
Ivanna sudah lebih dulu bangun dari pada Carenza. Ia bersandar pada sandaran tempat tidur sambil memakan bubur ayam yang ia minta tadi. Sementara pria tampan itu memeluk kaki Ivanna dengan tubuh yang begitu lemas.
"Udah, kak!" Ucap Ivanna merasa tidak sanggup lagi, ia ingin berbaring dan tidur.
"Ya sudah, Minum dulu vitaminnya!" Ucap Safira.
Ia telah menghancurkan kapsul itu agar lebih mudah untuk di telan oleh Ivanna.
"Udah, kak. Terima kasih!" Ucap Ivanna tersenyum tipis.
"Sama-sama, Sayang! Sini kakak bantu berbaring," ucap Safira.
"Hmm, apa kakak tidak kesulitan? Perut kakak sudah besar banget!" Ucal Ivanna lirih sambil bergidik.
"Gak kok, Tapi kalau disuruh berdiri terus duduk berulang kali, iya gak akan sanggup diriku, De!" Ucap Safira terkekeh.
Ivanna tersenyum tipis. "Jangan jauh-jauh ya, kak. Aku membutuhkanmu!" Ucapnya lirih.
"Iya, asal kalian tidak macam-macam, Aku duduk di sofa!" Ucap Safira berjalan ke arah sofa bed yang ada di depan televisi.
Ivanna kembali terlelap sambil memeluk Carenza. Namun baru saja ia terpejam, suami tampannya sudah terbangun dan kembali merengek.
"Sayang?" Rengek Carenza yang kembali merasakan mual.
"Iya, By? Kamu mau muntah lagi?" Tanya Ivanna membuka matanya kembali. "Di tepi tempat tidur ada ember, kalau kamu mual di sana saja buangnya!" ucap Ivanna lirih.
Sementara Safira hanya terdiam sambil memasang kupingnya, mendengarkan perbincangan pasangan bucin ini.
"Hmm, apa abang sudah pulang?" Tanya Carenza lirih.
"Belum, By. Kamu mau makan dulu?" Tanya Ivanna.
"Hmm, tunggu abang pulang aja!" Ucap Carenza lirih dengan wajah yang merona.
"Kenapa, By?" Tanya Ivanna mengernyit.
"Hmm, gak papa sayang! Apa makananku sudah ada?" Tanya Carenza mendongak dan menatap Ivanna.
"Sudah, By. Aku panggilkan Atim untuk membawanya, ya!" Ucap Ivanna lirih dan tersenyum.
"Iya, sayang!" Ucap Carenza pasrah.
Ivanna meraih ponselnya dan menghubungi Atim, untuk mengantarkan makanan yang di pesan Carenza tadi.
"Ada apa dengan abang?, Kamu butuh sesuatu?" Tanya Ivanna mengernyit.
"Hmm, ya. Aku butuh sesuatu!" Ucap Carenza lirih.
Safira mendengar suara lirih Carenza dan tersenyum antusias. Sepertinya akan ada pertunjukkan seru setelah ini. Sayang, kamu bersiap, Ya!. Batin Safira terkekeh.
"Aku telfon dulu, ya!" Ucap Ivanna menelfon Fajri.
"Biar aku yang ngomong, sayang!" Ucap Carenza mengambil ponsel Ivanna.
Panggilan tersambung, pada deringg pertama Fajri langsung mengangkatnya.
"Halo, sayang? gimana keadaan, Dede?" Ucap Fajri terdengar khawatir.
"Cih, adek lo baik!" Ucap Carenza ketus. "Dimana? Gua yakin lo gak sibuk sekarang!" sambungnya.
"Cih, gua di kantor, sibuk! Ada apa?" tanya Fajri ketus, hatinya cukup was-was karena Carenza menghubunginya pagi ini.
"Jangan bohong! Gua butuh bantuan lo!" Ucap Carenza lirih.
"Udah, jangan macam-macam! Ngomong aja lo gak kuat, sana istirahat!" Ucap Fajri berusaha untuk mengelak.
"Hiks, sayang. Abang gak mau bantu aku!" Ucap Carenza mengadu.
"Emang kamu mau apa, By?" Tanya Ivanna tersenyum.
"Hmm, bilang sama abang dulu, boleh, gitu!" Ucap Carenza dengan puppy eyesnya.
__ADS_1
"Boleh, Bang?" Tanya Ivanna.
"Bolehnya apa dulu? Kalau masih masuk akal, boleh. Tapi kalau gak masuk akal abang gak mau!" Ucap Fajri jengah.
"Kamu mau apa, By?" tanya Ivanna memastikan.
"Hmm, masuk akal kok, sayang. Gak macam-macam, boleh ya!" Ucap Carenza dengan mata yang berkaca-kaca.
"Bang, Bolehin aja ya. Kasihan suamiku mau nangis," ucap Ivanna memeluk kepala Carenza.
"Iya, boleh!" Ucap Fajri pasrah.
"Betul ya! Lo udah sepakat!" Ucap Carenza berbinar.
"Hmm," Deham Fajri semakin jengah.
"Aku mau ikan bakar, Sayang. Tapi ambil dari kolam!" Ucap Carenza.
Fajri menjadi was-was, jangan sampai ikan kesayangannya harus menjadi korban kali ini.
"Ada ikan besar di dalam kolam, Aku mau makan itu!" Ucap Carenza.
Deg!
Semua orang terkejut dengan permintaan pria tampan itu.
"Gak! Gak ada, gak ada!" pekik Fajri tidak terima.
"Hiks, padahal tadi sudah setuju, kenapa sekarang malah gak boleh!" Ucap Carenza menangis.
"Gak ada! Asal lo tau, itu ikan mahal, dan sekarang udah langka!" Pekik Fajri.
"Hiks, sayang!" Adu Carenza dengan air liur yang serasa ingin menetes membayangkan nikmatnya ikan itu masuk kedalam mulut.
"By, itu ikan mahal sayang. Apa kamu gak geli makan ikan hias?" Tanya Ivanna meringis.
"Hiks, apa kamu juga melarang aku?, Memang brapa harga ikannya?" Tanya Carenza merengek.
"Hiks, ya sudah kalau gak boleh!" Ucao Carenza membelakangi Ivanna dan mematikann panggilannya.
"By, jangan gitu! Kita cari ikan yang lain saja, ya!" Ucap Ivanna membujuk.
"Gak mau! Gak usah makan sekalian!" Ucap Carenza ketus.
"Huft, kelapa ku sakit, By!" Ucap Ivanna tidak habis pikir.
"Tapi aku mau makan itu, sayang!" Rengek Carenza semakin menjadi.
"Atau kamu mau seafood? Lobster besar atau kekepiting alaska yang premium? Atau mau gurita? Apa saja lain dari itu, By!" Ucap Ivanna memberi opsi.
"Ya sudah, tapi abang yang beli!" Ucap Carenza cemberut.
"Nanti aku bilang sama abang, ya!" Ucap Ivanna bernafas lega.
"Sekarang! Aku maunya sekarang, sayang!" Ucap Carenza tidak ingin dibantah.
"Baiklah!"
Ivanna kembali menghubungi Fajri dan mengatakan keinginan Carenza tadi. Terdengar pria tampan itu mendengus sebal, karena jadwal kerjanya harus terganggu.
"Bilang, abang yang antar kerumah, sayang!" Ucap Carenza berbinar.
"Ck, Iya!" Ucap Fajri sangat kesal.
"Yes terima kasih abang ipar yang genteng, baik hati alias tidak rajin menabung!" Ucap Carenza berbinar senang.
Cepat sekali kamu berubah, By!. Batin Ivanna menggeleng.
"Cih, awas kalau nanti gak lo habisin!" Ucap Fajri mengancam.
"Iya!" Ucap Carenza mendelik.
__ADS_1
Fajri segera mematikan ponselnya. Sementara yang lain hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Carenza yang semakin aneh, keluar dari sifatnya selama ini.
Ivanna kembali terlelap, karena Carenza mengelus kepalanya dengan lembut dan juga mengecupnya. Ia serasa kembali memiliki tenaga ketika mendengar semua makanan yang terasa sangat enak itu.
"Za?" Panggil Fajira masuk kedalam kamar sambil membawa makanan yang ia pasan tadi.
"Bunda? Apa yang Bunda bawa?" Tanya Carenza penasaran.
"Ini pesanan kamu tadi, makan dulu ya. Habis itu minum obat!" Ucap Fajira.
"Wah! terima kasih, bunda!" Ucap Carenza berbinar.
Ia langsung menyantap sarapan pagi yang sedikit kurang sehat itu dengan lahap, hingga tandas.
Safira dan Fajira yang melihat cara makan Carenza merasa kembali lapar dan juga ikut mencicipinya.
"Makanlah, nak! Habiskan semuanya!" Ucap Fajira meringis.
"Iya, Bunda. Terima kasih," Ucap Carenza sambil tersenyum.
Mumpung lagi gak mual, semoga nanti gak keluar lagi semuanya!. Batin Fajira bergidik.
Tak lama Ibu datang dengan tergesa-gesa dan wajah yang begitu bahagia. Ia segera menghampiri Ivanna yang masih terlelap, mengelus lembut kepala dan perut menantunya itu sambil mengucapkan do'a-do'a agar mereka selalu sehat.
Bahkan ia tidak menyadari kehadiran Carenza yang sudah cemberut sambil menekuk wajahnya.
"Bagaimana keadaan Ivanna, Bun?" Tanya Ibu dengan antusias.
"Ya begitulah, Bu! kepalanya sering sakit dan janinnya sedikit lemah!" Ucap Fajira sendu.
"Astaga, saya boleh nginap di sini ya, Bun! Ivanna harus di perhatikan dengan ketat!" Ucap Ibu khawatir.
"Boleh, Bu! Apa lagi sekarang Eza juga lagi ngidam!" Ucap Fajira terkekeh.
"Eh, iya kah? Terus mana dia Eza, Bun?" tanya Ibu benar-benar melupakan anaknya.
"Ibu Gak usah peduli lagi saja aku!" Ucap Carenza ketus.
"Cih, ngapain kamu di sana?" Tanya Ibu sewot melihat Carenza tengah makan di meja kerja Ivanna.
"Bunda, Eza anak Bunda kan? Ibu udah gak sayang lagi sama Eza!" Ucap Carenza begitu sensitif.
"Iya, Nak! habiskan makanannya ya!" Ucap Fajira tersenyum.
"Biarin aja Bun, jangan di manja!" Ucap Ibu mendelik. "Itu ada ayam cabe hijau, makanlah!" Ucap Ibu.
Carenza berbinar, ia segera bangkit dan mengambil bingkisan yang di bawa oleh sang Ibu.
"Kamu aneh, Za!" Ucap Safira tak hentinya tertawa melihat tingkah Carenza pagi ini.
"Masa bodoh, Ra! Yang penting aku senang aku kenyang!" Ucap Carenza terkekeh.
"Cih, anak nakal!" Ucao Ibu melotot.
"Nakal pun, yang penting Bunda sayang!" Ucap Carenza mendelik.
"Susah, Za! Jangan melawan terus!" Ucap Fajira terkekeh.
Mereka terus berbincang sambil menunggu kedatangan Fajri. Carenza tersenyum dengan air liur yang selalu menyeruak ketika membayangkan semua makanan yang akan di bawa oleh Fajri.
Aku tidak sabar untuk memakannya!. Batin Carenza berbinar.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
Hai gengs, aku ada rekomendasi bacaan nih. Di Jamin serius, aku udah baca dan ceritannya bagus banget.
__ADS_1
Kunjungi yuk, mana tau syuka πππ