
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
"Achel masuk kamar." perintah Papi Andrian tegas, membuat Achel hanya bisa pasrah dan langsung pergi ke kamar nya.
Mami Nana memegang tangan sang suami, mencoba menenangkan suaminya yang kini kemarahan nya semakin memuncak.
ia takut suaminya tidak bisa menahan rasa kesal nya dan akan semakin memperkeruh suasana.
Papi Andrian menatap tajam ke arah pria yang 10 tahun lebih muda dari usianya itu, sedang kan yang di tatap nampak terdiam santai sambil melihat ke arah kamar di lantai dua.
Kamar siapa lagi kalau bukan kamar Achel.
"Jangan kotori kepolosan putri ku dengan otak mesum mu pria tua." kata Papi Andrian membuka suaranya.
"Enak saja, siapa yang kau bilang tua? aku masih muda." sahut Rangga menolak di panggil tua.
Cih..
Papi Andrian menatap jengah pada pria tidak tau umur di depan nya.
"40 tahun itu bukan kepala dua."
"Aku tau, tapi kepala 4 lebih muda dari kepala 5 bukan?."
"Hey!! jadi kau bilang aku tua?." Papi Andrian menatap tajam Rangga.
Rangga mengangkat bahunya ke atas.
"Aku tidak mengatakan nya, kau sendiri yang mengatakan nya Kak." kata Rangga sambil memperlihatkan senyuman mengejeknya.
Huh..
"Kau apakan putri ku tadi? jangan bilang kalau kau telah mencium Putri ku." hardik Papi Andrian lagi.
"Aku tidak melakukan nya, hanya___" ucap Rangga terhenti karena melihat wajah penasaran Papi Andrian, ia mengangkat sebelah alisnya ke atas, lalu tersenyum dengan pandangan menerawang.
Yang mana hal itu di salah artikan oleh Papi Andrian dan memberikan tumpukan bantal ke wajah nya.
Bukkk..
"Menganggu khayalan ku saja." desis Rangga sambil menaruh bantal di samping nya.
"Apa yang sedang kau pikirkan hah!." tanya Papi Andrian.
Bukan nya menjawab Rangga malah mengusap tengkuknya yang tidak gatal, "Apa di rumah calon mertua sudah tidak memiliki air, rasanya tenggorokan ku gatal dan kering."
Papi Andrian melirik Mami Nana yang hampir terlelap di samping nya, ini memang sudah malam, dan istrinya pasti juga sangat lelah karena seharian ini mengurus nya yang sedang tidak enak badan.
__ADS_1
"Berhenti bersikap kekanak-kanakan. Rangga, aku mau kau serius dan tidak terus menerus membuat ku kesal." kata Papi Andrian sudah mulai kesal.
Hufh..
Baiklah.. semula Rangga memang ingin menguji kesabaran calon mertuanya, lagi pula dia tidak melakukan apapun kenapa juga dia harus di sidak seperti ini.
Rangga tau ini adalah bentuk kecemasan kakak nya, tapi Rangga yang seorang pria berpengalaman jelas paham dengan ketakutan kakak nya, dia juga masih bisa menjaga batasan nya.
"Aku ingin menikahi Achel dalam waktu dekat." kata Rangga.
"Apa!"
Mami Nana yang sudah mengantuk dan hampir terlelap langsung melotot mendengar ucapan Rangga barusan, dia melirik suaminya yang menatap Rangga tanpa ekspresi.
"Apa Achel mau?." tanya Papi Andrian.
Rangga mengangguk cepat.
"Dia bahkan menginginkan acara lamaran yang mewah, dia bilang ini adalah pernikahan pertama dan terakhir di keluarga nya, jadi dia ingin acara lamaran yang sangat mewah." jelas Rangga.
Mami Nana dan Papi Andrian saling melirik, kenapa rasanya sangat berat untuk memberikan tanggung jawab sang putri pada pria pilihan nya.
Tapi jika ini pilihan Achel mereka bisa apa, Putri nya berhak menentukan siapa pria yang akan menjadi dambaan hati nya.
"Baiklah, kapan kau akan melamar putri ku?."
"Satu Minggu lagi."
"Uang ku banyak."
"Hey uang ku juga banyak, kau pikir hanya kau saja yang kaya? apa!." Papi Andrian menatap tak suka pada Rangga.
Beginilah jika keduanya di pertemukan dalam satu ruangan, pasti selalu berdebat, bahkan Papi Andrian masih menyimpan kesal pada Rangga yang kecilnya dulu selalu membuat nya kesal dengan irit menjawab ketika di tanya, bahkan Rangga kecil juga sering mengganggu nya saat dia dan Almrhum istri pertamanya sedang berduaan.
"Tenang saja kak, aku tau kalau pengiritan hemat selalu ada bersama kakak." kata Rangga santai.
"Hemat apa, aku bahkan akan menyewa gedung terbagus di kota untuk acara putri kesayangan ku, enak saja kau pikir aku akan pelit dengan Putri ku, tidak!."
Rangga tersenyum kecil, jelas dari dulu dia sering melihat kakak iparnya itu selalu mengepulkan uang recehan, bahkan tak jarang saat dia meminta jajan pun kakak iparnya itu selalu memberikan uang recehan.
"Jika itu benar maka tugas ku mungkin hanya satu, yaitu membuat penampilan ku semakin tampan karena semua buaya nya akan di tanggung kakak." kata Rangga, dia beranjak berdiri.
"Terimakasih calon mertua, aku akan pulang dulu, ini sudah malam." lanjut Rangga, lalu pergi meninggalkan Papi Andrian yang duduk di samping istrinya yang terlelap.
"Masalah gedung tidak penting, aku bisa meminta Arka untuk memberikan harga teman untuk acara nya, aku hanya perlu memikirkan persiapan lain nya." kata Papi Andrian.
Sedangkan di dalam kamar nampak Achel yang masih panas dingin, dia ingin keluar kamar dan mengatakan jika dia dan Rangga tidak melakukan apa pun, selain memeluk nya dan itupun hanya replek.
"Aduh, gimana kalau Om Rangga bonyok, terus marah nanti aku jadi jomblo lagi, ngak jadi di lamar nya." gumam Achel yang duduk di pinggir ranjang nya.
__ADS_1
Apalagi tadi samar-samar Achel mendengar suara perdebatan antara Rangga dan Papi nya.
Achel heran kenapa Papi dan Rangga selalu berdebat setiap bertemu, padahal keduanya sudah sama-sama tua.
"Apa Papi akan setuju, tapi kalau Papi ngak setuju gimana."
Tiba-tiba sebuah ketukan pintu terdengar, Achel yang mendengar nya buru-buru membaringkan tubuh nya di tempat tidur dan langsung pura-pura tidur.
Pintu terbuka..
Papi Andrian berjalan mendekati sang Putri tersayang nya.
di elus nya wajah sang putri dengan lembut penuh sayang.
"Anak Papi udah besar, padahal dulu Papi selalu bilang kalau Achel adalah anak Papi yang paling kecil, juga gendut." ucap Papi Andrian.
"Enak aja, aku kurus ya ngak gendut." batin Achel, tapi masih enggan membuka matanya.
"Biasanya Achel pasti mau tidur di temenin, sekarang udah besar udah mau di lamar pria, Papi benar-benar masih ngak nyangka, semuanya kaya cepat banget." lanjut Papi Andrian.
Memang sejak kecil Achel lebih dekat dengan Papi nya di bandingkan dengan Mami nya.
bukan kenapa kerena setiap anak perempuan pasti akan selalu nyaman saat bersama ayah nya, begitupun dengan Achel.
"Ko aku jadi pengen nangis ya, Papi kayanya sedih banget pas bilang aku mau di lamar, apa keputusan aku terlalu cepat ya untuk memulai hidup baru, tapi aku udah ngerasa nyaman sama Om Rangga." batin Achel.
Cup....
Papi Andrian memberikan kecupan singkat di kening sang putri tersayang nya.
setalah itu dia mengusap kepala Achel dengan lembut.
"Tidur yang nyenyak ya princess Papi."
Saat baru beberapa langkah Papi Andrian kembali berjalan ke arah Achel.
dia lupa untuk menyelimuti tubuh sang putri.
Saat akan menyelimuti Achel dia ingat satu hal, membuat dia langsung mengatakan.
"Achel sekarang udah ngak ngompol lagi, dulu sampai SD kelas 4 Achel bahkan masih ngompol, dan setiap malam nya tempat tidur nya harus di alaskan dengan perlak dewasa agar kasur nya tidak basah."
_________
🌹🌹🌹🌹🌹
Author punya judul baru, di tunggu ya, ^^Salah Ranjang (Hot Daddy)^^
__ADS_1
Jangan lupa jejak ♥️