
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
"Tuan, saya pamit istri saya___ ." ucap Asisten Giz tak mampu mengucapkan kata-kata nya lagi.
Bian yang paham dengan kondisi Asisten nya yang sedang dalam musibah langsung mengangguk.
"Pergilah, temani dia jangan biarkan istrimu melewati masa-masa sulitnya sendiri." kata Bian.
"Terimakasih tuan." kata Asisten Giz, merasa bersyukur karena bos nya paham dengan keadaan nya.
Kondisi Dewi pasca keguguran memang sudah membaik, tapi sayang nya ada tumor di rahim istrinya yang membuat Asisten Giz sedih karena dia harus memilih dua hal yang sangat berat.
Antara istrinya, atau keturunan nya.
karena sekarang Dewi tengah mengandung anaknya lagi, tapi sayang nya tuhan kembali menguji cintanya, Dewi menderita tumor dan penyakit tumor tidak baik untuk ibu hamil.
Setelah kepergian Asisten nya Bian kembali bergelut dengan layar laptop nya, kembali fokus bekerja lagi.
"Siang kak." sapa seseorang yang tiba-tiba masuk.
Bian menggelengkan kepalanya melihat sosok yang tidak di undang itu, "Heh, kalo masuk keruangan itu ketuk pintu dulu, apa ke, bukan asal nyelonong masuk aja." kata Bian kesal, adiknya memang tidak ada sopan santunnya.
Arfan malah menyengir seolah tidak ada masalah.
"Heleh kak, ngapain ketuk pintu orang pintunya juga udah kebuka lebar." bela Arfan tidak mau di salahkan, lagi pula dia sudah terbiasa datang tanpa di undang.
Berbicara dengan adiknya hanya membuang waktu, tidak akan mau kalah sama sekali yang ada terus menyangut terus.
Arfan mendaratkan bokong nya di sopa, matanya menatap ke sekeliling ruangan sang kakak, lalu terbayang di kepalanya jika dia menjadi CEO seperti kakak nya, apa mungkin? apa dia bisa? apa menjadi CEO bisa memiliki banyak pacar?.
Memang menjadi CEO adalah hal terkeren yang ada dalam bayangan Arfan, tapi dia ogah menjadi CEO, jika hanya untuk memiliki banyak pacar dia bisa mencari nya lewat aplikasi cari jodoh dalam waktu lima detik, tapi jika menjadi CEO sudah pasti dia akan sibuk, seperti kakak nya.
"Kak." panggil Arfan.
"Hemmm."
__ADS_1
"Kak." Panggil Arfan lagi.
"Hemmm."
Kesal tak mendapatkan jawaban membuat Arfan sebal, lalu sedetik kemudian dia tersenyum, punya ide cemerlang.
"KakLisa, cantik banget." celetuk Arfan sambil menampilkan wajah sumringah nya ke layar ponselnya.
Sontak saja hal itu membuat Bian melotot dan dengan cepat berjalan mendekati sosok adiknya.
dengan kasar Bian merampas ponsel yang ada di tangan sang adik.
Dan sebuah jitakan kembali di berikan Bian pada sang adik, membuat Arfan menatap kakaknya dengan wajah masam.
"Sakit tau, jahat banget sih kak, ngasih jajan enggak ngasih jitakan hampir tiap ketemu." sungut Arfan kesal.
"Salahmu, dasar anak kecil sudah ngoleksi banyak foto-foto kaya gitu, mau jadi apa kamu hah..!" Bian gemas dengan tingkah adiknya, bisa-bisa nya Arfan menyimpan banyak foto cewek-cewek bikinian di galery ponsel nya.
Arfan melotot saat melihat kakak nya menghapus beberapa foto hasil jepretan nya, susah-susah dia mencuri gambar itu saat sedang bermain dengan teman-teman nya.
"Jangan di hapus lah kak, itu mahal, bisa dapet uang aku jual gituan." kata Arfan sambil mencoba mengambil ponselnya.
Arfan menatap sendu pada layar ponselnya, galery nya hanya tersimpan beberapa foto, itupun foto keluarga nya saja, dan hasil jepretan nya sudah hilang, huh.. padahal untuk mendapatkan foto-foto itu Arfan harus pura-pura menjadi gay dulu, agar tidak di curigai oleh cewek-cewek bule hot itu.
Pergaulan di luar negri memang lebih berani, dan itu yang Arfan sukai, tapi hal itu malah membuatnya harus kembali ke kota asal nya, Papa Arka menyuruh nya pulang ke Indonesia untuk menyelesaikan study nya di salah satu universitas terkenal di kota nya, dan Arfan tidak bisa menolak nya.
"Jika tidak mau Papa akan mengambil kembali semua fasilitas yang Papa dan Mama berikan."
Ancaman itu berhasil membuat Arfan takluk, apalagi Tanteu Anaira dan Om Kiano yang sudah Arfan anggap seperti Mami dan Papi nya sendiri malah ikut-ikutan mengancam nya, sangat menyebalkan bukan.
"Jangan di bilangin kak, nanti Mama Papa ngak ngasih ijin buat aku pake fasilitas nya lagi." Arfan memasang wajah melasnya agar sang kakak iba padanya.
"Baiklah, jika tidak mau kamu harus kerja, usia kamu sudah dua puluh tahun, kuliah juga setengah hari, lebih baik kamu kerja sama kakak." ucap Bian.
Sebenarnya ada perusahan sang Papa yang akan di wariskan pada Arfan, tapi Papa nya belum memberikan nya para Arfan, mungkin karena Arfan kurang meyakinkan untuk mengurus satu perusahaan.
"Kerja apa kak?." tanya Arfan menatap penuh harap pada sang kakak.
__ADS_1
"Jadi sekertaris nih pasti." batin Arfan.
Bian melihat adiknya seksama, wajah adiknya sebelas dua belas dengan nya, tampan, putih dan memiliki tubuh yang sama-sama tegap, hanya pemikiran nya saja yang beda, Bian sejak kuliah sudah mulai terjun ke dunia bisnis bersama Papa nya, sedangkan Arfan terlalu sibuk main.
"Kakak akan mengirimkan alamat dimana kamu bisa bekerja, kakak yakin kamu akan bisa menghasilkan banyak uang." ucap Bian sambil tersenyum misterius.
Melihat senyuman sang kakak membuat Arfan ikut tersenyum juga, dia yakin jika dia akan menjadi CEO, makin banyak saja sepertinya pacarnya jika dia menjadi bos besar di usianya yang masih sangat muda ini.
Setelah keluar dari perusahaan sang kakak Arfan menyetir mobilnya lagi, dia akan terjun ke alamat yang di kirim sang kakak padanya.
"Haha, aku yakin saat aku masuk kuliah nanti bakalan banyak cwe yang ngejar-ngejar aku, bahkan ngemis jadi pacar." ucap Arfan sambil tersenyum penuh percaya diri.
Dia tidak sabar menunggu masuk kuliah, dan setelah itu Arfan akan menjadi cwo terpopuler di kampus nya, ketampanan yang di milikinya membuat Arfan sangat percaya diri.
Tak butuh waktu lama mobil yang di kendarai Arfan telah sampai di alamat yang sesuai dengan kiriman sang kakak, Arfan menatap tempat itu dengan seksama, dia menyerhitkan dahi nya bingung saat melihat tempat itu..
"Restoran?." gumam Arfan sambil menatap bangunan Restoran yang ada di depan nya.
"Si kakak mau nyuruh aku makan atau apa, ngapain nyuruh ke restoran?." masih betah bergumam.
Tiba-tiba ponselnya berdering, memperlihatkan sebuah panggilan telpon dari sang kakak.
"Hallo kak." panggil Arfan.
"Kamu sudah sampai di tempat yang kakak sebutkan?." tanya Bian di sebrang sana.
"Sudah, restoran? kakak mau aku beliin makanan apa?." tanya balik Arfan.
"Ngak nyuruh beli apa-apa, cuman kakak mau kamu ngelamar kerja di restoran itu, dan sebagai gantinya kakak akan memberikan apapun yang kamu mau, tenang saja kamu hanya perlu dua bulan bekerja saja, dan setelah itu hadiah menantimu." Bian di sebrang sana memberikan penawaran menarik untuk sang adik.
Arfan terdiam, dua bulan? itu sangat lama, tapi hadiah? dia mau itu, dan jika dapat Arfan akan meminta banyak permintaan.
"Baik, aku pria sejati dan sangat penurut, aku akan melakukan tangtangan ini, tenang saja kak, jangan lupa siapkan banyak hadiah nya." setelah mengatakan itu Arfan mematikan panggilan nya sepihak.
Tatapan matanya mengarah ke arah restoran yang ada di depan nya, "Oke, hanya dua bulan dan aku tampan tidak mungkin aku kesulitan dalam bekerja, lihat saja pria tampan yang penuh pesona ini akan menjadi idola di restoran, hhe." ucap Arfan sambil terkikik geli lalu berjalan ke arah restoran yang ada di depan nya itu.
__________
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa jejak, ♥️