Istri Cantik Tuan Muda Kejam 2

Istri Cantik Tuan Muda Kejam 2
Arfan mabuk?


__ADS_3

^^H A P P Y R E A D I N G^^


🌹🌹🌹🌹🌹


Kegugupan menyertai Syifa yang menundukkan kepala nya, takut akan Arfan yang terus menatap ke seberang arah, seolah mengabaikan nya.


Hati Arfan bagai di tusuk pedang berduri, kini dia paham dengan ucapan kakak nya, benar yang di ucapkan kakak nya jika menikah itu harus kuat segala nya, dan yang Arfan punya hanyalah ***** semata.


"Kenapa kamu tidak cerita sejak awal kalau kamu ternyata sudah tidak suci lagi?." akhirnya Arfan mengeluarkan unek-unek yang terus menyayat hatinya..


Ya Arfan sudah melakukan nya, dan Arfan juga tau rasanya bercinta dengan seorang yang sudah tidak vir*in. dia pernah melakukan nya beberapa kali dengan pacar-pacar nya sewaktu di Swiss, tapi Arfan tidak menyangka jika Syifa yang dia anggap gadis baik-baik ternyata sudah tidak memiliki kesucian.


Marah dan kecewa menjadi satu, menjadi sebuah rasa yang sulit di artikan. Arfan merasa di bohongi oleh sikap lugu dan polos yang Syifa perlihatkan selama dia mengenal gadis itu.


"Arfan." panggil lirih Syifa sambil terisak.


"Kamu membuat aku kecewa Syifa, aku ngak nyangka ternyata kamu sama dengan para wanita di luaran sana yang menjual kesucian nya hanya untuk uang, dan mungkin kamu juga salah satu nya, benar kan.! " kata Arfan terdengar tajam dan berhasil menghentikan tangis Syifa.


"Aku tidak seperti yang kamu pikirkan Arfan.! " tegas Syifa, tangan nya menutupi bagian dada nya yang sedikit terbuka.


Arfan tersenyum remeh menatap Syifa, gadis yang beberapa jam ini menjadi istrinya dan sudah mengecewakan nya.


"Lalu apa yang harus aku pikirkan?, apa aku harus memikirkan bagaimana lincahnya istriku bermain dengan pria lain, atau mungkin memikirkan kamu yang mendesah di nikmati pria yang bukan suamimu? apa itu yang harus aku pikirkan nona Syifa?." sinis Arfan sambil beranjak dari ranjang nya.


"Kamu mau kemana Arfan, aku mohon duduk kembali, aku mohon." Isak Syifa sambil mencoba menggapai tangan Arfan.


Namun dengan cepat Arfan mendorong tubuh polos Syifa sehingga mengenai bagian pinggiran ranjang.


"Jangan urusi kehidupan ku, urusi saja kehidupan mu yang penuh dengan kebohongan itu." tegas Arfan lalu berjalan keluar kamar dengan wajah marah nya.


Syifa memeluk kaki nya setelah mendengar suara bantingan pintu yang cukup keras.


saat ini hanya menangis yang bisa membuat nya lebih tenang..


Dia pikir Arfan itu baik, dia pikir Arfan adalah pria yang bisa membuat nya menjadi gadis paling beruntung.


tapi dugaan nya salah, Arfan tak lebih sama dengan pria-pria yang pernah Syifa temui sebelum Arfan.


Kenangan di masa lalu nya yang membekas membuat Syifa menjadi seperti ini, ya, Syifa kehilangan kesucian nya di tangan orang lain.

__ADS_1


lebih tepatnya tetangga nya sendiri.


Seharusnya Arfan bertanya padanya dulu, bukan langsung memarahi nya, menghina nya bahkan mengatai nya sebagai wanita yang menjual harga dirinya.


Syifa benar-benar kecewa dengan Arfan.


dia salah mengartikan kebaikan Arfan selama ini padanya.


seharusnya Syifa memang tidak jatuh kedalam perhatian dan ketampanan Arfan.


"Kenapa Tuhan selalu tidak adil padaku, hiks..kenapa Tuhan selalu mengambil seseorang yang aku sayang, kenapa tidak ada yang bisa mengerti diriku." lirih Syifa sambil menatap selimut yang baru saja menjadi saksi bercinta dan pertengkaran nya dan sang suami.


Pernikahan yang dia anggap akan menjadi takdir baru untuk nya ternyata adalah kesalahan besar, nyatanya takdir kembali mempermainkan nya, membuat nya kembali kecewa dan sedih.


Jadi untuk apa aku di lahirkan ke dunia ini kalau hanya untuk mendapatkan kehidupan yang penuh dengan ketidakadilan, kekerasan, dan ketidakmampuan. Untuk apa?.


Di tempat lain tepatnya di sebuah bar nampak Arfan yang sedang mabuk dengan di temani teman nya.


Arfan terus meleguk minuman nya hingga membuat nya sekarang sudah kehilangan kesadaran nya.


"Kau tau, aku sedang kesal, aku merasa di bodohi Putra." ucap Arfan, berkata dengan mata yang menutup.


Arfan melirik dengan mata yang terpejam. "Aku tidak perduli, jika kamu mau ambilah, aku akan memberikan dia untuk mu." ujar Arfan lagi sambil meleguk kembali minuman di tangan nya.


Putra terdiam, dia yakin adik teman nya ini sedang dalam keadaan sangat buruk, apalagi biasnya Arfan adalah sosok yang ceria, dan humoris tapi lihatlah sekarang, bahkan Arfan tidak jauh seperti pria yang jauh dari kata humoris.


Tubuhnya penuh dengan bau alcohol.


dan yang lebih parahnya lagi Arfan sudah menghabiskan beberapa botol.


membuat Putra yakin jika teman nya ini sedang memiliki masalah yang cukup serius.


"Aku akan mengantarkan kamu pulang, Om Arka bisa marah besar jika mengetahui putranya sedang mabuk seperti ini." kata Putra, dia membawa paksa Arfan yang sempoyongan ke dalam kamar nya.


Seingat nya Arfan masih menginap di hotel, maka dari itu agar teman nya terbebas dari kemarahan Om Arka, Putra pun berinisiatif untuk membawa Arfan ke kamar hotel yang di tempati istrinya.


Bagaimana pun Putra memiliki banyak hutang budi pada keluarga Rafasya, jika bukan karena keluarga Rafasya mungkin dia tidak akan pernah bisa menjadi dokter seperti sekarang ini, apalagi dia hanyalah seorang anak pelayan biasa.


Sesampainya di depan kamar hotel Putra mengetuk pintu, dan tak lama kemudian pintu terbuka, memperlihatkan sosok gadis yang matanya sembab seperti habis menangis.

__ADS_1


"Arfan kenapa kak?." tanya Syifa mencoba untuk seperti tidak terjadi apa-apa.


Putra tidak menjawab, dia membawa tubuh Arfan ke dalam kamar dan membaringkan Arfan di tempat tidur.


lalu melirik jam yang ada di nakas.


Celaka jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi.


"Ambil pakaian ganti, sebenar lagi Tante Alena pasti akan kesini, kita hanya butuh waktu satu jam lebih untuk membuang bau alcohol di tubuh Arfan." ucap Putra panik.


Keduanya mulai membagi pekerjaan, sambil mengelap tubuh Arfan Syifa menangis, matanya masih menatap suaminya yang terpejam.


"Apakah sebenci itu kamu padaku sampai kamu begini, Arfan." batin Syifa.


Hal itu tak jauh dari pandangan Putra.


merasa heran pada pasangan pengantin baru ini yang kondisi keduanya sama-sama tidak baik-baik saja.


Namun Putra tidak mau ikut campur kedalam masalah Arfan, dia yakin Arfan dan Syifa bisa menyikapi masalah nya dengan kedewasaan.


meski mereka berdua terbilang masih sangat muda untuk menjalani rumah tangga.


"Terimakasih kak, dan apa aku boleh minta sesuatu?." ucap Syifa sambil menunduk.


"Ya,Katakan lah."


Syifa menghela nafasnya, lalu menatap putra dengan wajah yang penuh harap. "Aku mohon jangan beritahu Mama dan Papa tentang masalah ini, apa kakak mau?." tanya Syifa.


Putra terdiam, tatapan Syifa benar-benar membuat dirinya merasa sangat mengenal tatapan itu.


tapi seperdetik kemudian Putra menggelengkan kepalanya, menepis pikiran nya yang aneh.


"Baiklah, aku akan merahasiakan nya dari Om dan Tante." ucap Putra akhirnya setuju, namun belum satu langkah dia keluar Putra kembali menatap Syifa.


"Apapun masalahmu dan Arfan aku harap kalian bisa menyelesaikan nya dengan pikiran yang jernih, jangan kecewakan harapan keluarga kalian yang menyimpan harapan indah untuk kalian." lanjut Putra, dan setelah itu pergi menjauh.


_______


🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Siap menerima hujatan 🤧


__ADS_2