IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Dede Baik-baik Saja!


__ADS_3

Pesawat mendarat di bandara dengan selamat. Tim keamanan Dirgantara segera merapat untuk mengamankan Ivanna dari serbuan wartawan yang begitu penasaran.


Sementara Fajira menatap pesawat itu dengan raut wajah cemas begitu juga dengan Fajri, Carenza dan keluarga Felicia.


Di dalam pesawat, Ivanna mengernyit melihat begitu banyak wartawan yang ada di sana dan tengah berdempetan dengan tim keamanannya.


"Apa yang terjadi? Kenapa mereka seperti itu? Bahkan artis pun tidak ada di atas pesawat ini!" tanya Ivanna heran.


"Ini masker dan topi anda, Nona!" Ucap Felicia.


Ivanna segera mengenakan atributnya agar tidak di kenali oleh para wartawan. Ia meminta Atim untuk menyamar sebagai dirinya.


"Nona, Ada sesuatu yang terjadi! Pesawat kita jatuh di negara Myanmar!" Ucap Pengawal Ivanna yang baru saja mendapatkan kabar.


Deg!


Ivanna dan yang lainnya terkejut dengan air mata yang berlinang.


"Jangan bercanda!" Bentak Ivanna.


"Saya tidak bercanda, Nona! Sebaiknya Nona Atim menyamar dan turun bersama Nona Felicia terlebih dahulu. Nona akan kami kawal tanpa ada yang tau dan menuju ruang tunggu!" Ucapnya.


"Dimana, Joe?" Tanya Ivanna.


"Tuan Joe, sedang mengurus semua ini, Nona!" Ucapnya lagi.


"Apa semuanya sudah siap?" Tanya Ivanna.


"Sudah, Nona!" Ucap pengawal itu.


Felicia dan Atim lebih dulu turun dengan pengawasan ketat. Ivanna melihat mereka tengah dikerubuni oleh semua wartawan dan juga para penumpang lain yang penasaran.


"Semuanya sudah aman, Nona! kita harus segera turun sebelum mereka menyadari keberadaan anda!" Ucap pengawal itu.


Ivanna langsung turun dan menaiki kendaraan khusus di bandara dan menuju ke dalam ruangan dimana semua anggota keluarganya tengah menunggu.


"Bunda?" Panggil Ivanna dengan air mata yang menetes tanpa bisa ia cegah.


"Ya Tuhan, sayang! Bunda fikir kita tidak akan pernah bertemu lagi!" Ucap Fajira menangis sambil memeluk Ivanna dan Fajri.


"Hiks, untung dede gak jadi naik pesawat itu, bunda! Dede takut!" Ucap Ivanna sesegukan.


Sementara Fajri sudah tidak bisa lagi berbicara. Ia hanya memeluk Ivanna dengan erat. Carenza menangis dengan perasaan lega ketika melihat Ivanna baik-baik saja.


Sementara keluarga Felicia bernafas lega, ketika melihat sang putri berjalan menuju ruangan itu diikuti oleh begitu banyak kerumunan yang mengikutinya.


"Bagaimana keadaan ayah, bunda?" Tanya Ivanna terkejut.


"Semoga saja ayah tidak melihat berita ini, sayang. Ayah bunda kurung di kamar!" ucap Fajira.


"Kalau begitu kita harus segera pulang!" Ucap Ivanna segera keluar melalui pintu khusus tanpa menyadari keberadaan Carenza di sana.


"Pulanglah, Sayang. Biar abang yang mengurus masalah di sini! Kalian juga!" Ucap Fajri.


"Terima kasih, tuan!" Ucap Felicia dan Atim.

__ADS_1


Carenza mengikuti Ivanna dan Fajira menuju mobil dan menyerahkan kunci mobilnya kepada salah satu pengawal Ivanna yang ia kenal.


"Baby?" Panggil Ivanna tersentak ketika menyadari Carenza masuk ke dalam mobil.


"Kamu jahat, sayang! Bahkan kamu tidak menyadari keberadaanku!" Ucap Carenza duduk di lantai mobil sambil bersimpuh dan memeluk kaki Ivanna.


"Eh, jangan seperti ini, By!" Ucap Ivanna membantu Carenza untuk berdiri.


"Hiks, Aku cemas, sayang! Aku bisa gila kalau sampai kamu kenapa-napa!" Ucap Carenza kembali menangis.


"Udah, sekarang aku gak papa! Jangan nangis lagi. Apa gak malu di lihatin, bunda?" ucap Ivanna mengelus kepala Carenza dengan lembut.


"Hiks, bunda saja gak malu nangis di depan aku tadi, sekarang kenapa aku harus malu!" Ucap Carenza manja dan membaringkan kepalanya di pangkuan Ivanna.


"Cih, dasar menantu kurang ajar!" Ucap Fajira mendelik kesal.


"Hehe, ampun mertuaku!" Ucap Carenza terkekeh.


Mobil terus melaju menuju rumah kediaman Dirgantara. Mereka segera turun ketika mobil dan masuk ke dalam rumah.


"Dek?" Panggil Safira dengan sedikit berlari untuk menghampiri Ivanna.


"Kakak!" ucap Ivanna membalas pelukan Safira dengan erat.


"Syukurlah kamu tidak kenapa-napa, dek! Kakak khawatir banget sama kamu!" Ucap Safira menangis.


"Aku gak papa, kak! Aku gak papa!" Ucap Ivanna mengurai pelukannya dan mengusap air mata Safira yang menetes.


"Nanti kita ngobrol lagi ya, kak! Aku mau nemuin ayah dulu!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Iya, dek! Seperti nya ayah masih tidur!" Ucap Safira tersenyum.


Ivanna mengelus kepala Irfan lembut dengan mata yang berkaca-kaca. Menyentuh kening sang ayah yang terasa sedikit panas.


"Ayah?" Panggil Ivanna lirih. "Ayah, dede pulang!" Panggilnya dengan air mata yang sudah mengalir.


"Engh...," Irfan terbangun dan mengerjabkan matanya.


Senyum pria tua itu terbit ketika melihat Ivanna sudah kembali dari luar negeri.


"Kapan sampai, sayang?" Tanya Irfan tersenyum sambil memeluk Ivanna.


"Hiks, ayah! Dede rindu!" ucap Ivanna memeluk Irfan dengan erat.


"Ayah juga, sayang! Kamu sehat kan, nak? Gak ada yang kurang satupun?" tanya Irfan lembut dengan mata yang beerkaca-kaca sambil mengelus punggung Ivanna.


"Dede baik, Ayah! Justru dede khawatir dengan keadaan ayah! Semoga ayah gak sakit waktu dengar kabar ini!" ucap Ivanna mengurai pelukannya.


"Kabar apa, sayang?" Tanya Irfan menatap Ivanna dengan lembut.


"Tapi ayah jangan kaget! Semuanya tengah di urus oleh abang!" Ucap Ivanna membuat Irfan mengernyit.


"Pesawat ayah rusak waktu di Hongkong. Terus, Dede suruh perbaiki dulu baru terbang lagi. Tapi Dede gak tau kalau mereka tetap memaksa untuk menerbangkan pesawat itu," Ucap Ivanna menerangkan dengan lirih.


"Apa pesawatnya jatuh, nak?" ucap Irfan terkejut.

__ADS_1


"Iya, Ayah! Untung dede gak jadi menaiki pesawatnya!" Ucap Ivanna kembali memeluk Irfan.


"Ya Tuhan, sayang!" ucap Irfan meraung sambil memeluk Ivanna. "Syukurlah kamu baik-baik saja!" sambungnya dengan air mata yang tidak berhenti untuk menetes.


Hingga Fajira datang dan ikut memeluk anak dan suaminya dengan erat.


🌺🌺🌺


"Tuan Fajri, bisa Anda jelaskan apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya para wartawan setelah Fajri meminjam aula bandara untuk melakukan konferensi pers.


"Kabar jatuhnya pesawat itu memang benar! Sebelum berangkat memang sudah teridentifikasi adanya kerusakan dan sudah di bawa ke bengkel khusus yang menangani perbaikan pesawat di negara Hongkong" Ucap Fajri.


"Maka dari itu, Nona Ivanna memutuskan untuk menaiki pesawat komersil karena tidak mungkin untuk mengundur kepulangan lagi. Sebelum berangkat kami sudah berpesan kepada pilot untuk memastikan pesawat itu baik-baik saja dan aman untuk diterbangkan!" Terang Joe.


"Semoga masih ada harapan agar pilot beserta pramugarinya bisa di temukan dalam kondisi selamat! Tim kami Juga sudah tebang ke sana untuk mengevakuasi pesawat dan 5 orang kru lainnya!" Ucap Fajri.


"Jadi, Nona masih selamat, tuan? dan dimana beliau? Karena saya melihat yang tengah kami kerumuni tadi bukan, Nona Ivanna!" Tanya Wartawan.


"Adik saya sudah di perjalanan pulang. Ini kami lakukan hanya untuk keamanannya!" Ucap Fajri tegas.


"Kami rasa cukup! selamat siang!" Ucap Joe keluar dari ruangan bersama Fajri.


Ketika sedang berjalan, Fajri di hadang oleh para keluarga pilot, pramugari dan teknisi yang menjadi korban jatuhnya pesawat itu.


"Bagaimana dengan nasib anak kami, tuan? Anda harus bertanggung jawab!" Teriak salah satu dari mereka.


"Mohon bersabar, bu! Tim kami sudah dalam perjalanan menuju lokasi! Kita harus banyak berdo'a untuk keselamatan mereka!" Ucap Fajri yang berusaha untuk menenangkan semua orang.


"Bagaimana kami bisa tenang? Mereka jatuh dari pesawat keluarga Anda! Saya tidak mau tau, pokoknya Anda harus membawa anak saya pulang dengan keadaan hidup, atau kami akan membawa kasus ini ke jalur hukum!" Bentak salah satu dari mereka.


Emosi Fajri membuncah ketika mendengarkan ancaman itu. Ia berjalan ke arah pria paruh baya yang terlihat marah menatap tajam kepada Fajri.


"Jangan membuat rasa tanggung jawab saya hilang, karena ucapan Anda, tuan! Silahkan bawa masalah ini menuju jalur hukum dan detik ini juga saya akan menghentikan pencarian anak anda!" ucap Fajri tegas memandang lekat wajah pria paruh baya itu.


"Anda hanya bisa mengancam dengan kekuasaan! Saya akan tetap membawa kasus ini menuju jalur hukum!" Ucap pria itu.


"Silahkan!" Ucap Fajri tegas. "Joe, hentikan pencarian, biarkan mereka mengurus kasus ini dan anak-anak mereka sendiri!" Ucap Fajri lantang dan membuat semua anggota keluarga semakin meraung.


Ia segera pergi menuju mobil dengan kawalan yang cukup ketat oleh tim keamanan diiringi teriakan dari keluarga korban. Joe termagu melihat sikap Fajri yang tidak seperti biasanya. Ia mengikuti pria tampan itu untuk masuk ke dalam mobil.


"Tuan?" Panggil Joe ragu.


"Cairkan asuransi dan berikan mereka uang santunan masing-masing 2 miliar!" Ucap Fajri meminit pelipisnya.


"Baik, tuan! Untuk pencarian...," Ucap Joe.


"Teruskan! Cari mereka sampai ketemu!" Ucap Fajri lirih.


"Baik, tuan!" Batin Joe lega.


Mereka segera kembali ke rumah untuk membicarakan masalah ini, agar bisa selesai dengan cepat, walaupun harus mengakibatkan korban meninggal.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE

__ADS_1


Janga skip like gais 😭😭😭


Maaf ya sudah membuat teman-teman jantungan 🀭


__ADS_2