
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Beberapa hari Dilla tidak bertemu dengan Zico, membuat Dilla merasa aneh.
sekarang yang dia rasakan seperti merasa ada yang kurang, tapi aneh nya jika dia melihat Zico Dilla pasti selalu kesal dan jengkel.
Seperti lirik lagu artist senior yang terkenal itu, kalau sudah tiada baru terasa, Dilla merasa jika dia merindukan sosok yang selalu membuat nya kesal itu.
"Si Om apa kabar ya." gumam Dilla.
"Ko aku jadi makin penasaran sama si Om, kaya ngak yakin deh kalau si Om Gy, dari wajah nya aja ngak bikin yakin kalau si Om Gy." lanjut Dilla lagi.
Arghhh..
Apa otak nya sudah geser, kenapa juga Dilla memikirkan pria yang usianya jauh lebih tua dari kakak nya itu.
Atau jangan-jangan Dilla sudah jatuh kedalam pesona Om-om?
Saat melihat Zico yang memasak omlet Minggu lalu memang berhasil membuat Dilla dag dig dug ser, apalagi saat adegan dimana dia menindih tubuh si Om, kejadian itu terbayang-bayang dan terngiang-ngiang terus di ingatan nya.
Tidak..
Dilla menggelengkan kepalanya, merasa jika dia sudah benar-benar gila.
Tring..
Sebuah pesan masuk ke ponselnya, membuat Dilla langsung mengambil ponselnya dan melihat pesan yang masuk ke ponselnya.
Achel Chabby ♥️
"Jadi ngak nyari kerja nya?."
Dilla Bulat.
"Jadi dong, aku jemput ya."
Achel Chabby♥️
"Ok, aku mandi dulu."
Dilla Bulat.
"Aku juga masih di WC kok, santai."
Achel Chabby ♥️
"Jijik ihk."
Dilla Bulat.
"Pap, mau?."
Achel Chabby ♥️
__ADS_1
"Ogah..ihk..nowwww "
Dilla terkekeh pelan, sebenarnya dia tidak benar-benar di dalam kamar mandi, Dilla sekarang sedang menyisir rambut nya sambil bercermin.
Tiba-tiba terbesit ide pintar di pikiran nya, Dilla tersenyum misterius lalu menatap pantulan wajahnya dengan gaya yang di buat-buat menakutkan.
"Kaya nya bakal seru nih." gumam Dilla sambil terkikik geli.
🌹
"Ko lama banget sih Dil?." ucap Achel sambil masuk kedalam mobil Dilla.
"Macet Chel, ehk Mami ada ngak? duh..ngak sempet pamit gimana dong?." Dilla melihat ke arah pintu rumah Achel.
"Mami lagi nemenin Papi yang lagi kurang enak badan, tapi Mami bilang kalau kita harus semangat karena doa Mami dan Papi selalu bersama kita." kata Achel yang sudah memasang sabuk pengaman nya.
Dilla mengangguk, dia mengambil ponselnya lalu menelpon Daddy Mommy nya, mendengar kata-kata Achel membuat Dilla ingat jika dia juga lupa untuk mengabari orang tuanya jika pada akhirnya Dilla memilih untuk mandiri dan ingin bekerja.
Untuk meneruskan pendidikan nya mungkin itu bisa di tunda dulu, Dilla mau belajar mandiri dan tidak beruntung pada keluarga nya terus, apalagi usianya sudah 21 tahun.
Setelah mendapatkan persetujuan dari kedua orangtuanya Dilla menghela nafasnya lega, meski mendapatkan banyak ceramah tapi pada akhirnya orang tuanya mau memberikan ijin untuk Dilla bekerja.
"Jangan pulang malam, kalau ada lembur lebih baik jangan, Mommy ngak mau kamu kenapa-kenapa, kabarin Mommy Daddy perusahaan mana tempat kamu kerja biar kami ngak terlalu khawatir."
"Udah?." tanya Achel.
Dilla mengangguk. "Udah, bismillah ya Chel." kata Dilla, yang langsung di angguki oleh Achel.
Beberapa menit berlalu..
Dilla dan Achel keluar dari mobil dengan tangan yang sama-sama memegang sebuah map lamaran kerja nya masing-masing.
Keduanya sama-sama memakai kemeja putih polos yang di padukan dengan rok span pendek selutut.
Achel dengan gaya rambut pendek nya yang di biarkan terurai, dan sedikit menyelipkan rambut nya ke telinga nya.
Begitu pun dengan Dilla yang sengaja mengikat rambut panjang nya seperti ekor kuda.
Penampilan keduanya memang cantik apalagi dengan make up tipis nya.
Tapi saat berjalan justru yang terlihat bukanlah seperti mau melamar bekerja, melainkan seperti remaja yang ingin tebar pesona di perusahaan.
"Permisi, saya mau ngelamar kerja Bu." ucap Dilla pada resepsionis di depan nya.
Wanita di depan nya menampakan raut wajah kesal nya, pasalnya tidak suka di panggil ibu oleh Dilla, lagi pula usianya masih 27 belum setua itu untuk di panggil Ibu.
"Tidak ada lowongan, maaf ya dek." kata resepsionis sinis.
Yang mana membuat Dilla dan Achel saling berpandangan, tapi bukan nya pergi Dilla malah mengajak Achel untuk duduk di kursi tunggu.
"Ngapain sih Dill, mending cari perusahaan lain aja yuk." kata Achel yang risih terus mendapatkan tatapan tak suka dari beberapa karyawan wanita yang melewati nya.
Berbeda dari karyawan pria yang melihat nya dengan wajah seperti melihat santapan segar nya.
"Ngak, nanti dulu kita pasti bisa kerja disini." kata Dilla santai sambil mengangkat satu kaki nya ke atas.
__ADS_1
Gaya nya sudah seperti bos saja,
begitulah kata-kata sinis yang di lontarkan beberapa karyawan wanita.
Achel melihat kesana kesini, merasa tidak asing dengan nama perusahaan nya.
lalu melihat Dilla yang sama seperti dengan nya, yaitu celingak-celingukan.
"Kamu cari apaansih?." tanya Achel heran.
"Cari___" jawab Dilla terhenti karena melihat sosok yang berjalan ke arah nya.
Dengan senyuman mengembang Dilla berjalan mendekati sosok pria yang berjalan mendekati nya.
"Hallo Om, aku boleh kerja disini kan Om?." kata Dilla sambil tersenyum semanis mungkin pada Zico yang ada di depan nya.
Achel menganga melihat tingkah Dilla, aekarang dia tau perusahaan siapa yang akan dia lamar, perusahaan milik Om Rangga.
Zico melihat Dilla yang berpenampilan sangat imut di mata nya.
"Boleh ko." ucap nya replek karena melihat wajah imut Dilla.
Yesss..
"Tapi Om tadi kata ibu itu ngak ada lowongan loh Om." kata Dilla menunjuk si resepsionis, membuat resepsionis itu langsung pucat padi karena mendapat kan tatapan tajam dari Asisten CEO.
Siapa sih yang tidak mengenal Zico si asisten galak yang selalu memarahi karyawan yang salah, bahkan membuat kesalahan sama saja dengan cari mati, begitu lah pandangan karyawan terhadap pria sejuta pesona itu.
Dilla memegang tangan Zico.
"Jadi boleh kerja kan Om?" tanya Dilla lagi.
Kali ini Achel berdiri, mencubit pinggang Dilla dengan keras, rasanya geli saat melihat kecentilan Dilla pada Zico.
"Ngak jadi Om kerja nya Om." kata Achel menarik tangan Dilla.
Tapi baru beberapa langkah Achel yang tidak melihat ke depan malah menubruk seseorang, yang mana membuat nya hampir terjatuh, tapi beruntung pria yang di tubruk nya langsung sigap menahan pinggang nya.
"Om." pekik Achel kaget.
Keduanya bertatapan selama beberapa detik, saling terpesona dengan keindahan yang di miliki masing-masing.
Sampai akhirnya..
Ekhem..
Suara deheuman Dilla membuat Achel dan Rangga langsung tersadar dari lamunan keduanya.
"Sudah kesini, tandanya sudah bekerja di sini."
_______
🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa jejak ♥️
__ADS_1