
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
"Sayang." panggil Bian lembut pada sosok yang semalaman tidak tidur itu, begadang menemani kedua putra kembar nya.
Lisa mengeliat, kantuknya benar-benar tidak bisa di ganggu gugat, dia benar-benar merasa sangat lelah dan ingin terus menerus memeluk guling nya.
Untuk malam hari dia memang tidak memberikan pengasuh untuk menjaga putra nya, dia takut putranya akan kehausan, meski sebarnya Lisa selalu menyetok banyak ASI nya di kulkas.
Oekkk.. oekkk.. (plis no debat, suara tangis bayi).
Suara tangisan salah satu putranya membuat Lisa mau tak mau langsung membuka matanya.
"Hoam..mana Ziel? Zelo?." tanya Lisa sambil mengucek mata nya, dia tidak melihat keberadaan kedua bayi tampan nya.
"Sama Nanny nya, sudah kamu tidur lagi." ucap Bian lembut.
Lisa tak menjawab dan malah berjalan ke arah kamar mandi, membuat Bian ikut mengintil masuk bersama sang istri.
"Mau ngapain?." tanya Lisa aneh.
"Tentu saja mandi bareng." sahut Bian sambil membuka satu persatu pakaian nya.
"Jangan macam-macam, belum empat puluh hari." Lisa kembali mengingat suaminya, padahal jelas-jelas Lisa melahirkan dengan cara sesar, dan empat puluh hari itu hanyalah alasan semata.
Dia mau waktu menjaga Babby nya lebih banyak, mengingat sekalinya Bian melakukan nya selalu lama dan sangat lama, sampai badan nya lemas.
Bian mengerucutkan bibirnya sebal, dia benar-benar sudah merindukan istrinya, apalagi setiap malam Lisa selalu sibuk dengan si kembar membuatnya kehilangan sosok yang selalu menjadi kehangatan nya itu.
"Iya.. iya, bawel." sahut Bian cepat, "Tapi kalau udah pas empat puluh hari boleh kan?." sambung Bian sambil tersenyum manis.
Huhh..
Mana tahan Lisa melihat senyuman maut itu, senyuman yang menjadi alasan nya jatuh cinta pada sosok Daddy dari si kembar itu.
Lagi pula siapa sih yang tidak bisa jatuh cinta pada sosok Bian, ya terlepas dari semua sikapnya yang sangat lah menantang, senyuman di wajah tampan Bian adalah alasan utama Lisa menyukai Bian, senyuman yang hanya di berikan pada orang-orang tertentu, dan Lisa menjadi salah satu nya.
"Terserah, tapi sekarang jangan dulu, Ziel dan Zelo pasti udah kangen Mommy nya." kata Lisa berjalan ke shower dan menyalakan air nya.
Bian berjalan mendekati istrinya, di peluk nya tubuh sang istri dengan lembut, mengusap kedua pipi Lisa dengan tangan nya, keduanya berpelukan di bawah guyuran air shower.
Lisa memejamkan matanya saat merasa kesegaran mulai menerpa tubuhnya, dari yang semula mengantuk kini malah sebalik nya.
Keduanya saling menyabuni satu sama lain, dan kembali merasakan kesegaran di bawah guyuran air shower lagi.
sampai...
"Sayang." panggil Lisa, merasa ada yang aneh.
"Apa sayang." tanya Bian, masih asyik memeluk istrinya.
__ADS_1
Huh..
Lisa kembali merasakan sebuah gesekan menggelikan itu lagi, membuatnya langsung melepaskan pelukan nya, tapi belum juga beberapa detik Bian menariknya kembali ke pelukan nya.
"Sudah tanggung." ucap Bian sambil menyengir kuda.
"Ngak mau ahk, nanti bayi kita nangis." alasan utama langsung di layangkan.
"Ada Nanny, tenang saja ada Mama dan Papa juga." ucap Bian masih dengan acara meraba nya.
Itu dia, Lisa tau jika mertuanya ada di rumah nya, apa kata mereka nantinya jika Lisa dan Bian malah asyik di kamar berdua dan meninggalkan si kembar?.
"Sayang." ucap Lisa mulai gelisah, dia merasa sesuatu di bawah sana milik suaminya mulai berdiri.
Bian malah tersenyum. "Dia merindukan sarang nya, kasian si ganteng udah lama nggak mandi." ucap Bian sambil membalikkan tubuh sang istri untuk menghadap ke arah nya.
"Boleh ya." ucap Bian sambil tersenyum semanis mungkin.
Mana bisa Lisa menolak, dan pada akhirnya Lis mengangguk membuat Bian tersenyum senang, dan tak menyiakan waktu lagi langsung tancap gas menyerang istrinya di kamar mandi.
Setelah selesai acara mandi yang memakan waktu lama itu Lisa dan Bian langsung berpakaian, meski nafas keduanya masih terengah-ngah karena permainan yang melelahkan.
"Kamu kebiasaan main nya lama." sungut Lisa sebal sambil menyisir rambutnya yang basah.
Bian hanya tersenyum, "Lama, tapi kamu ngak nolak, udah gitu malah bilang fast___" ucap Bian terhenti karena Lisa melotot ke arahnya.
Malu jika dia mengingat kejadian tadi, itu privasi dan Bian tidak boleh membicarakan nya, begitulah menurut Lisa.
Haha..
Cupp..
"Makasih sayangku, sudah kasih vitamin untuk Daddy." berkata dengan suara yang penuh menggoda.
Lisa dan Bian keluar dari kamar dengan rambut yang basah, membuat sosok pecicilan seperti Arfan menjadi curiga.
"Wihh.. siang-siang panas banget ya Ma, harus nya berselancar nih kaya nya enak panas-panas gini dapat yang anget-anget." ucap Arfan sambil menyengir kuda, apalagi setelah melihat wajah salah tingkah kakak iparnya.
Pletak...
Bian yang kesal langsung memberikan jitakan di kepala adik nya.
"Anak kecil tau apa, belajar yang bener." sungut Bian kesal.
"Halah, kak mana ada masih kecil mau lihat yu kita adu gede." Arfan malah semakin menggoda kakak nya.
"Heh, bocah masih kecil ngomong nya ya.." Bian menggelengkan kepalanya, menanggapi si Arfan memang harus ekstra sabar.
Bukan nya mikir Arfan malah tersenyum, dan duduk di samping kakak iparnya yang sedang menggendong salah satu keponakan nya.
"Pantesan Ziel, Zelo lahirnya barengan, Daddy nya main nya siang ternyata." Arfan semakin menjadi-jadi.
__ADS_1
Bian mengerutkan kening nya tak mengerti, apa kaitan nya dengan siang?, siang atau malam sama saja, yang penting tokcer, begitu menurut Bian.
"Anak ini, dasar." Papa Arka menggelengkan kepalanya, entah kenapa sifat Arfan malah seperti Tanteu Anaira adik nya.
Mama Alena hanya tersenyum melihat Arfan yang memang pecicilan, dia sudah terbiasa dengan putra nya, lagi pula tidak salah jika sifat Arfan seperti itu, orang Arfan sejak kecil sangat dekat dengan adik iparnya, bahkan sekarang kuliah pun Arfan memilih di luar negri dan tinggal bersama adik iparnya, Tenteu Anaira.
"Arfan sudah, jangan ngomong kaya gitu lagi lihat kakak ipar mu wajahnya merah, tuh." ucap Alena yang melihat pipi menantunya merah.
Lisa mendeuhem untuk mengusir kecanggungan nya, "Mam." panggil Lisa pelan, malu.
Haha..
Mama Alena tertawa, "Iya, tidak apa sayang Mama paham, dulu Papa Arka juga gitu ko, puasa lama terus langsung buka cabang baru lagi." anak dan ibu sama saja, Mama Alena malah semakin asyik menggoda menantunya.
Melihat Lisa yang malu membuat Bian melirik sosok yang dari tadi nampak dingin itu, siapa lagi kalau bukan Papa nya, yang dari tadi nampak tenang dengan Babby Zelo di pangkuan nya.
"Ko bau ya." Mama Alena mencium bau yang tidak asing di hidung nya, dan melirik ke arah suaminya.
"Papa kentut?." tanya nya, membuat Papa Arka melotot tertuduh oleh istrinya.
"Zelo pop, nih." Papa Arka memberikan cucu nya ke sang istri.
Namun Mama Alena malah kembali menuduhnya lagi.
"Uuh cucu nenek yang ganteng, harum banget ngak kaya kakek nya yang bau, bau kentut ya, dasar kakek bau kentut." kata Alena lagi sambil membawa cucu nya arah kamar ganti khusus bayi.
Lisa tertawa dalam diam, sedangkan Bian langsung cari aman dengan langsung berjalan ke arah dapur, ingin mengambilkan air hangat untuk istri nya.
Tapi satu sosok yang sangat menjengkelkan malah tertawa cekikikan, membuat Papa Arka kesal.
"Dasar anak Arka." sungut Papa Arka sebal melihat Arfan yang terus cekikikan saat dirinya di fitnah oleh istrinya.
"Sabar Pap, jangan sedih selow Pap, mending sekarang kita main cari yang segar-segar, uh." Benar-benar anak tidak punya ahlakq.
Pletak...
Kini bukan dari Bian melainkan dari Mama Alena yang sudah keluar dari ruangan ganti, memberikan Zelo ke pangkuan suaminya lagi, dan menatap Arfan dengan wajah kemarahan nya.
Awww..!!!
Arfan meringis saat mendapatkan jeweran di telinga nya, sedang si pelaku nya masih memperlihatkan wajah masam nya.
"Ngomong apa tadi kamu, hah!." tanya Mama Alena masih dengan menjewer telinga Arfan.
"Ampun Ma, hehe, Arfan hanya bilang Mama cantik super cantik, kesayangan Arfan, cintanya Arfan, pokonya love-love buat Mama." Arfan malah melayangkan gombalan nya, membuat Papa Arka yang melihat nya hanya bisa menghela nafasnya pelan.
"Jangan ikuti Om mu, dia memang rada-rada." ucap Papa Arka pada Babby Azelo.
__________
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Jangan lupa jejak, ♥️