IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Na, Aku mencintaimu! (Tono)


__ADS_3

Ceklek,...


Ivanna masuk kedalam ruangannya dengan wajah yang terlihat lelah. Ia terkejut ketika menyadari kehadiran Tono yang sudah tersenyum menatap kearahnya.


"Ka-kamu sudah lama?" tanya Ivanna gugup.


"Hmm? Gak aku baru saja datang! Sini, duduk dulu!" ucap Tono tersenyum dan menepuk sofa.


Bugh,....


Ivanna menjatuhkan tubuhnya di atas sofa dan bersandar. Ia menatap paper bag dan beberapa kantong keresek yang ada di atas meja.


"Itu bawaan kamu, Tono?" tanya Ivanna.


"Iya, Aku membawa makanan kesukaan kamu!" ucap Tono.


Ia mengambil air mineral di dalam kantong dan membukanya. Sambil tersenyum, Tono menyerahkan botol air kepada Ivanna dan langsung di sambut oleh gadis itu.


Ivanna meraih gelas yang berada tak jauh darinya dan menuang air secara perlahan.


"Haus ya?" tanya Tono menatap Ivanna.


"Hmm? iya, tadi di dalam gak sempat minum!" ucap Ivanna setelah meneguk habis air putih itu.


"Mau coklat?" tanya Tono tersenyum.


"Mau!" Ivanna berbinar ketika mendengar kata coklat.


Tono memperlakukan Ivanna dengan manja, ia membuka bungkus makanan yang di inginkan oleh Ivanna dengan telaten.


"Tono, aku masih ada satu pertemuan lagi! Apa kamu mau menunggu sebentar?" tanya Ivanna.


"Baiklah! Dimana aku bisa menunggumu?" tanya Tono.


"Kamu bisa menunggu di kamar itu saja. Tidak lama, hanya sebentar! Huft, aku merasa lelah hari ini!" ucap Ivanna lesu.


"Gak boleh mengeluh, Na. Jalani saja semuanya dengan baik, maka kamu akan mendapatkan hasilnya di kemudian hari!" ucap Tono tanpa sadar merapikan rambut Ivanna dan menyelipkannya kebelakang telinga.


Deg,....


Mata mereka bertemu dan terkunci. Tatapan cinta terpancar dari mata indah mereka. Ivanna terpana, baru kali ini ia menatap mata indah Tono dari jarak yang sangat dekat. Begitu juga dengan Tono, ia hilang kendali ketika berada dekat dengan gadis yang begitu ia cintai ini.


"Ah, maaf, Na!" ucap Tono dengan jantung yang berdetak kencang.


"Hmm," Ivanna hanya berdeham sambil menetralkan detak jantungnya.


Mereka terlihat salah tingkah satu sama lain. Bahkan tidak ada yang berani memulai pembicaraan.


Suasana hening, hingga Fitry masuk ke dalam ruangan dan mengatakan jika rekan bisnisnya sudah datang. Ivanna segera merapikan penampilan di kamar mandi agar terlihat lebih segar.


Sementara Tono segera masuk ke dalam kamar pribadi Ivanna. agar tidak mengganggu rapat penting gadis cantik itu.


"Selamat datang, Tuan! silahkan!" ucap Ivanna tersenyum tipis menyambut tamunya.


"Terima kasih, Nona Ivanna" Ucap Ziyyad tersenyum.


"Silahkan duduk dulu, tuan Ziyyad!" ucap Ivanna duduk di kursi single.


"Terima kasih. Ini berkas kerja sama kita. Sebelumnya saya sudah bertemu dengan Tuan Fajri, beliau sudah menyetujuinya!" ucap Ziyyad.


"Bisa saya cek terlebih dahulu?" tanya Ivanna.


"Silahkan!" ucap Ziyyad menatap Ivanna lekat.


Gadis cantik itu melihat dengan teliti apakan isi berkas itu sesuai dengan perjanjian mereka sebelumnya apa tidak. Setelah cukup sesuai, Ivanna segera menandatangani berkas itu dan kembali menyerahkannya kepada Ziyyad.

__ADS_1


"Semoga bisa segera di proses, kak. Aku gak mau terlalu lama lagi! Jika kembali diundur akan semakin membuang waktu!" ucap Ivanna.


"Baiklah! Nanti akan aku selesaikan dengan cepat," ucap Ziyyad merapikan berkas itu.


Ia menatap Ivanna lekat mengagumi betapa indahnya paras milik Ivanna.


"Apa malam ini kamu sibuk?" tanya Ziyyad.


"Ya, aku harus mempelajari beberapa berkas perusahaan!" ucap Ivanna yang paham dengan tatapan Ziyyad.


"Ah, sayang sekali. Padahal aku ingin mengajakmu untuk makan es krim nitrogen yang baru buka di dekat Culun's resto!" ucap Ziyyad menekuk wajahnya.


"Maaf ya, kak!" ucap Ivanna.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu!" ucap Ziyyad berdiri dan mengulurkan tangannya.


"Ah, iya. Semoga proyek ini bisa berjalan dengan baik!" Ucap Ivanna membalas jabatan tangan itu.


Ziyyad tersenyum menatap Ivanna sebelum meninggalkan ruangan mewah itu. Sementara Ivanna hanya tersenyum tipis mengantar kepergian Ziyyad yang sudah seperti abang baginya.


Ivanna menutup pintu ruangan itu dengan perlahan. Tanpa ia sadari jika Tono sudah berdiri di belakangnya.


"Astaga!" jerit Ivanna kaget melihat wajah masam Tono.


"Ngagetin aja ih! ngapain kamu berdiri di belakangku?" tanya Ivanna kesal.


"Kenapa sainganku sangat banyak dan hebat-hebat, Na?" tanya Tono lirih.


"Saingan? Maksudnya?" ucap Ivanna mengernyit.


"Na, Aku mencintaimu! Tidakkah kamu menyadarinya?" tanya Tono menatap manik mata Ivanna.


Deg,...


Apa dia menembakku? Tuhan sadarkan aku segera!. Batin Ivanna terkejut.


Bugh,...


Tono berlutut di hadapan Ivanna, dan membuatnya tersadar dari lamunan.


"Na, Apa kamu mau jadi pacarku? Tidak, apakah kamu mau menjadi istriku?" ucap Tono mengeluarkan kotak cincin dan membukanya.


"Na, aku memang bukan orang kaya, tapi aku janji akan membahagiakanmu dengan apa yang aku punya!" ucap Tono tegas.


"Tono,..." panggil Ivanna tidak percaya.


"Beri aku kesempatan, Na. Walaupun hati kamu sudah dimiliki!" ucap Tono lirih.


"Berdirilah!" ucap Ivanna.


"Tidak sebelum kamu memberikan aku jawaban!" ucap Tono penuh harap.


"Apa kamu bisa memberikan aku waktu?" Tanya Ivanna lirih.


"Baiklah!" ucap Tono pasrah dan langsung berdiri.


Mereka berjalan menuju sofa dengan keadaan canggung. Tidak ada yang berani memulai pembicaraan.


"Aku cemburu kalau kamu dekat dengan laki-laki lain, Na. Tapi aku sadar diri, kalau kita belum ada ikatan apapun kecuali teman!" ucap Tono lirih mengutarakan isi hatinya.


"Pacaran ataupun tidak, kamu akan selalu cemburu, Tono. Karena rekan bisnisku itu rata-rata cowok!" ucap Ivanna menahan senyumnya.


"Na!" seru Tono frustrasi.


"Hmm,..." Ivanna berdeham sambil melihat ponselnya.

__ADS_1


"Apa aku bisa mendapatkan jawabannya sekarang?" keluh Tono.


Ia seperti kehilangan tenaga, dan hanya bisa terkulai lemas di atas sofa.


"Sabar, aku harus membicarakan ini kepada keluargaku dulu! Atau kamu berada dalam bahaya!" ucap Ivanna terkekeh.


"Kalau menyangkut mereka, aku hanya bisa pasrah! Bukan karena Tuan Fajri dan Tuan Irfan. Tapi Karena kamu masih milik keluargamu," ucap Tono tersenyum. "Tapi jangan terlalu lama!" sambungnya dengan cemberut.


"Hehe, yang sabar ya!" ucap Ivanna terkekeh.


"Tono akan selalu sabar menunggu Nana. Tapi kalau terlalu lama, jangan salahkan Tono kalau Nana, aku culik!" ucap Tono manja.


"Aku baru tau kalau Tono itu punya sifat yang manja!" ucap Ivanna mengejek.


"Hehehe, karena itu Tono di panggil anak Mami dan menjadi kutu buku!" ucap Tono tersenyum.


"Sekarang, apa kamu masih takut menghadapi orang lain?" tanya Ivanna.


"Tidak! Justru aku sudah berani jika harus menghadapi keluargamu!" ucap Tono mengedipkan matanya.


"Ihh, dasar genit! Apa kamu sering mengedipkan mata seperti itu kepada perempuan?" tanya Ivanna tiba-tiba saja kesal.


"Gak, Na. Aku cuma berani genit sama kamu!" ucap Tono berhasil membuat wajah Ivanna sedikit bersemu.


Cantik!. Batin Tono berbinar menatap wajah Ivanna.


"Kamu cantik, kalau sudah merona seperti itu. Aku makin cinta!" ucap Tono membuat wajah Ivanna semakin merona.


"Tono sudah! kamu mau aku tendang?" ucap Ivanna dingin dengan wajah yang sudah semerah tomat.


"Hahaha, jangan galak-galak, Na! Justru kamu terlihat semakin cantik dan mengemaskan ketika galak seperti itu!" ucap Tono tergelak.


"Tono!" teriak Ivanna sambil melempar Tono dengan bantal sofa yang tengah ia pegang.


"Hahaha," Tono semakin tergelak dan menggoda Ivanna dengan kata-kata manisnya.


Ia terus menghindari pukulan dari Ivanna hingga terbaring di atas sofa dengan nafas yang terengah.


"Sudah, sudah, Na! Aku menyerah!" ucap Tono masih tertawa.


Ivanna menatap Tono dengan datar. Namun di dalam hatinya berbunga-bunga karena mendapatkan pujian dari laki-laki yang belakangan ini mengisi hatinya.


"Sudah waktunya pulang, Aku harus segera pergi!" ucap Ivanna.


"Aku antar, ya!" ucap Tono.


"Aku bawa mobil, Tono!" tolak Ivanna.


"Kamu bisa menyuruh orang-orangmu untuk membawakannya, Na! Aku dengar ada kedai es krim yang baru buka di depan restoranku. Kita ke sana yuk!" Ajak Tono.


"Kamu sungguh tidak kreatif, Tono!" ucap Ivanna mendelik.


"Mau gak?" tanya Tono terkekeh.


"Ya udah, ayok!" ucap Ivanna mengambil tasnya.


Yes!. batin Tono begitu senang.


Mereka segera pergi ke kedai es krim itu bersama. Tono memang ingin mengajak Ivanna, namun Ziyyad sudah lebih dulu mengajak gadis cantik itu.


Tono berjalan di samping Ivanna sambil membawa makanan yang ia bawa tadi. Walaupun tidak menggandeng tangan Ivanna, namun ia cukup senang karena sudah mengutarakan isi hatinya dan bisa mengajak Ivanna pergi hanya berdua saja.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE

__ADS_1


Like gak? LIKE dong, masa enggak! πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2