IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Kepulangan Fajri


__ADS_3

Di bandara Safira bersama anak-anaknya sudah menunggu kedatangan Fajri yang sebentar lagi akan mendarat. Nayla dan Naren berdiri di tepi dinding kaca sambil menempelkan kening mereka disana karena pesawat Fajri yang terlambat datang.


"Huh, kenapa Daddy sangat lama datangnya?" Tanya Nayla menghela nafasnya.


"Iya, nih! Padahal udah kangen banget!" Ucap Naren lesu.


"Sabar, sayang. Sebentar lagi pesawat Daddy akan sampai. Sini duduk dulu, Kakak keningnya nanti iritasi Nak!" Ucap Safira tersenyum.


"Ah, Mommy. Apa kita datang terlaku cepat?" Tanya Nayla membaringkan kepalanya di atas paha Safira.


"Gak kok, kita datangnya tepat waktu! Sabar ya!" Ucap Safira tersenyum sambil mengelus kepala Nayla dengaan lembut.


"Dek, gak boleh, itu kotor!" Ucap Naren kepada Nizam yang tengah mengambil sesuatu dari lantai.


"No no na na!" Ucap Nizam Protes karena barang temuannya di ambil.


"Gak boleh, dek! Kotor itu, ini abang kasih kue," Ucap Naren memberikan sebungkus kue kepada Nizam.


"Auu!" Ucap Nizam menampung tangannya.


"Tunggu ya!" Ucap Naren menggendong Nizam agra bisa duduk di atas kursi dan membukakan kue untuk sang adik.


"Untuk Lala?" Tanya Nayla cemberut karena tidak mendapat bagian.


"Nanti aja, masih banyak di mobil, kak!" Ucap Naren membuat Nayla cemberut.


"Nah itu pesawat Daddy sudah datang!" Ucap Nayla berbinar ketika melihat besi terbang yang sangat ia kenal.


Ia segera berdiri di depan kaca bersama dengan Naren. Menyaksikan sang ayah keluar dari pesawat dengan pegitu gagah.


Jaket kulit hitam dengan celana jeans ketat, kaos oblong berwarna putih, tak lupa dengan kaca mata hitam bertengger di hidung mancung nya.


Membawa sebuah taddy beae besar dan juga dua buah robot mainan untuk para bocilnya. Disusul oleh Joe yang tak kalah tampan di usianya yang akan masuk kepala lima.


"Daddy, Daddy!" Pekik mereka antusias sambil melambaikan tangan.


Apa lagi ketika melihat apa yang ada di tangan sang ayah. Sementara yang di tatap sudah gemetaran takut, mengingat lukanya yang masih belum sembuh. Ia tidak akan kuat melihat wajah murung dan sedih anak dan istrinya nanti.


"Lihatlah itu, Uncle! Saya tidak akan kuat melihat wajah murung mereka nanti!" Ucap Fajri sedih.


"Ini sudah resiko, Tuan. Hadapi saja dan berikan pengertian. Ya, walaupun nanti anda akan terkena amukan dari mereka!" Ucap Joe tersenyum.


"Ah, Saya merasa takut untuk bertemu dengan mereka Joe!" Ucap Fajri lirih.


"Semangat Tuan! Fikirkan juga nanti amarah nyonya Fajira ketika berada di rumah nanti!" Ucap Joe semakin membuat Fajri pucat pasi.


Namun ia langsung mengubah ekpresi wajah ketika langkahnya sudah semakin dekat.


"Daddy!" Teriak Naren dan Nayla berlari sambil memeluk kaki Fajri.


"Lala rindu, Daddy!" Ucap Nayla menangis.


"Abang juga rindu!" Ucal Naren tercekat.


"Ah, Daddy juga merindukan kalian!" Ucap Fajri tersenyum. "Ayo kita masuk dulu!" Ajaknya.

__ADS_1


"Ayo Daddy!" Ucap Nayla menghapus air matanya ketika melihat hadiah yang ada di tangan Fajri.


"Mas?" Pangil Safira dengan mata yang berkaca-kaca.


"Sayang!" Panggil Fajri dan langsung memeluk sang istri dan juga putra bungsunya.


"Syukurlah kamu baik-baik saja!" Ucap Safira menitikan air mata.


"Karena ada bidadari dan tiga kurcaci yang menungguku pulang!" Ucap Fajri menatap Safira dan mengecup kening sang istri dengan lembut.


"Hiks, Lala belum di cium, belum di peluk juga!" Ucap Nayla kembali menangis.


"Eh, jangan nangis, princess Daddy!" Ucap Fajri segera berjongkok dan memeluk anak kembarnya bersamaan.


"Hiks, Jangan pergi lagi, Daddy!" Ucap Nayla menangis tersedu.


"Daddy di sini sayang! Jangan nangis lagi ya!" Ucap Fajri menghapus air mata mereka. "Coba lihat, Daddy membawa apa!" Sambungnya sambil tersenyum.


"Hiks, kita cuma pengen Daddy pulang. Tapi kalau di kasih hadiah, Lala gak nolak!" Ucap Nayla tersenyum sambil menghapus air matanya.


Fajri hanya menggeleng dan mengusap kepala Nayla dan Naren bergantian. Namun ada hal yang terlihat aneh, Pria kecil itu menatap Fajri dengan lekat. Ia mengamati lengan Fajri yang terlihat sedikit lebih besar.


Dengan mata yang berkaca-kaca, Naren mengangkat tangannya dan memukul lengan Fajri.


"Argh! sshh!" Pekik Fajri tertahan.


"Hiks, ternyata Daddy memang tertembak!" Pekika Naren menangis dengan keras dan kembali memeluk Fajri.


"Be-benarkah Daddy?" Tanya Nayla yang juga ikut menangis.


Ia membuang Taddy bear besar itu dan memeluk Fajri.


"Sudah, Daddy gak papa, Sayang! Sebentar lagi, juga bakalan sembuh!" Ucap Fajri gelagapan sambil menahan sakit pada tangannya.


"Hiks, ayo kita ke rumah sakit!" Ucap Nayla menarik tangan Fajri


"Daddy sudah kerumah sakit, sayang. Sebentar lagi juga bakalan sembuh! Ayo kita pulang! Daddy membawa banyak oleh-oleh," Ucap Fajri tersenyum dan menggandeng anak-anaknya.


"Hiks, Daddy harus sembunyi dari Oma, atau Daddy akan membuatnya sedih!" Ucap Naren di sisa tangisnya.


"Iya, Sayang!" Ucap Fajri tersenyum.


Mereka segera melangkah menuju mobil dan pulang ke rumah dengan membawa begitu banyak oleh-oleh.


Bisa-bisanya kamu memikirkan oleh-oleh di dalam keadaan seperti ini Mas! Kalau sudah sampai di rumah, Siap-siap kamu menerima amarah dari bunda!. Batin Safira menghela nafasnya.


Fajri tidak bisa lagi menghindari pertanyaan dari Naren dan Nayla. Ia terpaksa menceritakan semua itu dan membuat mereka bergidik sekaligus berbinar membayangkan aksi-aksi berbahaya seperti yang ada di televisi.


"Apa Daddy menembak mereka semua?" Tanya Naren mengernyit.


"Iya, Daddy harus melakukan itu kalau tidak, Daddy yang akan tertembak.


"Jadi, semuanya mati tertembak?" Tanya Nayla berkaca-kaca.


"Tidak semuanya sayang. Ada juga yang masih hidup, terus dibawa kerumah sakit, ada juga yang di bawa ke kantor polisi!" Ucap Fajri tersenyum.

__ADS_1


"Apa ayah dan bunda sakit karena melawan mereka?" Tanya Naren menahan tangisnya.


"Iya, sayang. Makanya Abang dan kakak harus belajar bela diri dari kecil, belajar ilmu pengetahuan, belajar menembak dan hal lainnya. Jika terjadi seperti ini, kita sudah sangat siap untuk menghadapi mereka, sayang!" Ucap Fajri tegas.


"Hiks, Besok Lala akan rajin belajar bela dirinya, Daddy!" Ucap Nayla menangis karena mengingat dirinya begitu malas untuk bergerak.


Fajri tersenyum dan kembali menceritakan bagaimana ia bisa tertembak dan hampir saja merenggut nyawa disana. Safira hanya terdiam sambil menahan detak jantungnya yang terasa memburu karena mendengarkan cerita dari Fajri.


Syukurlah kalian selamat, walaupun kamu sudah membunuh begitu banyak orang, tapi itulah kamu, Mas. Aku tetap mencintaimu lebih dari diri aku sendiri!. batin Safira mengelus kepala Fajri dengan lembut.


Mobil terus bergerak menuju rumah. Hingga tiga puluh menit kemudian, mereka tiba dan langsung turun menatap bangunan megah itu.


Jantung Fajri berdetak lebih kencang ketika kakinya mulai melangkah masuk ke dalam rumah.


Ceklek!


Fajri membuka pintu dan melihat Fajira dan Irfan tengah menantinya di sana dengan wajah cemas dan penuh rindu.


"Bang?" Panggil Fajira dengan mata yang berkaca-kaca.


Ia segera berlari dan memeluk Fajri dengan begitu erat, dan nafas yang terdengar lega.


"Syukurlah kamu selamat, sayang! Bunda begitu mencemaskanmu!" Ucap Fajira menatap wajah Fajri.


"Aji baik-baik saja, Bunda. Justru Aji begitu mencemaskan keadaan Ivanna dan Carenza!" Ucap Fajri dan mengecup kening Fajira dengan lembut.


"Mereka baik-baik saja, lihatlah keatas, Ivanna sangat menunggu kepulanganmu!" Ucap Fajira tersenyum.


"Iya Bunda!" Ucap Fajri.


Ia menatap Irfan yang masih berada di kursi roda. Tanpa menunggu lama, ia segera memeluk Irfan tanpa bisa berbicara sepatah kata pun. Yang jelas, ia bisa bernafas lega karena melihat keadaan sang Ayah baik-baik saja.


Setelah berbincang sebentar, Fajri segera menemui Ivanna. Air matanya pecah ketika melihat sang adik sudah membuka mata dan tersenyum melihat kearahnya.


"Abang?" Panggil Ivanna tersenyum sambil merentangkan tangannya


Fajri langsung bergegas memeluk Ivanna tanpa menghiraukan semua orang yang ada di sana. Mereka menangis hingga tersedu karena masih bisa bertemu satu sama lain.


Fajri mengurai pelukannya dan menatap wajah pucat Ivanna yang masih terlihat lemas.


"Syukurlah kalian baik-baik saja!" Ucap Fajri tercekat.


"Abang gak papa?" Tanya Ivanna tersenyum sambil mengusap wajah Fajri.


"Abang baik, sayang. Abang baik!" Ucap Fajri tersenyum dan kembali memeluk Ivanna begitu erat.


Semua orang terharu melihat pemandangan itu termasuk Nayla dan Naren.


"Apa Naren akan seperti Daddy?" Tanya Nayla berkaca-kaca sambil menggenggam tangan kembarannya.


"Pasti, Naren akan melindungi Lala dan adik-adik kita nanti!" Ucap Naren begitu tegar.


Sore hari itu menutup manisnya perjuangan, indahnya kasih sayang, dan nikmatnya kebersamaan. Melakukan apapun demi keluarga, tanpa mengharapkan sesuatu. Tidak ada hal yang lebih berharga dari apa pun selain keluarga.


Terima kasih bang. Dede sangat menyayangi abang lebih dari apa pun! Terima kasih, karena sudah bertaruh nyawa dan selalu menjadi pahlawan dalam hidup Dede!. Aku selalu berdo'a, semoga abang diberikan kesehatan, keselamatan dan apa pun yang abang ingin bisa tercapai!. Batin Ivanna menangs di dalam pelukan Fajri.

__ADS_1


Carenza hanya bisa terdiam melihat Ivanna dan Fajri. Sekuat apa pun ia melindungi sang istri, tetap Fajri lah yang mengambil peran paling besar dalam segala hal.


Kamu begitu beruntung karena memiliki Fajri. Namun aku masih lebih beruntung karena kamu, Ivanna istriku, anak sultan yang telah aku miliki!. Batin Carenza tersenyum bahagia.


__ADS_2