IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Kasih Sayang


__ADS_3

Malam menjelang, Fajri berkumpul dengan anak-anaknya di ruang keluarga sambil membawa sebuah buku tentang bisnis. Ia menjelaskan isi-isi pokok dari buku kepada Naren dan Nayla. Hingga mereka paham dengan maksud dari buku itu.


"Daddy, Kakak mau jadi dokter. Apa boleh, kakak tidak mengurus perusahaan?" Tanya Nayla lirih.


"Dokter? Boleh, sayang. Ada banyak cabang rumah sakit yang bisa kakak kelola nantinya!" Ucap Fajri tersenyum.


Glek!


"Kalau mau jadi penyanyi?" tanya Nayla.


"Boleh, kakak bisa mengelola agensi kita nanti!" Ucap Fajri mengelus kepala Nayla.


Ia paham apa yang ingin di sampaikan oleh sang putri. Namun tidak ada cara lain, setiap anak akan mendapatkan pembagian jatah untuk mengelola perusahaan.


"Maafin Daddy, sayang!" Ucap Fajri lirih.


"Tidak Daddy, Daddy tidak salah! Kakak saja yang belum bisa menerima semua ini!" Ucap Nayla memeluk Fajri dari samping.


"Nanti ketika dewasa, kakak akan merasakan manfaat dari semua pelajaran yang di dapat hari ini, sayang!" Ucap Fajri tersenyum.


"Iya, Daddy!" Ucap Nayla memejamkan mata.


Lala akan menjadi putri yang bisa Daddy banggakan nanti. Menjadi seperti Bunda yang begitu hebat dalam mengelola perusahaan besar milik kakek. Waktu yang akan menjawab semuanya!. Batin Nayla.


"Abang!" teriak Nizam ketika Fajri kembali menjahilinya.


"Haha, lagian kamu sbuk banget, Dek! Abang gak ada teman main!" Ucap Naren tertawa.


"Tapi Abang menghancurkan eksperimenku!" Pekik Nizam begitu kesal.


"Haha, maafin Abang, Yuk kita bikin lagi!" Ucap Naren masih tertawa.


"Gak mau! bahannya sudah habis! Hua," ucap Nizam menangis.


Ia berlari menuju Safira dan mengadukan perbuatan Naren yang telah menghancurkan uji cobanya untuk menemukan hal baru.


"Abang!" Panggil Safira terdengan begitu horor.


"Hehehe, jangan marah, Mommy. Abang sengaja kok! Maaf ya Dek!" Ucap Naren mencari perlindungan di balik tubuh Fajira.


Irfan hanya bisa tersenyum mendengar keributan yang terjadi setiap hari di dalam rumah mewahnya. Apa lagi mendengar Ivanna akan melakukan program kehamilan kembali untuk memberikan Noah seorang adik.


Ia merasa sangat bersyukur karena masih diberi kesehatan untuk bisa menyaksikan tumbuh kembang cucu-cucunya.


Menggenggam tangan Fajira dengan lembut dan menatap sang istri dengan penuh cinta. Sudah puluhan tahun mereka bersama, tetapi tidak ada yang berubah di antara keduanya, cinta yang semakin bermekaran dan rasa sayang yang selalu menyelimuti langkah mereka setiap hari.

__ADS_1


Fajira menoleh dan menatap wajah tampan Irfan yang paripurna. Ia tersenyum, melihat laki-laki yang mengajarkannya banyak hal dari awal pertemuan mereka.


"Kenapa, Mas?" Tanya Fajira mengelus lembut rahang Irfan.


"Gak papa, aku hanya ingin menatap wajah cantik ini setiap hari!" Ucap Irfan tersenyum.


Fajira merona mendengarkan gombalan Irfan. "Kita sudah tidak muda lagi, sayang. Jangan menggombal terus!" Ucap Fajira terkekeh.


"Aku gak gombal, tapi mengatakan hal yang sebenarnya!" Ucap Irfan.


"Udah ih, malu sama anak cucu!" Ucap Fajira.


Tanpa disadari, jika mereka menjadi pusat perhatian karena masih mesra di usia yang sudah lanjut.


Naren berbinar, ia melihat tatapan penuh cinta dari sang Opa untuk wanita yang ia cintai. Tatapan itu sama ketika Fajri menatap Safira dengan lembut.


Banyak hal yang bisa di ambil dari orang dewasa, apa lagi melihat cinta yang selalu hadir disetiap gerak yang membuat siapa saja merasa nyaman.


Aku memang belum paham apa itu cinta, tapi aku merasakan aura kasih sayang antara mereka begitu kuat. Batin Naren tersenyum.


"Semoga, Daddy dan Mommy bisa sama-sama terus sampai tua!" Ucap Naren tersenyum.


"Aamiin!" Ucap Mereka semua.


Nizam terdiam, ia merasa sedikit bersalah karena tidak mengizinkan Noah untuk mendekati sang kakak hanya karena alasan cemburu.


Maafkan aku, Aa'. Batin Nizam.


Ia meraih gagang telepon untuk menghubungi Noah yang masih menginap dirumah Kakek Tono. Semua orang mengernyit melihat tingkah Nizam.


"Adek nelfon siapa, Sayang?" Tanya Safira mengernyit.


"Hmm, Ijam mau nelfon Noah, Mommy!" Ucap Nizam polos.


"Kenapa tidak melalui Video Call saja?" Tanya Safira.


"Ah iya, ide yang bagus Mommy!" Ucap Nizam tertawa.


Ia menerima ponsel dari Safira yang sudah terhubung dengan Noah di sana.


"Hai, Ijam, ada apa?" Tanya Noah mengernyit.


"Hmm, Ijam mau minta maaf!" Ucap Nizam lirih.


"Maaf untuk apa?" Tanya Noah semakin bingung.

__ADS_1


"Maaf, karena Ijam melarang Aa' untuk main sama kakak!" Ucap Nizam lirih.


Noah terdiam dan perlahan seulas senyuman terakhir di wajah tampannya. "Iya, gak papa kok. Besok kita main sama-sama ya!" Ucapnya.


"Iya. Tadi aku hampir saja menemukan formula untuk telur ayam, tapi abang mengganggu dan mengacaukan semuanya!" Ucap Nizam bercerita.


Begitu juga dengan Noah, ia menceritakan apa saja yang terjadi hari ini. Wajah mereka terkadang tertawa, kadang kesak satu sama lain dan juga sedih.


Sementara yang lain hanya menatap dua bocil itu dengan gemas, melihat mereka yang berbicara layaknya orang dewasa.


Hingga malam semakin larut memaksa mereka untuk beristirahat di kamar masing-masing dengan perasaan yang begitu bahagia.


🌺🌺


Sementara di rumah Hartono, Carenza sudah memaksa Noah untuk tertidur karena ia harus menjalankan misi untuk memproduksi keturunan selanjutnya.


Setelah berceritra banyak hal dengan usapan lembut akhirnyaa prian kecil itu terlelap dengan damai.


Carenza segera bangkit dan menyusul Ivanna menuju sofa kamar, dimana ibu muda itu sudah menunggu pertempuran malam ini.


Jika jarak yang dekat, Carenza sudah berani berjalan tanpa memakai tongkat, agar kakinya semakin terlatih dan bisa berjalan dengan normal.


"Sayang?" Panggil Carenza sambil meniup daun telinga Ivanna.


"Apa Noah sudah tidur, Be?" Tanya Ivanna meletakkan ponselnya.


"Sudah! Ayo kita mulai!" Ucap Carenza tersenyum.


Malam panas yang menggairaahkan dimulai dengan kecupan lembut dari Carenza. Mereka saling melumaat, mereemas dan saling memuaskan satu sama lain.


Sambil bergerak, mereka berdo'a di dalam hati, berharap bisa diberikan keturunan lagi dengan segera. Memberikan Noah saudara dan bisa membuat pria kecil itu tersenyum bahagia.


Suasana yang sejuk berubah menjadi panas kareka aktip mereka yang terjadi tanpa jeda. Hingga satu lenguhan panjang Carenza mengakhiri pergulatan panas itu.


Dengan nafas terengah, mereka saling mengungkapkan rasa satu sama lain.


Menyempatkan untuk membersihkan diri sebelum beristirahat. Ivanna tersenyum sambil menatap Carenza yang terlihat semakin tampan walaupun ada beberapa luka di wajahnya yang tidak mudah sembuh dengan cepat.


"Semoga kai ini aku bisa hamil lagi!" Ucap Ivanna penuh harap.


"Aamiin, aku menunggu waktu itu sayang!" Ucap Carenza tersenyum.


Mereka terlelap sambil beerpelukan dengan noan yang berada di tengah mereka.


🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2