
Di sekolah, Naren dan nayla tengah menunggu jemputan. Tanpa sengaja, mereka melihat berita yang menayangkan jatuhnya pesawat milik keluarganya.
Deg!
Terkejut, mata bulat mereka membola melihat berita itu. Nayla dan Naren saling berpandangan dengan mata yang berkaca-kaca. Karena mereka tau, jika Ivanna akan pulang hari ini.
"La, Pesawat Nana, jatuh!" Ucap Naren sambil menahan tangis nya.
"Hiks, Nana!" Ucap Nayla.
Mereka berpelukan sambil menangis satu sama lain. Sehingga membuat satpam di sana mengernyit melihat duo bocil itu.
"Eh kembar, kenapa kalian menangis?" Tanya satpam itu.
"Hiks, pesawatnya jatuh, Pak!" Ucap Nayla menangis sesegukan sambil menunjuk televisi.
"Iya, pesawatnya jatuh! Semoga, semua penumpang masih bisa selamat!" Ucap Satpam itu yang tidak mengetahui siapa mereka.
"Hiks, Apa mereka masih bisa selamat, Pak?" tanya Naren penuh harap sambil menghapus air matanya.
"Sepertinya gak ada yang selamat, nak! Pesawatnya meletus dari ketinggian!" Ucap satpam itu.
Bukannya tenang, Naren dan Nayla semakin menangis dan meraung, sehingga membuat satpam itu panik dan berusaha menenangkan mereka, hingga Pak Sakti datang untuk menjemput.
"Nona, Tuan kecil?" Panggil Pak Sakti terkejut melihat mata sembab Naren dan Nayla. "Yuk, kita pulang, Nak! Nana sudah ada di rumah!" Sambungnya tersenyum.
Deg!
Tangis mereka berhenti mendengarkan ucapan Pak Sakti. Mata mereka meminta sebuah jawaban, jangan sampai ada dusta di antara mereka.
"Bapak serius! Yuk kita pulang!" Ucap Pak Sakti menaikkan mereka satu persatu ke atas mobil.
"Hiks, Bapak jangan bohong! Tadi Lala lihat dan mendengar sendiri jika pesawat kita jatuh, hiks, Nana!" Ucap Nayla kembali menangis sambil memeluk Naren.
Pria kecil itu mengusap kepala Nayla dengan lembut walaupun ia juga menangis saat ini.
"Bapak, jangan bohong! Itu dosa, loh!" Ucap Naren sesegukan.
"Astaga, tuan kecil! kenapa bapak harus bohong? Nona Ivanna memang sudah di rumah!" Ucap Pak Sakti tersenyum.
Seisi rumah bahkan sempat panik dan ikut menangis karena berita ini. Walaupun Ivanna gadis yang dingin, namun ia memiliki hati yang begitu baik dan tulus. Sehingga semua asisten rumah tangga begitu menyayangi gadis cantik itu.
"Hiks, Lala gak mau Nana pergi lagi, Naren! Lala gak mau!" ucap Nayla menangis di dalam pelukaan Naren.
"Naren juga gak mau, La! Kita berdo'a saja yuk, semoga Nana Baik-baik saja!" Ucap Naren sambil menahan tangisnya.
Mereka mengangkat tangan dan berdo'a untuk keselamatan Ivanna dan keluarganya. Pak Sakti tersenyum, didikan keluarga Dirgantara memang begitu bagus. Mengutamakan tingkah laku dan kedekatan kepada Tuhan.
Ya Tuhan, saya tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan dua bocil ini ketika Nona muda benar-benar menaiki pesawat itu!. Batin Pak Sakti dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
Tak lama mobil memasuki perkarangan rumah. Naren dan Nayla segera turun dan berjalan pelan menuju pintu utama.
Sambil menahan tangis agar tidak terdengar, mereka sedikit takut untuk masuk ke dalam rumah. Dua bocil itu tidak bisa membayangkan bagaimana jika mereka pulang dan Ivanna tidak ada rumah.
"Lala takut masuk!" Ucap Nayla menahan tangisnya.
"Naren juga, La!" Ucap Naren menggenggam tangan Nayla dengan erat.
Ceklek!
Pintu terbuka dan mengejutkan mereka berdua. Dan yang lebih membuat terkejut lagi ketika melihat siapa yang tengah membuka pintu itu.
"Hikss, Nana!" Teriak mereka langsung berlari memeluk Ivanna dengan erat.
"Hiks, Nana jangan pergi lagi!" Ucap Nayla menangis.
"Nanti sudah pulang, sayang!" Ucap Ivanna juga ikut menangis sambil memeluk dua bocil itu.
"Naren gak mau nana meninggal!" Ucap Naren sesegukan.
"Nana sudah di rumah, sayang. Nana gak kemana-mana!" Ucap Ivanna melepaskan pelukannya dan menatap dua bocil itu dengan lekat.
"Yuk, kita masuk! Nana membawa banyak coklat dan kue dari berbagai negara. Bocil mau?" Ucap Ivanna tersenyum agar bisa menghentikan tangis dua bocil itu.
"Gak mau! Kami cuma mau Nana aja!" Tangis mereka kembali pecah dan memeluk Ivanna dengan erat.
"Hiks, kami juga sayang, Nana!" Ucap mereka kompak.
Seisi rumah terharu melihat pemandangan yang begitu menguras air mata itu. Ivanna segera mengajak mereka untuk pergi ke kamar dan bersih-bersih terlebih dahulu.
Dua bocil itu menginterogasi Ivanna layaknya orang dewasa bertanya. Ivanna menjawab pertanyaan mereka satu persatu tanpa ada yaang di tutupi. Sungguh Nayla dan Naren sama seperti ia dan Fajri waktu kecil dulu.
"Nana jangan pergi lagi, ya! Lala gak mau Nana kemana-mana!" Ucap Nayla mengusap pipi Ivanna dengan lembut.
"Iya, sayang! Setelah ini, Nana hanya di rumah dan bermain sama Lala dan Naren!" Ucap Ivanna tersenyum.
Mereka segera keluar dari kamar dan menuju meja makan. Di sana Carenza tengah memakai celemek dan memasak ayam goreng untuk dua keponakannya.
"Uncle ngapain?" Tanya Nayla berbinar.
"Uncle lagi masak ayam goreng untuk keponakan, uncle!" Ucap Carenza tersenyum.
"Wah, untuk Lala dan Naren dong? Terima kasih uncle!" ucap Nayla senang.
"Sama-sama, sayang!" ucap Carenza tersenyum.
Ivanna duduk ditengah antara Naren dan Nayla yang tengah bermanja dengannya.
"Uncle, kalau Lala besar, apa uncle mau menikah dengan, Lala?" celetuk Nayla membuat Ivanna tersedak ludahnya sendiri.
__ADS_1
"Hahaha, Lala sayang! Maaf ya, Uncle kan mau menikah dengan Nana!" Ucap Carenza memasang wajah sedihnya.
"Yah! Padahal, Lala sayang sama uncle. Tapi kalau untuk Nana, gak papa deh! Tapi kalau untuk orang lain, Lala gak mau!" ucap Nayla membuat Ivanna dan Carenza tergelak.
"Jadi, boleh 'kan, kalau uncle menikah sama, Nana?" Tanya Carenza tersenyum.
"Boleh kok!" Ucap Nayla dan Naren kompak.
Ayam sudah matang, Ivanna menyuapkan dua bocil kembar itu bergantian, di tambah dengan Carenza. Siang itu mereka terlihat seperti keluarga kecil yang tengah makan bersama.
"Sayang, belum lagi punya anak, aku udah merasa senang banget. Apa lagi kalau kita punya sendiri! Begini aja aku udah merasa bahagia!" Bisik Carenza tersenyum.
Blush!
Pipi Ivanna merona mendengarkan ucapan Carenza. Ia hanya tersenyum dan salah tingkah sambil menyuapi keponakannya.
"Jangan ngomong seperti itu di depan anak-anak! Ingat, keponakanmu bukan anak sembarangan!" ucap Ivanna lirih dengan wajah yang masih bersemu.
"Baiklah!" Carenza tersenyum senang dengan wajah yang ikut merona.
Siang hari itu mereka habiskan dengan bercanda sambil melepaskan penat bersama yang lain, hingga bocil kembar itu terlelap sambil memeluk kaki Ivanna.
"Sayang?" Panggil Carenza lirih setelah semua orang mulai beranjak kembali ke kamar masing-masing.
"Iya, by? Ada apa?" Tanya Ivanna mengelus rahang tegas Carenza dengan lembut.
"Aku begitu merindukanmu!" Ucap Carenza merebahkan kepalanya di bahu Ivanna.
"Aku sudah di sini, by! Kita bisa bertemu setiap hari lagi!" Ucap Ivanna mengelus kepala Carenza.
"Aku bisa gila, kalau kamu beneran ada di sana, sayang!" Ucap Carenza tercekat.
Tes!
Ivanna merasakan sesuatu menetes dan terasa hangat di lengannya.
"Apa kamu nangis, by?" tanya Ivanna heran.
"Aku gak kuat, sayang!" ucap Carenza semakin lirih.
Ya Tuhan, Terima kasih atas kesempatan yang engkau berikan kepada ku!. Batin Ivanna.
Mereka hanya terdiam, tanpa menyadari jika Fajri telah berdiri di sana dan menyaksikan pemandangan itu.
Semoga pilihan kamu benar, sayang. Dia memang laki-laki yang pantas untukmu! Ah untuk kali ini, abang biarkan kalian saperti itu, jangan harap besok masih bisa berpelukan lagi!. Batin Fajri tersenyum.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
__ADS_1