
Sudah tiga hari Safira di rumah sakit, Dan benar saja bocil kembar tidak diperbolehkan untuk pergi ke rumah sakit. Hanya panggilan video yang bisa membantu mereka untuk melihat sang adik yang begitu mengemaskan.
Hari ini, mereka mempersiapkan kejutan kecil-kecilan untuk menyambut kepulangan Safira dan baby boy. Ivanna memonitor semua pekerjaan art setelah ia mendapatkan izin dari Carenza untuk turun kebawah.
Ruang tamu disulap dengan cukup meriah dengn memberikan sedikit pita dan beberapa balon yang bertuliskan. 'Welcome Home Mommy And Baby Boy!'.
"Bunda, Lala sudah tidak sabar menunggu kedatangan Mommy dan adik kecil!" Ucap Nayla berbinar.
"Iya, Bunda juga sudah tidak sabar, sayang!" Ucap Ivanna tersenyum.
Mereka tengah duduk di ruang kekuarga sambil menunggu kedatangan Safira dan yang lain. Sementara pria kecil itu begitu suka mengelus perut Ivanna yang masih rata. Apa lagi sekarang perut Safira tidak lagi membelendung seperti biasanya.
Ivanna terkejut ketika Naren mengecup perutnya dengan begitu lembut.
"Sehat-sehat ya, dek! Biar nanti kita bisa cepat bertemu!" Ucap Naren dengan wajah yang merona senang.
Ivanna tersenyum dan mengelus kepada Naren dengan lembut. Ia sungguh pria kecil yang penyayang ini.
Bunyi mesin mobil mulai terdengar. Safira dan yang lain sudah sampai di rumah dengan selamat.
"Waah, Adik kita sudah datang, Yen!" Ucap Nayla berbinar.
"Iya, La! Abang sudah tidak sabar untuk mencium pipinya yang lembut itu. Pasti adik kita nanti begitu mengemaskan!" Ucap Naren berbinar.
Ceklek!
Pintu terbuka, Nayla dan Naren segera berlari untuk menemui sang ibunda yang sudah tiga hari tidak mereka peluk.
"Mommy!" Pekik Mereka begitu bersemangat.
"Ah, anak-anak Mommy!" Ucap Safira begitu merindukan bocil kembarnya.
Mereka berpelukan dan saling mengecup satu sama lain. Mata Safira berkaca-kaca melihat Naren dan Nayla.
"Mommy, jangan nangis!" Ucap Naren memelas.
"Mommy bahagia, sayang! Abang dan kakak gak rewel kan?" Tanya Safira.
"Ah, abang dan kakak anak yang baik, Mommy. Jadi, kita tidak akan menyusahkan yang lainnya!" Ucap Naren bangga.
"Pintar! Yuk kita masuk!" Ajak Safira.
"Eh, kita ada kejutan untuk Mommy dan adik kecil!" Ucap Nayla berbinar.
"Benarkah? Wah, Mommy merasa tersanjung!" Ucap Safira tersenyum bahagia.
Fajri mendorong kursi roda yang digunakan oleh Safira menuju ruang keluarga. Terlihat di sana semua orang sudah berkumpul untuk menyambut kedatangannya kembali.
"Selamat datang kembali, Nyonya muda dan tuan kecil!" Ucap para asisten rumah tangga yang begitu antusias untuk hal yang seperti ini.
"Wah, terima kasih!" Ucap Safira tersenyum.
"Nenek, apa Lala boleh melihat adik kecil?" Tanya Nayla malu-malu kepada Hersy.
"Boleh, Sayang!" Ia duduk di sofa bersebelahan dengan Ivanna.
__ADS_1
Semua orang begitu terpesona melihat wajah kecil tampan dan mengemaskan milik Baby boy yang belum di beri nama itu.
"Mommy, Namanya siapa?" Tanya Naren berbinar.
"Hmm, Mommy belum memberikan Adik kecil nama, Sayang. Apa kakak dan abang mau memberikan adik nama?" Tanya Safira dan membuat semua orang terkejut.
Termasuk Naren dan Nayla yang berbinar senang. Hal ini bukan sesuatu yang asing lagi dikeluarga Dirgantara.
Bocil kembar itu saling bertatapan dan tersenyum senang. Dengan wajah yang merona, berdiskusi dengan menggunakan bahasa yang hanya di pahami oleh mereka saja.
"Hmm, Mommy beneran boleh kita yang memberi adik kecil nama?" Tanya Naren berbinar.
"Iya, sayang. Apa sudah ada?" Tanya Safira tersenyum.
"Hmm, Abang dan kakak punya satu nama untuk adik kecil!" Ucap Naren menggenggam tangan Nayla.
Wajah mereka merona, karena begitu senang dan bersemangat. Ini adalah kesempatan yang langka untuk mereka.
"Nama adik kecil, Kakak beri nama Nizam !" Ucap Nayla berbinar sambil menatap adiknya.
"Nizam Putra Dirgantara!" Sambung Naren tersenyum.
"Nizam?" Tanya Fajri. "Nama yang bagus!" sambungnya sambil mencium bocil kembar itu.
"Wah, Nizam selamat datang di rumah kita!" Ucap Ivanna tersenyum.
Ia kembali mengingat masa dimana ia mendapatkan kesempatan untuk memberikan Naren dan Nayla nama kepada mereka. Ivanna begitu gemas melihat sang keponakan yang sangat tampan, begitu juga dengan Carenza yang berbinar senang tanpa bisa berucap satu kata pun.
"Wah, Tuan dan Nona kecil pintar mencarikan nama!" Ucap para asisten begitu senang.
"Sayang, bukankah Nizam terlihat begitu tampan dan mengemaskan?" Tanya Carenza dengan mata yang berkaca-kaca.
Ia begitu menantikan kehadiran seorang anak di dalam pernikahannya.
"Iya, By!" Ucap Ivanna tersenyum. "Hai, tampan. Pasti nanti ketika kamu besar, Daddy akan kalah saing nih!" Ucap Ivanna terkekeh.
"Iya, Bunda. Naren aja masih kalah tampan dari Nizam!" Ucap Naren berbinar.
"Sudah good looking sejak bayi!" Ucap Hersy terkekeh.
Setelah cukup puas melihat Safira dan Nizam, mereka segera kembali ke kamar masing-masing dan melakukan pekerjaan dan aktivitas yang lain.
Carenza menggendong Ivanna menuju kamar mereka dengan bridal style. Ia memang membuktikan perkataannya yang melarang Ivanna untuk berjalan barang sedikit saja.
Ia membaringkan sang istri di atas ranjang dengan begitu lembut.
Mata mereka terkunci, Ivanna tersenyum menatap sang suami yang begitu tampan dan terlihat sedikit tirus dari beberapa hari lalu.
"Kita sudah lama tidak bermesraan, Sayang!" Ucap Carenza tersenyum.
"Sudah lama? Bukannya setiap saat kamu selalu menempel kepadaku?" Tanya Ivanna terkekeh.
"Hehehe, Aku mencintaimu, sayang!" Ucap Carenza dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku juga mencintaimu, bahkan sangat mencintaimu!" Ucap Ivanna.
__ADS_1
Carenza berbaring di samping Ivanna dan memeluknya dengan manja. Menghirup aroma tubuh sang yang begitu wangi dan memabukkan. Jika bukan karena Ivanna tengah hamil, mungkin ia akan bermain kuda-kudaan hingga ibu hamil itu menyerah.
"Sayang?" Panggil Carenza mendongak menatap Ivanna dengan penuh cinta.
"Iya, Baby?" Jawab Ivanna tersenyum dan mengecup kepala Carenza dengan lembut.
"Hmm, temani aku mandi, ya!" Ucap Carenza dengan puppy eyesnya.
"Temani mandi? Biasanya kan mandi sendiri, Baby. Kenapa kamu begitu manja sekarang, huh?" Tanya Ivanna terkekeh.
"Aku pengen mandi, Sayang. Kamu belum mandi 'kan? Yuk kita berendam!" Ucap Carenza bangkit dan menggendong Ivanna menuju kamar mandi.
"Baby, Jangan macam-macam nanti! Kamu masih harus puasa!" Ucap Ivanna menanti-wanti.
"Iya, sayang. Aku akan selalu ingat dan berusaha untuk mengendalikan semuanya!" Ucap Carenza terkekeh.
Ia mendudukkan Ivanna di atas closet duduk dan membuka bajunya satu persatu. Kemudian ia membantu Ivanna. Mereka segera berendam di pagi hari yang begitu indah.
Carenza yang manja, semenjak ngidam menjadi semakin manja dan apa-apa harus Ivanna. Sehingga membuat ibu hamil itu lelah batin menghadapi sikap sang bayi besarnya.
"Ayah mandiin ya, Bunda!"Ucap Carenza menggosok punggung Ivanna dengan lembut dan memijitnya dengan pelan.
Ivanna terbuai, ia merasakan pijatan yang terasa begitu nyaman dari sang suami. Hingga ia terkejut ketika tangan nakal itu meremaas dua bukti kembarnya.
"Baby!" seru Ivanna dan membuat Carenza terkejut.
"Hehe, maaf sayang. Aduh, tanganku ini nakal sekali!" Ucapnya cengengesan dan memukuk tangannya sendiri.
"Gak papa, Aku hanya kaget saja!" Ucap Ivanna tersenyum dan bersandar di dasa bidang Carenza.
Pria tampan itu tersenyum dan mengusap perut rata Ivanna dengan lembut dan mengecup kepala sang bidadari dengan penuh cinta.
"Aku masih merasa ini semua mimpi, sayang!" Ucap Carenza menghela nafasnya.
Ivanna tersenyum dan mencubit pelan lengan kekar Carenza. Sambil mengelus perutnya.
"Semua ini nyata, Baby. Aku boleh bertanya sesuatu?" Tanya Ivanna.
"Apa, sayang? Kenapa kamu terlihat cemas?" Tanya Carenza lembut sambil tersenyum.
"Hmm, Kamu mau punya anak berapa, By?" Tanya Ivanna menatap Carenza dengan penuh harap.
"Ah, kakak melahirkan dengan merintih karena merasakan sakit yang teramat. Aku merasa satu ini saja sudah cukup. Walaupun aku ingin memiliki banyak anak!" Ucap Carenza lirih.
"Baby, Setiap wanita hamil pasti akan mengalami hal itu. Asal persiapan kita matang, semuanya akan baik-baik saja! Aku ingin punya anak banyak, By, Tiga atau empat gitu!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Aku takut, sayang! Tetapi seberapa dikasih saja!" Ucap Carenza tersenyum.
Mereka melanjutkan acara mandi pagi menjelang siang sambil
mengobrol tentang banyak hal. Tidak lama, mengingat Ivanna yang tengah hamil dan tidak baik untuk anak yang ada di dalam kandungan sang istri.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
__ADS_1