebaliknya Lisa memang menyuruh dokter untuk menempatkan orang tuanya dengan posisi yang saling bersebelahan, dia mau orang tuanya terus berdekatan agar dia juga mudah melihat keduanya.
"Ma pa, lihatlah perut Lisa, disini ada cucu kalian, mereka kembar Ma, Pa." ucap Lisa dengan lirih.
Mama Dini dan Papa Heri kehilangan banyak darah, beruntung nya pihak rumah sakit memiliki stok banyak darah, saat di temukan keduanya msmang dalam kondisi tubuh yang terkena luka sayatan dan tancapan pisau di beberapa bagian tubuh nya.
Rasanya sakit sekali melihat dua orang yang sangat memanjakan nya semasa kecil dulu kini malah terbaring lemah tak berdaya di depan nya, dan Lisa tak bisa melakukan hal apapun untuk keduanya, yang dia bisa lakukan hanyalah berdoa untuk kesembuhan Mama Papa nya.
"Ma, Pa, bangunlah.. Lisa tidak akan marah lagi pada kalian, Lisa menyayangi kalian berdua ma pa. bangunlah." ujar Lisa lagi sambil terisak.
Bian yang ternyata ada di samping sang istri hanya bisa mengusap punggung istrinya untuk memberikan ketenangan, "Sabar sayang, mama dan papa pasti sembuh dan melewati masa kritisnya, kamu jangan nangis lagi ya." kata Bian sambil menenangkan sang istri.
Lisa memeluk suaminya, dia merasa tak tega melihat kondisi Mama papa nya, benar-benar jahat pria yang telah berbuat seperti ini pada mama papanya, membuat Lisa semakin membenci Han.
"Ini semua karena aku, Han melakukan ini karena dia terobsesi dengan ku sayang." kata Lisa, menyalahkan dirinya sebagai penyebab penculikan kedua orang tuanya.
Bian menggeleng. "Ini bukan salah kamu sayang, jangan menyalahkan diri sendiri." kata Bian, menolak ucapan istrinya, ya karena dia tau sebenarnya memang bukan itu alasan penculikan mertuanya.
Dia yakin pasti ada sesuatu hal yang di sembunyikan mertuanya, dan itu ada kaitan nya dengan Han, jika masalah pria itu menyukai Lisa mungkin memang terlihat penuh obsesi semata pada istrinya, tapi kenapa juga Han menculik mertuanya?.
Hal itu menjadi pertanyaan besar di kepala Bian, dia sangat yakin seyakin-yakinnya jika mertuanya dan Han memiliki masalah di masa lalu, dan berlanjut sekarang.
Keduanya meninggalkan ruangan intensif itu karena Dokter menyuruh mereka keluar dulu, Dokter bilang akan melakukan observasi pada pasiennya, dan Lisa hanya bisa menurut karena dia memang menginginkan kesembuhan Mama dan papa nya.
"Sudah jangan menangis lagi sayang, nanti bayi kita ikutan sedih kalau mommy nya sedih." kata Bian mencoba menghibur sang istri dengan lawakan recehannya.
"Seharusnya aku yang ada di sana bukan Mama dan papa, hiks aku tidak berguna sayang." Lisa menangis di pelukan Bian.
__ADS_1
Bian mengelus punggung istrinya dengan lembut penuh kasih sayang, lalu tangan nya merangkup kedua pipi istri nya, membuat keduanya saling bertatapan.
"Lihat aku, jangan katakan itu lagi kamu maupun Mama dan Papa tidak ada yang pantas berbaring di ranjang itu, aku janji akan segera menemukan Han aku akan menghadirkan nya, dia akan membayar semua tangisan yang keluar dari matamu." kata Bian dengan tatapan yang dalam.
Lisa menggelengkan kepalanya. "Tidak, biarkan polisi yang melakukan nya, aku tidak mau kamu kenapa-kenapa sayang, kamu terlalu berharga untuk ku, aku tidak mau kamu kenapa-kenapa." kata Lisa langsung memeluk Bian dengan erat.
Bian tersenyum melihat istrinya yang selalu bisa meluluhkan hatinya, Lisa memang bukan sosok pembenci, dan hal itu yang membuat Bian sedikit demi sedikit bisa belajar dari sang istri untuk bisa menahan amarah meski puncak kemarahan nya sudah membeledak sampai ke ubun-ubun sekalipun.
"Han akan aku pastikan kau akan mendekam di penjara seumur hidup mu karena telah membuat istriku menangis seperti ini." batin Bian sambil mengepalkan tangannya.
Dan saat keduanya sedang berpelukan tiba-tiba dokter yang tadi memeriksa Mama Dini dan Papa Heri keluar dengan terburu-buru membuat Bian aneh.
Tapi sedetik kemudian Bian mendengarkan suara yang tidak asing dari perut istrinya.
"Ayo makan, meski kamu sedih tapi kamu tidak boleh membiarkan bayi kita kelaparan sayang." kata Bian.
Lisa mengusap perut buncit nya, "Aku akan makan, tapi aku sedang malas berjalan sayang." kata Lisa, memilih duduk.
"Ya udah aku akan ke resto depan membeli makanan untuk kamu dan bayi kita, kamu ngk apa kan sendiri di sini?." tanya Bian.
"Iya, aku akan cepat." ucap Bian sambil berjalan ke arah lift.
Seharusnya ada Asisten Giz yang menemani nya, tapi Asisten Giz juga sedang repot karna keluarga kecilnya sedang berduka, dan Bian tidak mungkin memperkerjakan Asisten nya itu selama seminggu ini.
Bian paham betul apa yang sedang di rasakan Asisten nya itu, dimana anak yang selama ini di nanti-nantikan kehadiran nya sudah pergi ke menghadap sang pencipta, dan naasnya lagi di usia kandungan nya yang masih di bulan ketiga.
Sedangkan Lisa yang sedang duduk di kursi tunggu nampak melihat sekeliling nya yang sepi, dia memang sengaja tidak memberitahu mertuanya, Lisa takut merepotkan mertuanya jika mengabari kabar ini.
Sambil menunggu Lisa memainkan ponselnya, melihat-lihat beberapa gambar yang di ambil beberapa bulan lalu tepatnya saat pernikahan nya.
"Lisa sudah hamil Ma, bangunlah apa kalian tidak mau melihat calon cucu kalian, mereka akan sangat lucu apalagi mereka kembar Ma Pa." gumam Lisa sambil meneteskan air mata nya, matanya masih melihat pada sosok yang tersenyum di gambar pernikahan nya.
"Lisa." panggil seseorang.
__ADS_1
Deg..
Lisa melotot melihat siapa yang ada di depan nya itu.
"Mau apa lagi kamu!, hah, belum puas kamu membuat orang tuaku seperti itu." kata Lisa dengan wajah yang memperlihatkan kemarahan nya.
Han tersenyum, lalu duduk di samping Lisa membuat Lisa bergeser kesamping.
"Jangan mendekati ku, seharusnya kamu ada di kantor polisi Han, kamu penjahat." kata Lisa lagi, kembali menggeser kesamping.
"Lisa apa kau membenciku?." tanya Han.
Hah? lelucon bodoh apa lagi ini?.
"Kau bertanya itu padaku? apa kau gila, sudah jelas aku membenci mu Han." sahut Lisa sambil menatap tajam Han.
Han beranjak berdiri, lalu tanpa aba-aba pria itu memeluk Lisa, membuat Lisa berontak dengan tubuh yang bergetar karna takut.
"Lepaskan aku, penjahat tolong..tolong." teriak Lisa meminta tolong.
Namun nihil pria itu masih betah memeluknya, bahkan Han nampak menikmati sensasi memeluk Lisa, mengesampingkan rasa sakit tubuhnya yang terus di beri pukulan oleh Lisa.
"Aku mencintaimu Lisa, jaga diri mu baik-baik aku akan selalu mencintaimu, berikan ucapan maaf dariku pada Bian, aku melepaskan mu." ucap Han, lalu melepaskan pelukan nya.
"Hati-hati Lisa, jangan terkecoh dengan sosok yang kamu anggap baik, kamu tidak akan tua seperti apa mereka di balik semua itu." kata Han sambil melangkah pergi meninggalkan Lisa yang mematung melihat ke arah nya.
Lisa melotot dia ingin berucap tapi bibitnya terasa kelu, yang dia lihat hanyalah tubuh Han yang memperlihatkan darah di bagian dadanya.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi?." gumam Lisa.
_________
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Akan ada part tentang Han, tapi besok ya🙏
Jangan lupa jejak, ♥️