IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Hikmah


__ADS_3

Ivanna dan Carenza segera di larikan ke rumah sakit bersama Fajri menggunakan helikopter untuk mendapatkan pertolongan pertama.


"De, bangun sayang!" Ucap Fajri mengelus dan memeluk kepala Ivanna.


Sementara Carenza sudah tidak mampu lagi untuk bergerak karena punggungnya terasa sudah sangat sakit.


Sayang, bangunlah! Aku mohon!. Batin Carenza serasa ingin menangis melihat keadaan Ivanna.


"Bangun, sayang! Hiks, De bangun!" Ucap Fajri menangis sambil memeluk Ivanna di dalam pangkuannya.


Tak lama, helikopter berhenti di salah satu helipad yang berada tak jauh dari rumah sakit. Mereka segera turun dan membawa pasangan bucin itu ke ruang ICU


Fajri tak henti memanggil nama Ivanna dan meminta sang adik untuk membuka matanya.


"Maaf, Anda tidak boleh masuk, Tuan. Biarkan kami memeriksa adik anda terlebih dahulu!" Ucap Salah satu perawatan. "Sepertinya anda juga membutuhkan pengobatan!" sambungnya menunjuk luka Fajri.


"Tolong Adik-adik saya, suster!" Ucap Fajri memelas.


"Selagi anda menunggu, lebih baik anda mengobati luka itu sebelum anda kehabisan darah!" Ucap Perawat itu.


"Nanti akan saya obati! Tolong mereka!" Ucap Fajri terlihat sangat cemas.


"Baiklah, serahkan semuanya kepada kami!" Ucap Perawat itu menutup pintu.


Fajri hanya pasrah menunggu di luar tanpa siapapun yang menemani. Air matanya tak henti mengalir mengingat Ivanna yang tidak kunjung bangun setelah menggunakan seluruh tenaga dalamnya.


Ia memilih untuk mengobati luka karena goresan peluru tadi agar tidak menambah kekhawatiran keluarganya nanti.


🌺🌺


Semua orang-orang Jordan sudah diamankan oleh pihak kepolisian Rusia. Ray bernegoisasi agar mendapatkan izin untuk berbicara dengan Jordan dan Chelsea terlebih dahulu karena ingin menyelesaikan masalah yang ada diantara mereka.


"Hanya lima menit!" Ucap Kepala Polisi.


"Apa saya boleh membunuh satu orang lagi?" Tanya Atim menatap Chelsea dengan senyum penuh kemenangan.


"Tidak, Karena kalian sudah tidak dalam masa pertempuran lagi!" Ucap Kepala Polisi itu.


"Ah, betapa beruntungnya dia karena bisa lepas dariku! Tetapi tidak dengan senjata keesayanganku ini!" Ucap Atim tersenyum sambil menatap pistol kesayangannya, hadiah pemberian dari Ivanna.


"Atim, kendalikan dirimu!" Ucap Bryan menahan tangan janda muda itu.


"Kita sudah sejauh ini, Bryan. Saya begitu ingin membunuhnya saat ini juga!" Ucap Atim menatap manik mata Bryan.


"Kita akan menimbulkan masalah baru, karena dia adalah anak dari salah satu mafia tingkat menengah di Jerman. Jangan sampai setelah ini, kita akan kembali membunuh begitu banyak manusia!" Ucap Bryan membalas tatapan Atim.


Wanita itu terdiam, Ia membenarkan ucapan Bryan. Atim menatap tajam wajah Chelsea yang terlihat pucat dan lemas. Ia memegang dagu gadis itu sambil mengayun-ayunkannya ke kiri dan ke kanan.


"Lihat apa yang akan saya lakukan kepada Anda, Nona!" Ucap Atim. menghempaskan kepala Chelsea hingga terbentur pada sandaran kasur.


Sementara itu, Ray masih menahan Jordan di dalam kamar itu untuk mengucapkan kata selamat tinggal, tanpa menghiraukan keadaan pria itu yang terlihat sangat memprihatinkan.

__ADS_1


"Cih, bocah bodoh! Jika kau hanya mengandalkan mereka semua, itu tidak sebanding dengan kemampuan kami yang berada di atas rata-rata!" Ucap Ray. "Terimalah ajal kau setelah ini!" Sambungnya.


Mereka segera keluar dari kamar, setelah memeriksa kembali semuanya dengan teliti dan juga menemukan ponsel yang di gunakan oleh Ivanna.


Atim masih menatap Chelsea dri belakang dengan penuh dendam, ingin sekali ia membunuh gadis itu saat ini juga. Namun hal lain ia rasakan, sebuah tangan terasa hangat tengah menggenggam tangannya.


Ia menoleh dan langsung berhadapan dengan mata Bryan. Sejenak, mereka saling bertatapan beberapa saat, hingga Atim menyadari itu dan segera berpaling dengan wajah yang merona sambil menarik tangannya.


Bryan pun juga termagu melihat sikapnya barusan ketika menggenggam tangan Atim yang terasa sangat nyaman.


Mereka segera pergi menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Ivanna dan Carenza.


Ray memilih untuk pergi ke kantor polisi dan membuat laporan bersama dengan Atim. Joe mengatur semua anggotanya untuk membawa jasad para pengawal yang sudah gugur, kembali ke Indonesia untuk di semayamkan.


Polis menjadikan rumah itu sebagai pemakaman masal karena jumlah orang meninggal yang terbilang cukup banyak, dan tidak mungkin untuk di kuburkan satu persatu.


🌺🌺


Fajri sudah mengobati lukanya. Sudah hampir satu jam Carenza dan Ivanna berada di dalam ruangan ICU. Hingga Bryan dan Joe datang dengan tergesa-gesa.


"Bang, bagaimana keadaan mereka?" Tanya Bryan.


Fajri hanya menggeleng, sebagai jawaban. "Kalian pulanglah dulu, ganti baju dan bersih-bersih. Bawakan juga saya pakaian ganti!" Ucap Fajri lirih.


"Baiklah, kabari kami terus!" Ucap Bryan.


Bangunlah sayang. Apa yang akan katakan kepada keluarga kita nanti?. Batin Fajri begitu takut.


Pintu terbuka, Fajri segera berdiri dan menghampiri perawat itu sangat menanyakan bagaimana kondisi Ivanna dan Carenza.


"Nona Ivanna masih belum sadar karena kehilangan banyak tenaga, Tuan. Sementara tuan Carenza harus menjalani operasi untuk memperbaiki kondisi tulang punggungnya!" Ucap perawat itu lirih.


"Lakukan yang terbaik, Saya mohon!" Ucap Fajri bisa sedikit bernafas lega.


"Baiklah, tuan! Nona Ivanna akan kami pindahkan sebentar lagi, tolong urus kamar inapnya!" Ucap Perawat.


"Baiklah, terima kasih!" Ucap Fajri tersenyum.


🌺🌺


Bugh!


Plak!


Bugh!


Atim melepaskan dendamnya di dalam sel penjara setelah memohon kepada sipir. Mereka memberikan izin asalkan Chelsea tidak mati.


"Sudah!" Ucap Ray mencegat Atim ketika hendak menendang Chelsea kembali.


"Lepaskan saya tuan! Gara-gara dia Nona masuk rumah sakit, gara-gara dia banyak boy harus berpisah dari orang tuanya. Gara-gara dia juga, saya hampir saja mati tertembak!" Pekik Atim yang sudah tidak bisa mengontrol emosinya.

__ADS_1


"Kau bisa membunuhnya, Atim!" Bentak Ray.


Wanita itu terdiam. Hatinya masih belum puas jika Chelsea belum menjemput ajal. Wajah gadis cantik itu sudah terlihat lebam, memar dan tidak berbentuk lagi.


Hidung dan pelipis yang berdarah karena pukulaan dari Atim, di tambah dengan rambut yang sudah terlihat acak-acakan, karena Atim tak henti menjambaknya.


Cuih!


Atim meludahi Chelsea dan tepat masuk kedalam mulut gadis itu yang tengah ternganga.


"Berani berbuat, berani kau bertanggung jawab, setan! membusuk lah kau di dalam penjara!" Pekik Atim sambil di tarik oleh Ray keluar.


Sementara tim medis langsung mengobati luka dan lebam di wajah Chelsea. Gadis itu meringis kesakitan sambil menangis ketika obat merah melekay di kulitnya.


"Apa kau sudah puas?" Tanya Ray dingin.


"Belum, Tuan! Jika dia ssudah terbunuh, barulah hati saya merasa puas!" Ucap Atim menggebu-gebu.


"Sudahlah! Sekarang lebih baik kita pulang dan membersihkan diri. Setelah itu kita akan pergi ke rumah sakit!" Ucap Ray.


"Tuan, bagaimana keadaan Tuan Eza dan Nona Ivanna?" Tanya Atim begitu penasaran.


"Carenza harus menjalani operasi dan Ivanna masih belum sadarkan diri. Kita harus kesana secepatnya agar Fajri tidak kewalahan!" Ucap Ray.


"Baiklah, Tuan!" Ucap Atim.


Mereka kembali menuju apartemen untuk membersihkan diri dan segera pergi ke rumah sakit.


"Tuan?" Ucap Atim.


"Apa sudah selesai?" Tanya Fajri lirih.


"Sudah, Tuan. Bagaimana keadaan Nona?" Tanya Atim lirih.


"Kita hanya akan menunggu kapan Ivanna akan bangun. Jika besok bekim juga bangun, mungkin kita akan segera pulang ke Indonesia!" Ucap Fajri mencium tangan Ivanna dengan lembut.


Atim hanya terdiam sambil menatap wajah pucat Ivanna. Ingin ia mengelus wajah cantik itu, namun akan terasa sangat lancang karena tidak meminta izin terlebih dahulu.


Cepat sembuh, Nona. Saya tidak bisa membalaskan dendam kepada mereka. Bangunlah, Nona! Mereka masih bisa bernafas dengan baik, dan saya tidak rela dengan itu! Bangun ya, Nona!. Batin Atim.


Tanpa ia sadari jika Bryan tengah menatap kearahnya sedari tadi dengan begitu serius. Apa ini hikmah di balik suatu musibah?. Batinnya bertanya-tanya.


Ia hanya tersenyum tipis, menatap Atim yang juga terlihat sampir sama dengan Ivanna. Cih, andai saja dari dulu aku menerima tawaran Ivanna, mungkin hari ini dia sudah menjadi istriku! Astaga, ngomong apa sih!. Batinnya lagi.


Mereka masih menunggu di sana tanpa ada yang berniat untuk memulai percakapan. Hingga suster datang sambil mendorong brankar Carenza yang baru saja selesai melakukan operasi.


Mereka bisa bernafas lega, setelah semua ini terjadi. Namun masih tersendat karena keadaan Ivanna dan Carenza yang masih belum sadarkan diri.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2