
Ivanna memaksa Tono untuk ikut mengendarai motornya. Dengan pasrah pria tampan itu mengikuti keinginan dari gadis yang ia cintai ini. Sementara Ivanna, wajah dinginnya terpampang jelas, karena bertemu dengan sekretaris Carenza's Farm dan membuatnya sangat kesal.
Tono tersenyum tipis melihat kelakuan Ivanna. Bukannya takut, ia menjadi gemas melihat wajah cantik yang tengah diselimuti rasa cemburu itu.
Ia memilih untuk mampir di kedai es krim, agar bisa mengembalikan mood Ivanna yang sudah berantakan.
"Kita mampir dulu, yuk!" ucap Tono ketika motor berhenti di parkiran depan kedai itu.
"Gak mau!" ketus Ivanna.
"Ayo lah, Na. Kamu pasti lagi bad mood, kamu juga lagi banyak kerjaan! Pasti stres berat. Gak ada salahnya 'kan?" ucap Tono tersenyum.
"Di rumah saja! Aku baru membeli berbagai macam rasa es krim!" ucap Ivanna masih ketus.
"Baiklah! Pegangan yang kuat!" Ucap Tono melajukan motor itu.
Ivanna hanya berani menggenggam kemeja Tono dari belakang, dengan satu tangan yang berada di punggung. Mewanti-wanti agar tidak terjadi sesuatu yang diinginkan.
Perlahan, motor berhenti di halaman rumah Dirgantara. Ivanna segera turun dari motor dengan ekspresi dinginnya. Sambil menunggu Tono Ia mendapatkan panggilan tentang pekerjaan yang harus segera ia lakukan.
"Yuk, masuk!" ucap Ivanna melihat ponselnya.
Tono tersenyum tipis, ia segera menggandeng tangan Ivanna dan menuntunnya agar tidak membentur sesuatu.
Ivanna hanya menurut, mereka segera masuk ke dalam rumah dan langsung di kejutan dengan suara Fajri yang terdengar horor. Mereka langsung melepaskan genggaman tangan itu dan mencari aman dari amukan Fajri.
"Dari mana kalian?" tanya Fajri.
"Da-dari resto, bang. Kita gak kemana-mana kok!" ucap Ivanna gugup.
"Ngapain pegangan tangan seperti itu?" tanya Fajri dingin.
"I-itu,..."
"Maaf, Tuan. Saya hanya memastikan jika Ivanna berjalan dengan baik, dan tidak membentur sesuatu!" ucap Tono tersenyum smirk.
"Dek, masuk kedalam!" ucap Fajri.
Ivanna langsung meninggalkan Tono yang masih tersenyum menatap kearahnya. Walaupun tidak rela, namun apalah daya, ia begitu takut jika Fajri sudah marah.
Semoga kamu baik-baik saja, Tono! dan Abang gak gila kali ini!. Batin Ivanna takut.
Sementara Tono mengangguk, memastikan jika ia akan baik-baik saja.
"Kamu, baru tadi saya berbicara tentang sikapmu, sekarang kamu sudah berani memegang adikku!" ucap Fajri dingin.
"Hehe, Tuan Fajri. Apa kabar? apa Safira sudah hamil lagi? apa dia,..." ucap Tono yang sudah berani kepada Fajri.
"Tutup mulutmu!" sarkas Fajri.
"Hehe, Maaf, Tuan! jangan marah-marah, nanti anda terlihat cepat tua, sementara Safira masih terlihat sangat muda, hehe!" ucap Tono menggaruk tengkuknya.
Sialan!.
__ADS_1
Fajri menatap Tono dengan tajam. Pria ini sangat berani menentangnya. Jika bukan karena Ivanna, mungkin ia sudah menghabisi Tono hingga mampus.
"Eh, Tono?" Sapa Bunda yang datang dari kamarnya karena mendengar suara ribut-ribut di luar.
"Bunda? Apa kabar, Bunda? sudah lama ya kita gak ketemu!" ucap Tono menghampiri Fajira dan menyalami perempuan cantik itu.
"Bunda, baik. Tono apa kabar? Restonya udah berkembang?" tanya Fajira mengusap kepala Tono dengan lembut.
"Sudah, Bunda. Walaupun masih belum begitu berkembang!" ucap Tono tersenyum.
"Syukuri saja ya, Nak. Duh, Bunda jadi kangen masak bareng kamu lagi!" ucap Fajira tersenyum.
"Hmm, gimana kalau kita masak, Bunda?" tanya Tono.
"Hekm,..." Deham Fajri yang merasa tidak di acuhkan.
"Minum dulu, sayang!" ucap Fajira mengernyit.
"Abang gak haus, bunda. Itu tamunya gak di suruh duduk dulu, Bun?" ucap Fajri tersenyum menahan kesalnya.
"Ah iya. Bunda sudah masak tadi, nak. Kamu ngobrol saja sama Fajri ya!" ucap Fajira tersenyum.
"Iya, Bunda. Ini ada ayam bakar Jumbo!" ucap Tono menyerahkan bingkisan yang ia bawa.
"Wah, terima kasih, Tono. Ya sudah, sana ikut sama, Fajri!" ucap Fajira tersenyum.
"Iya, Bunda," ucap Tono.
"Bang, jangan di ajak berantem ya, Tono nya!" ucap Fajira.
Fajira berlalu dari sana, Fajri mengajak Tono untuk pergi ke ruang keluarga dan mengajak pria tampan itu bermain play station.
"Bisa main?" tanya Fajri.
"Bisa, dong!" ucap Tono tanpa rasa takut.
Ia yakin, Fajri bersikap kasar dan tegas, hanya untuk melindungi Ivanna dari laki-laki yang tidak bertanggung jawab.
Mereka bermain tanpa kenal waktu, bahkan Tono melupakan tujuan awalnya datang kesini. Hingga Nayla dan Naren datang dan mengganggu acara bermain mereka.
πΊπΊ
"Ayah, ini bagaimana?" tanya Ivanna sambil menyerahkan berkas yang cukup sulit untuk ia pahami.
"Coba sini, Ayah lihat, sayang!" ucap Irfan.
Ia membaca berkas itu dan mencoret beberapa bagian yang sekiranya tidak sesuai dengan seharusnya. Dan meninggalkan catatan agar Ivanna bisa mempelajarinya.
"Ada lagi, sayang?" Tanya Irfan setelah memeriksa berkas tadi.
"Sudah, Ayah!" ucap Ivanna merasa lega.
Saat ini, mereka ada di dalam kamar. Ivanna sudah mandi dan langsung menemui Irfan, kerena beberapa proposalnya mengalami kesalahan.
__ADS_1
Ia tengah duduk di lantai yang beralaskan karpet bulu, sambil bersandar pada kasur.
"Apa ini terlalu berat, sayang?" tanya Irfan tersenyum.
"Hmm? Dede hanya kepikiran, bagaimana selama ini Ayah bekerja," ucap Ivanna lirih.
"Biasa saja, sayang. Karena dari dulu Ayah memang suka bekerja. Untuk keluarga kita dan untuk orang lain!" ucap Irfan tersenyum sambil mengelus kepala Ivanna dengan lembut.
"Baru satu minggu, Dede udah merasa capek, Yah. Apalagi Ayah yang udah bekerja puluhan tahun," ucap Ivanna lirih.
"Hidup itu harus di jalani, sayang. Gak boleh mengeluh, karena itu hanya untuk orang-orang yang lemah! Kita harus semangat menjadi manusia yang lebih baik lagi! Tunjukkan pada dunia, jika Dede adalah perempuan yang kuat dan hebat!" ucap Irfan tersenyum.
Ivanna naik ka atas kasur dan berbaring memeluk Irfan dengan erat.
"Apa Ayah membaca komentar media sosial, Dede?" tanya Ivanna lirih.
"Iya, sayang. Ayah selalu memantau bagaimana anak ayah ini di luar! Bahkan banyak yang mengirimkan pesan kepada ayah untuk melamar kamu!" Ucap Irfan terkekeh.
"Ayah jangan sampai kepikiran kalau ada ada yang komentar negatif tentang, Dede!" ucap Ivanna.
"Iya, sayang. Karena Ayah tau, gadis kecil Ayah ini, sangat kuat! Tapi jangan memendamnya sendiri, sayang. Dede bisa cerita, Ayah siap mendengarkannya!" ucap Irfan tersenyum dan memeluk Ivanna dengan gemas.
"Hmm,..." Ivanna memejamkan matanya merasakan betapa hangat pelukan sang Ayah yang selalu ia inginkan.
"Ayah cepat sembuh ya. Nanti Dede akan bawa Ayah keliling pake motor!" ucap Ivanna tersenyum.
"Iya, sayang! Jantung aja sudah stabil, Hanya saja belum bisa beraktifitas kembali," ucap Irfan.
"Dede sayang, Ayah!" ucap Ivanna dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ayah lebih sayang, Dede!" Ucap Irfan.
Hening, pelukan itu cukup untuk menyalurkan kehangatan dan cinta di antara mereka. Hingga Fajira datang memanggil untuk makan malam.
Ivanna tersentak ketika mengingat jika ia pulang bersama Tono. Ia bergegas keluar untuk menemui pria tampan itu yang sudah bermain dengan abang dan keponakannya.
Terlihat tono tengah memangku Nayla sambil bermain play station di ruang keluarga. Sementara Naren duduk di pangkuan Fajri. Mereka berteriak untuk mendukung dua pria tampan itu yang tengah balapan motor.
"Ayo, Ayah! kalahkan, Om Tono!" ucap Naren bertepuk tangan.
"Om, jangan mau kalah dong. Nanti Lala gak mau bantuin Om biar dekat sama, Nana!" ucap Nayla sukses membuat Ivanna melotot.
"Ngapain sih, heboh banget!" ucap Ivanna duduk di atas sofa.
"Eh, Na. udah selesai kerjanya?" tanya Tono tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.
"Sudah!" ucap Ivanna memperhatikan interaksi keluarganya dengan Tono.
Apa Abang sudah mencari tahu tentang mereka? Bahkan Bryan saja, hanya abang bawa duduk di kolam belakang, sementara Tono, dia sudah duduk di sini, di ruang keluarga. Tuhan, apa yang harus aku lakukan?. Batin Ivanna.
Mereka segera bubar, ketika Fajira memanggil untuk makan malam. Perlakuan hangat dari keluarganya membuat Ivanna sedikit mendapatkan angin segar, tentang hubungannya dengan Tono setelah ini.
Makan malam berlangsung dengan sedikit riuh ketika Naren dan Nayla berebut untuk minta di suapi oleh Tono. Sementara yang lain hanya bisa menatap mereka yang sudah tidak bisa di cegah dengan cara apapun.
__ADS_1
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE