
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Pagi ini Bian dan Lisa sedang jalan-jalan pagi di area kompleks perumahan nya, keduanya nampak senang melakukan olaraga pagi itu dengan bersamaan.
Meski hanya berkeliling kompleks tapi Lisa senang karna untuk pertama kalinya Bian menjadi sosok yang humble, seperti sekarang Lisa sedang mengobrol dengan tetangga jauh nya yang kebetulan sedang hamil seperti Lisa.
"Biar suami aku aja yang manjat, kasian suami kakak kalo manjat nanti jatuh." kata Lisa, menawarkan suaminya untuk memanjat, dia tidak tahan melihat suami tetangga yang tak kunjung-kunjung sampai ke atas pohon, dan malah memeluk pohon nya dari bawah tanpa ada pergerakan.
Bian yang mendengar nya langsung melotot, sejak kapan dia menjadi tukang panjat pohon?, jika di bilang jago mungkin dia bisa sedikit-sedikit, tapi sekarang dia harus memanjat untuk orang lain yang benar saja seorang Bian manjat pohon untuk tetangga nya.
"Emang ngak papa dek?, takutnya suami adek nya ngak mau." ucap si tetangga yang kebetulan usianya sudah tiga puluh tahunan.
"Ngak papa kak, suami aku udah biasa kok." sahut Lisa lalu melirik suaminya.
"Ayo sayang, kamu kan waktu kecil jago manjat." seru Lisa sambil tersenyum manis.
Huhh..
Mana tahan Bian mengabaikan perintah si pujaan hatinya, meski sedikit kesal Bian pun akhirnya melakukan perintah sang istri dia naik ke atas pohon mangga.
Sedangkan si suami tetangga itu hanya nyengir kuda karna tidak bisa memanjat, membuat Bian yang sudah sampai atas pohon menatap dingin pada tetangga nya.
"Badan aja gede berotot tapi naik pohon ngak bisa, cemen." gumam Bian meledek tetangga nya yang berbadan kekar dalam hati.
"Itu dek, yang di atas kepala adek mangga nya kaya nya masih muda." tunjuk si tetangga, bukan hanya menunjuk bahkan sambil berteriak, padahal jarak antar pohon ke tanah hanya lah 3 meter.
"Yang ini?." Bian mengambil mangga nya.
Tetangga itu mengangguk, "Kantungin ya dek, sayang kalo jatuh soalnya." kata tetangga wanita itu lagi, sambil tersenyum senang melihat apa yang di inginkan calon bayi nya telah terpenuhi.
__ADS_1
Lisa menatap ke atas pohon dengan tatapan kagum, meski wajah suaminya menampakan kekesalan tapi dia merasa bangga dengan suaminya yang mau membantu orang lain, ya meski itu juga atas dasar suruhan nya.
"Berapa bulan kak?." tanya Lisa, sedikit kepo karna tetangganya berbadan gemuk jadi kehamilan nya tidak terlalu mencolok di lihatnya.
Wanita yang di katahui bernama Yeni itu menoleh sambil tersenyum. "Baru masuk bulan ke tiga dek, kalo adek sendiri? pasti udah lebih dari empat bulan ya." tebak Yeni, sambil mengusap perut nya lagi.
Lisa mengangguk. "Iya udah lima bulan kak." sahut Lisa, ikut mengusap perut nya yang nampak lebih besar dari usia kandungan nya.
"Tapi besar ya, ngak kaya punya saya ngak keliatan." Yeni kembali berucap, ya mau terlihat bagaimana orang tubuh Yeni dua kali lipat nya Lisa begitupun dengan suaminya, bahkan panggilan tetangga nya di area komplek nya adalah keluarga besar.
"He iya kak soalnya kembar jadi perutnya besar." jawab Lisa lagi, dia tidak akan menyingung masalah perut si tetangga nya yang tidak terlihat sedang hamil tiga bulan, lagi pula itu bukan urusan nya, dan mood ibu hamil sangat berubah-ubah Lisa tidak mau salah kata dan membuat mood tetangga nya jelek.
Bian turun dengan beberapa mangga di saku celana nya, dan dua mangga di cekal di tangan nya, namun saat akan meloncat dari dahan yang di pegang nya, tangan nya yang satu nya malah memegang sesuatu benda kenyal, dan itu membuat Bian melotot.
"Ulat!!." teriak Bian.
Brukkk...
"Astaga sayang!." Lisa kaget melihat suaminya jatuh ke rerumputan.
Si tetangga yang mendapatkan mangga muda berterimakasih pada Lisa dan Bian, mereka juga meminta maaf karena memanjatkan buah muda untuk mereka Bian malah jatuh dari pohon mangga.
Setelah drama jatuh dari pohon mangga itu Lisa dan Bian berjalan pulang ke rumah nya, Lisa membawa dua mangga yang masih muda, sedangkan Bian membawa tangan yang gatal dan kaki yang terasa sakit karna terseleo.
"Ini semua gara-gara ulat nya, kalau saja tidak ada ulat sialan itu pasti kaki ku tidak akan sesakit ini." dengkus Bian menyalahkan si ulat.
"Sudah jangan menggerutu nanti pahala nya di ambil ulat yang kamu pegang." kata Lisa, bosan mendengar ocehan suaminya yang menyalahkan ulat terus menerus, padahal ulat nya tidak salah hanya saja tangan suaminya yang tidak tidak melihat-lihat saat akan memegang dahan nya.
Sampainya di rumah Lisa langsung memanggil tukang urut, yang dia tau bekas keseleo harus segera di urut jika tidak mungkin kaki suaminya akan lama sembuhnya.
Saat sedang di urut Bian malah melotot melihat tukang urutnya yang berperawakan besar dan menakutkan, tak lupa kumis melengkung tebal dengan janggut yang panjang bahkan sampai di kepang.
__ADS_1
"Awww.." ringisan Bian, merasa sakit saat tangan yang penuh dengan otot-otot itu mencoba mengurut kaki nya.
"Sakit sayang." ucapnya lagi sambil menahan sakit, tangan nya masih Keukeuh memegang tangan Lisa sebagai penguatnya.
Lisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya yang menurutnya sangat lebay. "Rileks saja, itu hanya akan sakit pada awalnya nanti juga sakitnya hilang." Lisa berucap sambil mencoba melepaskan pegangan tangan suaminya yang terasa sakit di tangan nya.
"Tapi ini benar-benar sakit sayang, hikss.. ini semua gara-gara ulat itu." Bian kembali menyalahkan si ulatnya lagi.
Bahkan tangan nya yang satunya lagi masih bengkak setelah di beri bubuk bedak gatal agar mengurangi rasa gatal dan perih di tangan nya.
"Badan besar sama ulat aja takut, cemen." celoteh Lisa sambil tertawa cekikikan membuat Bian merasa tersudutkan.
Apa ini karma karena dia tadi mengejek tetangganya yang berbadan besar dan berotot yang tidak bisa naik pohon mangga?, jika iya sepertinya Bian harus banyak meralat ucapan nya agar kejadian serupa tidak terulang kembali padanya.
"Awww.. pelan-pelan pak, sakit tau." sungut Bian sedikit menjerit.
Si bapak berbadan besar itu melihat ke arah Bian dengan tatapan tajam nya, tanpa mengatakan sepatah kata pun bapak berbadan besar itu kembali mengurut lagi.
"Sayang dari mana kamu bisa punya nomer untuk memanggil tukang urut itu." Bisik Bian bertanya.
Lisa terdiam lalu semenit kemudian dia ingat jika dia memiliki nomer bapak tukang urut itu dari selembar kertas yang di berikan anak-anak saat di perjalanan ke supermarket kemarin.
"Memang nya kenapa?." tanya Lisa.
"Lihat saja, dia seperti nya punya dunia nya sendiri, aku suruh pelan malah tambah keras, dan sekarang dia malah memijat kaki ku yang ngak sakit." ucap Bian, merasa aneh.
"Astaga sayang aku lupa, bapak itu ngak bisa denger, di selembar kertas itu juga tertulis jika si bapak itu harus di arahkan saat memijat dengan gerakan tubuh sebagai isyarat." Lisa menutup bibirnya, apalagi dia melihat si tukang urut mulai meraba ke paha suaminya.
Bian langsung kaget mendengarnya, ini adalah pertama kalinya dia di pijit oleh orang lain, dan yang memijitnya juga seorang laki-laki berparawakan besar.
__________
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa jejak, ♥️