
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Gladis berjalan cepat menuju kamar nya, namun belum sampai dia masuk ke dalam kamarnya tiba-tiba dia mendengar suara yang sangat tidak asing di telinga nya.
"Dari mana saja kamu..!! " suara lantang dari seorang pria paruh baya membuat Gladis melirik ke arahnya.
Gladis menatap sinis pria yang sedang duduk di kursi roda itu, kesal karena melihat wajah pria yang sudah merusak impian nya itu.
Menikah dengan pria tua itu bukan keinginan nya, tapi Gladis terpaksa melakukan nya, di ingin hidup nya segala terpenuhi dengan kemewahan, dan dia mendapatkan semua itu dari Papa nya April.
Meski Gladis jijik saat melayani pria tua itu tapi dia kesampingkan ego nya, sampai dia mendapatkan semua yang dia inginkan.
dan Papa nya April menjadi seperti sekarang ini pun karena dirinya.
"Aku kan udah bilang, aku tadi pergi ke pernikahan nya Irene dan Benny." sahut Gladis sedikit ketus.
"Jangan marah dong sayang, aku cuman tanya aja." ucap Papa April melemah, lalu tangan nya memencet tombol otomatis yang ada di kursi rodanya.
Istrinya berangkat siang tapi sekarang bahkan hari sudah malam, dan hal itu jelas membuat Papa April cemas, takut istri nya berbuat yang tidak-tidak di luaran sana.
Apalagi setelah hilangnya April satu bulan lalu kondisi nya semakin menurun, Papa April terus merasa jika tubuhnya selalu sakit, bahkan setelah meminum obat pun kondisi nya masih tetap sama.
Gladis berjalan ke arah kamar nya begitu saja,
melepaskan tasnya pelan lalu membuka satu persatu pakaian nya.
"Aku mau mandi, kamu tidur duluan saja." ucap Gladis masuk ke kamar mandi.
"Kenapa aku merasa dia banyak berubah, dia bukan Gladis yang aku sayangi lagi." gumam Papa April sambil mencoba berdiri, dan membaringkan tubuhnya secara perlahan.
Seketika dia teringat akan sosok anak gadis nya, April. putrinya sudah lama menghilang bahkan tidak ada kabar dari putri nya.
rindu akan sosok putri semata wayangnya jelas terlihat dari raut wajah nya.
Tapi ego nya terlalu tinggi, rasa malu akan satu kesalahan fatal yang di lakukan sang putri membuat hatinya membeku, menutup rapat-rapat semua tentang April, meski nyatanya rasa sayang nya akan tetap sama.
"April, kamu dimana sayang.. Papa rindu kamu nak, pulang lah Papa janji akan menerima mu kembali, nak." batin Papa April.
"Mikirin apa sih?." tanya Gladis yang sudah selesai mandi dan memakai piyama tidur nya.
__ADS_1
Papa April hanya diam, dan hal itu membuat Gladis menyerhitkan dahinya bingung.
sampai dia teringat akan hal yang selama ini dia inginkan, tapi waktu nya selalu tidak tepat.
"Aku mau jadi CEO di perusahaan." ucap Gladis tiba-tiba.
"Tidak, perusahaan itu sudah menjadi milik April, aku sudah memberikan nya untuk satu-satunya putri ku." ucap Papa April tegas.
Tapi jawaban itu jelas membuat Gladis kesal, marah dan tidak terima. Dia sudah menghabiskan masa mudanya untuk menikah, tapi dia tidak mendapatkan apa-apa, bukan kah itu menyebalkan?.
"Tapi aku istri mu, lagi pula April kan sudah pergi, dia mungkin saja sudah menikah atau bahkan mungkin dia sudah pergi jauh dengan kekasih nya." lanjut Gladis masih enggan menerima dengan apa yang dia dapatkan.
"Rumah dan beberapa aset sudah menjadi milik mu, apa itu kurang?."
Gladis tersenyum kecut, tentu saja semua itu belum seberapa dengan semua yang telah dia lalui untuk bisa mendapatkan posisi ini.
"Masih kurang, emang kamu mau kalau nantinya kamu meninggal terus aku jadi janda miskin?, ayolah sayang, kamu kan cinta aku lagi pula aku kan lagi hamil anak kita." Gladis mulai drama nya.
Di pijat nya lengan suaminya, sampai akhirnya Papa April menghela nafasnya panjang.
dalam hati dia terus mengumpat, tidak dia tidak mungkin memiliki anak dari pria tua di depan nya.
Kehamilan nya ini adalah anak dari kekasihnya, pria yang menjadi pemuas ***** nya di saat dia merasa kekurangan di ranjang bersama suami tua nya.
Sebenarnya dia tidak yakin jika Gladis hamil dari benihnya, hanya saja melihat pengorbanan Gladis yang mau memberikan masa mudanya untuk bersama nya membuat Papa April memilih berbaik hati pada istri muda nya itu.
"Dan cari April, aku ingin bertemu dengan putri ku." lanjut Papa April lagi, membuat Gladis seketika mengepalkan tangan nya.
"Sial..!! kenapa April selalu unggul dari ku.!" batin Gladis semakin membenci April.
Di tempat lain April dan Boy sedang menikmati malam nya, keduanya tersenyum setelah melakukan aksi panas yang cukup memakan waktu panjang nya.
"Cepat hadir ya Boy junior, Daddy tampan yang kaya raya ini sudah menunggu kehadiran mu." ucap Boy seraya mengusap perut polos istrinya.
Keduanya sedang saling berpelukan, dan tentunya dengan tubuh yang sama-sama polos, kini April senang karena suaminya juga tidak memakai pakaian seperti diri nya, entahlah saat melihat suaminya masih memakai pakaian komplit itu selalu membuat April kesal, merasa tidak adil.
"Geli ihk, jangan di usap terus." ucap April sambil menciumi dada bidang suaminya.
Cup..
Satu kecupan Boy berikan pada sang istri tercinta. Tidak ada ungkaian kata yang bisa mewakili perasaan nya saat ini, Boy benar-benar bahagia bisa hidup bersama wanita yang menjadi pemilik hatinya itu.
__ADS_1
"Tidur yu." ucap Boy seraya mengusap kepala istrinya penuh sayang.
April kembali mengelengkan wajahnya di pelukan suami nya.
tapi belum lama dia memejamkan matanya April tiba-tiba membuka matanya kembali.
"Kenapa?." tanya Boy melihat istrinya nampak gelisah.
"Ngak tau, tiba-tiba aja perasaan aku jadi ngak enak." sahut April dengan ekspresi yang masih sama.
Boy mengusap pipi istrinya dengan lembut.
"Apa kamu masih kepikiran dengan wanita gila itu lagi?, atau kamu mau bertemu Papa mu?." tanya Boy masih dengan tangan yang mengusap pipi istrinya.
Ucapan suaminya membuat April terdiam, dia memang merindukan Papa nya, tapi apa yang di lakukan Papa nya cukup membuat nya takut untuk menatap kembali wajah yang pernah membuat putri nya meninggal itu.
"Pa, jangan pa, hiks.. bagaimana pun anak yang ada di kandang ku ini adalah cucu Papa, hiks.. Pa, April mohon Pa.."
"Lakukan pekerjaan kalian secepatnya, ambil janin itu."
Melihat istrinya yang menangis membuat Boy cemas, langsung dia mengubah posisinya untuk saling bertatapan dengan istrinya.
"Hey, kenapa menangis?, jangan menangis oke, ini bukan istriku, April istri ku adalah wanita tegar bukan wanita cengeng." ucap Boy seraya mengusap air mata yang membasahi pipi istrinya.
April menatap suaminya, lalu menghela nafasnya.
"Aku mau bertemu Papa, apa boleh?." tanya April pelan.
"Tentu saja boleh, aku akan mengantarkan mu besok, jangan bersedih lagi oke, kita akan pergi bersama menemui Papa mu." ujar Boy membuat April tersenyum lalu memeluk suaminya.
"Terimakasih, aku mencintaimu."
________
🌹🌹🌹🌹🌹
Mampir yuk di cerita baru aku.
judul nya ^^I Love You Boss^^
udah up sampai Epsd 24 ya♥️
__ADS_1
Jangan lupa Jejak ♥️