
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Lisa berjalan dengan membawa perut besarnya, perasaan nya terasa aneh dimana lokasi yang di kirimkan si peneror itu letak nya ada di restoran yang sangat dikenali nya.
"Dimana dia." gumam Lisa, melihat kesemua arah.
Tring..
Lisa melihat layar ponselnya yang memperlihatkan sebuah notif pesan dari si peneror, dengan segera Lisa membaca nya.
"Duduklah di meja no tiga puluh."
Lisa duduk di bangku yang di suruh si peneror, tapi meski begitu Lisa tidak bodoh dia masih memberikan pesan untuk suaminya agar suaminya tidak khawatir dengan nya.
"Aku sudah sampai, tenang saja disini ramai dan aku kenal dengan pemilik restonya."
Setelah mengirim pesan untuk suaminya itu Lisa menyimpan ponselnya di meja, lalu matanya jelalatan kesana kemari, mencari sosok yang menurutnya mencurigakan.
Sedangkan di tempat lain Bian bersama para polisi sedang mengepung sebuah rumah terpencil yang ada di suatu tempat, dan dia menemukan sosok yang di carinya nampak terkulai tak berdaya di lantai dengan tubuh yang di ikat oleh tali.
Sebenarnya Bian akan melawan dengan kekerasan lagi, bahkan Bian berniat akan membuat musuh nya itu mati di tangan Alena si hiu cantik, tapi ucapan Lisa membuatnya sadar jika tidak semua nya di selesaikan dengan amarah lagi.
"Aku sedang hamil sayang, apa kamu mau karma buruk datang pada anak-anak kita kelak?, lebih baik semua nya kita serahkan pada pihak berwajib, dan setelah itu kita bisa memberikan ganjaran yang sepadan untuknya."
Lama Lisa menunggu, namun tidak ada tanda-tanda kedatangan si peneror, dan itu membuat Lisa kesal, dia sudah meliburkan olahraga kehamilan nya demi untuk menemui si peneror.
"Jika mereka tidak menemui ku lalu bagaimana dengan kondisi mama dan papa." gumam Lisa gusar, takut peneror atau penculik itu menyakiti kedua orang tuanya, apalagi mengingat penculik itu pernah mengancamnya akan membunuh orang tuanya.
Semalam Lisa juga bermimpi bertemu dengan sosok yang wajahnya samar-samar di matanya, sosok itu mengatakan hanya dua kata, tapi kata itu terus berulang-ulang.
"Putri ku."
"Putri ku."
Tiba-tiba ada tangan yang memegang tangan nya, membuat Lisa kaget.
"Astaga, kamu." Lisa kaget, melihat Han yang tiba-tiba muncul di depan nya lagi, setelah beberapa bulan dia tidak melihat mantan tetangga nya itu.
__ADS_1
"Kamu kesini ko ngak bilang-bilang sih, mau pesan apa? mau aku pesenin ada menu baru loh." ucap Han bertanya.
Lisa menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, aku sudah mau pulang." sahut Lisa, menolak.
Han tersenyum setelah beberapa bulan dia kembali bertemu dengan Lisa, wanita yang menjadi cinta pertamanya.
Saat Lisa akan berdiri Han memegang tangan Lisa, membuat Lisa menepis cepat tidak suka dengan apa yang di lakukan Han.
"Jangan kurang ajar, aku sudah bersuami. bukan seperti dulu lagi." tegas Lisa dengan sinis.
Mendengar itu Han malah bertepuk tangan sambil tersenyum aneh, membuat Lisa keheranan, apa tetangganya itu sudah gila?.
"Aku tau tujuan mu kesini Lisa." ucap Han sambil mencoba memegang rambut Lisa, namun lagi-lagi Lisa menepisnya.
"Aku bilang jangan sentuh aku." kata Lisa lagi, sinis.
Perlahan Han memudarkan senyuman nya lalu menatap tajam Lisa. "Jangan mencoba menolak ku Lisa, kau tidak tau sedang berurusan dengan siapa bukan?." Han berucap sambil memasang aura dingin nya.
Deg..
Apa maksud nya? apa Han ada kaitan nya di balik hilangnya kedua orang tuanya?.
Pepatah dari Bian sebelum dia berangkat ke resto pun kembali teringat oleh Lisa, membuat Lisa langsung merubah raut wajahnya menjadi sedingin mungkin.
"Katakan dimana Mama dan papa ku." tanya Lisa tegas, matanya menatap tajam sosok di depan nya.
Haha..
"Kau sangat cantik saat memperlihatkan wajah so cool mu itu, Lisa sayang, tapi semua itu tidak akan membuat aku takut karena kamu bukanlah lawan ku." ketus Han.
Lisa memejamkan matanya secara perlahan, tangan nya mengelus perutnya yang buncit.
berusaha rileks untuk menanggapi sosok gila di depan nya.
Entah apa lagi yang di rencanakan Han, pria itu tidak ada kapok nya, bahkan setelah kejadian dimana Lisa lumpuh dulu pria itu kini malah kembali berulah lagi.
"Aku tidak tau apa masalahmu dengan orang tuaku di masa lalu, tapi aku mohon jika kamu manusia biarkan lah mereka hidup dengan nyaman, mereka berhak menikmati masa tua mereka." kata Lisa beranjak berdiri.
"Dan untuk kamu, jangan pernah berharap aku akan menyukai mu, Han, aku tau siapa kamu sebenarnya, dan yang tadi hanyalah sandiwara ku saja, aku harap kamu tidak menyesali apa yang akan kamu tuai di kemudian hari nanti." lanjut Lisa lagi.
__ADS_1
Han tersenyum mendengarnya.
"Aku akan melepaskan semua nya, tapi kamu harus meninggalkan nya." kata Han sambil beranjak berdiri.
"Aku akan melupakan semua yang telah di lakukan orang tuamu di masalalu, aku juga akan menganggap anakmu seperti anak ku sendiri, tapi kamu harus meninggalkan pria itu." lanjut Han lagi.
Mana mungkin Lisa mau meninggalkan Bian, cintanya pada Bian sangat lah besar, dan bahkan jika dunia memintanya untuk menghilangkan cintanya Lisa akan tetap menolak nya.
"Maaf, tapi aku lebih mencintai suamiku, sebaiknya kamu cari alasan lain saja untuk mendapatkan ku, atau kau bisa mencari wanita lain lagi, karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah mencintaimu." kata Lisa dengan tegas lalu pergi meninggalkan Han yang masih berdiri di tempat yang sama.
Han mengepalkan tangan nya sambil manatap kepergian Lisa dengan wajah yang penuh amarah.
Han pergi ke mobil nya, dengan wajah yang masih tetap memperlihatkan aura kebencian nya, cintanya sudah di tolak, dan kini hanya tertinggal kebencian.
Drett.. (Anggap aja suara telpon).
"Ada apa?." tanya Han kesal.
"Gawat bos, markas kita di kepung polisi, mereka juga melepaskan tahanan kita." kata seseorang di sebrang telpon, yang tak lain adalah anak buahnya.
"Apa! bagaimana bisa? sebenarnya apa yang kalian kerjakan hah! kenapa kejatahatan kita sampai tercium polisi?." Han mengeretakan gigi nya menahan amarah.
"Mereka mengepung dengan tidak terduga Bos, dan ada satu kabar lagi Bos." terdengar suara yang penuh kegugupan.
"Apa?."
"Saham perusahaan menurun, banyak pemegang saham di perusahaan kita memilih mengambil sebagian saham yang tersisa nya dan menjualnya ke perusahaan lain, di perkirakan perusahaan akan segera bangkrut Bos." ucap anak buah Han di sebrang telpon.
Tanpa basa-basi lagi Han langsung melemparkan ponselnya ke jok di sampingnya, kebencian dan kemarahan nya semakin berubun-ubun.
Perusahaan yang di peroleh nya kini sudah hancur, dan bisa di pastikan kini dia akan menjadi burunan polisi.
"Sialan, Albiansya kau sangat licik, lihat saja aku akan menghancurkan kalian semua." kesal Han dengan tatapan penuh kemarahan nya.
__________
🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa jejak, ♥️
__ADS_1