
Malam semakin larut, acara pertunangan Ivanna dan Carenza pun selesai. Semua orang sudah pamit undur diri setelah mengucapkan selamat kepada mereka.
Ivanna dan Carenza masih terus mengobrol diruang tamu tanpa kenal lelah, sementara yang lain sudah beristirahat ke kamar masing-masing, kecuali Fajri.
Ia harus menjadi satpam untuk mengawasi adik dan calon iparnya. Wajah lelah dan masam Fajri bercampur menjadi satu. Apa lagi ketika Ivanna dan Carenza terlihat begitu sengaja membuatnya kesal dengan kemesraan mereka.
Cih, kalau bukan karena sayang udah kutendang mereka!. Batin Fajri mendelik.
"Baby, kamu gak pulang? Atau mau tidur di sini?" Tanya Ivanna yang lelah tertawa.
Ia bersandar di lengan Fajri dan memeluk pria tampan itu.
"Aku tidur di kamar kamu, boleh?" Ucap Carenza terkekeh.
"Ngomong apa, Lo?" Ucap Fajri melotot.
"Hahaha, sabar Eza. Satu bulan lagi, bisa terbebas dari macan tutul ini!" Ucap Carenza berbicara kepada dirinya sendiri.
"Syalan, lo!" Ucap Fajri melempar Carenza menggunakan bantal sofa.
"Hahaha, Besok kalau udah nikah, gua akan cari kamera pengawas tersembunyi di dalam ruang kerja Ivanna biar Lo gak ngawasin kita lagi! Mencari semua pengawal bayangan Ivanna, yang selalu mengadu hal yang tidak-tidak!" Ucap Carenza merasa senang.
"Cih, mereka gak akan bisa lo temukan ! Udah sana pulang!" Uca Fajri mengusir.
"Ck, gua mau tidur di sini aja!" Ucap Carenza terkekeh dan terpana melihat Ivanna yang sudah terlelap di dalam pelukan Fajri.
"Udah, sana, Lo! Biar Nana, gua yang urus!" ucap Fajri ketus.
"Astaga! Punya abang ipar gini amat!" Ucap Carenza mendelik dan segera pergi menuju kamarnya.
Sementara Fajri menggendong Ivanna menuju kamar gadis cantik itu dengan hati-hati, agar tidak membangunkannya.
Fajri tersenyum menatap wajah cantik Ivanna. Ketika sampai di dalam kamar, ia segera membaringkan Ivanna di atas ranjang dan menyelimutinya.
Memandang wajah cantik itu dan mengecup lembut kening adik kecilnya. Dari dulu, tidak ada satupun yang berubah di antara mereka. Tiba-tiba saja Ivanna mengerjab dan menatap Fajri, ia tersenyum ketika melihat sang Abang tengah duduk di dekatnya
"Peluk, bang!" Ucap Ivanna merentangkan tangan.
"Ah, baiklah tuan putri!" Ucap Fajri berbaring disamping Ivanna dan memeluk adik sematawayangnya itu.
"Hmm, Dede sayang, abang!" Ucap Ivanna sebelum kembali terlelap.
"Abang lebih sayang, Dede!" Ucap Fajri tercekat.
Ia terus mengelus kepala Ivanna dengan lembut hingga gadis itu benar-benar terlelap, barulah Fajri pindah ke kamarnya setelah mengunci pintu dari luar, mewanti-wanti agar tidak ada musang jantan yang menyabotase miliknya.
Ia segera beristirahat di kamar sambil memeluk sang bidadari yang tengah hamil saat ini.
Sementara itu, di kamar tamu, Carenza belum terlelap, ia memandang foto mesranya bersama Ivanna ketika lamaran tadi. Wajah tampan itu merona mengingat kedua orang tua mereka hanya menganggukkan kepala ketika ia dan Ivanna mengemukakan pendapat.
"Iya, Ayah setuju. Tapi ayah berpesan, jangan menyicil malam pertama kalian, atau kamu akan kecewa kepada kalian!" Ucap Irfan tegas.
"Ah, aku sungguh tidak sabar untuk mempersuntingmu, sayang! Terima kasih karena telah memilihku!" Ucap Carenza tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.
"Minggu depan saatnya menunjukkan kepada dunia, bahwa aku memang pantas untuk bersanding dengan Ivanna!" Ucap Carenza tersenyum dan memejamkan matanya.
__ADS_1
Ia terlelap dengan perasaan yang begitu bahagia dan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Memeluk bantal guling dan mengecupnya sambil membayangkan jika ia tengah memeluk Ivanna saat ini.
πΊπΊ
Pagi menjelang, kegaduhan terjadi dirumah Dirgantara. Ivanna menggedor-gedor pintu karena terkunci di dalam kamar.
Gadis itu bangun terlambat dari biasanya, sedangkan Fajri mendadak berangkat ke luar kota pagi ini tanpa meninggalkan kunci kamar Ivanna. Dan sialnya, Fajri juga memperbaharui kode pin pada pintu itu semalam.
"Bunda, Ayah! Tolong!" teriak Ivanna sambil memukul pintu.
Untuk memperbaharui kode pin, dibutuhkan sidik jadi milik Fajri atau menggunakan kartu, sementara ia tidak memiliki satupun alat yang bisa digunakan.
"Sayang?" Panggil Carenza.
"Ih, tolong keluarkan aku, By! Dasar abang lucnut!" teriak Ivanna frustasi dan kelaparan.
Bahkan ia tidak bisa berfikir jernih dan melupakan jika ia bisa meretas pintu itu dengan mudah.
"Apa kamu mau loncat lewat jendela, sayang?" Tanya Carenza.
"Ah, jendela ku langsung menghadap kolam berenang yang dangkal, by!" Ucap Ivanna.
"Apa kamu tidak bisa meretasnya?" tanya Carenza.
"Eh?, Astaga aku Lupa!" Ucap Ivanna.
Ia langsung mengambil ponselnya dan meretas kunci pintu itu dengan mudah.
Ceklek!
Pintu terbuka, Ivanna melihat Carenza berdiri sambi menahan tawa, karena melihat betapa Ivanna tidak bisa menggunakan kemampuannya di kala panik.
"Eh, gak sayang! Kamu cantik banget!" Ucap Carenza gelagapan.
"Alasan! Aku mau ke bawah dulu!" ucap Ivanna cemberut sambil meninggalkan Carenza.
Ia berjalan menuju ruang makan untuk sarapan siang, karena waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Carenza yang masih terkekeh mengikuti kemana Ivanna pergi.
"Gimana cara dede keluar, sayang?" Tanya Fajira mengernyit. Ia baru saja memanggil tukang untuk membuka pintu itu.
"Dede retas, Bunda! sekarang deden lapar!" Rengek Ivanna menarik Fajira menuju dapur.
"Tuh calon suami kamu ada!" Ucap Fajira menunjuk Carenza.
"Apa bunda gak mau masakin dede?" Tanya Ivanna cemberut. "Ayo, by! Aku sudah kelaparan, sebentar lagi aku bisa mati kalau gak makan!" sambungnya sambil menarik tangan Carenza.
"Aih, anak muda! Ingat, ini di rumah! kalian baru bertunangan, belum menikah!" Ucap Fajira menggeleng.
"Iya ibunda ratu!" Teriak Ivanna dari ruang makan sambi terkekeh.
Fajira menggeleng, ia ingin melihat keadaan Safira terlebih dahulu, karena ibu hamil itu kembali ngidam semenjak Fajri pergi, padahal kandungannya sudah berusia 18 minggu.
Di ruang makan, Ivanna melihat begitu banyak jenis sarapan yang sudah terhidang di atas meja. Matanya berbinar ketika melihat sandwich yang masih terasa hangat.
"Kamu sudah makan, by?" Tanya Ivanna.
__ADS_1
Hap!
Ia menggigit sandwich itu dan mengunyahnya. Ivanna mengernyit rasanya tidak sama seperti buatan Fajira.
"Aku sudah makan, sayang. Itu aku yang masak! Beda yaa rasanya?" Tanya Carenza tersenyum.
"Iya, rasanya beda! Kamu kasih apa, sayang?" tanya Ivanna.
"Kasih cinta, hahaha!" Ucap Carenza terkekeh.
"Ih, Sore nanti aku ada perlu, By!" ucap Ivanna.
"Kemana, sayang?" tanya Carenza.
"Jadi, pihak keluarga pilot pesawat menuntutku atas kematian anaknya. Jadi, aku di panggil untuk di mintai keterangan!" Ucap Ivanna kembali memakan sarapannya.
Deg!
Carenza terkejut, ia menatap Ivanna dengan lekat. Wajahnya berubah khawatir seketika.
"Jangan khawatir, aku sudah mengumpulkan semua buktinya!" Ucap Ivanna tersenyum dan mengelus rahang Carenza dengan lembut.
"Kamu yakin, sayang?" Tanya Carenza semakin khawatir.
"Yakin. Nanti temani aku, ya!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Iya, sayang!" Ucap Carenza mengelus kepala Ivanna dengan lembut.
πΊπΊ
Sore menjelang, mereka harus pergi menuju Polda untuk memenuhi panggilan kali ini. Ivanna berjalan santai bersama dengan Joe dan Carenza masuk ke dalam gedung itu.
Ketika ia mulai menapaki tangga, para wartawan sudah mengerubunginya dengan tenang, sesuai dengan aturan Ivanna jika ingin ia berbicara ketika di wawancarai seperti itu.
"Maaf, Nona. Kami meminta waktunya sebentar. Bagaimana tanggapan anda mengenai laporan ini?" tanya salah satu wartawan.
"Saya tidak masalah jika mereka melaporkan saya, karena itu adalah pesawat pribadi. Namun saya tidak akan tinggal diam, karena semua bukti sudah saya persiapkan! Dan saya bisa memastikan, jika masalah ini bisa selesai dengan cepat!" Ucapl Ivanna tenang.
"Bagaimana dengan santunan yang anda berikan untuk keluarga korban?" Tanya mereka lagi.
"Saya sudah memberikan santunan untuk semua kru pesawat yang ada. Termasuk perawatan intensif, untuk pemulihan baik mental maupun psikis. Selain itu, kami juga menanggung biaya sekolah hingga kuliah untuk anak pilor dan teknisi, namun jika seperti ini mungkin kami akan memikirkannya kembali!" Ucap Ivanna.
"Lal bagaimana dengan isu pernikahan anda?" Tanya wartawan.
"Ah, itu tidak termasuk ke dalam topik pembicaraan! Tetapi dalam waktu dekat, kami akan mengumumkannya! Permisi" Ucap Ivanna berjalan sambil menggandeng tangan Carenza.
"Terima kasih, Nona!" Ucap mereka tanpa menyadari kehadiran Carenza di sana karena pria tampan itu memakai atribut yang cukup baik, topi, kaca mata, dan masker.
Ivanna masuk dan menjalani pemeriksaan kurang lebih selama 4 jam untuk menjawab semua pertanyaan dari para pihak penyidik.
Ia hanya menjawab apa adanya tanpa merasa terintimidasi dengan pertanyaan itu, bahkan sebaliknya, para petugas yang merasa tertekan dengan tatapan mata tajam Ivanna.
Setelah selesai, Ivanna terlelap di dalam dekapan Carenza sambil menunggu Fajri datang untuk melengkapi semua berkas yang akan membebaskan Ivanna nanti.
Mereka segera pulang dan beristirahat, karena hari esok akan begitu mencengangkan baik untuk Carenza ataupun untuk Ivanna sendiri.
__ADS_1
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE