
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
"Kak, kakak ngak apa kan? kita ke dokter aja ya, takut nya kakak kenapa-kenapa."
"Ngak usah, aku ngak papa."
"Kakak yakin." tanya Dilla khawatir.
Ini adalah kesalahan nya karena mengerem mendadak, meski Dilla memiliki alasan kenapa dia mengerem mendadak tapi tetap saja Dilla tidak mau menyalahkan pengamen cilik yang berlari tadi.
"Iya, ini hanya luka kecil, nanti juga sembuh." sahut Lucas santai.
Dilla terdiam, entah kenapa sekarang lain rasanya berhadapan dengan laki-laki di depan nya.
tidak ada lagi salah tingkah di buat nya, yang ada hanya rasa perduli karena ulah kecerobohan nya.
Lucas bangkit setelah di rasa rasa sakit di bagian lengan nya sudah tidak terlalu sakit, melirik Dilla sekilas lalu menaiki motor besar nya.
"Jangan lupa undangan nya ya, maaf untuk yang dulu."
Dan setelah mengatakan itu Lucas kembali melaju kan motor besar nya dengan kecepatan cepat, meninggalkan sosok yang mematung di pinggir jalan.
"Makasih udah pernah mau jadi pria idaman ku saat ABG."
Hanya kata itu yang Dilla keluarkan dari bibir tipis nya.
jika Dilla yang dulu mungkin dia akan patah hati dan juga menangis bombay karena di abaikan.
Tapi hal itu tidak lagi di rasakan oleh Dilla yang sekarang.
Dilla yang sekarang sudah memiliki dambatan hati nya sendiri, pria yang di cintai nya dengan tulus tanpa melihat perbedaan usia yang sangat jauh.
Dilla kembali masuk ke dalam mobilnya, kembali mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Ngak sabar banget pengen cepet-cepet ketemu." gumam Dilla antusias.
Beberapa menit berlalu..
"Siang nona."
Dilla tersenyum kecil.
"Siang juga mbak."
Memang bagian resepsionis sudah mengenal Dilla, lebih tepatnya sejak Dilla dan Achel datang ke perusahaan nya untuk melamar pekerjaan.
Para karyawan wanita yang masih lajang harus membuang jauh-jauh harapan nya untuk bersanding dengan duda tampan itu, apalagi setelah melihat mata penuh cinta yang selalu di tebarkan oleh pasangan sejoli yang masih merajut asmara itu, membuat mereka memilih mundur alon-alon.
Dilla melangkah kan kaki nya untuk masuk ke dalam lift, sampai di lift dia berpas-pasan dengan seorang nenek-nenek.
Dan Dilla tentu saja kenal dengan nenek itu.
"Gadis muda, kamu ngapain kesini?." si Nenek bertanya dengan nada sinis nya, bagaimana pun dia tau kalau Dilla adalah saingan berat nya untuk mendapatkan daun muda nya.
__ADS_1
"Ehk Nenek, aku mau ketemu pacar aku, Nenek sendiri mau ngapain?." tanya balik Dilla ramah.
Meski dia tau si Nenek memiliki niatan untuk menjadi pelakor di hubungan nya tapi Dilla tidak mau ambil pusing, dia tidak mempersalahkan nya hanya saja ada rasa kasihan pada si Nenek takutnya si Nenek patah hati di usianya yang sudah tua.
Si Nenek terdiam mendengar kata pacar, dia yakin seyakin-yakinnya jika Dilla selingkuh dengan yang lebih muda, dan hal itu akan bagus tentunya untuk nya.
"Asyik, semoga aja gadis muda ini benar-benar punya selingkuhan, dengan gitu aku bisa punya kesempatan lebih banyak buat deketin si ganteng Zico, hihi." batin si Nenek bahagia.
Dilla bergedik ngeri melihat si Nenek yang terus tersenyum.
"Jangan-jangan si Nenek kesambet arwah di kantor ini lagi, ihk pasti hantu nya Nenek gombel deh." batin Dilla ngeri.
Setelah pintu lift terbuka Dilla buru-buru keluar, dia berjalan dengan cepat meninggalkan sosok Nenek-nenek yang terus mengamati gerak gerik nya.
Tapi baru si Nenek akan berjalan mengikuti langkah Dilla dia malah tersandung dan berakhir menjatuhkan ponselnya.
"Hiks ponsel ku, kasihan kamu padahal baru dua tahun kita bersama." si Nenek membuat drama sambil melihat layar ponselnya yang retak.
"Anda tidak apa Bu?." tanya seseorang.
Si Nenek mendongkak kan wajahnya ke atas, melihat sosok yang tak asing sedang menatap nya.
"Ya ampun dia kan mantan pacar aku sewaktu kuliah dulu, ko bisa dia ngak punya uban banyak." batin si Nenek sambil melihat pria tua yang memakai pakaian kantoran nya terlihat rapih.
"Juna."
"Kinan!."
Keduanya saling bertatapan cukup lama, sampai akhirnya si Nenek memilih berdiri dan...
"Aduh encok ku." ringis si Nenek yang langsung mendapatkan bantuan pria tua di depan nya.
Si Nenek hanya diam mendengar ledekan mantan kekasih saat muda nya dulu itu.
Ada niatan untuk bertanya kehidupan si mantan, tapi si nenek malu bertanya, dia memilih duduk dan meminum air yang di berikan si pria tua itu.
Melupakan niatan nya ke kantor untuk meminta uang pada anak bungsu nya, uang itu akan dia pakai untuk mempercantik penampilan nya di salon kecantikan, tapi sepertinya si Nenek akan melupakan keinginan nya itu, apalagi setelah mendengar kata duda yang keluar dari pria tua yang pernah mengisi hari-hari nya di masa lalu itu.
"Lumayan juga, si Juna ganteng ya meski udah aki-aki, tapi jabatan Juna oke juga, kalau aku deketin Juna pasti aku jadi nyonya manager, hihi." batin si Nenek sudah punya niatan lain.
Sedangkan di ruangan nya Zico, nampak Dilla yang tengah di tatap aneh oleh kekasih nya.
"Apa sih liat aku ko gitu, Emang ada yang aneh ya?." tanya Dilla heran.
Zico menggelengkan kepalanya.
"Ngak ko, kamu cantik seperti biasanya." jawab Zico sambil tersenyum, membuat pipi Dilla menjadi merona karena gombalan yang di berikan kekasih nya itu.
Dilla masih tidak sadar dengan penampilan nya yang jauh berbeda dari hari biasanya.
jika Dilla yang biasanya mungkin akan lebih memperhatikan penampilan nya, apalagi saat pergi ke luar.
Dan hari ini seperti nya Dilla mengabaikan segalanya, lihat saja rambut yang di penuhi pencapit rambut itu, baju kebesaran dan yang lebih mencolok adalah wajah alami tanpa olesan make up.
Dilla lebih terlihat cantik alami dengan penampilan nya yang sederhana.
__ADS_1
"Aku mau ngomong sesuatu, dan ini penting."
Zico mengajak Dilla untuk duduk di sopa yang ada di sudut ruangan nya.
"Wajah kamu serius banget sayang, jadi pengen nyubit." begini lah kalau pria yang di hadapkan dengan wanita yang tepat, dia akan terlihat bodoh dan melupakan semua image nya saat berhadapan dengan orang lain.
"Aku mau kita nikah cepet."
Uhukk..uhuk..
"Jangan drama deh, pake batuk segala, aku serius sayang, aku mau kita nikah cepet biar kamu ngak di ganggu terus sama mantan istri kamu lagi, aku juga udah siap ko jadi istri yang baik buat kamu, aku serius udah kebelet nikah." jelas Dilla panjang kali lebar.
Tangan nya memegang tangan Zico, mencoba meyakinkan jika semua yang di ucapkan nya pada sang kekasih adalah fakta.
"Jangan diem dong, bikin kesel aja, kalau ngak mau ya ngak apa, balikan aja tuh sama mantan istri kamu yang ribet itu."
Dilla beranjak dari duduknya.
tapi saat ingin melangkah tangan nya di tarik oleh Zico, membuat Dilla tidak seimbang dan berakhir duduk di pangkuan Zico.
Dilla bergerak mencoba melepaskan tangan Zico yang memeluk pinggang nya.
"Jangan gerak sayang, bahaya." kata Zico namun tangan nya masih betah memeluk Zico.
"Aku mau nikah sama kamu, tapi dengan keputusan yang diambil dalam keadaan hati tenang, bukan karena api cemburu."
"Jadi?, kamu ngak mau?."
Dilla bangkit dari pangkuan Zico, duduk di sopa yang sedikit berjauhan dari Zico.
Zico menghela nafas nya perlahan, lalu mengulurkan tangannya untuk memegang tangan Dilla.
"Bukan ngak mau sayang, tapi emang kamu ngak mau di lamar kaya Achel?." tanya Zico.
"Ngak, mau nikah cepet aja." sahut Dilla cepat.
"Yakin?." tanya Zico lagi.
"Seyakin-yakinnya." jawab Dilla matang.
"Ya udah."
Dilla melirik Zico dengan wajah yang mengerut.
"Ya udah apa nya?." tanya Dilla.
"Kita nikah, kamu udah siap aku lebih siap, jadi tunggu apa lagi?, malam ini aku ke rumah kamu buat bicarain pernikahan kita." kata Zico lagi.
Ya, jika sudah siap jadi tunggu apa lagi?, menikah adalah ibadah dan jika semua nya sudah siap kenapa tidak di segerakan?.
_______
🌹🌹🌹🌹🌹
Si Nenek akhirnya dapat kakek kaya🤣
__ADS_1
dan untuk Zico dan Dilla nikah nya lancar ngak ya?.
Jangan lupa like coment and Vote ya♥️