Istri Cantik Tuan Muda Kejam 2

Istri Cantik Tuan Muda Kejam 2
Pendarahan.


__ADS_3

^^H A P P Y R E A D I N G^^


🌹🌹🌹🌹🌹


Sebelumnya...


Lisa yang baru selesai makan kembali ke kamar nya karena merasa tidak enak badan, semula Lisa ingin tidur siang tapi setelah melihat ponselnya yang ada di nakas membuat Lisa langsung mengambil ponselnya.


Iseng-iseng Lisa membuka akun sosial medianya, kehamilan nya yang sudah memasuki bulan ke tujuh membuat Lisa mudah kelelahan, apalagi perutnya membesar karena mengandung bayi kembar nya.


Semula Lisa hanya melihat-lihat akun sosial medianya yang di penuhi dengan beberapa status alay teman-teman nya dan beberapa artist yang di follow saja, tapi setelah la bergelut dengan ponselnya Lisa tak sengaja melihat pesan yang ada di akun sosial medianya.


"Mama, Papa." pekik Lisa kaget saat melihat pesan itu berisi foto orang tuanya yang penuh dengan darah.


"Aku sudah bilang padamu jika hidup mereka ada di tanganku, dan kau memilih menghindar dariku maka kematian orang tuamu adalah balasan untuk mu."


Lisa berdiri dan langsung berjalan tergesa-gesa dengan ponsel yang ada di genggaman nya, dan di saat bersamaan juga Mama Alena mendapatkan tamu dari kepolisian yang memberitahukan kabar meninggalnya besan nya.


"Nyonya Dini dan Tuan Heri di temukan tak bernyawa di jalan Xxxxx, untuk sementara kami masih mencurigai kalau meninggalnya kedua nya karena pembunuhan berencana, dan ini ada surat yang kami temukan di kantung celana tuan Heri, nyonya." ucap kepolisian.


Dan saat bersamaan juga Lisa melihat polisi yang sedang berbincang dengan mertuanya, jantungnya langsung berdetak kencang tak karuan, Lisa langsung teringat akan pesan yang tadi, membuat langkahnya menjadi tidak fokus.


"Aaaa.."


Brukkk..


Lisa terjatuh saat berjalan melewati satu persatu anak tangga, dan Mama Alena yang melihatnya langsung melotot.


"Lisa." teriak Mama Alena panik.


Mama Alena berlari mendekati manantunya, di lihat nya darah segar yang berasal dari paha menantunya membuat tubuhnya seketika bergetar ketakutan.


"Ya tuhan, pak polisi tolong." teriak Mama Alena lagi, meminta tolong pada kedua polisi yang ada di depan nya.


Di rumah nya sedang sepi, para Oma sedang pulang karena mereka memiliki urusan sendiri, dan yang tertinggal hanyalah Mama Alena sendirian.


Sepanjang perjalanan tak henti-henti nya Mama Alena menangis, dia gugup dan sedih melihat Lisa yang nampak menahan sakit di pangkuan nya.


"Sabar sayang, Mama yakin kamu kuat bertahanlah sebentar lagi kita akan sampai ke rumah sakit sayang." ucap Mama Alena, sambil mengusap pelan kepala menantu nya.


Lisa mengangguk dengan mata terpejam nya. "Ma, sakit..Ma..Pa..jangan pergi." ucap Lisa lirih.

__ADS_1


"Pak tolong cepetan pak, menantu dan calon cucu saya sedang dalam bahaya pak, cepetan." kata Mama Alena sedikit berteriak karena panik.


Kembali ke sekarang..


Bian mengusap wajahnya dengan kasar, selama satu jam lebih Lisa belum kunjung keluar dari ruangan UGD itu, begitupun para dokter yang masih belum keluar dari ruangan itu.


"Ya tuhan selamatkan istri dan anak ku, aku mohon..aku tidak bisa hidup tanpa nya." batin Bian merasa sangat sedih.


Mama Alena menatap sang putra yang sedari tadi berjalan kesana kemari layak nya setrikaan itu, ini semua salahnya dia telah gagal menjaga menantunya.


"Bian." panggil Mama Alena pelan.


"Maafkan Mama." sambung Mama Alena lirih.


Bian mendekat, lalu memeluk tubuh wanita yang telah melahirkan nya itu.


"Ini bukan salah Mama, seharusnya aku tidak lalai dan bisa menjaga istriku lebih baik lagi, tapi aku gagal hiks.." Isak tangis Bian pecah di pelukan sang Mama.


Keduanya berpelukan sambil terisak, air mata Bian dan Mama Alena jatuh bersamaan.


sampai Mama Alena melihat pintu terbuka.


"Dokter bagaimana keadaan istriku?." tanya Bian.


"Kondisi Nona sedang sangat lemah tuan, pendarahan yang di alami nona Lisa mengeluarkan banyak darah yang membuat kondidinya semakin memburuk, kedua bayinya harus segera di keluarkan dan jalan satu-satunya adalah dengan jalan oprasi, tuan." kata dokter sambil menunduk takut.


Bian melotot mendengar kan ucapan sang dokter, dengan cepat Mama Alena menahan tangan putranya yang sudah mengepalkan tangan.


"Tahan emosi mu Bian, ini bukan saat nya kamu marah-marah." ucap Mama Alena sambil mengusap pelan punggung putra nya.


"Dokter apa tidak ada cara lain?, bukan kah kehamilan anak saya masih menginjak bulan ke tujuh?, dan apa mereka akan___." ucap Mama Alena terhenti karena Bian berkata.


"Sedikit kalian berbuat kesalahan maka aku tidak akan segan membuat kalian hancur." kata Bian sambil menatap tajam dokter itu.


Si dokter menelan ludahnya kasar mendengar ancaman dari cucu si pemilik rumah sakit tempat dia bekerja, tapi memang tidak ada jalan yang lain lagi selain melakukan oprasi sesar.


"Kami akan berusaha yang terbaik tuan, tapi harapan keberhasilan nya hanya tiga puluh persen tuan, maaf." kata si dokter sambil menunduk.


Tiga puluh persen? apakah mereka tuhan sehingga bisa menentukan kematian seseorang.


"Jangan main-main denganku, kalian pikir kehidupan istri dan anak-anak ku adalah mainan hah." Bian berniat melayangkan sebuah pukulan namun tangan nya kembali di tahan oleh Mama Alena.

__ADS_1


Tiba-tiba Papa Arka datang dengan wajah yang khawatir, dan langsung mendapatkan pelukan hangat dari sang istri tercinta nya.


"Maafkan aku sayang, aku gagal melindungi menantu dan calon cucu kita." ucap Mama Alena sambil menangis di pelukan suaminya.


"Tidak sayang, ini semua sudah takdir jangan salahkan diri mu." ucap Papa Arka bijak.


"Bagaimana kondisi Lisa? apa kandungan nya baik-baik saja?." tanya Papa Arka.


Mama Alena terdiam lalu menatap suaminya.


"Kondisi Lisa semakin lemah, dan bayi nya harus di lahirkan secara prematur karena usia kandungan nya masih belum genap tujuh bulan." kata Mama Alena sedih.


Di sudut nampak Bian yang duduk lemas di kursi tunggu, wajahnya masih berair membuat Papa Arka dan Mama Alena merasa sedih melihat kondisi putra nya.


Setelah di pindahkan ke ruangan VIP Bian menjaga istrinya, dia terus duduk di dekat istrinya dengan tangan yang memegang tangan Lisa.


"Bian Mama dan Papa akan membelikan makanan dulu, apa kamu mau sesuatu?." tanya Papa Arka.


Bian melirik lalu menggeleng. "Tidak, aku masih kenyang Pa, Ma." sahutnya lalu kembali menatap sosok yang terbaring lemah tak berdaya di ranjang pasien.


Setelah kepergian orang tuanya Bian menghela nafasnya pelan, dia menyesal telah meninggalkan istrinya, seharusnya Bian menemani istrinya tapi dia malah sibuk dengan kematian Han.


"Sayang..bangunlah, maafkan aku." ucap Bian lirih.


Perlahan mata Lisa terbuka, membuat Bian langsung tersenyum.


"Sayang." panggilnya senang karena Lisa sudah sadar.


"Aku dimana?." tanya Lisa.


"Kamu di rumah sakit sayang." jawab Bian cepat.


Lisa memegang perutnya, huh..syukurlah bayi nya masih selamat dan tidak terjadi apa-apa, tapi ada rasa sakit saat dia memegangi perut nya.


"Sayang, Mama Papa.. hikss..mereka..hiks..meninggal." lirih Lisa ingat akan sesuatu yang membuatnya tidak fokus berjalan saat melewati tangga tadi.


Sungguh melihat kondisi istrinya di tambah apa yang menimpa pada mertuanya membuat Bian sangat sedih, cobaan datang dengan bertubi-tubi, dan Bian tidak bisa melihat sosok yang di sayang nya harus merasakan sakit lagi.


"Aku janji akan membalaskan semua rasa sakit ini pada mereka yang tersenyum di atas derita kita sayang." batin Bian sambil mengepalkan tangan nya.


__________

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹


Jangn lupa jejak, ♥️


__ADS_2