
Sementara diluar ruangan, tangisan bayi sayup-sayup terdengar dan membuat air mata Fajira menetes tidak tertahankan.
"Hiks, Cucuku, cucuku,!" Ucap Fajira menangis untuk beberapa saat.
Selang beberapa lama seorang perawat keluar dari ruangan itu sambil tersenyum
"Permisi, Bayi Nona Ivanna sudah bisa di lihat di bagian ruangan anak! Tuan muda berjenis kelamin laki-laki tanpa kekurangan satupun, namun kami harus melakukan observasi terlebih dahulu untuk memastikan keadaannya!" Ucapnya
"Baik, terima kasih, suster. Bagaimana dengan keadaan anak saya?" Tanya Fajira.
"Nona baik-baik saja, sekarang masih terlelap di dalam!" Ucap Suster itu.
"Normal, Sus?" Tanya Fajira terkejut.
"Iya, Nyonya. Syukur Nona Ivanna bisa melahirkan dengan normal!" Ucap Suster itu tersenyum.
"Syukurlah!, Terima kasih!" Ucap Fajira tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.
Mereka bernafas lega, Ivanna dan anaknya selamat.
"Atim, Saya mau melihat Cucu saya dulu, kamu tetap di sini untuk menjaga Ivanna. Nanti kita gantian" Ucap Fajira tersenyum.
"Baik, Nyonya!" Ucap Atim tersenyum tipis.
Atim melihat dua orang perawat masuk kedalam ruangan itu dan suster yang berbicara dengan Fajira tadi tiba-tiba saja keluar.
Ia mengernyit, dan hendak mengeluarkan ponsel, namun ia merasa ada seseorang yang lebih dulu membekap mulutnya menggunakan sapu tangan yang sudah di beri bius.
Seketika ia pingsan dan orang itu membaringkan Atim di kursi tunggu yang berada tak jauh dari sana.
Brangkar Ivanna langsung di dorong keluar tanpa ada yang merasa curiga sedikitpun, karena mereka sudah menutup tubuh Ivanna menggunakan kain dan tidak ada satupun orang yang akan mengenalinya.
Perawat gadungan itu segera menuju lift dan menekan lantai dasar, dimana mobil yang akan membawa Ivanna sudah menungu.
Naasnya, dua orang bodyguard yang ada di sana tidak menyadari jika yang di bawa itu ada Ivanna. Mereka masih berfikir jika ada ibu hamil lain yang akan di pindahkan dari ruangan itu.
Kecelakaan Carenza berhasil melengahkan beberapa orang penjaga Ivanna sehingga hanya ada dua orang bodyguard di rumah sakit itu. Namun mereka tersentak ketika melihat Atim tengah terbaring di atas kursi.
"Nona?" Pekik pengawal.
Mereka menerobos ruang persalinan dan tidak mendapati siapapun di dalamnya. Wajah mereka pucat pasi, ia segera berteriak untuk mengerahkan para penjaga yang baru saja datang untuk mencari Ivanna.
Fajira menjadi bingung melihat kepanikan yang terjadi di depan ruang bersalin itu. "Kenapa?" Tanya Fajira mengernyit.
"Ma-maafkan saya, Nyonya! No-nona Ivanna di culik!" Ucapnya merunduk.
Duaar!
"Apa lagi ini Tuhan?" Pekik Fajira menangis histeris.
Bugh!
"Apa saja pekerjaan kau hah? kenapa menjaga satu orang saja kau tidak becus!" Bentak Fajri setelah memukul dua orang bodyguard yang tidak berguna itu.
__ADS_1
"Atim, Bangun kau! Atim!" Teriak Fajri. Namun wanita itu tidak bergerak sama sekali.
"Sepertinya dia sudah dibius!" Ucap Fajira semakin menangis.
Fajri segera mengerahkan tim yang tersisa untuk mengejar Ivanna. Matanya menyalang sambil mengeluarkan pistol yang selalu ia bawa kemana-mana.
"Kalian akan mati ditanganku badjingan!" Ucap Fajri segera berlari meninggalkan Fajira bersama dengan dua orang body guar itu.
"Hati-hati, Nak!" teriak Fajira.
"Maafkan kami, Nonya!" Ucap mereka penuh sesal.
"Kalian tidak berguna! Kalau sampai anakku kenapa-napa, lihat apa yang bisa saya lakukan kepada kalian!" Pekik Fajira menangis.
"Ma-maaf, Nona!" Ucap Mereka.
"Sekarang, jaga cucuku jangan sampai kalian kecolongan lagi. Jika itu terjadi, saya penggal kepala kalian!" Pekik Fajira.
"Baik, Nyonya!" Ucap Mereka sigap bergajalan menuju inkubator anak dan berjaga di dalam ruangan itu dengan pakaian khusus.
Sementara di basement, perawat gadungan itu di bantu oleh dua orang lainnya untuk menggendong Ivanna agar bisa masuk ke dalam mobil dengan hati-hati.
"Cepat, sepertinya mereka sudah menyadari pekerjaan kita!" Ucap Salah satu perawat sambil membuka baju khususnya.
Setelah di pastikan Ivanna terbaring dengan aman mereka mengikat tubuh lemah itu agar tidak bergerak ketika mobil melaju nanti. Mereka sempat menyuntikkan bius kedalam tubuh Ivanna agar ia tidak bangun dan memberontak.
Brum!
Wush!
Mobil mereka keluar dari gerbang, barulah terdengar perintah untuk menutup semua akses keluar masuk rumah sakit. Mereka langsung tancap gas dan membuat Fajri berteriak.
"Itu mereka! Kejar!" Pekik Fajri menggunakan motor sambil memegang Pistol.
Empat buah mobil berpencar untuk mengejar Ivanna ditambah tiga buah motor. Mereka melakukan dengan begitu cepat bahkan menerobos lampu merah dan hampir saja mencelakai pengendara lain.
Fajri sudah semakin dekat dengan mobil yang membawa adiknya. Beberapa kali ia melepaskan tembakan peringatan, namun sayang mobil itu semakin melaju dengan cepat.
Bunyi tembakan dan deru mobil saling bersahutan di jalan raya yang tidak terlalu padat itu. Semua orang menyingkir bahkan juga mengikuti pergerakan dari mereka.
"Berhenti kau anjink!" Teriak Fajri ketika motornya berdampingan dengan mobil itu sambil mengacungkan senjatanya
Jika ia menembak, Ivanna akan celaka dan mobil bisa terbalik mungkin bisa menyebabkan sang adik meninggal.
"Berhenti kau setan!" Pekik Fajri.
Tiga mobil pengawal sudah di halangi oleh komplotan yang lain, bahkan saat ini hanya Fajri sendiri yang mengejar bersama dengan beberapa orang polisi lainnya.
"Hahaha, Tuan muda yang bodoh!" Pekik sopir itu.
"Berhenti kau setan, kembalikan adikku!" Pekik Fajri sambil mengacungkan pistolnya.
"Hahaha selamat tinggal!" Ucapnya sopir itu semakin menambah laju kendaraannya.
__ADS_1
"Berhenti kau setan!" Pekik Fajri.
Namun hampir saja ia menabrak tiga buah mobil yang sudah melintang di jalan untuk menghadangnya.
Brak!
Fajri terguling karena melompat sementa motor itu menabrak mobil dan terpental. Ia segera berdiri dan mengarahkan pistol untuk membidik salah satu ban mobil yang membawa Ivanna dengan tepat.
Dor!
Duar!
Ban mobil meletus dan menjadi oleng, namun mereka berhasil masuk ke dalam sebuah terowongan yang sudah direncanakan. Mengeluarkan Ivanna dari mobil dan mengganti dengan mobil baru, bergerak menuju bandara.
Sementara Fajri sudah berkelahi dengan sepuluh orang yang menghadangnya. Saat ia semakin terdesak, bala bantuan datang menggunakan helikopter dan tujuh mobil lainnya.
"Kejar mereka menuju bandara!" Pekik Fajri meninggalkan area pertarungan itu bersama dua mobil pengawal lainnya yang di bawa oleh Joe.
Suasana semakin kacau, ketika dua helikopter milik Fajri juga mendapatkan halangan dari helikopter milik Penculik. Pilot mengendalikan helikopter dengan sangat hati-hati, sementara pengawal yang ada di dalamnya saling menembak satu sama lain hingga dua helikopter milik penculik itu dipaksa untuk mundur.
Namun Pilot helikopter milik Fajri harus segera mendarat karena mendapatkan tembakan pada bagian mesin sehingga mengeluarkan asap.
Fajri sudah lebih dulu mengejar menggunakan motor polisi. Katika memasuki bandara lagi-lagi ia mendapatkan halangan dari paran komplotan penculik, namun ia tidak berhenti untuk mengejar Ivanna.
"Awas kalinya, Brengseek! Akan kubunuh kalian satu persatu!" pekik Fajri menabrak semua orang yang berani menghalanginya.
Ia melihat sebuah pesawat tengah melaju di ikuti oleh mobil yang membawa Ivanna, Ia menambah kecepatan ketika mobil berhasil masuk kedalan pesawat dan melihat bagasi burung terbang itu mulai tertutup.
Wuushhh!
Pesawat sudah mulai mengudara dan Fajri terlambat untuk mengejar sang adik. Ia berhenti dan berteriak di sana dengan amarah yang sangat membuncah.
"AKAN KU BUNUH KALIAN SEMUA!" teriak Fajri.
Ia masih menatap kepergian pesawat itu dan mengaktifkan GPS yang sudah Ia pasang di kalung Ivanna.
"Tuan?" Panggil pengawal yang baru saja datang.
"Lacak keberadaan Ivanna! Tangkap mereka semua dan masukkan kedalam markas! Siapkan semua singa dan harimau putih milikku!" Ucap Fajri bengis.
"Baik, Tuan!" Ucap Joe yang terlambat mengetahui hal ini.
Ia menatap kepergian Fajri dengan rasa bersalah. Baru kali ini ia lengah dan membuat Nona Mudanya diculik oleh orang lain.
Maafkan saya, Nona!. Batin Joe menatap pesawat yang masih terlihat itu.
Ia bergegas menuju markas untuk melacak keberadaan Ivanna dengan harapan semoga mereka tidak menyadari keberadaan GPS yang tertanam di kalung itu.
Ya Tuhan, kenapa tidak ada yang memberitahuku jika Nona melahirkan! Jika saja aku lebih dulu tau, mungkin ini tidak akan terjadi!. Batin Joe begitu menyesal.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
__ADS_1