
Cidera pada punggung Carenza memakan waktu yang cukup lama, Bahkan dua tahun berlalu pun, pria tampan itu masih kesulitan untuk beraktivitas.
Ivanna mengurus sang suami dengan begitu teliti, ia sudah memutuskan untuk mengangkat Pandu sebagai Presdir dan menggantikannya, sampai Carenza bisa pulih kembali.
"Noah!" Panggil Ivanna ketika tidak mendapati pria kecilnya di atas kasur.
"Aku di sini, Bunda!" Ucap Noah kecil yang sudah berusia dua tahun.
"Ngapain di sana sayang?" Tanya Ivanna mengernyit ketika tubuh kecil sang putra terhalang oleh sofa.
"Membaca!" Ucap Noah singkat.
Ia memang betul-betul menuruni sift dingin Ivanna. Bahkan lebih dingin lagi, sehingga para saudaranya kesulitan untuk mengajak pria kecil itu bermain.
"Membaca apa, sayang?" Tanya Ivanna duduk di samping Noah.
"Ini, buku yang isinya aneh!" Ucap Noah mengedikkan bahunya.
"Buku apa, sini bunda lihat dulu!" Ucap Ivanna.
Deg!
Matanya langsung melotot ketika melihat judul buku yang di baca oleh Noah, 'Sistem Reproduksi Manusia'.
"Astaga, sayang. Siapa yang ngasih kamu buku ini?" Tanya Ivanna lembut.
"Aku ambil dari perpustakaan, Bunda!" Ucap Noah polos.
Lagi dan lagi Ivanna begitu tercengan mndengar apa yang diucapkan oleh putranya.
"Sayang, aku udah selesai!" Ucap Carenza dari kamar mandi.
"Noah harus tunggu Bunda di sini, jangan turun atau membaca buku itu lagi!" Ucap Ivanna tegas.
"Baik, Bunda!" Ucap Noah patuh.
Ivanna membantu Carenza untuk keluar dari kamar mandi dan memakaikan bajunya. Setelah itu, ia membaringkan Carenza di atas ranjang lalu menggendong Noah dan ikut berbaring bersama.
"Hai jagoan, Sudah makan, Boy?" Tanya Carenza memeluk Noah.
"Sudah, Ayah!" Ucap pria kecil itu memejamkan mata.
Tak butuh waktu lama, Noah kecil sudah terlelap di dalam pelukan Carenza dengan begitu nyaman.
"Astaga, Baby. Kamu tau, anakmu ini semakin hari semakin aneh!" Ucap Ivanna lemas ketika melihat tingkah anaknya.
"Ya, coba lihat. Noah tampan dan mirip dengamu, sifatnya juga menurun dari kamu dan kepintarannya juga menurun dari kamu! Ya, berarti sifat anehnya...," Ucap Carenza tertawa ketika melihat Ivanna memasang wajah datarnya.
"Ck, tapi bunda bilang, Noah seperti Abang, Be! Aih, aku Bergidik mendengarkan cerita bunda waktu abang kecil!" Ucap Ivanna frustrasi.
"Hihi, jangan difikirkan, sayang. Biarkan dia mengeksplor bakatnya!" Ucap Carenza tersenyum.
"Ah, aku takut dia menjadi dokter kandungan, Be!" Ucap Ivanna menghela nafasnya.
"Kenapa?" Tanya Carenza mengernyit.
"Kamu tau, dia membaca buku Sistem reproduksi? Dan itu bisa mencemari mata suci anakku" Ucap Ivanna.
__ADS_1
Kepalanya berdenyut ketika melihat tingkah Noah yang cukup membuat siapapun tidak bisa berkata-kata lagi.
"Berarti kita harus bisa mengarahkannya agar tidak macam-macam, Sayang! Atau gimana kalau kita kasih Noah adik?" Ucap Carenza genit.
"Hus! Lagi sakit juga, malah ngomong yang tidak-tidak. Emang kamu bisa gerak?" Ucap Ivanna mendelik dengan wajah yang merona.
"Hahah, kamu yang gerak, sayang. Itu akan lebih wah!" Ucap Carenza berbinar senang.
Hup!
Tangan kecil Noah menggamit mulut Carenza yang selalu berbicara.
"Ayah jangan bicara terus!" Ucap Noah lirih.
"Maaf, boy!" Ucap Carenza terkekeh dan mengecup kepala pria kecil itu.
"Aku mau adik perempuan yang cantik seperti kakak. Soalnya Nizam gak boleh aku dekat-dekat dekan kakak!" Ucap Noah lirih.
"Tunggu ayah sembuh dulu ya, sayang. Nanti kita cari adik baru!" Ucap Ivanna.
"Iya, Bunda!" Ucap Noah tersenyum tipis.
Ia kembali terlelap dalam dekapan Carenza. Pasangan bucin itu tersenyum melihat tingkah Noah yang begitu dingin, tetapi tidak bisa menyembunyikan perasaan kepada orang tuanya.
"Besok kita terapi lagi, ya!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Iya, Aku sudah bosan duduk di kursi roda, sayang!" Ucap Carenza.
Ivanna tersenyum dan mengecup pipi pria tampan itu dengan lembut. "Sabar, Ya! Sebentar lagi kamu bisa jalan seperti biasa!" Ucapnya.
Mereka terus bercerita dengan suara pelan agar tidak mengganggu waktu tidur siang putra mahkota itu.
πΊπΊ
"Aa' ngapain?" Tanya Naren.
"Nonton, bang!" Ucap Noah datar.
Ia duduk dengan rapi, punggung tegap dan kaki lurus kedepan.
"Kenapa gak goleran aja?" Tanya Naren mencontohkan gaya tidurnya yang menungging.
"Kata bunda nanti sakit pinggang!" Ucap Noah mengernyit.
Naren terkekeh, ia begitu bingung untuk mengajak pria kecil ini bermain. Hidupnya terlalu lurus dan selalu patuh dengan aturan orang tuanya, membuat Noah tidak banyak berbicara seperti Nizam yang begitu aktif.
Naren duduk si samping Noah yang masih terpaku pada televisi. "Apa kamu memahami kartun itu?" tanya Naren penasaran.
"Tidak!" Ucap Noah dengan datar membuat Naren menggaruk tengkuknya.
"Anak-anak, ayo kita makan!" Ucap Ivanna memanggil.
Empat bocil itu segera pergi menuju ruang makan, di sana semua orang sudah berkumpul di kursi masing-masing.
Para ratu Dirgantara memilih untuk full di rumah dan mengurus anak-anak. Menyerahkan semua pekerjaan kepada orang kepercayaan Perusahaan.
"Aa' makan apa? Kok gak pake cabe?" Tanya Nizam.
__ADS_1
"Aku gak bisa makan cabe!" Ucap Noah menatap Nizam datar.
"Mommy, kok Ade harus makan cabe?" Tanya Nizam mengernyit.
"Karena lambung Aa' itu sensitif sayang. Kalau makan cabe bisa masuk rumah sakit!" Ucap Safira tersenyum.
Nizam terdiam sambil menatap adiknya. Ia memberikan ayan goreng yang ada di dalam piring dan menyerahkannya kepada Noah.
"Terima kasih!" Ucap Noah mengambilnya.
"Kenapa Noah tidak suka senyum?" Tanya Nizam mengernyit.
"Karena Noah memang seperti itu, sayang. Kalau waktunya dia tertawa pasti akan tertawa juga!" Ucap Safira.
"Benarkah? Tapi Ijam belum pernah lihat!" Ucap Nizam mengingat.
"Sudah makan dulu, habis ini langsung belajar!" Ucap Fajira.
Sementara Fajri hanya terdiam, karena perangai Nizam dan Noah adalah perpecahan dari sikapnya.
Kenapa mereka bisa seperti ini? Aku seperti melihat diriku lagi! Ya Tuhan, apa bunda sepusing ini menghadapiku?. Batin Fajri bertanya-tanya.
Setelah makan malai selesai, Noah meminta di gendong kepada Ivanna, ia menolak untuk belajar namun memilih untuk membaca, walaupun tidak begitu paham dengan isi buku itu.
"Bunda?" Panggil Fajri.
"Kenapa bang?" Jawab Fajira.
"perasaan dulu Aji gak sedingin Noah!" Ucap Fajri yang masih belum terima.
"Siapa bilang? Sudah Noah dan Nizam itu adalah tingkah kamu dan Ivanna waktu kecil!" Ucap Fajira terkekeh, begitu juga dengan Irfan.
"Bukankah mereka terlihat mengemaskan? Nayla begitu senang karena dia hanya perempuan sendiri!" Ucap Irfan memberi kode.
"Istriku sudah tidak bisa hamil lagi, Ayah. Carenza juga lagi sakit!" Ucap Fajri mendelik.
Mereka tergelak, Fajri begitu bisa di andalkan untuk mengurus semua perusahaan Dirgantara grub, apa lagi dengan keberhasilannya untuk mengambil alih perusahaan jordan, membuat perusahaan semakin maju dan berkembang dengan pesat tanpa hambatan.
Berita kekejaman Fajri tersebar begitu cepat dengan sedikit melebihkan cerita sehingga tidak ada yang bisa melawannya saat ini. Apa lagi issue jika ia mendapatkan tahta penerus Mafia setelah Aldebra.
Noah tiba-tiba saja berada di belakang Fajri. Ia begitu mengagumi laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.
"Daddy?" Panggil Noah lirih.
"Kenapa, boy?" Tanya Fajri.
"Aku ingin belajar tentang ini!" Ucap Noah memperlihatkan buku sistem reproduksi seperti yang ia baca tadi siang.
"Astaga!" Ucap Fajri menepok jidatnya.
Semua orang hanya bisa tertawa melihat anak berusia dua tahun itu sudah bisa berbicara dengan lurus dan sudah mulai belajar membaca.
"Noah, Ini belum pelajaran yang cocok untukmu. Mari, Daddy temani untuk belajar!" Ucap Fajri menggendong Noah untuk kembali ke perpustakaan.
Sementara Carenza hanya bisa menggeleng melihat anaknya begitu mengagumi sosok Fajri dan ia tidak bisa memungkiri hal itu.
πΊπΊπΊ
__ADS_1
Dikit lagi mau tamat ya gengs, bab ini alurnya sedikit redup.
Terima kasih π₯°