
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Hari berganti hari tak terasa satu Minggu sudah setelah kelahiran Babby twins, kondisi Lisa kini sudah mulai membaik dari kondisi sebelum nya, Lisa juga sudah mulai bisa berjalan lagi tanpa bantuan sang suami.
Hampir setiap tiga jam sekali Lisa dan Bian selalu menjenguk kedua putra nya, setiap moment tak pernah Lisa lewatkan bersama kedua bayi nya meski terhalang dengan box inkubator.
Kondisi Babby Aziel dan Babby Azelo pun kini sudah lebih membaik dari sebelumnya, terlihat sekarang Lisa akan bisa menggendong bayi nya.
"Siapa yang akan lebih dulu di gendong nona, tuan?." tanya suster.
"Adik nya dulu, Babby Azelo." sahutLisa dan Bian bersamaan.
Menjadi kakak harus mengalah dengan adiknya bukan?, maka dari itu Bian dan Lisa memilih putra keduanya, Babby Azelo.
Dengan penuh kehati-hatian suster menggendong Babby Azelo dan di alihkan ke gendongan Lisa, saat pertama menyentuh bayi yang seminggu lalu dia lahirkan hati Lisa merasakan haru.
Begitupun dengan Bian yang sama-sama haru melihat Babby Azelo yang mengeliat kecil, rasanya seperti mimpi kini statusnya berubah menjadi seorang Daddy.
Lisa menempelkan bayi nya di dada nya, membiarkan sosok mungil itu merasakan hangat nya tubuhnya, meski suhu di bantu Inkubator membuat bayi serasa hidup di perut ibunya tapi tetap saja peran seorang ibu juga penting untuk kesehatan bayi.
Bayi akan merasakan kehangatan saat di sentuhkan ke tubuh ibunya, layaknya berada di dalam inkubator sentuhan ibu juga akan membuat bayi bisa merasakan rasa nyaman dan mengenali sosok ibunya.
Melihat bayi yang nampak terlelap di dada nya membuat Bian dan Lisa tersenyum bahagia.
"Cepat sehat ya sayang, Mommy dan Daddy sudah merindukan mu." kata Lisa sambil mengusap pelan pipi bayi nya.
"Daddy menunggu mu untuk main bola sayang, cepat pulih Daddy akan memberikan mu fasilitas yang sangat impoten." kata Bian sambil tersenyum.
Dia benar-benar sudah membayangkan hari-hari nya di hiasi oleh dua bayi kembar nya, main bola dan membelikan banyak kado mainan untuk kedua putra nya.
__ADS_1
Setelah merasa Babby Azelo terlelap kini giliran kakak nha Babby Aziel, wajah Babby Aziel maupun Babby Azelo memang 99% sama, keduanya kembar identik membuat Bian dan Lisa tidak bisa membedakan kedua putra nya itu.
"Kita harus membedakan rambut nya sayang, aku yakin jika mereka sudah besar akan sulit untuk di kenali." kata Bian.
Lisa mengangguk masih dengan nyaman menempelkan bayi nya ke pelukan nya.
"Iya kamu benar sayang, Aziel dan Azelo kemiripan nya memang hampir 99%, tapi tenang saja aku sudah membedakan pakaian nya setiap hari jadi kita tidak akan bingung saat menyapa twins." sahut Lisa sambil mengusap pelan pipi Babby Aziel.
Setelah di rasa Babby Aziel terlelap Bian dan Lisa kembali melepaskan bayi nya untuk tertidur di inkubator, mereka keluar dari ruangan NICU itu dengan wajah yang bahagia karena dokter mengatakan jika beberapa hari lagi bayi nya akan bisa pulang jika kondisinya semakin membaik dan berat badan nya bertambah.
Di tempat yang sama nampak Asisten Giz yang tak bisa menahan sedihnya melihat sosok istrinya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Istrinya jatuh sakit setelah keguguran beberapa bulan lalu, dan sekarang kondisinya sangat memprihatikan, membuat Asisten Giz tidak bisa bekerja dengan benar karena kondisi istrinya yang semakin drop.
"Sayang aku serius, aku tidak apa." kata Dewi, istrinya Asisten Giz.
"Kamu bohong, seharusnya kamu tidak menyimpan rasa sakit itu sendiri, maaf karena aku telah mengabaikan mu waktu itu." kata Asisten Giz penuh penyesalan di setiap kata-kata nya.
Dewi sendiri menyadari kesalah nya, jika dia tidak ngotot ingin memanjat ke pohon mangga karena ngidam nya mungkin anak nya akan masih tetap ada, tapi nasi sudah menjadi bubur, calon anaknya yang masih menjadi janin harus pergi tanpa terlebih dahulu melihat dunia.
"Ini semua memang salah aku, dan kamu berhak kecewa padaku sayang." ujar Dewi sambil memegang tangan suaminya.
Celaka memang tidak mengenal tempat, dan ini akan selalu menjadi ingatan Dewi yang pernah berbuat ceroboh yang mengakibatkan dia kehilangan janin nya.
"Aku tidak kecewa padamu sayang, Tuhan lebih menyayangi anak kita, kamu tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri." kata Asisten Giz sambil mencium tangan istrinya.
Semula dia memang kecewa akan takdir, tapi Asisten Giz sadar jika Tuhan mungkin memiliki tempat yang jauh lebih indah untuk calon anaknya, dan sebagai manusia yang hidup karena kehendaknya Asisten Giz hanya bisa menerima semua itu dengan ikhlas.
Meski rasa sedih masih tersimpan di hatinya, karena sejatinya mengikhlaskan tidak semudah yang di ucapkan, kehilangan sosok yang amat paling di sayang itu sangatlah sakit.
"Kamu harus sembuh, dokter kan bilang kamu ngak boleh banyak pikiran lagi jadi sekarang kamu harus tidur ya." kata Asisten Giz lembut pada sang istri tercinta nya.
__ADS_1
Wanita tomboy yang menemani nya dari nol, mengikuti setiap langkahnya dari tidak mempunyai apapun sampai memiliki semua yang dia punya sekarang.
"Kamu juga istirahat, dari malam kamu kan ngak tidur karena jagain aku dan kerja." sahut Dewi sambil tersenyum. "Jangan bekerja terus kamu bukan robot, aku takut kamu kelelahan." sambung Dewi lagi.
Asisten Giz menaggapinya dengan senyuman, itulah yang dia suka dari istrinya meski tomboy dan keras kepala tapi istrinya yang selalu tau akan dirinya, penyemangat nya.
"Aku akan beristirahat setelah selesai bekerja, sekarang kamu tidur dulu aku akan keluar sebentar." ujar Asisten Giz yang hanya di angguki kecil oleh suaminya.
Cupp..
Setelah mengecup kening sang istri Asisten Giz langsung keluar dari ruangan VIP itu, Dewi menyeka air matanya yang hampir jatuh, dia sangat merasa bersalah pada suaminya, rasa bersalah akan kecerobohan nya itu akan terus menghantuinya sampai kapan pun.
Dewi merasa tidak pantas di maafkan, dia bukan ibu yang baik bahkan untuk menjaga janin saja dia tidak bisa.
"Aku tidak pantas menjadi seorang ibu hiks." Isak Dewa terisak sesegukan.
Sebelumnya Dewi telah berniat bunuh diri dengan meminum obat yang terlalu banyak sehingga membuatnya operdosis, beruntung nyawanya bisa terselamatkan karena suaminya dengan sigap membawa nya ke rumah sakit.
Di luar ruangan nampak juga Asisten Giz yang sedari tadi manahan air matanya, rasanya sangat sakit saat melihat sosok yang biasa nya ceria kini malah tersenyum penuh kebohongan.
"Maafkan aku sayang, seharusnya aku tidak mengabaikan mu saat itu, dan mungkin kamu tidak akan terpikir untuk bunuh diri seperti ini, aku telah gagal menjadi seorang suami." Isak Asisten Giz lirih.
Tanpa di sadari kedua pasnagan patsuri itu menangis di tempat yang terhalang tembok, keduanya saling menyesali apa yang terjadi, tapi seberapa besar mereka menyesali nya semuanya sudah terjadi, dan yang sudah terjadi tidak akan bisa terulang kembali.
Hanya dengan memulai hidup lebih baik mungkin rasa sakit kehilangan sosok bayi yang di nantikan selama bertahun-tahun akan sedikit-sedikit terlupakan.
"Maafkan aku." batin Asisten Giz dan Dewi bersamaan.
__________
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Jangan lupa jejak, ♥️