Istri Cantik Tuan Muda Kejam 2

Istri Cantik Tuan Muda Kejam 2
Babby.


__ADS_3

^^H A P P Y R E A D I N G^^


🌹🌹🌹🌹🌹


Pintu terbuka membuat Bian yang sedang berjalan mundar-mandir langsung menghentikan langkahnya, mendekati dokter yang ada di depan pintu ruangan yang di tempati istrinya.


"Bagaimana? kondisi istri dan putra ku?." tanya Bian sambil menatap si dokter dengan cermat.


Dokter terdiam, membuat Bian langsung memegang kerah si dokter, dan hal itu di lihat oleh Mama Alena.


"Bian kendalikan dirimu, tenang dulu biarkan dokter bicara dulu." kata Alena melepaskan tangan putranya yang memegang kerah baju si dokter.


"Kondisi nona Lisa masih lemah tuan begitupun dengan kondisi bayi kembar nya, kehamilan nona Lisa yang masih berusia dua puluh delapan Minggu membuat kondisi bayi kembar nya sangat lemah apalagi berat badan bayi kembar nya yang hanya 1,8 membuat bayi anda membutuhkan alat untuk bernafas." kata dokter menjelaskan.


Deg..


Seketika tubuh Bian lemas mendengarkan ucapan si dokter, seharusnya Bian memang tidak mengandalkan keluarga nya untuk menemani istrinya, seharusnya dia bisa lebih mengutamakan istrinya di bandingkan dengan mengurus hal yang di lakukan keluarga istrinya.


Mama Alena menangis saat melihat putranya mendapatkan musibah, ini jelas pernah dia rasakan saat dulu melahirkan Bian.


Setelah Lisa di pindahkan ke ruangan VIP Bian langsung masuk ke ruangan itu, air mata Bian jatuh tak tertahankan mengenai pipinya, di tatapnya sosok yang kini terbaring lemah tak berdaya setelah melahirkan kedua putranya.


"Sayang.." panggilnya dengan lirih.


Seketika juga Lisa terbangun dari tidurnya, di tatapnya sosok suaminya, cintanya.


"Jangan menangis sayang, aku tidak apa." kata Lisa sambil mengusap air mata yang membasahi wajah tampan suaminya.


Bian memegang tangan sang istri dengan lembut.


"Terimakasih karena kamu telah melahirkan dua malaikat kecil kita, terimakasih juga karena kamu telah memenuhi janji mu untuk hidup lebih lama lagi bersama ku, terimakasih..dan _____" ucap Bian terhenti karena Lisa menaruh jari telunjuk nya di depan bibirnya.


"Tidak ada terimakasih, aku senang bisa melahirkan bayi kita, jangan menangis lagi ya aku tidak bisa melihat mu menangis." kata Lisa sambil tersenyum.


Cupp..


Bian memberikan ciuman singkat di kening wanita yang telah berkorban hidup dan matinya hanya untuk melahirkan putra nya.

__ADS_1


Lisa adalah wanita yang sempurna di mata Bian tidak hanya memiliki paras yang cantik tapi Lisa adalah gadis baik hati pertama yang Bian kenal dan sayang.


"Sayang..bayi kita dimana?." tanya Lisa, sedari bangun dia belum melihat adanya si kembar.


"Bayi kita masih harus tinggal di ruangan intensif, usia kehamilan mu yang baru dua puluh delapan Minggu membuat bayi kita terlahir dengan berat badan sangat ringan, 1,8." ujar Bian pelan.


Degg..


Rasanya sangat sakit ketika mendengar anak yang kita lahirkan prematur dan kini bayi kembar nya sedang berjuang antara hidup dan mati.


Air mata Lisa jatuh membuat Bian replek mengelap air mata sang istri dengan jari nya, "Jangan menangis, ini adalah takdir sayang, dan bukan salah siapapun." kata Bian bijak.


Lisa menatap suaminya dengan wajah yang penuh kesedihan nya. "Ya, tapi semua ini tidak akan terjadi jika aku tidak ceroboh saat melewati tangga, seharusnya aku mendengarkan nasihat Mama untuk pindah ke kamar lantai bawah, tapi hik..aku..hiks..aku malah bersikap egois tanpa mementingkan keselamatan bayi kita." Isak Lisa.


Bian memeluk tubuh Lisa dengan penuh sayang. "Sudah jangan menangis, apa kamu tidak mau melihat bayi kita sayang?, ayo kita lihat bayi kita." ajak Bian.


Sebenarnya Bian juga belum melihat bayi nya karena sejak Lisa di pindahkan Bian hanya fokus pada istrinya, dia tidak mau meninggalkan sosok wanita yang telah melahirkan kedua bayi nya.


"Tentu saja aku mau, aku mau putra kita." ujar Lisa bersemangat.


"Ada syarat nya, kalau kamu mau menemui mereka." kata Bian lagi.


Bian mengambil mangkuk berisi bubur di nakas. "Kamu harus makan dan minum obat dulu, setelah itu aku akan mengantarkan mu untuk menemui bayi kita, bagaimana?." Bian berkata sambil tersenyum.


Manis, senyuman suaminya seolah obat semangat untuk nya.


"Baiklah, aku mau makan, tapi suapin." kata Lisa manja, membuat Bian terkekeh.


"Apapun untuk ratuku." kata Bian menggoda.


Lisa terkekeh di goda oleh suaminya. "Gombal kamu." kata Lisa salah tingkah.


Bian merasa bahagia saat istrinya kembali tersenyum, dia mulai menyuapi istrinya dengan penuh kelembutan, membuat Lisa yang di perhatikan penuh kasih sayang menjadi sangat bersyukur.


Inilah rasanya di cintai, dulu dia hanya akan bermimpi mendapatkan balasan cinta dari Bian, tapi sekarang semua itu menjadi nyata, bahkan Bian memberikan cinta yang luar biasa padanya, membuat Lisa seolah menjadi wanita paling bahagia di dunia ini.


Mama Alena yang ingin masuk menghentikan langkanya saat mengintip jika anak dan menantu nya nampak bahagia, tidak ada hal yang lebih membahagiakan bagi seorang ibu selain melihat anaknya memiliki kebahagian nya sendiri.

__ADS_1


"Kenapa?." tanya Papa Arka heran melihat istrinya yang malah tak jadi masuk ke ruangan menantu nya.


"Bian sedang menyuapi Lisa, sebaiknya kita tidak menganggu keharmonisan mereka, yang Lisa butuhkan saat ini dukungan dari suaminya, dan kita harus tau itu." kata Mama Alena, lalu berjalan lagi.


"Sekarang mau kemana?." tanya Papa Arka bingung.


Mama Alena menghentikan langkah nya Lalu melihat suaminya dengan wajah kesal nya.


"Tentu saja melihat cucu kembar kita." sahutnya sebal.


Papa Arka terkekeh melihat wajah cemberut istrinya, dia lupa jika sekarang dia memiliki cucu dan otomatis panggilan nya mungkin akan di ubah.


"Menurut kamu apa panggilan yang cocok untuk kita? Opa Oma? atau kakek Nenek?." tanya Papa Arka sambil berjalan.


Mama Alena juga bingung untuk masalah itu, jika di panggil nenek dia masih merasa muda, dan begitupun dengan mertuanya mungkin tidak akan mau jika di panggil Eyang sepuh, otomatis nama Opa dan Oma atau kakek dan nenek akan menjadi panggilan untuk mereka dari anak-anak Bian dan Lisa.


"Bagaimana kalau Necan? nenek cantik, itu bagus bukan?." Mama Alena balik bertanya.


Papa Arka terdiam, dia juga belum memikirkan nama yang bagus untuk panggilan sang cucu pada nya.


"Jika kamu Necan, mungkin aku Ketam? bagaimana jika lidah cucu kita terpeleset dan malah memanggil ku dengan sebutan Kecap manis atau Ketan goreng, bukan kah itu menyebalkan? sayang." Papa Arka berkata dengan wajah tak suka nya.


Dia sangat yakin jika kedua cucu kembarnya saat dewasa nanti sedikit nya akan mengikuti jejak Bian atau pun dirinya, dan bukan tidak mungkin jika cucunya akan tengil dan nakal, bukan kah Bian kecil juga seperti itu?, menyebalkan?.


"Kita akan memikirkan nya nanti lagi, aku juga masih belum mau di panggil nenek, wajahku masih cantik, iya kan sayang." Mama Alena kembali berkata namun yang di ajak berbicara malah menghilang.


"Sayang." Mama Alena mengerucutkan bibirnya sebal melihat suaminya sedang mematung.


"Maaf, aku hanya sedang memikirkan nama yang bagus untuk panggilan kita, bagaimana kalau Patua dan Matua? bukan kah itu unik?." tanya Papa Arka.


Mama Alena menggelengkan kepalanya mendengarkan saran nama dari suaminya.


"Tidak lucu, tidak unik, kita masih muda sayang, mana ada tua." sungut Mama Alena sebal, ya memang siapa sih yang mau di bilang tua, percayalah berapapun usia wanita pasti menginginkan di panggil muda meski pada kenyataan nya sudah berusia matang.


_________


🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Ada yang mau ngasih saran nama depan nya twins boy?


Jangan lupa jejak, ♥️


__ADS_2