
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Arfan menatap tak percaya saat mendengarkan sebuah penghinaan yang dia dapatkan, seorang Arfansya Ammar Raid keturunan Ammar Raid yang terkenal dengan orang terpandang di kota nya harus menerima pekerjaan menjadi seorang pelayan di restoran.
Benar-benar membuat nya naik pitam, jika dia sudah mengelola perusahaan sang Papa mungkin saja Arfan sudah menghancurkan restoran itu dengan sekali perintah saja, tapi sekarang dia hanya bisa menahan kesalnya saja.
"Dalam penyamaran mu semua orang tidak boleh ada yang tau jika kamu anak orang kaya, kamu harus berlaga menjadi orang susah, jika melanggar kamu tau kan apa konsekuensi nya?"
Jika tidak ingat hadiahnya mungkin saja Arfan sudah memilih tidak melanjutkan tangtangan dari sang kakak, tapi mengingat tawaran dari sang kakak sangat menggiurkan membaut Arfan memilih menurut saja.
Lagi pula Papa dan Mama nya sekarang juga sangat pelit padanya, padahal dia hanya melakukan satu kesalahan saja, mencuri foto-foto cwe seksi, apa itu kesalahan? bukan nya itu malah bagus bisa menambah insting normal ke prian nya.
Meski selain Mama dan Papa Arfan masih punya Oma dan Opa yang baik padanya tapi tetap saja dia akan kena omel kakek nya yang galak, bahkan saat pulang dari Swiss Arfan mendapatkan beberapa pukulan dari tongkat kayu yang di hadiahi sang Opa padanya.
"Dasar cucu tengil, siapa yang menyuruh mu menjadi pria hidung belang seperti itu, masih kecil sudah tau cwe seksi, mau jadi apa kmu hah..!!"
"Baiklah, aku mau bekerja, maksudnya saya mau bekerja sebagai pelayan di restoran anda tuan." ucap Arfan sambil terkekeh, hampir saja bahasa formal nya keluar.
"Oke, kamu akan menjadi pelayan disini dan tugas utama mu adalah membawakan pesanan pengunjung, membersihkan meja-meja nya jika sudah kotor." ucap pria yang menjadi seorang manager di restoran itu.
Setelah mendengarkan semua tugas-tugasnya Arfan berjalan keluar ruangan manager karena dia bekerja nya besok, saat Arfan berjalan tak sengaja dia berpas-pasan dengan seorang pelayan.
Dan pelayan itu menumpahkan minuman nya ke sepatu tangan Arfan, bukan hanya jam nya yang terkena minuman itu tapi sepatu mahal nya juga terkena minuman itu.
"Maaf, tuan." ucap gadis berkacamata itu.
Arfan menatap sepatunya dan jam mahal nya dengan tatapan yang seperti menahan kesal, lalu melirik gadis berkacamata yang ada di depan nya.
Huhh..
__ADS_1
"Tidak apa, tapi lain kali kamu harus hati-hati, kamu tau jam yang aku pake dan semua barang yang melekat di tubuhku itu semuanya barang yang____." ucap Arfan terhenti, dia lupa jika sekarang Arfan hanyalah seorang pria malang yang di buang karena melakukan kesalahan.
"Yang apa?." tanya si gadis berkacamata polos.
"Tidak ada, pergilah sebelum aku mencium mu." usir Arfan sambil menggoyangkan tangan nya.
Gadis berkacamata itu langsung lari terbirit-birit, ketakutan dengan ancaman yang di lontarkan pria yang dia tumpahkan minuman itu.
Setelah kepergian gadis berkacamata Arfan menghela nafasnya berat, satu hari menjadi orang penyabar benar-benar melelahkan.
"Jam mahal ku dan sepatu mahal ku yang malang." gumam Arfan sambil berjalan ke arah mobilnya.
Kembali mengendarai mobilnya untuk membelah jalanan kota yang tidak terlalu padat itu.
Di tempat lain nampak Bian yang tersenyum setelah mendapat kan kabar adiknya yang akan bekerja di restoran sebagi pelayan, sebenarnya dia tidak tega dia saja sejak kecil hidup mewah kenapa adiknya harus hidup kesusahan, tapi mengingat sikap Arfan yang menghabiskan waktu nya dengan bermain-main membuat Bian kesal.
Dia tidak mau adik nya tumbuh menjadi sosok yang menyepelekan waktu, sejak dini Arfan memang terlalu di manjakan tidak seperti Bian yang sejak SMA sudah ikut andil di perusahaan sang Papa.
🌹
Di rumah nampak Lisa yang sedang bersantai dengan para Oma, sedangkan kedua putranya sedang tertidur di jaga oleh pengasuh.
Menikmati masa luang nya dengan mendengarkan obrolan dari ketiga Oma nya, bagaimana pun ketiga Oma nya lebih berpengalaman darinya.
Lupakan jika ketiga Oma nya akan memberinya ceramahan panjang, ketiga Oma nya malah asyik menonton flm yang sekarang sedang buming- buming nya itu.
Oma Ririn menatap layar televisi dengan fokus, dia beruntung setidaknya pernikahan nya tidak seperti yang terjadi di film-film, meski kenyataan nya saat menikahi Opa Rafa dia mendapatkan KDRT, tapi itu hanya masa lalu pahit.
Bukan untuk di kenang tapi untuk di jadikan pelajaran hidup yang paling berharga, dimana sebelum bertindak kita harus tau dulu siapa yang akan terkena imbasnya, balas dendam membuta mata hati tertutup tidak bisa bisa membedakan mana yang baik dan man yang salah.
"Kalau aku jadi istrinya udah aku lempar tuh si pria ke ranjang, enak aja udah ngambil enaknya ngak mau tanggung jawab." celetuk Oma Hanny sebal melihat adegan di televisi yang menurutnya terlalu lebay.
__ADS_1
"Benar Han, pria nya ngak tau aja kalo goyangan ibu hamil lebih enak dari pada pelakor." Oma Dian ikut menimpali dengan kata-kata nya yang bar-bar.
"Iya bener kak, emang ibu hamil lebih hot dari pada pelakor, suamiku juga gitu dulu, katanya tubuh ibu hamil itu sangat seksi." Oma Hanny kembali berceloteh.
Oma Hanny tidak tau saja jika pria mengatakan hal itu karena ada alasan nya, yang pertama tidak mau membuat wanita hamil merasa jika dirinya tak cantik lagi, dan yang kedua tidak mau membuat mood wanita hamil menjadi terjun bebas, karena bagaimana pun wanita hamil sangat sensitif.
Senggol dikit *n*anti nangis.
Hal itu membuat Oma Ririn yang sedari tadi yang menjadi pendengar hanya bisa geleng-geleng kepala nya.
Meski sudah tua kedua teman-teman nya itu memang tidak ada berubah nya, masih saja bar-bar seperti belum menikah dulu.
"Oma ko diem aja?." tanya Lisa heran.
Ya sejak tadi Oma Ririn hanya diam menjadi penikmat tontonan, berbeda dengan Oma Hanny dan Oma Dian yang terus membicarakan para pemain nya.
Oma Ririn melirik cucu menantunya sambil tersenyum, "Tidak apa, itu hanya flm bukan, dan kewajiban kita sebagai penonton harusnya mencermati dan mengambil pelajaran apa saja yang di petik dari isi cerita, bukan untuk mengomentari yang tidak baik." ucap Oma Ririn bijak.
Sekali lagi Lisa terpana akan kata-kata yang keluar dari bibir Oma suaminya itu, Oma nya yang satu ini memang beda dari yang lain nya, setiap kata-kata yang keluar dari bibir Oma Ririn selalu bijak.
Tapi meski demikian Lisa juga kagum pada dua Oma nya yang memiliki ikatan sebagai adik dan kakak ipar itu, meski sudah tua keduanya selau bisa meramaikan suasana, dengan semua candaan nya tentu nya.
"Oma benar, kita sebagai penonton memang tidak seharusnya menyepelekan karya seseorang, karena sejatinya penulis naskah flm dan pemeran nya pasti sudah bersusah payah untuk menggambarkan sisi lain cerita nya." Lisa berkata sambil menatap layar televisi nya yang sedang iklan.
"Dengerin tuh Han, aku bilang juga apa dari tadi diem jangan banyak komentar." Oma Dian kembali berceloteh.
Oma Hanny melirik sebal pada sang kakak ipar, bukan hanya dia yang terus berkomentar tadi, tapi kakak ipar nya juga sama ikut berkomentar dengan nya.
________
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Jangan lupa jejak, ♥️