
Setelah 15 menit, ia keluar dengan handuk yang melilit di pinggang. Ivanna terpaku dengan wangi semerbak yang begitu membelai hidungnya.
Ia menoleh dan terpana melihat keindahan tubuh Carenza yang serasa memanggil untuk disentuh. Tanpa ia sadari sang suami sudah berdiri di hadapannya sambil tersenyum nakal.
"Sayang, air panasnya sudah aku siapkan!" Ucap Carenza lembut sambil mengelus pipi Ivanna dengan tangannya yang dingin.
"I-iya, Terima kasih, Baby!" Ucap Ivanna langsung berdiri.
Ia tersentak karena mendapatkan sebuah cara untuk membalas perbuatan Carenza yang dari tadi sudah mengerjainya.
"Hmm, By. Apa aku boleh minta tolong?" Tanya Ivanna berbalik.
"Boleh, sayang! Kamu mau apa?" Tanya Carenza mengernyit.
"Tolong bantu aku membuka gaun ini, aku kesulitan untuk menjangkau resletingnya!" Ucap Ivanna seolah kesusahan.
"Boleh, sayang!" Ucap Carenza.
Ia mulai menurunkan resleting gaun Ivanna dengan perlahan. Matanya tertegun, ketika melihat punggung mulus istrinya yang perlahan mulai terlihat.
Glek!
Glek!
Glek!
Berulang kali Carenza berusaha untuk menelan air liurnya dengan hasrat yang mulai menggila.
Sret!
Gaun Ivanna luruh jatuh ke lantai, dan hanya menyisakan kaca mata berenda tanpa tali dan daleman berwarna hitam yang begitu kontras dengan kulit putihnya.
Ivanna berbalik, ia menatap Carenza dengan begitu menggoda sambil mengigit bibir bawahnya.
Ivanna mengelus lembut pipi Carenza sambil mengambil ancang-ancang untuk membuka handuk pria tampan itu.
"Kamu begitu menggoda malam ini, Baby!" ucap Ivanna yang terdengar begitu sensuaal.
Carenza memejamkan matanya merasakan sentuhan Ivanna yang begitu merdu di telinga. Gadis itu menarik handuk Carenza dan segera berlari masuk ke dalam kamar mandi lalu mengunci pintu.
"Aku mandi dulu! hahaha." Teriak Ivanna.
Brak!
Carenza tersentak ketika mendengar pintu kamar mandi yang tertutup kuat. Ia tidak menyangka jika Ivanna bisa senakal itu dan berani untuk membalas.
Ia semakin bersemangat untuk memiliki Ivanna seutuhnya malam ini. Tanpa menunggu lama, ia segera naik ke atas ranjang dan pura-pura tertidur sambil menunggu Ivanna keluar.
Sementara di dalam kamar mandi, Ivanna terdiam dengan wajah yang terasa sangat panas. Ia tidak menyangka bisa berbuat hal yang seperti itu.
"Apa dia akan menganggapku murahan?" Tanya Ivanna begitu malu.
Ia segera membersihkan badan dan sedikit berendam. Hingga 25 menit berlalu, ia keluar dengan rambut basah dan aroma wangi yang tak kalah semerbak.
Ivanna bernafas lega karena melihat Carenza sudah tertidur. Ia segera berjalan menuju ranjang setelah memakai lingeri merah yang tersedia di dalam lemari itu.
Matanya menangkap handuk Carenza yang tergeletak di atas kursi riasnya.
Ah, syukurlah kalau kamu sudah memakai baju, By! Aku begitu malu menggunakan baju ini di hadapanmu! Aku yakin, ini pasti kerjaan kakak atau bunda. Kejam banget sih!. Batin Ivanna meringis.
Ia menaiki ranjang itu dengan perlahan agar tidak membangunkan Carenza.
Huft, akhirnya! Semoga saja kamu tidak terbangun, by!. Batin Ivanna bernafas lega.
Ia memejamkan mata dan hendak tertidur. Namun beberapa detik kemudian, ia merasakan pergerakan Carenza yang sudah menendang selimut dan mengukungnya.
__ADS_1
Ivanna membola ketika melihat sang suami tidak memakai sehelai benangpun di tubuhnya. Pria tampan itu tersenyum bahagia menatap Ivanna.
Cup!
Carenza mengecup kening Ivanna dengan lembut dan lama, sehingga membuat gadis itu memejamkan mata sambil meresapi kasih sayang yang seolah tengah mengalir di antara mereka.
"Sayang, apa aku boleh memilikimu seutuhnya?" Tanya Carenza lembut sambil membelai kepala Ivanna.
Ivanna terdiam, tangannya terulur mengelus rahang tegas Carenza. Bukankan sekarang atau nanti sama-sama akan sakit? Mungkin ini hari terakhir aku jadi anak perawan!. Batin Ivanna.
"Boleh, By! Tapi pelan-pelan, ya!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Iya, sayang! Kamu nikmati saja ya, biar aku yang gerak!" Ucap Carenza tersenyum.
Tanpa menunggu lama, Carenza segera meraup manisnya ciuman halal antara suami dan istri. Ivanna dengan kaku mencoba untuk membalas lumataan Carenza yang terasa semakin menuntut.
Ia tersentak sambil mendorong tubuh Carenza ketika merasakan ada sesuatu yang terasa bergerak dan keras di pangkal pahanya. Pria tampan itu menatap Ivanna dengan penuh tanda tanya.
"Ada apa dibawah itu, by? Ada yang bergerak dan, keras!" Ucap Ivanna mencoba untuk bangkit.
"Sstt! Itu adikku!" Ucap Carenza tersenyum.
"Adik?" Tanya Ivanna bingung. "Apa kak mira datang?" pekiknya panik.
"Bukan, sayang! Hahaha, itu adik aku!" Ucap Carenza tersenyum sambil mengarahkan tangan Ivanna ke arah benda pusakanya.
Deg!
Ivanna melotot dan langsung menarik tangannya.
"Aaaa!" Teriak Ivanna.
Plak!
"Ihh! Ka-kamu, kammpphh," Ucap Ivanna tidak percaya namun kembali di bungkam oleh Carenza.
Ivanna semakin tidak percaya ketika tangan Carenza yang mulai nakal menyentuh gundukan kenyal miliknya. Menyesap dan mereemas keduanya dengan saling bergantian.
"Engh!" lenguh Ivanna tanpa sadar karena rangsangaan Carenza yang begitu panas.
"Hehe, suara apa itu sayang?" tanya Carenza terkekeh.
"By, jangan ngerjain aku lagi!" Ucap Ivanna memelas dengan mata yang sayu.
"Heheh, Ya sudah ini beneran main, sayang! Sudah siap?" Tanyaa Carenza tersenyum.
"Hmm, pelan-pelan!" Ucap Ivanna lirih.
"Itu pasti, Cintaku!" Ucap Carenza.
Ia kembali memulai foreplay agar Ivanna bisa lebih siap untuk menghadapi serangan rudal besar miliknya.
Menjelajahi bukit bersaudara di temani oleh bintang malam yaang seolah menjadi saksi peraduan mereka malam ini.
"Akh, By. Aku mau pipis!" Ucap Ivanna yang masih mengerang nikmat ketika jari Carenza mulai bermain di ladang kecambah miliknya.
"Sshh, keluarkan, sayang! Itu bukan pipis, tetapi pelepasan!" Ucap Carenza tersenyum senang dengan nafas yang memburu.
"Akh!" Lenguh Ivanna ketika berhasil mencapai puncak kenikmatan untuk pertama kali. Dengan mata yang terpejam, Ivanna merasakan hasratnya yang begitu menggila karena sentuhan, kecuupan dan remaasan yang tidak hentinya dari sang suami.
Lagi dan lagi, Carenza membuatnya sangat frustasi dengan permainan pria tampan itu. Teori yang di berikan oleh Safira dan Fajira seolah tidak berguna sama sekali.
"Sayang, apa kamu sudah siap?" Tanya Carenza berusaha untuk berbicara lembut di tengah nafasnya yang memburu.
"Hmm, pelan-pelan! Nanti sakit, By!" Rengek Ivanna sambil menikmati Permainan jari Carenza.
__ADS_1
"Siap ya sayang!" Ucap Carenza tersenyum.
Ia mulai mengangkat kaki Ivanna dan mengarahkan pisang laras panjangnya menuju goa suci sang istru. Gadis itu hanya bisa pasrah sambil memejamkan mata dan menggenggam tangan Carenza.
"Sshhh, sakit, By!" desis Ivanna yang mulai merasakan sakit ketika barang pusaka Carenza mencoba untuk menembus pertahanannya.
Carenza mendorongnya dengan perlahan, namun terasa cukup sulit, sehingga ia sedikit memaksakannya.
"By, sakit!" Pekik Ivanna.
Carenza langsung membungkam bibir Ivanna dan memaksakan miliknya untuk masuk.
Jleb!
Pisang Carenza terbenam dengan sempurna di iringi dengan air mata Ivanna yang telah menetes karena merasakan sakit dan perih.
"Maafin aku, sayang!" Ucap Carenza tanpa rasa sesal, yang ada hanya raa bahagia karena telah memiliki Ivanna seutuhnya.
Ia menunggu keadaan Ivanna sedikit lebih baik. Hingga ia mendapatkan lampu hijau untuk mulai bergerak di atas tubuh indah itu.
Perlahan namun pasti, Ivanna mulai merasakan kenikmatan dan nyaman dari permainan Carenza yang cukup lembut.
"Akhh, By. Eumh," Desa han dan erangan kecil mulai keluar dari mulut mereka masing-masing. Kamar itu menjadi saksi bagaimana mereka saling memiliki satu sama lain.
Erangan dan hentakan membuat Carenza semakin bersemangat untuk menggempur Ivanna.
Ditemani cahaya bulan dan kemerlapan bintang, Penyatuan yang indah itu berlangsung untuk beberapa lama. Ivanna yang mulai merasa lelah, meminta untuk segera berhenti.
Carenza mempercepat gerakannya sehingga membuat wanita cantik itu semakin membusungkan dada karena sensasi itu semakin terasa gila.
Bahkan tidak bisa terhitung lagi, berapa kali ia melakukan pelepasan dalam satu kali bermain.
"Akkhh, Ivanna!" Pekik Carenza ketika berhasil menyemburkan benihnya.
"Huh, huh, Terima kasih, sayang. Aku mencintaimu!" Ucap Carenza dan mengecup kening Ivanna dengan lembut dan perasaan yang begitu bahagia.
Ia tersenyum menatap wajah cantik yang terlihat sangat bersinar malam ini. Sementara Ivanna merasakan kebahagiaan yang teramat sangat karena berhasil memberikan mahkota yang paling berharga kepada Carenza sang suami.
"Aku juga mencintaimu, Baby!" Ucap Ivanna lirih sambil tersenyum. "Aku begitu lelah, apa boleh aku tidur dulu?".
"Boleh, sayang. Tapi kita bersih-bersih dulu yaa!" Ucap Carenza tersenyum.
Ia mengangkat Ivanna menuju kamar mandi untuk kembali membersihkan diri sebelum beristirahat. Gadis yang sudah menjadi wanita itu terlihat begitu lemas, namun wajahnya merona ketika kembali menyentuh tubuh indah milik sang suami.
"Aku milikmu, sayang. Jangan malu untuk menyentuhnya!" Uxap Carenza tersenyum jahil.
Ia kembali menggendong Ivanna keluar dan memakaikan lingeri pada tubuh cantik sang istri sambil sesekali mengecupnya.
Ia terkekeh ketika melihat beberapa tanda yang ia tinggalkan di tubuh Ivanna dan cukup terlihat kontras.
Mereka kembali berbaring setelah Carenza memakai boxernya. Mereka salling menatap dan tersenyum sebelum terlelap.
"Tidurlah, sayang. Mulai hari ini, aku akan menjagamu sampai kapanpun! Aku mencintaimu, istriku!" Ucap Carenza tersenyum sambil menatap Ivanna yang sudah terlelap.
Iiaa mengecup kening Ivanna dengan lembut dan ikut memwjamkan mata di samping sangat istri.
πΊπΊπΊ
...T O B E C O N T I N U E...
ππ β
Panas atau gak nya itu tergantung teman-teman semua, tetapi aku baca nya lebih lucu aja sih. π€
Ada beberapa kata sensitif yang sengaja aku bikin double huruf biar gak di kasih bintang, moga aja lolos semua yaa π€
__ADS_1