IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Diskusi


__ADS_3

Di ruang kerja, Fajri, Irfan, Fajira, Carenza dan Ivanna berkumpul di sana. Sementara yang lain sudah terlelap ke dalam alam mimpi masing-masing.


"Aku memang sudah mencurigainya sejak lama!" ucap Ivanna dengan raut wajah begisnya.


"Abang juga sudah menyelidikinya!" Ucap Fajri.


Semua orang menatap kearah Fajri dengan begitu penasaran.


"Dia anak salah satu mafia kelas menengah di Jerman. Memang memiliki kelainan seksual dan dia mengincar kamu, Dek!" Ucap Fajri.


"Aku sudah menduganya! Tapi Dede merasa ada sesuatu yang tersembunyi, bang!" Ucap Ivanna serius.


"Kita harus semakin berhati-hati. Karena para musuh sudah bermunculan dengan perlahan!" Ucap Irfan.


"Tapi abang gak pernah menyinggung mereka, kan?" Tanya Fajira.


"Gak pernah, Bunda. Justru beberapa kali mereka sudah abang bantu, apa mungkin mereka menghianatiku?" Ucap Fajri mengernyit.


"Kita gak tau bagaimana kedepannya, Nak! Selain keluarga, tidak ada yang bisa di percaya lagi. Tambahkan penjagaan kepada setiap anggota keluarga! Atur semua tim keamanan, persiapkan mereka untuk menghadapi bencana besar yang kemungkinan akan terjadi!" Ucap Irfan tegas.


"Ayah, Apapun yang terjadi nanti, Dede mohon jangan sampai sakit!" Ucap Ivanna berkaca-kaca.


"Semoga saja, Sayang. Om ray akan Ayah panggil lagi untuk sementara waktu. Kita membutuhkannya jika mereka mulai mengibarkan bendera perang!" Ucap Irfan dengan mata yang menyalang.


"Sebaiknya Bunda, Kakak dan anak-anak kita asingkan terlebih dahulu demi keselamatan mereka!" Ucap Ivanna.


"Kamu juga, De! kamu lagi hamil!" Ucap Fajira mengernyit.


"Tidak Bunda! Dede yang mereka incar. Dede akan menjadi umpan agar mereka segera keluar dan memperlihatkan siapa dalang dari semua ini!" Ucap Ivanna dengan mata yang tak kalah tajam.


"Gak! Aku gak setuju!" Ucap Carenza dan Fajri bersamaan.


"Itu berbahaya, Dan bisa mengancam nyawa kalian! Abang tidak akan mengizinkan kamu melakukan itu!" Ucap Fajri tegas.


"Aku tidak setuju dengan keputusanmu! JIKA SAMPAI KAMU KENAPA-NAPA, AKU AKAN GILA IVANNA!" Pekik Carenza dengan nafas yang memburu.


Ivanna terdiam, ia juga mengkhawatirkan sang anak yang ada di dalam kandungannya. Namun jika menunggu siapa yang tengah mengusiknya, ia tidak akan kuat.


"Sudah, tenang dulu! Kita belum tau siapa mereka, dan apa motifnya. Jangan sampai kita bertindak gegabah untuk menangani hal ini!" Ucap Fajira tegas.


Semua orang terdiam dengan pikiran masing-masing. Carenza masih menatap Ivanna dengan lekat, ia tidak ingin anak dan istrinya kenapa-napa. Namun ia juga tidak tau harus berbuat apa.

__ADS_1


Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Ivanna tidak mungkin melakukan hal itu dalam kondisi seprti ini!. batin Carenza tidak tenang.


"Sepertinya, bukan hanya mafia menengah itu yang melindunginya!" Ucap Fajri.


"Maksud abang?" Tanya Ivanna mengernyit.


"Ada mafia kelas kakap yang membantu mereka!" Ucap Fajri.


"Ini terlalu berbahaya! Lebih baik kita bersiap-siap untuk menghadapi mereka!" ucap Irfan terperanjat.


"Tapi Ayah, jika mereka menyerang dengan begitu cepat, kita gak akan siap! Kecuali, kecuali ayah dan bunda mengizinkan Abang untuk bertemu dengan pimpinan Mafia yang abang kenal! Mereka berada pada level tertatas dalam dunia hitam, jadi abang yakin, para curut itu tidak akan berani macam-macam!" Ucap Fajri.


"Itu terlalu berbahaya, Bang!" Cegat Fajira.


"Tapi gak ada cara lain, Bunda!" Ucap Fajri memelas.


"Lakukanlah! Kita tidak bisa lengah sedikitpun untuk masalah ini!" Ucap Irfan dengan raut wajah yang masih belum berubah.


"Baiklah, besok abang akan menghubungi pimpinan mereka untuk menanyakan masalah ini," Ucap Fajri tegas.


"Iya, Setidaknya kita mewanti-wanti agar tidak terjadi hal yang berbahaya dalam keluarga kita!" Ucap Irfan.


"Iya bunda!" Ucap Carenza.


Mereka kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Ivanna masih terdiam tanpa mengucapkan sepatah katapun hingga Carenza membaringkannya di atas kasur.


Sementara pria tampan itu juga terdiam, karena merasa kecewa dengan keputusan sang istri yang tidak memikirkan dampak setelah semuanya terjadi.


Ia membelakangi Ivanna, namun enggan untuk memejamkan matanya. Sementara Ivanna yang merasakan kosong, memutar kepala untuk melihat sang suami yang ternyata memunggunginya.


Huft!


Hanya helaan nafas yang terdengar dari mulut Ivanna. Ia tau siapa saja tidak akan setuju dengan keputusannya, namun tidak ada pilihan lagi, selain mematangkan rencana.


"Baby?" Panggil Ivanna dengan lembut.


Carenza bungkam, ia masih ennggan untuk membahas semua ini atau ia akan menculik Ivanna ke salah satu tempat dimana ia akan akan aman tanpa gangguan.


Air mata Ivanna menetes, tubuhnya tergoncang dengan kontraksi yang mulia terasa. Isaknya mulai terdengar lirih di telinga Carenza, membuat pria tampan itu segera menurunkan egonya.


Ia berbalik dan memeluk Ivanna dari belakang. Mengusap perut buncit itu degan lembut karena terasa begitu keras.

__ADS_1


"Jangan marah, Hiks!" Ucap Ivanna terisak.


"Aku takut sayang, Sungguh aku sangat takut!" Ucap Carenza tercekat.


"Hiks, aku harus apa, Be? aku juga takut anak kita kenapa-napa!" Ucap Ivanna menangis.


"Sstt, Jangan nangis, Sayang. Nanti kita pikirkan cara lain untuk menangkap mereka!" Ucap Carenza menatap wajah Ivanna dan mengecup mata bengkak ibu hamil itu.


"Hiks, Aku takut, Be! Aku takut!" Ucap Ivanna semakin meraung.


Carenza dengan sabar berusaha untuk menenangkan Ivanna hingga terlelap. Ia menatap wajah cantik yang pucat itu dengan perasaan sedih. Air matanya menetes begitu saja mengingat ia masih belum terlalu kuat untuk melindungi anak dan istrinya dari bahaya besar itu.


Maafkan aku sayang! Maafkan aku! Aku bahkan tidak bisa melindungi kalian!. Batin Carenza menangis tanpa suara.


Ia tidak tidur semalaman untuk menjaga Ivanna yang masih begitu gelisah dalam tidurnya. Carenza mengelus perut Ivanna yang masih terasa keras dalam beberapa saat, dan kembali normal, kembali terulang begitu saja dan membuat ibu hamil itu sering terbangun dan meringis.


"Nak, Kamu yang kuat di dalamnya ya! Jagain bunda, jangan sampai Bunda kenapa-napa!" Ucap Carenza kembali menangis.


Ia bersandar pada sandaran kasur sambil membelai kepala Ivanna, bahkan tanpa sadar ia terlelap dalam keadaan duduk.


Hingga pagi menjelang, ia kembali terbangun dengan pinggang yang terasa sakit, dan melihat Ivanna masih terlelap sambil menggenggam tangannya.


Ia kembali berbaring dan memeluk Ivanna sejenak. Hingga ketukan pintu terdengar dari luar.


"Nona, Tuan? Sarapannya sudah selesai! Nyonya besar menunggu Anda untuk turun!" Ucap Atim sedikit keras.


"Iya, Tim!" Ucap Carenza sedikit keras dan membuat Ivanna terbangun.


"Kenapa, Be?" Tanya Ivanna mengernyit.


"Bangun ya, Semua orang sudah menunggu di meja makan, sayang!" Ucap Carenza lembut dan mengecup gemas pipi Ivanna.


"Boleh aku,,,?" Tanya Ivanna.


"Kita sudah di tunggu di meja makan, Sayang, Yuk, kita bersiap dulu?" Ucap Carenza tersenyum.


Ia bangkit dan membantu Ivanna untuk membersihkan diri terlebih dahulu, agar terlihat sedikit lebih segar, walaupun mata mereka bengkak karena menangis.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2