
Malam menjelang. Keluarga Carenza sudah tiba di kediaman Dirgantara tepat sebelum makan malam. Mereka tercengang dengan rasa yang tidak percaya, jika calon menantunya akan memiliki rumah sebesar ini.
Keluarga Hartono di sambut dengan istimewa oleh seluruh anggota keluarga Dirgantara. Mereka di sambut bak anggota kerajaan yang datang berkunjung. Ibu dengan mata yang berkaca-kaca, menatap ke arah Ivanna dan langsung memeluk gadis cantik itu.
"Syukurlah kamu selamat, nak!" Ucap Ibu.
"Iya, bu! Jangan khawatir lagi, ya!" Ucap Ivanna membalas pelukan calon mertuanya.
"Iya, nak!" Ucap Ibu merenggangkan pelukannya.
"Kita masuk, yuk! Ah, kenalkan dulu keluarga Nana, bu! Itu ayah, bunda, abang, kakak dan anak-anak!" ucap Ivanna tersenyum.
Mereka saling berkenalan satu sama lain dan segera masuk untuk makan malam bersama.
"Silahkan di makan, Ibu, bapak semuanya!" Ucap Irfan ramah.
"I-iya, Tuan. Terima kasih!" Ucap mereka bersamaan.
Ivanna makan sambil menyuap si kembar. Sementara Safira dan Fajri kembali ke kamar, karena ibu hamil itu merasakan mual dan lemas lagi.
"La, mereka siapa?" Bisik Naren.
"Lala Gak tau, Ren. Sepertinya mereka keluarganya uncle deh!" Ucap Nayla juga ikut berbisik.
"Gak boleh Bisik-bisik di depan tamu, sayang!" Tegur Ivanna.
"Maaf, Nana!" Ucap mereka berdua lirih.
"Mamam lagi, ya!" ucap Ivanna menyuapi mereka satu persatu.
Setelah makan, Irfan mengajak semua orang menuju ruang tamu untuk berbincang sedikit.
"Maaf ya, Tuan, Nyonya. Kami tidak membawa apa-apa, soalnya Eza memberitahu kami mendadak!" Ucap Ibu merasa tidak enak.
Padahal ia membawa begitu banyak kue, cemilan, bahkan sempat untuk membuat nasi tumpeng dengan bantuan dari tetangganya.
"Ah, tidak apa bu! Ini rencana Fajri dan Eza. Saya juga kaget tadi sore. Untung masih sempat memasak beberapa hidangan! Maaf ya, bu. Seadanya saja!" Ucap Fajira tersenyum kecut.
Habis kamu nanti, bang!. Batin Fajira kesal.
"Saya cukup kaget mendengar musibah yang terjadi tadi siang, Nyonya. Beruntung Ivanna tidak ada di atas pesawat itu!" Ucap Ibu kembali sendu.
"Saya juga gak tau akan seperti apa jika Ivanna beneran naik pesawat itu! Hmm, jangan panggil nyonya, Bu! panggil bunda Nana saja!" Ucap Fajira merasa tidak enak.
"Baiklah!" Ucap Ibu tersenyum.
__ADS_1
Ternyata sifat Ivanna menurun dari sini!. Batin Ibu semakin menyukai pribadi Ivanna.
Mereka terus berbincang mengenai hubungan yang terjalin di antara Carenza dan Ivanna.
Sementara di ruang keluarga, Carenza tengah menyisir rambut panjang Nayla dan Ivanna menyisir rambut Naren.
"Kalau unlce menikah dengan Nana, apa unlce akan tinggal di sini?" tanya Nayla.
"Coba tanya sama Nana, Sayang!" Ucap Carenza tersenyum.
Mereka menatap Ivanna penuh harap. Tiga pasang bola mata itu berbinar menunggu jawaban darinya.
"Iya, kita tinggal sama-sama nanti. Itu pun kalau uncle tidak membawa Nana pergi!" Ucap Ivanna.
Nayla menatap Carenza dengan lekat dan melipat kedua tangannya di dada.
"Uncle gak bole bawa Nana kemana-mana, ya!" Ucap Nayla sambil menggoyangkan jarinya ke kiri dan ke kanan.
"Uncle gak akan bawa Nana, sayang!" Ucap Carenza terkekeh sambil mengecup pipi Nayla dengan gemas.
Sementara Almira hanya tersenyum melihat sang abang bisa di terima dengan baik di keluarga terpandang ini.
"Onty, namanya siapa?" tanya Naren yang menyadari jika Almira hanya terdiam sedari tadi.
"Nama onty, Almira! Kamu tampan banget sih!" Ucap Almira gemas.
Pipi Naren merona, ia sangat mirip dengan Fajri ketika ada yang memujinya. Sementara Nayla malah cemberut, karena ia tidak ingin ada yang memuji Naren selain dirinya.
"Cantik, kok wajahnya cemberut?" Tanya Almira mengernyit.
"Onty gak boleh puji-puji Naren sembarangan! Nanti Lala marah!" Ucap Nayla mendengus kesal.
"Lala juga cantik, kok! tampan dan cantik, bukankah Nana dan uncle juga tampan dan cantik?" Tanya Almira yang bisa mengambil hati anak-anak.
"Ah, iya. Makanya Lala suka sama uncle. Kalau uncle jelek Lala gak mau, tapi kalau baik mungkin masih bisa dipertimbangkaan!" Ucap Nayla tersenyum menatap Carenza.
"Uuh, paling bisa ya!" Ucap Carenza menggelitik perut Nayla dan Naren bergantian.
Gelak tawa mereka menggema di ruangan itu hingga terdengar sampai ke ruang tamu dimana dua keluarga tengah beradu argumen mengenai hubungan serius antar anak-anak mereka.
"Bukankah jika di biarkan takutnya anak-anak kita tidak bisa menahan diri, Pak Irfan. Saya takut, anak saya melakukan sesuatu yang tidak di inginkan kepada Putri anda!" Ucap Ayah Tono.
"Ya, saya tau dan paham dengan keresahan anda, Pak. Tetapi saya lebih mengenal bagaimana sifat Ivanna. Saya melihat, belum ada kesiapan dalam diri Ivanna. Bukan saya tidak merestui, hanya belum waktunya!" Ucap Irfan tegas.
"Huft, Kami pun tidak masalah, kapan mereka akan menikah atau dengan siapa mereka menikah, tetapi saya hanya takut, jika Eza menodai Ivanna, karena ia terlihat begitu menginginkan putri anda. Besar harapan saya, agar anda bisa memberi izin untuk mereka menikah!" Ucap Ayah Tono yang tak kalah tegas.
__ADS_1
Irfan termenung, membenarkan perkataan Hartono. Itu adalah hal yang paling ia takutkan, melihat kontak fisik yang semakin dekat terjadi antara Ivanna dan Carenza
Ia menatap Fajira lekat, meminta jawaban. Bidadari cantik itu tersenyum dan mengangguk. Mereka merasakan ketakutan yang sama, walaupun mereka percaya, Ivanna dan Carenza tidak akan berbuat hal seperti itu.
"Baiklah. Mungkin minggu depan Ibu dan bapak bisa datang lagi ke sini untuk melamar putri saya!" Ucap Irfan tersenyum.
"Ah, syukurlah. Kami hanya memikirkan hal itu, Tuan. Mengingat Eza adalah pria dewasa saya sangat takut dengan hal ini!" Ucap Ibu menghela nafasnya lega.
"Semoga mereka memang berjodoh! Saya menyukai sifat Eza yang bisa menempatkan sikapnya dalam situasi yang berbeda. Menghargai perempuan dan yang pasti terlihat ketulusan yang memancar dari matanya!" Ucap Fajira tersenyum.
"Syukurlah, bunda Nana. Walaupun kami selalu adu mulut, Eza anak yang tidak pernah ingin menang dari saya! Semoga, ketika Eza menjadi menantu di keluarga ini, dia tidak membuat malu dan bisa menjaga nama baik keluarga!" Ucap Ibu tersenyum.
"Iya, saya yakin, Eza adalah laki-laki yang bisa mempergunakan akal dan fikirannya dengan baik!" Ucap Fajira tersenyum
"Terima kasih, karena anak saya bisa di Terima dengan baik di keluarga ini! Sungguh kami hanya keluarga kecil, yang merasa tidak pantas untuk bersanding dengan keluarga Anda!" Ucap Ibu menangis.
"Jangan seperti itu, bu! Saya juga bukan orang kaya! Hanya takdir yang bisa membuat hidup saya seperti ini!" Ucap Fajira memandang Irfan penuh cinta.
"Hiks, Jika anak saya melakukan kesalahan, jangan marahi dia, bu! pulangkan saja kepada saya! Eza memiliki hati yang begitu lembut dan mudah menangis jika di bentak!" Ucap Ibu menangis sesegukan.
Ayah Hartono hanya bisa menepuk jidatnya melihat kelakuan sangat istri. Ia merasa tidak enak kepada keluarga Ivanna karena hal ini.
"Bunda dan ayah Ivanna bisa lihat, dari mana sifatnya Eza datang! Harap di maklumi!" Ucap Ayah Tono yang tidak sanggup lagi menahan malu.
Plak!
"Sakit, bu!" Ringis Ayah Tono ketika mendapatkan pukulan dari sang istri.
"Ngomong sembarangan!" Ucap Ibu bengis mencubit paha suaminya.
Sementara Fajira dan Irfan hanya tersenyum menatap calon besannya kali ini. Mereka terlihat lucu dan mengundang tawa orang di sekitarnya.
Tanpa mereka sadari, Ivanna dan Carenza sudah mengintip di balik dinding sambil menguping pembicaraan para orang tua.
Ivanna berusaha menahan tawa ketika melihat wajah Carenza yang sudah masam karena mendengarkankan ucapan orang tuanya.
Namun tak lama, senyum yang begitu manis menghiasi wajah tampannya sambil menatap Ivanna.
"Sebentar lagi, Kita akan menikah! Ayah sudah memberikan izinnya, sayang! Ah, aku mencintaimu!" Ucap Carenza memeluk Ivanna dengan erat.
Mereka saling berpelukan sebentar sebelum ada yang menyadari. Setelah itu, Ivanna segera mengajak Carenza kembali ke ruang keluarga untuk bermain bersama bocil kembar.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE.
__ADS_1
Izin Ayah turun gais! Nikahan kita lagi? wkwkwk