
Diruang Tamu, wajah Azmi memerah karena emosi melihat Ivanna yang tengah di gendong oleh laki-laki. Ia hanya bisa mengepalkan tangan melihat adegan itu.
Sial! Siapa dia? Ini tidak bisa di biarkan! Bagaimanapun juga, aku harus mendapatkan Ivanna dengan cara apapun!. Batin Azmi.
Sementara Fadil dan Ibu Azmi terdiam dengan wajah masamnya. Dan, ekpresi mereka tak luput dari perhatian Irfan.
Huh, apa yang kalian inginkan sebenarnya? Harta? aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti gadis kecilku. Apalagi harus menukarnya dengan harta!. Batin Irfan.
"Hmm, apa Nona Ivanna baik-baik saja, Tuan?" Tanya Azmi.
"Baik! Fajri tidak akan membiarkan keluarganya di sakiti oleh siapapun!" ucap Irfan santai.
"Apa, Tuan percaya dengan laki-laki itu, bisa jadi...," ucap Azmi.
"Apa yang ingin anda katakan sebenarnya, anak muda?" tanya Irfan mengernyit.
"Maaf, Tuan. Saya hanya mengkhawatirkan keadaan, Nona Ivanna!" ucap Azmi menunduk.
"Hmm, tidak perlu membuang tenaga untuk itu!" ucap Irfan.
"Hmm, jadi bagaimana, Tuan Irfan? Apa kita bisa menjodohkan anak-anak kita?" tanya Fadil kembali.
Irfan terdiam, dulu mereka memang menjalin kerja sama dengan baik. Namun setelah ia pensiun semua kebusukan yang dilakukan oleh Fadil bisa terendus olehnya.
"Menjodohkan? Anak gadis saya masih kecil! Siapa saja yang datang saat ini, tidak akan saya terima pinangannya!" ucap Irfan tegas.
"Maaf, Tuan. Tapi saya memang betul-betul mencintai, nona Ivanna. Tolong rastui kami, Tuan!" ucap Azmi memohon.
"Tidak! Apa anda paham tidak perkataan saya?" ucap Irfan tegas.
Semua orang terkejut dan cukup takut melihat ekspresi dingin Irfan. Namun mereka tidak kehabisan akal untuk membujuk pria tampan itu agar bisa menyetujui perjodohan ini.
"Hmm, Tuan. Bagaimana kalau seandainya kita menjodohkan anak-anak kita, saya bisa memberikan anda saham sebanyak 20 persen di perusahaan, saya!" ucap Fadil bernegoisasi.
"Cih! Purasahaan kau bisa saya beli hari ini juga!" ucap Irfan yang sudah mulai kesal. "Kau fikir, saya akan tergiur dengan saham sekecil itu? Jika kau berikan seluruh saham yang kau punya untuk menjodohkan putriku, Saya tidak akan mau! Kau cari saja wanita di luar sana, yang mau menerima putra kau ini!" sambunganya dengan nada tegas terkesan membentak.
"Pintu keluar ada di sana!" ucap Irfan menunjuk ke arah pintu.
"Ini sebuah penghinaan! Saya pastikan anda akan menerima balasan atas semua ini!" ucap Fadil marah, berdiri sambil menunjuk Irfan.
"Saya tunggu pembalasan, anda. Bawa juga semua barang yang anda bawa, Kami tidak membutuhkannya!" ucap Irfan tegas.
"Saya pastikan anda akan menyesal, karena memperlakukan kami seperti ini!" ucap Azmi yang tak kalah garang.
"Saya tidak akan menyesal sedikitpun! Berpikirlah sebelum kalian bertindak!" ucap Irfan mewanti-wanti.
__ADS_1
Keluarga Azmi pulang dengan perasaan marah dan kecewa karena di tolak oleh Irfan secara langsung. Sementara pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu, berusaha untuk mengatur nafasnya yang terasa sedikit sesak.
Ia memilih untuk pergi ke kamar Ivanna dan melihat bagaimana keadaan gadis kecilnya. Karena ekspresi Tono yang terlihat panik, Irfan pun ikut terbawa suasana, namun ia berusaha untuk menutupinya agar keluarga Fadil tidak ikut campur lebih jauh.
πΊπΊ
Sementara di ruang kerja, Fajri membawa Tono ke sana untuk menginterogasi kekasih adiknya itu. Sebenarnya ia sangat ingin marah saat ini, namun ketika ia melihat Tono sudah mengenakan cincin pemberiannya, Fajri mengurungkan niat untuk memarahi pria tampan itu.
"Dari mana kalian?" tanya Fajri dingin.
"Saya mengajak Ivanna sepulang kerja untuk pergi ke lokasi wisata yang baru saja di buka, Tuan! Ivanna ketiduran karena perjalanan yang di tempuh memakan waktu cukup lama! Maaf, saya lancang!" ucap Tono lirih.
"Kau tau apa kesalahan yang telah kau perbuat hingga hari ini?" tanya Fajri sambil menatap Tono dengan tajam.
"Tidak, tuan!" ucap Tono lirih sambil menunduk dengan raut wajah kecewa dan Fajri menyadari itu.
"Kenapa?" tanya Fajri melunak.
"Hmm, maksud Tuan?" tanya Tono mengernyit.
"Kenapa wajahmu terlihat kecewa?" tanya Fajri.
"Hmm, apa benar, Ivanna akan di jodohkan, Tuan?" tanya Tono lirih sambil menatap cincin pemberian Ivanna.
Ia mendengar sayup-sayup, ucapan Fadil tadi ketika berjalan menuju ruang kerja.
"Apa anda menyetujuinya?" tanya Tono menatap Fajri lekat.
"Semuanya tergantung dengan Ayah! Kenapa? Apa kau akan menyerah?" tanya Fajri.
"Tentu saja tidak! Kami sudah berjanji untuk sama-sama berjuang!" ucap Tono tegas.
"Tunggu beberapa tahun lagi ya! Untuk saat ini, saya tidak mengizinkan Ivanna untuk menikah!" ucap Irfan yang kembali terngiang di telinga Tono.
"Tono!" panggil Fajri lirih.
"Iya, Tuan!" jawab Tono dengan jantung yang berdetak kencang.
"Kau tau, jika aku mengawasi pergerakan kalian! Aku sungguh kecewa karena kau tidak meminta izin terlebih dahulu kepadaku untuk menjadikan Ivanna sebagai pacarmu!" ucap Fajri lirih.
Deg....
"Ma-maaf, Tuan! Ini kesalahan saya!" ucap Tono yang begitu merasa bersalah karena mendengar nada kecewa dari Fajri.
Ia lebih takut ketika pria tampan ini berbicara lirih dan pelan dari pada ia di bentak dan di umpat dengan kata yang cukup kasar.
__ADS_1
"Bahkan sampai saat ini, Nana kecilku tidak bercerita apapun mengenai hubungan kalian!" ucap Fajri menghela nafasnya.
Apa ini, dia terlihat begitu kecewa. Aku memang tidak meminta izin terlebih dahulu untuk menjalin hubungan dengan Ivanna! Tetapi, bukankah semua ini jelas, jika aku berminat kepada adiknya?. batin Tono.
"Kau memacari adikku, berarti kau juga memacariku, Tono! 24 jam kau akan aku awasi, dengan cara apapun! apalagi ketika kalian bertemu!" ucap Fajri tegas.
"Baik, Tuan!" ucap Tono patuh.
"Cincin itu?" tanya Fajri. "Kapan Nana memberikannya?".
"Tadi sore, Tuan!" ucap Tono tersenyum tipis mengingat kejadian sore tadi bersama dengan Ivanna.
"Kalian memang sudah berpacaran, tapi bukan berarti kau dengan seenaknya memeluk adikku seperti tadi! Apa kau tidak malu berpelukan denganku?" tanya Fajri.
"Eh, maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud untuk itu. Hanya saja, Ivanna bercerita, jika belakangan ini anda terlalu sibuk dan jarang memperhatikannya secara nyata! Ia merindukan pelukan dan kecupan hangat dari anda, Tuan!" ucap Tono.
Fajri terdiam, ia memang sangat sibuk belakangan ini dan kurang memperhatikan Ivanna dalam bentuk nyata seperti yang di katakan oleh Tono tadi.
"Saya juga mengucapkan terima kasih karena anda merestui hubungan saya dengan Ivanna!" ucap Tono tercekat.
"Hmm, Apa progres kamu kedepannya?" tanya Fajri berangsur santai dan menyuruh Tono untuk duduk.
"Saya sedang merencanakan pembukaan cabang serentak pada tahun ini, Tuan!" ucap Tono.
"Hmm, bagus. Ada lagi?" tanya Fajri.
"Saya juga sudah mendapatkan 20 persen saham di restoran bintang lima, Tuan! walaupun yang 10 persennya masih abu-abu!" ucap Tono menjelaskan.
"Hmm, baguslah kalau begitu!" ucap Fajri.
Hening, dua pria tampan itu terdiam satu sama lain. Hanya helaan nafas yang keluar dari mulut keduanya.
"Jaga adikku seperti janji yang kau ucapkan tadi sore! Walaupun aku merestuimu, bukan berarti kau bisa berbuat seenaknya kepada Ivanna. Tetap jaga batas, jangan sampai kau melecehkan adikku!" ucap Fajri menatap Tono lekat.
"Baik, Tuan!" ucap Tono dengan perasaan lega.
Fajri berjalan meninggalkan Tono, tak lupa ia menepuk bahu kekar itu sup mengangguk.
"Jangan panggil aku Tuan lagi!" ucap Fajri melanjutkan langkahnya. "Dan jauhi istriku juga!."
Tono tersenyum tanpa menoleh ke arah Fajri. Satu persatu restu sudah ia dapatkan, hanya menunggu waktu dan takdir untuk menyatukannya dengan Ivanna, sang kekasih hati.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
__ADS_1
Ternyata semalam gak ke kejar Update 1 bab lagi π
Lanjut gak nih?