
Kegaduhan terjadi di bawah bahkan terdengar hingga ke kamar Ivanna. Mereka terkejut mendengar teriakan Fajira yang memanggil nama Carenza.
"Za, cepatlah lihat!" Pekik Ibu.
Carenza segera berlari keluar kamar dan melihat Safira tengah kesakitan sambil memegang perutnya. Ia langsung berlari menuruni anak tangga satu persatu.
"Kakak kenapa, Bunda?" Tanya Carenza panik.
"Sepertinya kakakmu mau melahirkan!" Ucap Fajira panik sambil menghubungi Fajri.
"Melahirkan?" Pekik Carenza.
Ia segera menuntun Safira menuju pintu utama agar bisa menaiki mobil dan pergi ke rumah sakit.
"Sshh, sakit, Za! Aku gak kuat untuk berjalan!" Ucap Safira merasa begitu lemas.
"Bunda apa mobilnya boleh di masukin kedalam?" Tanya Carenza.
"Cobalah, kalau bisa suruh masuk aja!" Ucap Fajira yang seolah kehilangan akal sehat karena panik.
Carenza berlari keluar dan berteriak agar pak sakti bisa memasukkan mobil. Sementara ia tengah membuka pintu utama yang berukuran cukup besar itu Tak lupa ia juga mendorong semua barang yang menghalangi.
"Muat, Tuan!" ucap Pak sakti semakin memundurkan mobil hingga tepat berada di hadapan Safira.
"Pak, cepat bantu saya!" Ucap Carenza memapah Safira.
"Sshh, sakit, Za!" ucap Safira lirih sambil meringis tidak tertahankan.
"Sabar, Kak. Kita kerumah sakit sekarang!" Ucap Carenza yang juga ikut panik.
Mereka segera manaiki mobil dan bergegas untuk pergi ke rumah sakit. Fajira sedikit lebih tenang ketika Fajri sudah bisa dihubungi dan menunggu di rumah sakit begitu juga dengan orang tua Safira.
Carenza mengeluarkan peluh dingin ketika melihat Safira kesakitan, dan itu juga mengingatkannya kepada Ivanna yang hampir saja keguguran beberapa waktu lalu.
"Lebih cepat, Pak!" Pekik Carenza panik.
Pak Sakti membawa mobil dengan cukup kencang sambil membunyikan klakson mobil agar semua orang bisa menepi.
Ciit!
Bunyi rem mobil yang ketika sampai di loby rumah sakit. Semua orang sudah menunggu di sana termasuk Fajri. Ia terlihat begitu pucat dengan keringat dingin yang mulai membasahinya.
Ia menyambut Safira untuk keluar dari mobil. Ia menggedongnya dengan bantuan Carenza dan Andika untuk membaringkan Safira di atas brangkar.
Ruang operasi persalinan sudah di sediakan, karena Safira tidak bisa melahirkan secara normal.
"Sakit, Mas!" Ucap Safira meringis kesakitan sambil menggenggam tangan Fajri.
"Iya sayang! Sabar ya. sebentar lagi anak kita akan lahir. Aku di sini!" Ucap Fajri tercekat.
Safira didorong masuk ke ruang operasi dan segera melakukan pemeriksaan terhadap ibu dan anak itu. Sementara Fajri meminta pakaian khusus untuk ia kenakan agar bisa menemani proses operasi Safira.
Sementara di luar, Carenza terlalu dengan apa yang baru saja ia lihat. Air matanya menggenang karena mengingat Ivanna juga akan berada di posisi ini beberapa bulan lagi.
Aku bisa gila jika melihat Ivanna kesakitan seperti itu!. Batin Carenza takut.
"Za?" Panggil Fajira yang melihat tubuh Carenza mulai gemetaran dan pucat.
__ADS_1
"Iya, Bunda?" Jawab Carenza dengan air mata yang siap menetes.
Ia memang memiliki hati yang begitu lembut. Sehingga ia seolah bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain di sekitarnya.
"Pulanglah, Nak. Temani Ivanna, biar Bunda di sini yang menamai kakak!" Ucap Fajira lembut.
"Iya, Bunda!" Ucap Carenza lirih.
Pak Sakti memapah Carenza yang mulai lemas, hingga menuju mobil. Mereka segera kembali pulang dengan hati-hati.
"Menepi sebentar pak!" Ucap Carenza yang kembali merasakan mual.
"Baik, Tuan!" Ucap Pak Sakti yang segera menepikan mobil.
Hoek, hoek, hoek!
Carenza kembali mengeluarkan isi perutnya. Tubuhnya semakin lemas tidak berdaya, sehingga Pak Sakti sedikit kesulitan untuk membantu Carenza agar bisa masuk kedalam mobil.
"capat pulang, Pak! Saya butuh Ivanna!" Ucap Carenza lirih.
"Baik, Tuan!" Ucap Pak Sakti yang tidak tega melihat Carenza yang begitu lemas.
Ia harus diacungi jempol dalam masalah mengemudi. Karena dalam segara jenis jalan dan padatnya kendaraan, ia bisa membawanya itu dengan sangat lihai.
Tak sampai seputuh menit, Mobil berhenti di depan pintu. Pak Sakti dibantu oleh berapa orang segera memapah Carenza menuju kamarnya.
"Nona, Nyonya muda Safira dilarikan ke rumah sakit dan hendak melahirkan. Jadi, Tuan Carenza membantunya untuk pergi kesana. Namun diperjalanan pulang, Tuan kembali mual, Nona!" Ucap Pak Sakti menerangkan
Betapa terkejutnya Ivanna mendengar kabar itu. Ia menatap Carenza dengan begitu khawatir karena pria tampannya sudah terlihat sangat tidak berdaya.
"Kamu tunggu di sini, biar Ibu ambilkan air dan obatnya!" Ucap Ibu berusaha untuk tenang.
Ivanna menatap suaminya dengan mata yaang berkaca-kaca. Ia mengelus lembut wajah Carenza yang terlihat begitu pucat.
"By,? Baby?" Panggil Ivanna lembut.
"Hiks, Sayang. Jangan sakit!" Ucap Carenza lirih dengan mata yang tertutup.
"Aku di sini, Baby!" Ucap Ivanna.
Ia mendekatkan wajahnya dan melumaat bibir Carenza dengan lembut. Karena seingatnya, pria tampan itu bisa terlihat baik-baik saja ketika mendapatkan ciuman darinya.
Aku tidak tau apakah ini akal-akalanmu atau memenag benar, yang jelas aku tidak ingin kamu kenapa-napa!. Batin Ivanna begitu khawatir.
Ibu terkejut melihat Ivanna yang mau mencium sang putra dengan bau muntah yang begitu menyengat. Ia membiarkan sebentar sambil tersenyum malu.
"Baby, bangun! Aku di sini, sayang!" Ucap Ivanna mengelus pipi Carenza dengan lembut.
Perlahan mata Carenza terbuka dan langsung menangis. Ia memeluk Ivanna dengan begitu erat dan badan yang bergetar karena rasa takut yang melandanya.
"Gak papa, By. Aku di sini!" Ucap Ivanna menenangkan Carenza yang masih terisak.
Ibu membantu untuk membuka baju Carenza karena terkena muntah, dan Ivanna membersihkan tubuh indah itu dengan kain basah.
"Tenanglah, By! aku ada di sini!" Ucap Ivanna memeluk Carenza setelah memakai bajunya kembali.
"Ibu, aku ingin menelfon, Bunda!" Ucap Ivanna.
__ADS_1
"Sebentar, Nak!" Ucap Ibu mengambil ponsselnya dan segera menghubungi Fajira.
"Halo, Bu?" Sapa Fajira di balik telefon dengan nada khawatir.
"Bagaimana keadaan Safira, Bun?" Tanya Ibu sambil menghidupkan loudspeaker ponselnya.
"Sekarang mereka masih di dalam, Bu. Bantu do'anya ya bu, Agar mereka bisa selamat!" Ucap Fajira.
"Iya, Bu! Kami bantu do'anya dari sini," Ucap Ibu berkaca-kaca.
"Bunda? Ayah sudah tau?" Tanya Ivanna.
"Sudah, Sayang. Tapi Ayah mau jemput anak-anak dulu. Kamu baik-baik di rumah ya!" Ucap Fajira lembut.
"Iya, Bunda. Beri dede kabar terus, ya!" Ucap Ivanna khawatir.
"Iya, sayang. Eza tadi gimana? Badannya gemetaran bunda lihat, sayang!" Tanya Fajira khawatir.
"Mas Eza sudah tertidur, Bunda. sekarang udah gak papa!" Ucap Ivanna.
"Ya sudah, kamu juga istirahat ya, Sayang!" Ucap Fajira.
"Iya, Bunda! Dede tutup dulu," Ucap Ivanna dan mematikan panggilan setelah mendengar jawaban dari Fajira.
"Istirahatlah, nak! Biar Ibu yang menjaga kalian di sini. Ingat kamu lagi hamil, jangan sampai kepikiran. Berdo'a saja semoga kakak dan anaknya bisa selamat!" Ucap Ibu lembut sambil mengelus kepala Ivanna.
"Iya, Bu!" Ucap Ivanna lirih dan mulai memejamkan matanya.
πΊπΊ
Di rumah sakit, Fajira, Hersy dan Andika begitu khawatir menunggu kabar dari anak dan cucu mereka. Lampu merah masih menyala, operasi Safira baru saja di mulai.
"Bukankah, perkiraan dokter Safira melahirkan 2 minggu lagi, Ji?" Tanya Hersy.
"Iya, Her. Saya juga terkejut ketika mendengar Safira memekik kesakitan sambil memegang perutnya!" Ucap Fajira lirih
"Astaga. Semoga mereka baik-baik saja!" Ucap Hersy dengan mata yang berkaca-kaca.
Hampir setengah jam mereka menunggu di depan pintu operasi. Sambil mengucapkan berbagai macam doa meminta keselamatan untuk Safira dan cucu mereka.
Ceklek!
Pintu terbuka, Fajri keluar dengan wajah yang begitu bahagia. Walau tidak di pungkiri jika ia terlihat pucat dan khawatir.
"Bang, gimana keadaan anak dan istrimu?" Tanya Fajira tidak sabar.
"Mereka selamat, Bunda. Anakku laki-laki!" Ucap Fajri tersenyum.
"Ah, syukurlah!" Ucap mereka bernafas lega.
Fajri berjalan menuju kursi tunggu. Belum lagi ia melangkah, tubuhnya ambruk tidak sadarkan diri. Beruntung Andika lebih dulu menangkap Fajri, sehingga ia tidak menghantam lantai.
"Fajri?" Pekik mereka.
Fajira hanya menggeleng, baik anak maupun suaminya memiliki sifat yang sama. Sama-sama pingsan setelah menemani istri melahirkan.
Ia segera di bawa ke ruangan rawat Safira untuk beristirahat terlebih dahulu. Sejenak rasa khawatir dan takut luruh seketika mendengarkan penjelasan dokter yang mengatakan Safira dan anaknyaa baik-baik saja.
__ADS_1
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE