
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Dilla sudah sampai di kantor tempat kekasih nya bekerja, semula dia ingin mengetuk pintu tapi saat melihat pintunya sedikit terbuka dan dia mendengar suara seorang wanita membuat Dilla pemasaran.
"Siapa wanita itu." gumam Dilla.
BRUKKK!!
Dilla membanting pintu dengan cukup keras, berjalan dengan wajah marah nya ke arah meja Zico yang ada di ujung ruangan.
"Dilla, kenapa pintunya di banting? itukan ngak sopan sayang." kata Zico menceramahi Dilla layaknya seorang Ayah pada anak nya.
Membuat sosok wanita yang menjadi karyawan baru itu tersenyum, sengaja memasang wajah polos nya agar terkesan keibuan nya.
"Dilla sayang?." panggil Zico lagi.
Bukan nya menjawab Dilla malah menatap tajam wanita ganjen yang duduk di kursi depan nya.
"Wajah polos tapi kancing baju di buka dua, kenapa hilang? atau gerah?." tanya nya pada sosok yang kini menatap nya bingung.
"Maaf nona, tadi kancing nya lepas, iya kan pak." meminta bantuan Zico.
Namun Zico yang tidak mau terkena amarah Dilla memilih cari aman saja, dia diam dan melihat apa yang akan di lakukan oleh kekasih kecilnya.
Wajah Dilla masih belum bersahabat, membuat wanita yang memakai stelan kemeja putih dan rok pendek ketat itu menjadi gugup.
"Saya permisi ya Pak, maaf." ucap wanita itu beranjak berdiri, namun saat akan berjalan tiba-tiba langkahnya terhenti karena ucapan Dilla.
"Jangan dekati Zico lagi, dia itu calon suami aku, dan kau pelakor yang ngak salah alamat ngak akan bisa ngerusak hubungan kita, awas saja jika kamu rebut Zico, aku pecat kamu." teriak Dilla dengan mata yang benar-benar melotot tajam.
Deg..
Wanita itu langsung keluar dengan perasaan takut nya, baru saja dia bermimpi untuk menjadi menjadi seorang istri Asisten CEO karena mendengar jika Asisten CEO itu adalah Duda hot.
Tapi niatnya ternyata salah besar, bukan hanya tidak berhasil menjadi istri dari Asisten CEO, tapi pekerjaan nya yang seorang karyawan biasa pun bisa-bisa hilang jika dia bertingkah konyol lagi.
Kini tinggallah Zico dan Dilla di ruangan itu, dan Dilla masih betah berdiri menatap ke arah pintu yang memperlihatkan koridor kosong.
Ini adalah pertama kalinya Zico melihat kemarahan Dilla, ternyata benar kata Boy jika Dilla jika marah akan sangat mengerikan.
"Sayang." panggil Zico lembut.
Dilla menghela nafas nya panjang, lalu menaruh bekal nasi goreng buatan nya di meja, dan setelah itu dia berjalan ke arah pintu, membuat Zico melotot takut Dilla marah.
Zico berjalan mendekati Dilla, tapi ternyata Dilla malah menutup pintu dan balik menatap nya.
"Kamu kenapa sayang?, mukanya ko tegang gitu?."
Hah?
"Kamu marah kan sama aku?."
Dilla menggelengkan kepalanya, dia berjalan ke arah meja, dan membawa makanan nya ke sopa yang da di sudut ruangan.
__ADS_1
"Aku ngak marah, sini duduk kita makan."
"Kamu yakin ngak marah?." tanya Zico lagi sambil mendaratkan bokong nya di sopa.
Dan Dilla kembali mengangguk,
"Iya, ngak marah, buku mulutnya ayo.. aaaa! " Dilla malah menyuapi Zico.
Sebenarnya ini bukan waktu nya makan siang, karena jam masih menunjukkan pukul 10 siang.
tapi Zico tidak mau mengubah mood Dilla lagi, dia tidak mau Dilla semakin bad mood dan jika itu terjadi maka Zico mungkin akan sangat sedih.
Karena apa?, karena saat Dilla sudah membalas cinta nya saat itu juga Zico tidak bisa hidup tanpa Dilla.
jauh dari Dilla adalah mimpi buruk untuk nya, dan Zico tidak mau hal itu.
"Gantian dong, suapin aku." pinta Dilla.
Dan dengan senang hati Zico menuruti keinginan Dilla.
keduanya makan sambil menyuapi satu sama lain, sampai makanan yang di bawa Dilla habis tak tersisa.
"Makin hari makin pinter aja masak nya."goda Zico sambil menyolek hidung minimalis milik Dilla.
Meski bule tapi Dilla memang tidak semancung Boy dan Daddy Mommy nya, dia mengikuti Oma nya. Oma Alira.
"Iya dong, siapa dulu yang ngajarin nya?."
"Emang siapa?."
Zico terkekeh pelan.
"Sama-sama sayang, oh iya aku hutang penjelasan ke kamu."
"Hah?, maksud nya?." tanya Dilla bingung.
"Masalah tadi, sebenarnya dia itu bukan___" ucap Zico terjeda karena satu jari tangan Dilla menutup bibirnya.
"Jangan katakan lagi, aku percaya, oh iya besok kan tanggal merah gimana kalau kita ngadate lagi?."
Dilla tidak mau mengungkit cerita menyebalkan tadi, yang membuat dia menjadi emosi berlebihan.
dia memilih untuk mengalihkan pembicaraan saja, yang tentunya membuat dia senang.
"Gimana?, mau."
Zico mengangguk cepat yang menandakan jika dirinya mau.
Dan hal itu tentunya membuat Dilla senang sampai berjoged dan bersorak.
Melihat tingkah Dilla yang kekanakan membuat Zico menggelengkan kepalanya, begitu menggemaskan.
"Aku baru sadar kalau dia masih bocah." Batin nya.
Di tempat lain Syifa yang sedang sibuk dengan mengurus bayinya menjadi susah ke mana-mana, Babby Arsy yang dikit-dikit nangis membuat Syifa apa-apa harus di kamar nya.
__ADS_1
Dia memang tidak memperkerjakan Babby sister, alasan nya tentu karena mendengar cerita yang sudah-sudah, pengalaman kakak iparnya yang sangat mempengaruhi setiap wanita yang memiliki bayi di keluarga Rafasya.
Sebenarnya semua itu tergantung seperti apa si pengasuh nya, tapi ketakutan nya lebih besar dari pada rasa Ingin mencoba.
Dan Syifa memilih untuk tidak memperkerjakan pengasuh, terkecuali dua asisten pembantu yang di utus langsung oleh Mama Alena, mertuanya.
"Huh, akhirnya bisa mandi setelah seharian gendong Babby Arsy."
Sambil menyisir rambutnya yang basah karena keramas, Syifa bercermin dan wajah kurang tidur lah yang terpampang di layar cermin nya.
jangan kan wajah kurang tidur untuk rambut pun dia harus tiga kali sehari di keramas nya.
"Sayang aku pulang!."
Cup..
"Babby Arsy mana sayang?."
"Pliss jangan di ganggu, Babby Arsy baru aja terlelap." kata Syifa.
Arfan mengangguk sambil tersenyum tentu dia tau seperti apa putrinya itu, yang memang mudah menangis dan terbilang cukup cengeng.
"Iya ngak ganggu, tapi bolehkan ganggu Mama nya?." Arfan menaikkan sebelah alisnya ke atas, menatap seksi istri nya yang memakai daster pendek dengan rambut nya yang basah.
Dengan sengaja Arfan mencium leher istri nya, membuat Syifa merinding.
"Jangan mulai deh sayang, aku masih sakit loh." peringatan Syifa.
"Tau ko, cuman nyium doang, emang ngak boleh?."
"Arfan." Syifa malah keenakan.
Dan__
Oekkk oekk..!!
Suara tangisan Babby Arsy pun terdengar, membuat Syifa menatap suaminya dengan kesal.
"Tuhkan, gara-gara kamu!."
Syifa langsung menggendong Babby Arsy, Arfan berjalan mendekati, dia duduk di samping sang istri mengusap pelan pipi Putrinya yang tidak mau berhenti menangis.
"Babby Arsy sayang, diem dulu deh Papa punya apa."
Tiba-tiba,
DUTTTTTTTTTTTT
Bukan nya berhenti menangis, malah semakin kencang menangis nya.
_______
🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa jejak ♥️
__ADS_1