
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Dilla keluar dari mobil kesayangan nya, mobil yang di hadiahi Daddy nya saat usianya yang ke 20 tahun, wajah nya terus menerus di tekuk.
Bagaimana tidak selama dua tahun ini Dilla terus menerus di usik oleh Zico, Om-om Gy yang sangat menyebalkan di mata Dilla.
Ada saja ancaman si Om setiap minggunya untuk bisa mengerjai nya.
dan sialnya lagi Dilla selalu bertemu dimana saja dengan Ziko, di mulai tidak sengaja bertemu di cafe dan kembali melakukan kesalahan seperti tidak sengaja menjatuhkan ponsel si Om yang berakhir dengan mengerjakan pekerjaan asisten rumah tangga.
Bahkan tak hanya itu, dua tahun ini juga si Om membuat Dilla rugi waktu, rugi segalanya karena terus menerus berurusan dengan pria yang berstatus duda Gy itu.
"Awas aja, ini terakhir kalinya aku beresin kamar nya, setelah ini ngak sudi aku harus jadi babu nya lagi." sungut Dilla berapi-api sambil berjalan ke arah Apartemen pria menyebalkan itu.
Beruntung Dilla punya alasan bagus pada kakak nya, sehingga kakak nya tidak curiga.
kalau tidak bisa-bisa kakaknya akan meledeknya habis-habisan karena kembali berurusan dengan Zico.
Sesampainya di depan pintu Apartemen yang di tuju Dilla memencet bel nya.
melihat sekeliling nya yang nampak sepi dan menghela nafasnya panjang.
"Untung ngak ada orang, kalau ada bisa jelek nama baik aku di mata orang-orang, mana ada gadis cantik baik hati dan tidak sombong kaya aku nyamperin pria tua bangka kaya si___" ucap Dilla terhenti karena melihat sosok yang ada di depan nya.
"Pria tua bangka?." Zico menaikan sebelah alisnya ke atas.
Dilla menatap Zico lalu mengangguk. "Nyadar juga nih aki-aki." sahut Dilla sambil tersenyum meledek.
"Permisi Om, ehk Kek." lanjut Dilla lalu masuk ke dalam Apartemen berukuran minimalis itu.
Zico menghela nafas nya, menutup pintu lalu berjalan masuk mendekati di gadis yang kini sedang mengikat rambutnya dengan asal itu.
"Pakai ini."
"Apa ini?."
"Baju Kaos, menurut mu memang apa?."
Dilla menatap kaos kebesaran itu, dan seketika di teringat akan pertama pertemuan nya dengan pria di hadapannya itu, dimana waktu itu Dilla masih memiliki tubuh yang berisi, atau bisa di sebut montok.
Dan si Om memberikan nya kaos kebesaran itu yang dulunya pas di tubuhnya, tapi untuk sekarang seperti nya tidak lagi, karena Dilla sudah langsing dan juga cantik.
__ADS_1
"Ngak mau."
"Nanti baju kamu kotor, pake atau foto-foto ini akan aku sebar di akun sosial media dan kamu tau bukan apa kata orang nantinya jika model favorit nya ternyata___"
"Stop!!." Dilla akhirnya mengambil kebesaran itu, lalu berjalan ke arah kamar mandi.
sebelum masuk Dilla melirik ke arah Zico.
"Dasar tukang maksa." sungut Dilla kesal lalu masuk ke kamar mandi.
Melihat Dilla yang masuk ke kamar mandi membuat sudut bibir Zico terukir di bibir pria 43 tahun itu.
"Salah mu membuat aku tergila-gila gadis kecil, jangan salahkan aku kalau aku berani mendekati mu dengan cara ku, karena kamu begitu menggemaskan." ucap Zico sambil berjalan ke arah sopa.
Katakan lah kalau dia pria tua yang tidak tau diri, tapi setelah mengenal Dilla dua tahun lebih membuat Zico, pria kesepian yang berstatus duda satu anak itu tidak bisa menghalangi kenyataan jika dia kembali merasakan masa puber yang kedua kalinya.
Perbedaan di antara keduanya memang sangat jauh, tapi apa boleh buat cinta nya tidak bisa di halang-halang lagi, sikap Dilla yang lucu membuat nya semakin jatuh hati pada pesona gadis yang sebentar lagi berusia 22 tahun itu.
Mau tidak mau Dilla harus menurut, apapun akan Dilla lakukan demi karier nya.
lebih tepatnya demi kak Lucas, karena Dilla menjadi model adalah karena ingin terus dekat dengan Kak Lucas, yang selain bekerja di kantoran ternyata juga memiliki pekerjaan sampingan yaitu seorang fotografer.
"Tuhkan kebesaran, dasar aki-aki hobby banget kaya nya bikin aku kesel." gerutu Dilla benar-benar kesal.
semua itu dia lakukan dengan wajah yang tentunya tidak ada manis-manis nya.
Sesekali Dilla melirik sosok yang sedang asyik dengan laptop itu, tiba-tiba dia teringat akan sosok Daddy nya, dimana Daddy nya juga selalu seperti itu, selalu fokus dengan pekerjaan nya di tanggal merah seperti ini.
Sampai akhirnya..
Prenkkk..
Dilla tak sengaja memecahkan pas bunga.
Zico yang mendengar suara barang jatuh yang cukup keras langsung replek melihat ke sumber suara.
seketika matanya melotot saat melihat Dilla yang akan membereskan bekas pecahan itu.
"Jangan di pegang."
Dilla tidak mendengarkan, dia fokus mengambil pecahan pas bunga yang cukup besar.
sampai akhirnya tangan Zico memegang tangan Dilla.
__ADS_1
"Ambil sapu, jangan pakai tangan nanti tangan kamu terluka." kata Zico.
Dilla mengangguk dia mengambil sapu,
tapi saat sudah mengambil sapu Dilla malah ternganga saat melihat Zico yang pingsan di sebelah pecahan pas bunga itu.
Lama Dilla terdiam, sampai akhirnya tangan Dilla terulur untuk menggerakkan tangan Zico.
"Om, bangun Om.. jangan pingsan, ngak liat apa kalau tubuh aku sekarang itu udah kurus kering begini." celetuk Dilla masih sibuk dengan menggerakkan tangan Zico.
"Om."
"Hellow.. Om."
Huh..
Karena takut terjadi apa-apa Dilla pun akhirnya memilih untuk menelpon dokter Putra, Dokter pribadi keluarga Rafasya, dan termasuk dengan keluarga nya.
Setelah beberapa menit berlalu..
"Akhirnya Dokter datang."
"Siapa yang sakit?, dan Apertemen siapa ini?." tanya Dokter Putra, dia mengenal Dilla dari Dilla kecil, karena bagaimana pun dia tinggal di lingkungan keluarga Rafasya sejak kecil.
Dilla kikuk, dia bingung harus menjawab apa pada dokter putra, jika dia jujur Dilla takut Dokter Putra membicarakan masalah ini pada keluarga nya, tapi kalau bohong.. Dilla bingung.
"Dia Papa nya teman aku, tadi aku di telpon teman ku katanya Papa nya lagi sakit jadi aku langsung kesini deh Kak." jawab Dilla bohong.
Dokter Putra menatap Dilla dengan wajah yang bingung, setahu nya gadis yang pernah berkonsultasi pada nya tentang masalah diet itu selalu memakai pakaian yang selalu perfect dan modis, tapi sekarang?.
Gadis di depan nya itu bahkan memakai pakaian yang santai, kaos oblong kebesaran, tapi meski begitu memang tidak sedikitpun mengurangi kecantikan Dilla.
Setelah memeriksa Zico dokter putra pun langsung mendekati Dilla.
"Ngak papa ko, cuman pingsan."
"Pingsan?, ko aneh banget sih ngak kenapa-kenapa tapi bisa pingsan." Dilla aneh, lalu melirik Zico yang terbaring pingsan di tempat tidur.
"Jangan-jangan si Om cuman caper!, awas aja kalau beneran caper sama aku."
________
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Jangan lupa jejak ♥️