IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Pembalasan Fajri


__ADS_3

Carenza mulai mengerjab, kebiasaannya ketika bangun tidur yaitu mengendus gunung kembar Ivanna. Namun kali ini ada yang terasa berbeda, ia merasakan tempat favoritnya sedikit lebih kecil dan keras, tanpa adanya busa empuk di sana.


"Sayang, peluk!" Ucap Carenza tanpa membuka matanya.


Fajri juga ikut menggeliat karena merasakan pergerakan dari orang yang tengah ia peluk. Pria tampan itu mengeratkan pelukannya, sejenak ia tersadar, sudah lama ia tidak memeluk Safira dari depan seperti ini.


Lalu siapa yang asih peluk?. Batin Fajri


Baik Carenza maupun Fajri sama-sama membuka matanya dan terbelalak.


"Aaaa! Ngapain lo meluk gua!" Pekik Carenza sambil memegang gewang bajunya dan mundur lebih jauh.


"Lo yang peluk gua! Gua curiga lo bukan laki-laki normal. Dari tadi tingkah lo aneh banget!" Pekik Fajri yang juga memperbaiki gewang kemejanya yang terbuka.


"Gua normal ya! buktinya adik lo gua hamili!" pekik Carenza. "Lagian gua minta di elus saja, ngapain sampai lo peluk segala!" Pekiknya lagi.


"Gila lo!" Pekik Fajri tidak terima.


Wajah keduanya sangat merona karena malu. Sementara Ivanna dan Safira hanya tertawa melihat kedua pria tampan itu. Mereka seperti telah melakukan hal yaang tidak senonoh tanpa sadar.


"Daddy sama uncle kenapa sih, berisik banget?" Tanya Nayla kesal sambil menghampiri mereka.


"Tau, tuh! Dari tadi siang, sampai sore ini berantem terus! Apa gak capek? Apa gak malu?" Ucap Naren.


Bocil kembar itu menggeleng. "Tak patut!" Ucap Mereka mendelik.


Sementara Carenza dan Fajri merasa begitu malu dengan anak-anakknya. Ia yang sering melerai mereka ketika bertengkar, malah sekarang bocil kembar itu mengembalikan kata-katanya lagi.


"Lo yang salah!" Ucap Carenza menunjuk Fajri.


"Lo yang salah!" Ucap Fajri.


"Sudah!" pekik Naren dan Nayla memegang kepalanya masing-masing.


"Aduh, Lala pusing! Kenapa harus bertengkar? Daddy bilang gak boleh berantem, sekarang Daddy berantem sama uncle!" Ucap Nayla.


"Lagi pula, Daddy dan uncle sudah besar, sudah dewasa, kenapa selalu berantem? Setiap hari malah! Bukankah hidup itu harus rukun dan damai?" Ucap Naren menggeleng.


"Astaga, Lala bisa cepat tua kalau melihat uncle dan Daddy berantem terus!" Ucap Nayla menepuk jidatnya.


"Ah, kuping Naren juga bisa cepat meletus, kalau mendengar suara ribut-ribut setiap hari!" Ucap Naren yang juga ikut menepuk jidatnya.


"Astaga bocil, kenapa kalian berbicara seperti itu?" ucap Ivanna tertawa.


"Astaga, Nana dan Mommy ada di sini dari tadi, kenapa tidak melerai dua pria tampan ini?" Ucap Nayla manggeleng.


"Sstt, gak boleh ngomong gitu!" Ucap Safira menggeleng sambil melotot.


"Hehehe, maaf Mommy!" Ucap Naren dan Nayla tertawa. "Kabur!" Teriak mereka.


Berlari menuju taman belakang dimana Fajira tengah bekerja menggunakan Laptopnya. Sambil tertawa lepas karena berhasil mengganggu Fajri dan Carenza.


"Astaga, bukankah mereka terlihat begitu mengemaskan?" ucap Carenza berbinar.


Ia mendekat ke arah Ivanna dan memeluk perut rata sangat istri sambil mendongak.


"Sayang, apa anak kita akan mengemaskan juga seperti mereka?" Tanya Carenza penuh harap.


"Semoga saja, By!" ucap Ivanna tersenyum sambil mengelus kepala Carenza dengan lembut.


"Ah, Mommy. Daddy pusing, apa boleh Daddy mendapatkan jatah sore ini?" Ucap Fajri antusias dan sengaja memanas-manasi Carenza.


"Boleh!" Ucap Safira malu dengan wajah yang merona senang.


"Ayo, sayang. Kita naik ke atas!" Ucap Fajri membantu Safira untuk berdiri dan menggandengnya untuk berjalan. "Bunda, titip anak-anak!" Teriak Fajri.

__ADS_1


"Iya!" Balas Fajira yang juga berteriak karena jarak mereka cukup jauh.


"Sayang!" Ucap Carenza cemberut.


"Sabar, ya! Tunggu kandunganku kuat dulu, By!" Ucap Ivanna tersenyum sambil mengelus kepala Carenza.


"Aku pengen juga!" Ucap Carenza lirih.


"Kasihan banget yang harus menahan!" Ucap Fajri terkekeh.


Ia kembali turun untuk mengambil ponselnya yang tertinggal.


"Syalan, lo!" Ucap Carenza kesal.


"Kita istirahat saja, yuk! Biar tenaganya tidak terlalu terkuras!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Iya, sayang!" Ucap Carenza masih cemberut.


Mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Menaiki lift transparan menuju lantai dua.


Ting!


Mereka melewati kamar Fajri terlebih dahulu. Namun Carenza terkejut mendengar suara desahaan Safira dan suara decapan Fajri karena menjelajahi tubuh ibu hamil itu.


Pintu tidak tertutup rapat sehingga siapa saja yang melewati kamar mereka akan mendengar suara erotiis itu. Carenza mengeram kesal, ia yakin jika Fajri sengaja melakukan ini agar bisa memanasinya.


"Eumh, Sa yang. Pintu, be-belumh di tutup!" Ucap Safira yang sudah di kuasai gairaah.


"Engh, iya sayang!" Ucap Fajri Menatap Safira dengan mata sayunya dengan penuh cinta.


"Aku mencintaimu!" Ucap Fajri sengaja dengan suara yang menggoda.


"Aku juga mencintaimu, sayang!" Ucap Safira kembali meraup manisnya bibir Fajri.


Carenza dan Ivanna yang melihat itu menjadi panas dingin, mareka segera pergi dari sana dan masuk kedalam kamar dengan perasaan yang bercampur aduk.


"Kita istirahat saja ya, sayang!" Ajak Carenza menggendong Ivanna sambil tersenyum.


"Kamu pengen ya?" Tanya Ivanna lirih.


"Gak papa, yang penting sekarang kamu dan anak kita baik-baik saja! Semoga aku bisa menahannya!" Ucap Carenza lirih dan tersenyum.


Mereka berbaring, Carenza memeluk Ivanna dengan lembut sambil memejamkan matanya. Begitu juga dengan Ivanna, ia mengusap dada Carenza dari dalam baju sang suami.


"Aku mencintaimu, Ivanna, istriku!" Ucap Carenza lembut dan terdengar merdu di telinga Ivanna dan membuat ibu hamil itu tersenyum manis.


"Aku juga mencintaimu, Baby!" ucap Ivanna semakin membenamkan wajahnya di dada bidang Carenza.


Mereka terlelap dengan perasaan yang begitu bahagia. Walaupun tidak bisa berbuat apa-apa, namun seperti ini saja sudah cukup.


Hingga malam menjelang, mereka masih terlelap dengan kondisi kamar yang gelap gulita karena belum ada satupun lampu yang hidup di kamar itu.


Hanya bulan yang setia menemani dengan pedar cahaya meremang yang menembus dinding kaca kamar itu.


Tok, tok, tok.


"Eza, Nana? Apa kalian masih tertidur?" Tanya Fajira mengernyit.


Ia membuka pintu kamar yang tidak terkunci dan benar saja, kamar itu masih gelap gulita. Fajira segera menghidupkan lampu tidur agar tidak mengejutkan mata mereka.


Fajira terkekeh dengan apa yang ia lihat, putrinya yang begitu manja sekarang harus meladeni Carenza yang ternyata lebih manja dari pada Ivanna.


Ia segera membangunkan mereka dan meminta untuk segera turun agar bisa makan malam bersama.


Tak selang berapa lama pasangan bucin itu ikut bergabung dengan yang lain di meja makan. Carenza masih terdiam dan menatap Ivanna yang tengah mengambil makanan.

__ADS_1


"Aku makan sendiri ya, sayang!" Ucap Carenza membuat Ivanna tersenyum.


"Gak mau aku suapin?" Tanya Ivanna mengernyit.


"Aku suapmmpphh!" Carenza berlari menuju kamar mandi yang berada tak jauh dari sana karena perutnya kembali bergejolak.


Hoek, hoek, hoek.


Berulang kali Carenza mengeluarkan semua makanan yang ia makan dari tadi siang. Ivanna panik dan langsung mengikuti Carenza menuju kamar mandi bersama dengan Fajira.


"Baby?" Panggil Ivanna lembut sambil memijat pelan tengkuk Carenza.


"Hoek! Hiks, aku lemas, sayang!" Ucap Carenza menangis sambil bersandar didinding kamar mandi.


Ivanna dan Fajira segera memapahnya untuk duduk di atas kloset duduk. Ivanna segera memeluknya dan mengelus kepala Carenza dengan lembut.


Ya Tuhan, kasihan sekali suamiku. Beruntung aku tidak mengalami ngidam juga. Kalau tidak, entah apa yang terjadi setelah ini. Batin Ivanna berkaca-kaca.


Hingga Fajri datang dan memapahnya Carenza yang sudah sangat lemas menuju ruang keluarga. Ivanna terlihat begitu khawatir, tanpa menghiraukan nyeri yang terasa di perutnya.


Atim datang dan membawakan teh susu jahe untuk Carenza, agar bisa meredakan rasa mualnya. Ivanna meluk Carenza dan ikut menangis serasa tidak tega melihat suaminya seperti itu.


"Jangan nangis, sayang. Aku gak papa!" Ucap Carenza memeluk Ivanna.


Ibu segera datang dan menghampiri Carenza dengan raut wajah sumringah.


"Abang maau makan apa, Nak?" Tanya Ibu mengelus kepala Carenza.


"Gak mau apa-apa, Bu! Eza mau masakan Nana. Tapi gak mungkin Nana masak!" Ucap Carenza lirih.


"Kamu mau makan apa, By?" Tanya Ivanna.


"Hiks, telur dadar aja!" Ucap Carenza menangis.


"Apa lagi, Baby?" Tanya Ivanna lagi.


"Pake wortel, daun bawang, cabe giling, kentang, jamur, bawang merah, kasih kesap asin!" Ucap Carenza menyebutkan makanan kesukaannya.


"Baiklah, Aku buatkan dulu ya!" Ucap Ivanna.


"Jangan! Nanti perut kamu sakit!" Ucap Carenza.


"Atim, tolong sediakan semua bahan!" Ucap Ivanna.


"Hiks, untung aku yang merasakan ngidam. Aku gak bisa membayangkan jika kamu ikut merasakannya, Sayang!" Ucap Carenza tersedu.


"Untung saja, By! Aku masak dulu ya!" Ucap Ivanna melepaskan pelukannya.


"Ikut!" Ucap Carenza berusaha untuk berdiri.


Mereka berjalan menuju dapur agar Ivanna bisa memasak telur dadar komplit untuknya malam ini.


Ivanna mengaduk semua bahan menjadi satu dan memasukkannya kedalam wajan anti lengket dan di bagi menjadi dua.


Air liur Carenza menetes ketika melihat telur dadar pertama masuk kedalam wajan.


Glek!.


Carenza memeluk Ivanna dari belakang sambil menikmati wanginya masakan sangat istri.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


Morning gengs, selamat hari senin, selamat menikmati pergeseran hari ya 😌

__ADS_1


Ah iya, aku lagi mengikuti crazy up ini, yuk bantu cerita Ivanna agar bisa naik ke beranda dan mendapatkan lebih banyak pembaca lagi.


Like, koment, vote, gift dan share cerita Ivanna 😍


__ADS_2