
^^H A P P Y R E A D I N G,^^
🌹🌹🌹🌹🌹
"Mau kemana kamu?." tanya Zico saat melihat Dilla yang sudah mengganti pakaian nya menjadi yang dress lagi.
Dilla melirik ke belakang, menatap muak pada sosok yang baru bangun dari pingsan itu.
"Dasar caper." ketus Dilla sambil meraih gagang pintu, tapi saat pintu terbuka tiba-tiba tangan nya di tahan oleh Zico.
"Apalagi sih Om." Dilla sudah mulai kesal dengan tingkah pria yang usia nya 2x lipat dari dirinya.
Bagaimana tidak tadi Zico sudah menyusahkan nya dengan pingsan, tubuhnya yang besar dan kekar membuat Dilla dan dokter Putra tadi benar-benar kesusahan saat memindahkan tubuh Zico ke tempat tidur.
Dan yang lebih menyebalkan nya lagi ternyata Zico tidak apa-apa, dan baik-baik saja, bukan kah mengesalkan sudah membuat orang panik setengah mati.
"Tunggu dulu."
"Kerjaan aku udah selesai, semuanya udah rapih dan aku juga tadi udah nyuci sebagian baju Om, puas?." ungkap Dilla sambil bersidekap dada.
Zico terdiam, sial dia melewatkan banyak hal hari ini hanya karena trauma nya dengan darah, kalau saja dia bisa mengontrol dirinya untuk tidak kembali takut dengan darah itu mungkin saja dia akan bisa menikmati hari nya bersama gadis yang di sukai nya.
Tadi Zico tak sengaja memegang pecahan pas bunga, dan hal itu membuat jarinya terluka, meski kecil tapi goresan itu membuat darah segar keluar dari lengan nya, hingga membuat dia ambruk pingsan.
Melihat Zico yang terus diam membuat Dilla semakin berapi-api.
"Om, lepas ngak." teriak Dilla kesal.
"Tolong buatkan aku makanan, aku lapar."
Apa!!
Dilla menatap tak percaya pada Zico?, pria satu ini benar-benar sudah membuat nya menjadi babu setiap bertemu dengan pria itu.
"Om pikir aku babu Om apa?, seenaknya nyuruh ini itu sama aku, aku bisa laporin kelakuan Om sama polisi ya atas tindakan tidak menyenangkan yang Om lakuin ke aku."
"Silahkan laporkan saja, paling kamu sendiri yang repot karena keluarga kamu akan tau, dan kamu tau kalau orang tua mu tau masalah ini?." Zico menjeda ucapan nya, lalu menatap Dilla.
"Kita akan di nikahkan!." lanjut Zico santai yang membuat Dilla melongo dengan bibir yang sedikit terbuka.
"Ngarep, haha.. mana mungkin mereka mau ngerestuin aku nikah sama Om?." melirik Zico sekilas, "Mereka juga mikir kali Om." lanjut Dilla mengeleng-gelengkan kepalanya.
Mendengar ucapan Dilla membuat Zico mendekatkan tubuhnya ke tubuh gadis langsing itu, meniupkan nafas panasnya ke arah leher jenjang milik Dilla.
__ADS_1
Alih-alih takut dengan apa yang di lakukan Zico Dilla malah semakin tertantang, dia balik menatap tajam sosok yang kini terus menerus meniupkan nafas panas ke leher nya.
"Terus aja tiup Om sampe puas, untung aroma bibirnya mint, kalau aromanya bau zigong udah aku sumpal pake kos kaki tuh bibir." ketus Dilla sambil memanyunkan bibirnya.
"Aku yakin si Om ngak mungkin berani, dia kan Gy, suka nya sama sesama jenis, alias terong makan terong." batin Dilla seyakin-yakinnya.
Memang semenjak mengetahui fakta Gy dari Achel dulu, Dilla masih beranggapan kalau pria 43 tahun di depannya itu adalah Gy, pria yang suka sama sesama jenis nya.
Zico mendekatkan wajahnya ke wajah Dilla, dan sialnya dia malah ingin melahap bibir merah milik Dilla yang menggoda dan seolah meminta untuk di lahap nya.
"Ngapain Om?, mau nyium ya?." celetuk Dilla.
Sontak saja hal itu membuat Zico tersadar dari pikiran nya yang sudah hampir lepas kendali, dia menjauhkan tubuhnya dari tubuh Dilla yang memang sudah tersudut di pintu.
"Kamu boleh pulang." Ucap Zico membalikan tubuhnya.
Melihat Dilla terus menerus membuat hasratnya kembali menggebu, apalagi tingkah Dilla yang selalu memanyunkan bibirnya di hadapan nya, seolah menguji ketahanan nya menahan hasrat nya.
"Om."
Tak ada jawaban.
"Om udah lama jadi duda?." celetuk Dilla, kepo.
Glekk..
Lagi-lagi Zico menelan ludahnya kasar, gadis di depan nya memang benar-benar ingin menguji kesabaran nya.
"20 tahun." sahut Zico singkat jelas dan padat.
"What?, OMG lama banget." Dilla menutup bibirnya dengan telapak tangan nya, terkejut mendengar fakta yang benar-benar mengejutkan itu.
Selama itu? Dilla benar-benar masih syok, tapi saat mengingat siapa orang yang mengatakan nya, Dilla menjadi paham.
"Emang Om beneran ngak suka cwe ya?, ngak suka gunung kembar? ngak suka sama yang seksi-seksi?, ko bisa sih cwo yang lumayan ngak jelek-jelek amat kaya Om bisa ngak suka cwe."
Dilla menatap heran pada Zico, dia benar-benar tidak mengerti kenapa pria di depan nya bisa menjadi Gy, apakah bermain sesama jenis lebih menyenangkan?, tapi menurut Arfan, lain ko.
Ia sering mendengar cerita Arfan saat di luar negri, dimana pria tengil yang sebentar lagi menjadi calon Papi itu sangat nakal dengan pergaulan bebas nya di luar negri.
Dilla masih sibuk dengan pikirannya sendiri, mengabaikan tatapan singa lapar yang baru saja dia undang dengan wajah polosnya saat mengatakan gunung kembar.
"Tahan Zico, tahan." batin Zico menggelengkan kepalanya saat melihat Dilla yang semakin menggoda di mata nya.
__ADS_1
"Om."
Astaga anak ini..
"Apa lagi?."
Dilla terdiam, lalu menggelengkan kepalanya.
"Ngak jadi, aku pulang dulu ya, bye bye Om semoga kita ngak ketemu lagi." dan setelah mengatakan itu Dilla pergi begitu saja dengan wajah yang sama sekali tanpa beban.
Meninggalkan Zico yang menghela nafas nya, dan mengelus dada nya pelan.
"Sudah dua tahun aku bersembunyi di balik rasa cintaku untuk dia, apa jika saat nya tiba nanti Dilla akan mau menerima ku?."
Cinta memang tidak bisa memilih dan di pilih, cinta datang tiba-tiba dan entah untuk siapa, dan bagaimana pun caranya Zico akan tetap mendekati Dilla dengan cara yang dia miliki sendiri, begitupun dengan Rangga sahabat nya yang sekarang tengah berjuang untuk mendapatkan hati Achel.
Sedangkan Dilla yang sedang di dalam lift kini tengah mendapatkan teguran dari wanita tua yang menjadi tetangga Apertemen Zico.
"Emang nya kenapa sih Nek, aku kan ngak ngapain-ngapain." Dilla masih keukeuh dengan fakta yang memang benar adanya.
"Iya, tapi ngak boleh loh berdua-duaan sama pria, apalagi pria itu duda, Nenek yakin kamu akan dapat pria yang lebih dari dia, kamu itu cantik jangan mau di deketin pria tua." ucap si nenek masih keukeuh menyuruh Dilla menjauhi Zico.
Ting..
Pintu lift terbuka, Dilla langsung berjalan ke arah lobby, sedangkan si nenek kembali masuk ke dalam Lift.
"Dasar anak muda, udah tau berondong itu punya aku masih aja mau di gebet, Zico kan calon berondong aku." ucap Nenek sambil tersenyum.
"Habis ini aku harus masak, terus anter deh ke Apertemen Zico, semoga aja dia kecantol sama masakan ku, hihi."
________
🌹🌹🌹🌹🌹
Yakin ngak cocok?🥱
Kalo ngak cocok sama Dilla Om nya bungkus aja buat bunda-bunda🤭🤣
Jangan lupa jejak ♥️
__ADS_1