IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Drama Dua Bocil


__ADS_3

Pagi menjelang, waktu masih menunjukkan pukul 05.00. Ivanna mengerjabkan matanya, wajah cantik itu tersenyum ketika melihat bayangan Fajri ada di hadapannya sedang duduk di tepi tempat tidur.


Ia kembali tertidur, karena menganggap itu hanya mimpi. Namun ia merasa terusik, karena Fajri mencolek-colek pinggangnya.


"Engh..., jangan ih! Dede ngantuk, bang!" rengek Ivanna.


Ia terkejut dan membuka mata menatap sosok laki-laki yang memang begitu ia rindukan.


"Abang?" panggil Ivanna dan langsung memeluk Fajri dengan mata yang berkaca-kaca. "Kapan Abang pulang?" sambungnya.


"Sudah dari semalam, sayang!" Ucap Fajri membalas pelukan Ivanna tak kalah erat.


"Kangen!" ucap Ivanna manja sambil menggesek-gesekkan hidungnya di dada bidang Fajri.


"Abang, juga kangen! Enak ya, gak ada Abang bisa bebas pacaran!" ucap Fajri sambil mendelik.


"Hehe, gak bebas kok, bang! Masih dalam aturan protokol kesehatan!" ucap Ivanna terkekeh.


"Jadi bagaimana?" tanya Fajri.


"Apanya yang bagaimana?" tanya Ivanna mengernyit.


"Bagaimana?" tanya Fajri lagi.


"Ah, gak tau kenapa, hati dede udah yakin sama dia, bang! Cincinnya juga sudah dede kasih!" ucap Ivanna tersenyum sambil memeluk Fajri.


"Kenapa terburu-buru, sayang? Apa kamu sudah sangat yakin dengan dia?" tanya Fajri.


"Dede yakin, Bang. Kemarin, Tono melamar, Dede. Semuanya terlalu cepat, bahkan belum lagi satu minggu hubungan kami berjalan. Sebenarnya Dede sudah sangat yakin, tetapi Dede belum siap untuk menikah bang!" terang Ivanna.


"Apapun keputusan Dede, Abang dukung, sayang. Hanya saja, Abang takut, kalau Dede salah pilih!" ucap Fajri menatap manik mata Ivanna.


"Semoga saja, pilihan Dede gak salah bang! Tono adalah laki-laki yang baik dan tepat untuk, dede!" ucap Ivanna meyakinkan Fajri. "Dan terima kasih, karena Abang merestui kami!".


"Abang hanya ingin, Dede mendapatkan laki-laki yang terbaik dalam hidupmu kedepannya. Abang sudah mengawasi beberapa laki-laki yang mendekat, Dede. Sampai saat ini, hanya dia yang tidak memiliki kecacatan, makanya untuk sementara abang merestuimu!" ucap Fajri tersenyum.


"Terima kasih!" ucap Ivanna tercekat.


"Sudah, mandi sana! anak-anak udah nyariin kamu!" ucap Fajri mengecup kening Ivanna.


"Hmm, bentar lagi! Dede masih ngantuk!" ucap Ivanna kembali berbaring.


"Eh, gak ada! Bangun lagi! CEO apaan bangun siang?" ucap Fajri menggendong Ivanna menuju kamar mandi dan langsung menghidupkan shower.


Byur...


"ABANG!!" Teriak Ivanna yang sudah basah.


"Hahah, mandi sana!" ucap Fajri berlari keluar sambil tertawa.


"Huh, dasar Abang lucknut!" teriak Ivanna sambil menghentakkan kakinya.


Ia bergegas untuk mandi dan segera berganti pakaian. Dengan wajah kesal, Ivanna turun dan mencari keberadaan Fajri yang sudah mengerjainya. Namun ketika turun dari tangga, bocil kembar sudah berlarian ke arahnya.


"Nana!" teriak Naren dan Nayla berhamburan memeluk Ivanna.


"Bocil!" ucap Ivanna tersenyum dan merentangkan tangannya.


Mereka berpelukan satu sama lain, melepas rindu yang teramat sangat.

__ADS_1


"Nana, kangen!" ucap Ivanna cemberut menatap Nayla dan Naren bergantian.


"Lala, juga kangen sama, Nana!" ucap Nayla berkaca-kaca.


"Naren juga!" ucap Naren.


Mereka kembali berpelukan dengan erat. Seolah tidak bertemu belasan tahun lamanya.


"Hari ini, bocil mau sekolah, sayang? apa gak istirahat dulu?" tanya Ivanna.


"Gak mau, Na. Hari ini ada ulangan!" keluh Nayla cemberut.


"Wah, udah belajar?" tanya Ivanna.


"Sudah, Na. Di atas pesawat kemarin!" ucap Naren.


"Ya sudah, hari ini kita berangkat pake motor, mau?" tanya Ivanna.


"Mau!" teriak Nayla dan Naren bersamaan.


"Kalau gitu, kita sarapan dulu, Nana mau siap-siap sebentar!" ucap Ivanna kembali ke kamarnya.


Ia melupakan tujuan awal untuk mencari keberadaan Fajri, yang telah mengerjainya. Ia melangkah masuk ke kamar dan sedikit berdandan, tak lupa memakai baju kebesaran khusus untuk menaiki motor.


Setelah selesai, ia segera turun menuju ruang makan. Di sana, semua anggota keluarga telah berkumpul kecuali Safira.


"Bang, kakak mana?" tanya Ivanna.


"Kakak lagi tidur di atas, dek. Habis mual!" ucap Fajri menunggu makanan yang tengah dihidangkan oleh Fajira.


"Jadi, kakak beneran hamil lagi?" tanya Ivanna terkejut sekaligus senang.


"Iya, kakak hamil lagi!" ucap Fajri tersenyum.


"Cuma satu!" ucap Fajri menggeleng.


"Ah, gak papa, yang penting apa anak-anak?" ucap Ivanna.


"Bocil Dirgantara bertambah!" teriak Naren dan Nayla sambil mengacungkan jempolnya.


"Pintar!"


"Sudah, makan dulu!" ucap Fajira menggeleng melihat kelakuan dan cucunya yang terlihat selalu kompak.


"Anak-anak, nanti kalau sudah siap langsung berangkat sama pak Budi, ya!" ucap Fajri tersenyum.


"Lala mau naik motor sama Nana, Daddy!" ucap Nayla.


"Iya, Naren juga!" ucap Naren.


"Gak boleh! Naik mobil aja!" ucap Fajri tegas.


"Daddy, Ayolah!" keluh mereka. "Boleh ya, Dad? kali ini aja!" ucap mereka memohon.


Fajri menatap Ivanna dengan tajam karena keberadaan motor itu membuat anak-anaknya juga ingin menaikinya. Sementara Ivanna hanya fokus memakan sarapan tanpa memperhatikan tatapan Fajri.


"Pokoknya gak boleh!" ucap Fajri tegas.


Wajah Nayla dan Naren berubah murung dan tidak melanjutkan sarapan mereka.

__ADS_1


"Daddy, Lala sudah menjadi anak yang baik dan tidak nakal. Lala juga gak banyak mau, hanya kali ini Lala meminta sama Daddy. Apa Daddy tidak mau memenuhi keinginan Lala yang menyedihkan ini?" ucap Nayla mendrama.


"Iya, Daddy. Apa Daddy gak kasihan melihat kami?" tambah Naren mengiba.


Bocil kembar itu berhasil membuat yang lain melongo tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh mereka.


"Astaga, nak. Dari mana kalian belajar berbicara seperti itu? Apa Nana yang mengajarkannya?" tanya Fajri tidak percaya.


"Gak ada yang mengajarkan kami, Daddy." ucap Nayla. "Itu murni dari hati kami yang menyedihkan ini!" sambung Naren.


Wajah mereka semakin murung karena tidak mendapatkan jawaban dari Fajri sehingga Fajira dan Irfan tidak tega melihat mereka.


"Bolehin aja, Dad! Lagian Nana kan jago bawa motornya!" ucap Fajira mengelus kepala Naren dan Nayla.


"Huh, baiklah!" ucap Fajri pasrah.


"Beneran, Daddy?" tanya Naren dan Nayla sambol menggebrak meja.


"Astaga!" ucap mereka terkejut.


"Iya, boleh!" ucap Fajri tersenyum smirk.


"Yeeei!" teriak mereka senang.


Setelah menghabiskan sarapan, Ivanna dan dua bocil itu langsung berjalan keluar dengan memakai helm masing-masing. Namun, mata mereka terbelalak, ketika melihat beberapa orabg berpakaian tim keamanan Dirgantara sudah berjejer rapi di halaman rumah sambil mendengarkan instruksi dari Fajri.


"Pastikan anak-anak dan Nona muda sampai dengan selamat! Jangan sampai ada yang lecet sedikitpun, jangan sampai mereka berada di dalam bahaya dan yang lainnya! Paham?" ucap Fajri tegas.


"Paham, Tuan!" ucap mereka bersamaan.


Wajah Ivanna dan bocil kembar menjadi kesal dan pasrah. Ivanna menaikkan Naren di belakang dan Nayla berada di depan. Ia melihat beberapa motor trail sudah berjajar rapi untuk mengawalnya nanti.


Risiko punya Abang possesif! Huh, aku jadi kesal sendiri!. Batin Ivanna kesal.


Ia segera melajukan motor dengan perlahan meninggalkan halaman rumah di ikuti oleh tujuh motor dan satu buah mobil.


"Pegangan yang erat, sayang!" teriak Nana.


"Iya, Na!" Teriak mereka berdua merasa senang.


Mereka terlihat sedang melakukan parade di pagi hari. Banyak pasang mata yang menatap kearah mereka dan sudah bisa di tebak jika itu adalah Nona dan Tuan muda keluarga Dirgantara.


Motor terus melaju menuju sekolah Naren dan Nayla. Mereka terlihat begitu keren, sehingga menjadi pusat perhatian semua siswa yang ada di sekolah itu.


"Belajar yang rajin!" ucap Ivanna ketika berada di depan kelas bocil kembar.


"Siap, Nana!" ucap mereka hormat.


"Ah, Nana jadi ingat waktu Nana sekolah dulu, terus di antar sama Oma! Sini salin dulu!" ucap Ivanna tersenyum dan mengulurkan tangannya.


Mereka dengan patuh mengecup tangan Ivanna dengan lembut dan melambaikan tangan sambil masuk ke dalam kelas.


Ivanna segera pergi setelah memastikan keponakannya masuk ke kelas dengan selamat. Namun ketika hendak menjalankan motor, ponselnya berdering. Terlihat Pandu tengah menelfonnya.


"Iya, pak?" jawab Ivanna mengernyit.


"Nona, Anda harus segera datang ke kantor sekarang juga! Ada masalah yang cukup besar tengah terjadi, Nona!" ucap Pandu tegas


"Baik, pak!" ucap Ivanna menyimpan ponselnya dan langsung melajukan motor tanpa menghiraukan para ajudan yang kewalahan mengikuti laju motornya yang begitu kencang menuju perusahaan yang tak jauh dari sana.

__ADS_1


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


__ADS_2