
Pagi menjelang, Ivanna baru saja keluar dari kamar mandi dengan badan yang lemas dan gemetaran karena kedinginan. Carenza semakin memiliki banyak cara untuk mengerjainya dan mendapatkan jatah.
"Aku gak mau main di kamar mandi lagi!" Ucap Ivanna kesal dengan badan yang gemetaran.
"Jangan gitu, sayang! Maafin aku ya!" Ucap Carenza menahan senyumnya sambil mengeringkan rambut Ivanna.
"Dingin, By! Kamu kan tau aku gak bisa kedinginan!" Ucap Ivanna merengek.
Carenza tersenyum, ia seperti kembali melihat celah untuk menghangatkan badan Ivanna.
"Sini aku peluk biar hangat lagi!" Ucap Carenza tersenyum penuh kemenangan.
Mereka belum memakai baju sama sekali, Carenza yang hanya memakai handuk, dan Ivanna yang hanya memakai bathrobe saja, sehingga membuat peluang semakin besar untuk kembali bermain kuda-kudaan.
"By, aku kedinginan, nanti mandi lagi, aku gak mau!" Keluh Ivanna dengan nafas yang memburu.
Suhu tubuhnya kembali meningkat ketika rangsangan Carenza berhasil membangkitkan gairahnya.
"Hah, hah," Nafas Carenza memburu. Ia tersenyum jahil katika melihat Ivanna yang merengek namun tidak menolak perlakuannya pagi ini.
"By, Baby! Eumh," Ivanna melenguh ketika permainan Carenza di antara kedua bukitnya yang semakin membangkitkan gairah.
Tok, tok, tok.
Mereka terkejut ketika pintu kamar di ketok oleh Safira. Ivanna menatap Carenza dengan sayu namun mereka harus kembali ke Indonesia pagi ini.
"Dek, cepat bersiap! Sarapan sudah kakak siapkan!" Ucap Safira dari luar.
"Iya, kak!" teriak Ivanna.
Ia menatap Carenza dengan hasrat yang masih membara. Begitu juga dengan Carenza, adiknya sudah berdiri tegak menjulang dan siap untuk bertempur.
"Sayang," Panggilnya memelas.
"Lakukanlah, By!" Ucap Ivanna tidak tega.
Mereka kembali melakukan penyatuan yang berlangsung singkat sekitar 15 menit. Dan kembali mandi lalu bersiap-siap untuk pulang.
Sementara diluar, Fajri dan Safira mengernyit ketika Ivanna dan Carenza tidak kunjung keluar.
"Apa mereka menikmati bulan madu, Mas?" Tanya Safira mengernyit.
"Sepertinya ia, sayang! Apa kita undur saja waktu penerbangan?" Ucap Fajri mulai menyuap makanannya.
"Jangan, Sayang. Kasihan anak-anak!" Ucap Safira. "Kita tunggu sebentar lagi, kalau misalnya mereka ingin bulan madu, tinggalkan saja dan kita kembali terlebih dahulu!" sambungnya.
Mereka memakan sarapan itu hingga tandas. Semua koper dan perlengkapan lainnya sudah berada di ruang tamu, hanya tinggal di angkat saja.
"Coba ketuk dulu pintunya, sayang!" Ucap Safira meminta Fajri untuk menyusul mereka.
"Iya, sayang. Kamu duduk saja!" Ucap Fajri.
Ia melangkah menuju kamar Ivanna dan hendak mengetuknya, namun Carenza lebih dulu keluar Sambil mendorong koper.
"Kalian mau pulang atau di sini dulu?" Tanya Fajri datar.
__ADS_1
"Kami pulang, bang! Kerjaan sudah menunggu!" Ucap Carenza mendelik.
"Kalau gitu cepat, sebentar lagi pesawat akan lepas landas. Udh mepet masih aja mengambil kesempatan!" Ucap Fajri berlalu dari sana.
Carenza tersenyum dan menggeleng melihat tingkah Fajri yang masih sensi kepadanya. Ia segera mengeluarkan semua barang bawaan dan menggendong Ivanna di punggungnya yang sudah terlelap karena kelelahan.
"Nana tidur, Za? Berapa ronde kalian semalam?" Tanya Safira ingin tau.
"Gak banyak kok, Ra. Tiga atau empat ya? Aku gak hitung!" Ucao Carenza terkekeh.
Fajri datang dari dapur dan membawa kotak makanan untuk Carenza dan Ivanna di atas mobil nanti. Ia hanya menggeleng melihat kelakuan pengantin baru itu.
Para bodyguard sudah membawa semua barang, Mereka segera keluar dari apartemen dan segera menguncinya.
Mobil melaju cukup kencang karena jarak apartemen dengan bandara memakaan waktu kurang dari 1 jam. Jika terlambat, maka penerbangan mereka bisa di undur satu atau dua jam setelahnya.
Ivanna tertidur di pangkuan Carenza, tanpa malu atau segan, pria tampan itu mengecup pipi Ivanna dihadapan Fajri dan Safira.
"Sayang, aku juga mau di kecup-kecup seperti itu!" Ucap Safira menggoda mereka.
"Boleh, Sini sayang!" Ucap Fajri ******* bibir Safira dan sukses membuat Carenza membulatkan mata.
"Ngenes kan lo!" Ucap Fajri tertawa bersama Safira.
Carenza hanya mendelik, ia kembali membelai pipi Ivanna dan memandang wajah cantik sangat istri yang terlihat kelelahan.
Memang sudah saatnya aku mengikhlaskan Ivanna untuk Eza. Dia terlihat begitu mencintai adikku. Berbahagialah kalian sampai tua nanti!. Batin Fajri lega.
"Za, bangunin Nana dulu, kalian belum sarapan!" ucap Safira mengeluarkan bekal makanan tadi.
Carenza mengangguk, ia membangunkan Ivanna dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang. Hingga gadis cantik itu terbangun dan tanpa menyadari sekitarnya, ia mengecup bibir Carenza dan tersenyum.
Astaga, dek! Kakak yang udah lama menikah, masih malu kalau cium abang duluan. Kamu belum lagi seminggu sudah seperti itu. Ya Tuhan, semoga mereka segera mendapatkan momongan!. Batin Safira tidak menyangka.
"Hekm!" Deham Fajri dan membuat Ivanna tersentak.
"Sudah puas kecup-kecupnya?" Tanya Fajri menggeleng.
"Eh, kita udah berangkat, By?" Tanya Ivanna yang baru menyadari jika ia berada di dalamnya mobil.
"Iya, kita sudah berangkat. Sana sarapan dulu. Nanti kecup-kecup lagi!" Ucap Safira terkekeh.
Ivanna tersenyum malu karena ia ketahuan agresif oleh abang dan kakaknya. Ia menerima suapan dari Carenzadan menghabiskan sarapan itu bersama hingga tandas.
Hingga mobil berhenti di bandara, mereka segera bergegas karena waktu hanya tersisa 15 menit lagi sebelum lepas landas.
"Sayang, habis dari sini aku harus pergi ke Bali!" Ucap Carenza tiba-tiba setelah ia melihat pesan sebelum mematikan ponselnya.
"Kenapa?" Tanya Ivanna mengernyit.
"Restoku yang ada di sana, bermasalah, sayang! Kamu mau ikut atau pulang?" Tanya Carenza.
"Bermasalah? Aku ikut saja kalau gitu!" Ucap Ivanna terkejut.
"Jangan sungkan untuk meminta bantuan, jika kamu mendapatkan masalah!" Ucap Fajri.
__ADS_1
"Iya, Bang. Terima kasih!" Ucap Carenza tersenyum.
Pesawat lepas landas pada pukul 8 pagi waktu Bangkok. Fajri sempat untuk mengatur jadwal penerbangan kembali menuju kota Denpasar untuk mengantarkan kepergian Carenza.
πΊπΊ
Setelah menghabiskan waktu selama 3 jam lebih, pesawat kembali mendarat dengan selamat di bandara Soetta.
Mereka segera turun dan langsung menuju ruang tunggu khusus Dirgantara. Tepat pada pukul 12 siang nanti Carenza dan Ivanna akan kembali mengudara menuju Provinsi Bali, lebih tepatnya di kota Denpasar.
Fajri dan Safira memilih untuk pulang terlebih dahulu, karena ibu hamil itu mengeluhkan sakit pada pinggangnya.
Tinggalah pasangan bucin itu duduk sambil berpegangan tangan. Ivanna bersandar di dada Carenza dengan manja.
"Baby, Ada masalah apa di sana?" Tanya Ivanna lembut.
"Ada yang bilang kalau restoku gak ada izin berdirinya. Mereka juga mengatakan kalau makananku gak higienis, Sayang. Padahal semuanya sudah aku pastikan sebelum pembukaan kemarin!" Ucap Carenza lirih.
"Jangan sungkan untuk meminta bantuan, By! Aku akan membantu jika kamu menyetujuinya!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Selagi aku mampu, aku akan berusaha untuk menyelesaikan semuanya sayang!" Ucap Carenza tersenyum sambil mengecup kepala Ivanna.
Ia sudah meminta asisten koki untuk mengambilkan data restoran yang ada di pulau Bali.
"Aku mencintaimu, Baby!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Aku lebih mencintaimu, sayang! Istriku, bidadariku!" Ucap Carenza mengecup kepala Ivanna berulang kali.
"Baby?" Panggil Ivanna lembut.
"Iya, sayang?" jawab Carenza tak kalah lembut, bahkan terdengar merdu di telinga Ivanna.
Ia tersenyum. "Gimana kalau seandainya aku susah untuk hamil, By? Apa kamu mau menunggu atau hidup hanya ada kita berdua?" Tanya Ivanna tiba-tiba.
"Kita akan berusaha sayang, tetapi jika Tuhan memang tidak memberikan kita kesempatan, aku hanya ingin hidup berdua dengan kamu, menghabiskan waktu bersamamu. Yang penting, jangan sampai berfikir untuk saling meninggalkan!" Ucap Carenza sendu.
Ivanna mengangkat kepalanya dan menatap Carenza dengan lekat. Wajahnya berangsur sendu, pasti banyak orang yang akan kecewa jika ia tidak bisa mengandung.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, sayang?" Tanya Carenza mengelus pipi Ivanna dan mengecupnya dengan lembut.
"Entahlah, By. Aku hanya merasa takut!" Ucap Ivanna lirih dan kembali memeluk Carenza.
"Aku gak akan membebankanmu tentang anak, sayang. Tapi, jika kamu tidak keberatan, jangan sampai mengundur atau menggunakan obat-obatan yang seharusnya belum bisa kamu konsumsi!" Ucap Carenza memahami ketakutan Ivanna.
"Apa kamu akan menikah lagi jika ibu meminta?" Tanya Ivanna tercekat.
"Gak akan, sayang! Aku cuma butuh kamu mendampingi aku. Kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti ini?" Tanya Carenza.
"Aku takut, jika aku tidak bisa mengandung, By!" Ucap Ivanna lirih.
"Nanti kita periksa ke dokter, ya sayang. Nanti kita juga melakukan program kehamilan, jika kamu sudah siap!" ucap Carenza tersenyum.
Dari awal aku tidak pernah terfikikan untuk memiliki anak. tidak masalah jika kita tidak memilikinya, sayang. Aku hanya ingin dirimu selalu ada di sampingku sampai kapanpun!. Batin Carenza.
Mereka terdiam hingga asisten koki datang dan pesawat segera lepas landas. Tangan mereka masij bertautan satu sama lain tanpa terlepas barang sedetik pun.
__ADS_1
πΊπΊπΊ
...T O B E C O N T I N U E...